
...L.O.S.E 114 - Towards the Jia Empire...
Setelah menghabiskan waktu selama lima tahun di Dimensi Dewa, Shu En sudah menguasai beberapa ilmu Dewa Matahari yang diturunkan Jing Yang kepada dirinya. Selain itu Shu En juga telah mengembangkan ilmu Dewa Iblis menjadi lebih bervariasi.
“Bocah, aku akan memberikanmu ini...” Jing Yang memberikan sebuah cincin kepada Shu En dan mengelus kepala pemuda itu.
“Gunakan cincin ini sebaik mungkin dan selamatkan semuanya.” Jing Yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Shu En sebelum roh pria sepuh itu menghilang secara perlahan, “Walaupun singkat namun aku bahagia bisa melatihmu, bocah manusia. Jadilah orang yang dapat melindungi orang yang kau sayangi, aku akan pergi...”
“Guru...” Shu En tanpa sadar meneteskan air mata dan memejamkan matanya sambil membalas pelukan erat Jing Yang.
Namun sebelum ia memeluk erat tubuh Jing Yang, roh pria sepuh itu lenyap. Saat itu juga Shu En merasakan kehilangan seorang yang sudah dia anggap sebagai panutan sekaligus kakeknya.
“Guru!” teriak Shu En sambil mencoba menangkap serpihan cahaya emas yang mulai memudar itu.
“En‘er, Guru yakin kau bisa melalui semua ini. Guru akan mengawasimu dari tempat yang jauh dilangit sana...”
Shu En mendengar suara Jing Yang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia berada dalam Dimensi Dewa sendirian. Hutan belantara yang menjadi sarang Siluman Dewa pun hancur dan berubah menjadi tanah gersang yang begitu luas.
“Guru, murid tidak akan melupakan jasa Guru. Murid akan memenuhi harapan Guru.” Shu En bersujud dan menangis saat menyadari Jing Yang tidak akan lagi ada disampingnya.
Walaupun singkat namun waktu yang dia habiskan selama lima tahun di Dimensi Dewa itu nyata. Shu En pun memulihkan kondisinya dengan bermeditasi sambil mengingat kembali apa yang diajarkan oleh Jing Yang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dunia asal.
“Aku berada disini selama lima tahun. Jika aku kembali ke dunia asal maka waktu yang kuhabiskan hanyalah lima bulan.” Shu En membuka portal teleportasi dan kembali.
Daratan hijau yang luas menyambut Shu En saat kembali dari Dimensi Dewa. Shu En tersenyum kecut karena menyadari dirinya sudah tidak dapat merasakan hawa keberadaan Jing Yang.
Namun ia tidak boleh meratapi kepergian Jing Yang berlarut-larut, sekarang dirinya memiliki tugas yang harus diselesaikan. Dengan membawa tekad yang diwariskan dan segala harapan dari Jing Yang dan Ling En, Shu En pun melanjutkan perjalanannya untuk menuju Alam Iblis.
“Sebaiknya aku juga melihat perkembangan mereka berempat.” Shu En kembali membuka portal teleportasi dan berpindah tempat ke Istana Tang.
Disana Shu En melihat sosok Tang Xia yang sedang duduk disinggasana dan sebenarnya sosok gadis itu Zhuan yang menyamar. Sesuai rencana sekarang Zhuan menyamar menjadi Tang Xia, sedangkan Shen Long menjadi Shu En dan Queque menjadi Yang Ruan.
“Tuan... Kau seenaknya saja masuk kedalam ruang singgasana menggunakan portal teleportasi!” Zhuan menegur Shu En dan membuat Shu En menghela nafas.
“Apa mereka bertiga belum kembali?” tanya Shu En karena mengetahui Tang Xia, Xue Xiaoya dan Bing Xuehua juga berlatih di Dimensi Dewa bersama sosok Dewi Langit.
“Belum, Tuan. Jika dilihat sepertinya kau sudah banyak berubah dari terakhir kali kita bertemu,” ujar Zhuan sambil memperhatikan aura Shu En.
__ADS_1
“Banyak hal yang terjadi.” Shu En berjalan mendekati Zhuan lalu menepuk pundaknya, “Jika mereka bertiga kembali, berikan lonceng ini kepada mereka. Itu adalah sebuah isyarat jika mereka ingin ikut denganku ke Alam Iblis.”
“Aku akan pergi duluan.” Shu En melanjutkan.
Zhuan menerima lonceng pemberian Shu En dan terkejut karena pemuda itu sudah menguasai Energi Dewa. Terlebih sekarang kultivasi Shu En tidak dapat ia ukur karena energi spiritual yang mengelilingi tubuhnya seolah-olah tidak terbatas.
Setelah berkata demikian Shu En pun menghilang dari pandangan Zhuan dan berada diatas atap Istana Tang sambil mengamati Ibukota Tangzhen.
“Secara perlahan namun pasti kami bergerak kearah yang benar...” Melihat perubahan Ibukota Tangzhen membuat Shu En tersenyum karena Tang Xia mengemban tugasnya sebagai Ratu Tang dengan benar.
Saat Shu En hendak pergi dari Ibukota Tangzhen, ia merasakan tanda bahaya yang pernah ia sampaikan ke Chu Yui dan Su Rong. Shu En pernah mengalirkan aura miliknya kepada kedua wanita itu, jika terjadi sesuatu kepada mereka maka dirinya dapat merasakan bahaya tersebut.
‘Yang benar saja, aura yang lemah ini menandakan mereka berdua sekarat...’ Shu En membatin sebelum ia membuka portal teleportasi dan langsung bergerak menuju lokasi keberadaan Chu Yui dan Su Rong.
______
Keberadaan Hong Zi Ran yang dijaga oleh Chu Yui dan Su Rong karena memiliki Badan Sejuta Spiritual diketahui oleh sosok Ling Shan yang merupakan satu diantara Ras Immortal lainnya.
Ling Shan dengan rencana cerdiknya memanipulasi dua penguasa Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Wei. Dengan kemampuannya, sekarang dua penguasa itu tidak lebih seperti boneka yang dapat ia kendalikan sesuka hatinya.
Ling Shan memberikan tugas kepada mereka berdua untuk menangkap Hong Zi Ran secara hidup-hidup karena dirinya ingin menuntaskan ambisinya. Demi menjadi yang terkuat, Ling Shan berniat melupakan tugas yang diberikan Ling En kepada dirinya dan juga Ling Tian.
Saat Hong Zi Ran mengunjungi padang rumput yang ada diluar Ibukota Jiehan, disitulah Jia Song dan Wei Long sudah menunggunya. Namun Chu Yui dan Su Rong tidak berdiam diri dan membantu Hong Zi Ran yang tidak dapat berkultivasi.
Pertarungan pun terjadi. Awalnya Chu Yui dan Su Rong dapat menahan kedua pria yang dikendalikan Ling Shan tersebut namun setelah melakukan beberapa pertukaran serangan, kedua wanita itu dikalahkan secara telak bahkan tidak segan Jia Song dan Wei Long melumpuhkan kultivasi keduanya.
“Sebelum menjadi Ras Immortal aku juga pernah menjadi manusia dan menikmati masa-masa dimana aku menghabiskan waktu dengan wanita dan menghamburkan kekayaan. Kalian berdua masuk dalam kriteria wanitaku.” Suara Ling Shan terdengar saat Chu Yui dan Su Rong berhasil dilumpuhkan.
“Aku akan menjadikan kalian sebagai mainanku!”
Saat Jia Song dan Wei Long hendak membawa tubuh Chu Yui dan Su Rong, tiba-tiba sebuah portal teleportasi terbuka. Ling Shan yang menyadari aura yang tidak biasa langsung membuka portal teleportasi dan menyuruh Jia Song dan Wei Long kembali.
“Apa yang terjadi?! Siapa yang membuat kalian berdua sampai seperti ini?!” Shu En langsung bertanya kepada Chu Yui dan Su Rong setelah sampai.
Keduanya tidak menjawab dan saling berpandangan. Terlihat jelas mereka berdua tidak berani mengatakan kepada Shu En jika Hong Zi Ran baru saja dibawah pergi oleh Jia Song dan Wei Long.
“Orang yang menyerang kalian adalah Ras Immortal. Aku bisa mengetahui jika titik meridian kalian berdua telah dilumpuhkan. Selain lumpuh, aura yang mengalir ditubuh kalian adalah kutukan.” Shu En memberitahu kedua wanita itu dan mengeluarkan sebuah pil yang ia buat di Dimensi Dewa.
__ADS_1
“Gunakan pil ini untuk mencegah kutukan itu menjadi buas atau kalian akan menjadi makhluk seperti mereka.” Shu En terlibat begitu memperhatikan Chu Yui dan Su Rong sehingga kedua wanita itu pun merasa tersentuh.
“Tuan Muda Shu, sebenarnya kami berdua...” Chu Yui pun menjelaskan kepada Shu En tentang apa yang menimpa Hong Zi Ran dan mereka berdua.
Mendengar cerita yang sesungguhnya dari Chu Yui dan Su Rong, Shu En terlihat tenang dan tidak menunjukkan kemarahan.
“Senior Chu, Senior Su, kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku akan menyelamatkan Bibi Hong. Kalian sudah berjuang dengan baik, kalian tidak bersalah.” Shu En malah menenangkan keduanya dan meminta mereka untuk kembali ke Ibukota Jiehan.
“Tuan Muda Shu, bagaimana bisa kau datang disaat kami berdua akan dibunuh? Maaf jika aku menanyakan itu.” Su Rong menatap Shu En dan bertanya karena penasaran dengan tindakan pemuda itu.
“Kalian berdua yang mengatakan akan mengabdi padaku dan melayaniku. Aku bisa merasakan saat kalian berdua dalam bahaya, makanya aku datang kemari. Tetapi sepertinya aku sangat terlambat.” Shu En memberitahu dan membuat keduanya tersipu malu.
‘Kenapa aku tersipu malu? Ingat, wanita dari Istana Rembulan dilarang berhubungan dengan laki-laki apalagi sampai jatuh cinta!’ Chu Yui mengumpat dalam hati karena merasa bangga dirinya diperhatikan oleh Shu En.
Su Rong kurang lebih sama kondisinya dengan Chu Yui dan tersipu malu.
“Kalau begitu aku akan pergi. Kalian berdua kembalilah ke Ibukota Jiehan dan sampaikan kepada Kakak Zhang jika aku akan menemuinya nanti.” Shu En berpamitan sebelum pergi menuju Kekaisaran Jia.
“Rongrong...” Chu Yui menatap hangat kepergian Shu En dengan pipi bersemu merah.
Su Rong menoleh dan melihat ekspresi Chu Yui yang sulit untuk digambarkan.
“Ada apa, Yui? Wajahmu memerah...”
“Sepertinya aku menyukai... Shu En...”
Seketika Su Rong tersedak mendengar ucapan Chu Yui. Dengan cepat Su Rong menampar pipi Chu Yui dan langsung menyadarkan wanita itu.
“Bodoh! Kau ini berumur tiga puluh lima tahun! Apa yang kau pikirkan sampai jatuh hati kepada anak muda belasan tahun dan lagi dia itu anak dari Kakak Shui! Sadarlah!” Su Rong mengingatkan Chu Yui dan membuat wanita itu langsung tersedak.
“Bagus, akhirnya kau sadar juga.” Su Rong merasa lega namun sebenarnya dirinya juga merasakan hal yang sama dengan Chu Yui.
“Aku jadi teringat kata-kata Kakak Shui waktu itu...” Chu Yui tersenyum dengan ekspresi malu, “Cinta itu buta, dia tidak memandang fisik ataupun usia. Jadi seperti ini ya rasanya jatuh cinta?”
“Hah?!” Su Rong melongo tidak percaya lalu membatin dalam hati, ‘Dia sudah tidak bisa diselamatkan.’
Untuk kultivator wanita yang tidak pernah mengenal emosi seperti cinta diusia muda, Chu Yui dan Su Rong menghabiskan waktu dengan melakukan tugas mereka sebagai kultivator Istana Rembulan, namun saat dinding es yang membekukan hari mereka dihancurkan Shu En, keduanya tidak dapat menahan perasaan manusiawi yang mereka pendam sejak lama itu.
__ADS_1