
L.O.S.E 41 - Thunder Hill
ARC 2 - Blue Moon War
Selepas meninggalkan Hutan Bambu Kuning, Shu En bersama Lu Shin Rui dan Cao Jin bergerak menuju Bukit Petir.
Dalam perjalanan Cao Jin menjelaskan jika rute yang Shu En ambil ini akan membuatnya melihat dua sekte yang lain. Dahulu Bukit Petir adalah tempat sakral bagi kultivator yang ingin menempa tubuh mereka dan berkultivasi, namun seiring berjalannya waktu tempat itu telah menjadi tempat yang berbeda.
Terlebih semenjak pria bernama Cheng Bai mengambil alih kepemimpinan Bukit Petir. Selain berhasil menjadi pemimpin Bukit Petir, Cheng Bai juga berambisi menguasai semua sumber daya Hutan Bambu Kuning ataupun Gunung Menangis dan orang inilah yang membantu dua kultivator Jalan Naga Hitam menyerang Cao Jin.
“Siapa Patriark Bukit Petir sebelumnya?” Shu En bertanya pada Cao Jin.
“Dia adalah Senior Wu Tian. Setahun lalu aku bertemu dengannya di Gunung Menangis sebelum akhirnya dia memilih untuk membuka sebuah penginapan di Bukit Petir dan hidup dengan normal.” Cao Jin memberitahu Shu En jika senjata milik Wu Tian juga diambil rekan Cheng Bai.
Bagi Wu Tian kehilangan senjatanya sama saja seperti kehilangan martabatnya sebagai seorang kultivator. Selain itu Wu Tian ingin memastikan Cheng Bai tidak menyentuh dan membuat penduduk Bukit Petir kesulitan.
“Aku sempat mengagumi Senior Wu, namun semua itu menghilang saat dirinya lebih memilih untuk hidup damai daripada mengambil kembali apa yang menjadi haknya!” ujar Cao Jin kepada Shu En.
“Jika senjata kesayangannya kembali, apa dia akan kembali menjadi seorang kultivator?” Shu En berpikir demikian dan itu membuat Cao Jin sepemikiran.
“Kau baru saja memikirkan ide yang bagus, Tuan Muda. Aku rasa kita harus menyadarkannya.”
Setelah melewati beberapa pedesaan akhirnya Shu En sampai di kaki Bukit Petir. Disana Shu En dituntun Cao Jin menuju penginapan sederhana disekitar Bukit Petir yang merupakan milik Wu Tian.
“Penginapan Bukit Petir...” gumam Shu En saat membaca nama penginapan tersebut di papan kayu.
“Ini adalah penginapan milik Senior Wu. Sebaiknya kita menginap disini sambil mengumpulkan informasi,” ajak Cao Jin.
Berbeda dengan Cao Jin yang langsung memasuki penginapan tersebut, Shu En memastikan hawa keberadaan seorang kultivator terlebih dahulu sebelum mengajak Lu Shin Rui masuk.
“Selamat datang Tuan dan Nona...” seorang pelayan penginapan langsung menyapa saat Shu En dan Lu Shin Rui masuk.
“Nona? Apa aku semuda itu?” Lu Shin Rui tertawa kecil karena sambutan pelayan penginapan.
“Semua orang yang melihat Bibi Lu pasti berpikir demikian.” Shu En menanggapi dengan pujian dan membuat Lu Shin Rui mencubit lengannya.
__ADS_1
“En‘er, jangan sekali-kali mencoba untuk menggodaku!” Lu Shin Rui menegur.
Shu En hanya tertawa pelan sebelum akhirnya ia memesan tiga kamar yang berbeda untuknya dan juga Lu Shin Rui termasuk Cao Jin, namun Cao Jin sudah memesan kamar untuk mereka bertiga terlebih dahulu.
“Tuan Muda, pergilah ke kamar lebih dulu, aku ingin mencari informasi di kedai makan. Biasanya disana banyak orang yang mau memberikan informasi secara cuma-cuma.” Cao Jin pun pergi setelah berkata demikian.
Shu En berjalan menuju kamar bersama Lu Shin Rui. Kamar milik Shu En berada diujung lorong kiri penginapan sedangkan Lu Shin Rui berada diujung kanan lorong penginapan.
Tanpa Shu En ketahui Penginapan Bukit Petir adalah sebuah penginapan yang diciptakan untuk menjebak banyak kultivator terutama kultivator wanita. Baik Shu En ataupun Cao Jin tidak mengetahui jika Wu Tian dikurung di puncak Bukit Petir tepatnya di kediaman Cheng Bai.
Didalam kamarnya Shu En memeriksa setiap sudut ruangan sebelum akhirnya ia memegang dinding penginapan dan merasakan aliran aura yang aneh.
‘Aura ini... Ilusi?’ Shu En terkejut dan langsung keluar kamar menuju kamar milik Lu Shin Rui.
“Bibi Lu!” Namun setelah membuka kamar penginapan, Shu En tidak menemukan Lu Shin Rui dimanapun.
“Bibi Lu?” Shu En pun mengerutkan keningnya dan terkejut saat melihat semua dinding penginapan berubah menjadi daging makhluk hidup.
“Hewan Buas yang setingkat dengan Siluman Dewa? Sial! Jadi ini penyebabnya aku tidak dapat mendeteksi aura!” Shu En mengumpat karena kelengahannya.
Hewan Buas sendiri dibagi menjadi tiga tingkatan seperti halnya Siluman. Hewan Buas Raja, Hewan Buas Kaisar dan Hewan Buas Dewa adalah ketiga tingkatan yang mengacu pada seberapa kuatnya Hewan Buas.
Hewan Buas Tingkat Dewa yang ada di Bukit Petir memiliki kemampuan menciptakan ilusi. Tanpa menyadari hal ini Shu En terjebak dalam situasi yang sulit, sedangkan semua pelayan penginapan telah pergi termasuk Lu Shin Rui yang diculik oleh seseorang.
“Jadi aku target selanjutnya untuk dibunuh. Tidak pernah aku sangka akan terjebak seperti ini...”
Shu En pun menciptakan sebuah pedang dari aura tubuhnya, lalu mengalirinya dengan Qi berjumlah besar. Dengan pedang yang dipenuhi aliran Qi itu, Shu En melepaskan satu tebasan yang mematikan.
“Tarian Pedang Iblis!”
Perut Katak Alam Iblis pun terbelah menatap dua bagian. Untuk sesaat Shu En bisa melihat langit yang membentang luas disekitar Bukit Petir, namun semua itu hanya sekejap saja sebelum akhirnya ia menemukan dirinya kembali berada di perut Katak Alam Iblis.
“Ini sangat menyebalkan!”
Shu En pun memanggil silumannya namun seperti ada energi spiritual yang menghalangi dirinya untuk memanggil siluman.
__ADS_1
“Aku tidak bisa memanggil siluman ataupun melakukan teleportasi. Untuk kekuatan sebesar ini pasti memiliki kelemahan...” ucap Shu En saat mencoba memegang daging perut Katak Alam Iblis.
Setelah menyentuhnya, Shu En merasakan aliran aura yang tidak wajar dan itu seperti milik Lu Shin Rui. Selang beberapa detik Shu En menyadari bahwa dirinya merasakan aura yang tidak asing yakni aura tubuhnya sendiri yang terasa begitu tenang dan hangat.
“Tubuhku didunia nyata sepertinya sedang tertidur! Aku sangat yakin dengan itu!” Kembali Shu En mengumpat karena belum menemukan cara mematahkan ilusi ini.
Sementara Shu En terjebak dalam ilusi Katak Alam Iblis, Cao Jin disergap puluhan kultivator Bukit Petir, sedangkan Lu Shin Rui bertarung dengan pemimpin Bukit Petir yakni Cheng Bai.
“Penginapan ini hancur karena pertarungan kita. Padahal aku sudah siap menyiapkan ranjang yang besar. Bagaimana jika kita bertarung disana?” ucap Cheng Bai saat melihat penginapan tersebut hancur.
Lalu pandangan Cheng Bai jatuh kepada Shu En yang tertidur diatas tanah. Cheng Bai pun tertawa cukup keras sebelum akhirnya memberikan isyarat pada bawahannya untuk menyandera Shu En.
“Dewi Air, kau paham maksudku bukan? Kita tidak perlu bertarung lagi. Ikut aku karena aku telah menyiapkan ranjang yang besar untuk kita berdua.” Cheng Bai terkekeh meremehkan Lu Shin Rui yang sudah tidak berkutik.
“En‘er...” Lu Shin Rui melihat dua bawahan Cheng Bai menusuk perut Shu En yang tertidur karena terjebak dalam ilusi Katak Alam Iblis.
“Jika kau menolaknya, pemuda ini akan mati!” Cheng Bai mengancam.
Lu Shin Rui pun menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, sedangkan kedua tangannya mengepal saat Cheng Bai mendekatinya dan memeluk tubuhnya.
“Wanita yang penurut. Aku menyukainya.” Cheng Bai memuji keberanian Lu Shin Rui.
“Lepaskan pemuda itu! Kalian melukainya!” ujar Lu Shin Rui.
Cheng Bai tersenyum menyeringai melihat sikap dingin Lu Shin Rui, lalu dengan gerakan yang cepat pria itu menotok dada dan perut Lu Shin Rui. Gerakannya yang cepat mengacaukan titik meridian Lu Shin Rui dan membuatnya lumpuh hanya dalam hitungan detik.
“Kau! Jahanam!” Lu Shin Rui menatap Cheng Bai penuh kebencian dan langsung menjaga jarak.
“Hahahaha! Sekarang kau tidak lebih dari seorang wanita biasa! Kau paham maksudku bukan jika ingin aliran meridianmu kembali, kita harus merangsangnya dengan Teknik Kultivasi Ganda!”
Mata Lu Shin Rui mendelik mendengar ini. Tidak ada celah untuk dirinya menyelamatkan Shu En dan melarikan diri dengan kemampuannya yang sama seperti wanita biasa. Terlebih puluhan kultivator mengelilingi area sekitar penginapan untuk memastikan dirinya tidak melarikan diri.
“Saatnya kita bersenang-senang Dewi Air!”
Cheng Bai menunjukkan seringainya yang lebar dan membuat Lu Shin Rui ketakutan saat pria itu menangkap tubuhnya dengan begitu mudah.
__ADS_1