Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 43 - Rewriting History


__ADS_3

...L.O.S.E 43 - Rewriting History...


...ARC 2 - Blue Moon War...


Apa yang terjadi di Bukit Petir membuat Shu En menjadi waspada. Setelah melihat ingatan milik Cheng Bai, untuk pertama kalinya Shu En merasakan rasa takut.


Rasa takut bukan karena ia merasa takut kepada sosok Long Wang melainkan karena takut Long Wang akan membunuh orang-orang yang ia kenal.


Setelah melanjutkan perjalan menuju puncak Bukit Petir, Shu En memberitahu keberadaan Wu Tian kepada Cao Jin. Situasi di Bukit Petir sendiri menjadi kacau setelah Cheng Bai mati ditangan Shu En.


Keberadaan Cao Jin yang mencoba menenangkan mereka semua juga tidak memberikan dampak. Sekitar ratusan kultivator Bukit Petir yang terpaksa mengabdi pada Cheng Bai justru bahagia atas kematian Patriark mereka, sedangkan yang merupakan mantan anggota Jalan Naga Hitam mencoba menyerang Shu En namun mereka semua dibunuh dengan keji.


Shu En tidak memberikan belas kasih kepada siapapun yang mencoba membunuh dirinya. Hanya dalam kurun waktu yang singkat situasi di Bukit Petir menjadi kembali tenang dan ketenangan itu karena intimidasi Shu En yang berhasil membunuh banyak kultivator Bukit Petir beserta Patriark Cheng Bai.


Sementara Cao Jin membebaskan beberapa Tetua Bukit Petir dan Wu Tian yang dipenjara, Shu En dan Lu Shin Rui berjalan mengitari puncak Bukit Petir untuk melihat sendiri tempat yang melegenda dan konon digunakan berkultivasi.


Namun sesampainya disana Shu En memperlihatkan ekspresi kecewa begitu juga dengan Lu Shin Rui. Tempat sakral itu berubah semenjak Cheng Bai menjadi pemimpin dan mengambil alih segalanya.


Tempat itu benar-benar telah ternoda. Kolam Petir yang ada di puncak Bukit Petir itu berada didalam bangunan megah yang digunakan oleh Cheng Bai untuk memadu kasih dengan wanita.


“Aku masih belum lega setelah membunuhnya!” ujar Shu En saat mencoba masuk kedalam bangunan.


Situasi didalam bangunan nampak sepi dan tidak ada orang, Lu Shin Rui mengikuti dirinya dari belakang. Hingga akhirnya mereka berdua melihat Kolam Petir yang melegenda itu. Energi spiritual yang ada didalam Kolam Petir membuat Shu En tersenyum.

__ADS_1


Namun pemandangan ranjang besar dan tebal disekitar Kolam Petir sangatlah menggangu. Shu En menghela nafas panjang sebelum menghancurkan semua ranjang menjadi kepingan abu dengan api Phoenix.


Lalu Shu En pun berjalan keluar bangunan bersama Lu Shin Rui. Keduanya disambut oleh Cao Jin yang datang bersama Wu Tian.


Bukan hanya Wu Tian saja, melainkan ratusan kultivator Bukit Petir mengikuti Cao Jin dari belakang. Mereka semua meminta Shu En agar bersedia menjadi Patriark Bukit Petir karena telah membunuh Cheng Bai.


“Bagaimana Tuan Muda? Mereka semua ingin anda menjadi Patriark Bukit Petir selanjutnya.” Cao Jin memberitahu.


Shu En tidak segera menjawab dan melihat Wu Tian. Ekspresi Wu Tian tidak menunjukkan gairah kehidupan, pria tua itu terlihat sangat putus asa.


“Aku tidak memiliki hak untuk menjadi Patriark Bukit Petir! Aku rasa kalian telah memiliki pemimpin yang sesungguhnya!” ujar Shu En kepada mereka semua.


Cao Jin pun berjalan mendekati Shu En dan menceritakan tentang apa yang menimpa Wu Tian dari kultivator Bukit Petir.


Anak perempuan Wu Tian dikabarkan bunuh diri beberapa bulan yang lalu setelah tidak sanggup menjadi budak ranjang Cheng Bai. Bahkan menurut para Tetua Bukit Petir, Wu Tian sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk membalaskan dendam ataupun menjalani kehidupan.


“Apa kau yakin akan membiarkan semua ini kembali terjadi?”


Semua orang yang melihat hal ini kebingungan karena Shu En terlihat seperti anak muda yang mengajak orang tua bertarung.


“Berhenti menjadi pecundang dan meratapi nasib! Ambil pedang ini dan bertarung denganku!”


Wu Tian yang awalnya selalu menundukkan kepalanya akhirnya menatap Shu En. Wu Tian memandang pedang yang ada didepannya dan mengingat semua kekejaman dunia kultivator yang telah ia alami hingga detik ini.

__ADS_1


“Aku sudah tidak bisa bertarung lagi...”


Suara lemah Wu Tian terdengar, Shu En berdecak kesal karena Wu Tian benar-benar menunjukkan keputusasaan yang membuatnya muak.


Alasan Shu En bertindak demikian karena dirinya takut akan berakhir seperti Wu Tian. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Wu Tian berakhir lebih mengenaskan lebih dari ini.


“Ambil ini! Jika kau kalah, maka aku akan bersedia menjadi Patriark Bukit Petir dengan syarat kau harus menjadi seorang Penatua untukku!” Shu En pun menciptakan pedang yang lain setelah berkata demikian.


“Kalian semua akan menjadi saksi pertarungan diatas puncak bukit ini!” ujar Shu En kepada semua kultivator Bukit Petir yang melihat ini.


Entah karena tiba-tiba merasa direndahkan atau diremehkan oleh anak muda berusia enam belas tahun, Wu Tian pun mengambil pedang pemberian Shu En dan menggenggamnya erat.


“Sepertinya kau telah siap dan membuat keputusan.” Shu En mengamati tindakan Wu Tian dan melontarkan ucapan positif.


“Jangan sombong anak muda! Kau mungkin sudah menyelamatkan bukit yang ternoda ini! Tetapi aku tidak bisa membiarkan bukit ini jatuh lagi ketangan orang yang salah!”


Semua orang yang melihat kejadian ini terlihat bahagia terutama penduduk Bukit Petir. Diantara kerumunan orang-orang yang menyaksikan pertarungan Shu En melawan Wu Tian, ada seorang wanita berumur dua puluh lima tahunan dan meneteskan air matanya.


“Ayah! Jangan kalah!”


Tubuh Wu Tian bergetar hebat saat mendengar suara yang tidak asing. Segera ia menoleh dan menyapu pandangannya ke arah semua orang yang menonton, disana ia menemukan wanita yang memakai penutup wajah dan tudung.


Seketika semua emosi Wu Tian yang mati mulai kembali hidup. Mengetahui hal ini Shu En hanya bisa tersenyum dan tidak menyangka dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


“Sepertinya ini akan sulit. Aku tidak akan menahan diri karena ini mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang lelaki.”


Pertarungan pun dimulai. Malam itu Bukit Petir menulis ulang sejarah mereka saat kedua pedang saling bersentuhan. Pertarungan yang mempertaruhkan harga diri sebagai seorang lelaki ini akan mengubah masa depan yang kejam.


__ADS_2