Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 24 - Pot of Poison and Goddess of War


__ADS_3

L.O.S.E 24 - Pot of Poison and Goddess of War


ARC 1 - Fall To Rise


Berdasarkan penjelasan Zhao Tian, rencana Pagoda Tujuh Warna telah berantakan karena digagalkan Shu En. Namun Pagoda Tujuh Warna belumlah menyerah, mereka masih memiliki dua rencana lainnya.


Zhao Tian juga menjelaskan kepada Shu En jika kekuatan tempur Kekaisaran Yang berada pada kultivator aliran putih yang berada di pihak Kaisar Yang, namun mereka dilenyapkan secara perlahan oleh Xu Wang.


“Sesuatu pasti sedang terjadi di Gunung Teratai begitu juga dengan Lembah Musim Hujan dan Ibukota Luoyang...” ujar Zhao Tian.


“Masalah di Ibukota Luoyang kita tidak perlu khawatir. Disana ada orang yang lebih mengerikan dibandingkan diriku.” Shu En menanggapi.


Zhao Tian pun keheranan mendengar perkataan Shu En, sedangkan Xu Kai dan Liu Bai langsung berpikir jika orang yang dimaksud Shu En adalah Tang Xia.


“Jadi apa yang kau khawatirkan, Zhao Tian?” Shu En bertanya.


Zhao Tian menatap Shu En cukup lama sebelum memberitahu jika pasukan dalam jumlah besar dibawah komando Jendral Kekaisaran Tang sedang dalam perjalanan ke Xudong.


“Yang aku takutkan adalah orang-orang dibelakang Kaisar Tang. Mereka adalah orang yang membantu Kaisar Tang dan menghasut Paman anda untuk melakukan kudeta.”


Saat Zhao Tian memberitahu hal ini, Shu En pun terdiam lama dan berpikir jika orang-orang ini berhubungan dengan apa yang terjadi di Kekaisaran Zhang.


“Zhao Tian, berapa jumlah pasukan yang dikirim Kaisar Tang ke Xudong?”


“Sekitar dua ribu pasukan, Pangeran Shu. Kemampuan mereka setara dengan Kultivator Alam Suci, sedangkan untuk para petinggi berada pada tahap Alam Bumi dan sang Jendral berada pada tahap Alam Langit.”


“Kita akan kalah secara telak jika Gunung Teratai dan Lembah Musim Hujan dikuasai Pagoda Tujuh Warna!”

__ADS_1


“Apa anda memiliki rencana, Pangeran Shu?”


Shu En pun menatap Zhao Tian, Xu Kai dan Liu Bai secara bergantian. Terlintas untuk membantu kultivasi ketiga orang itu, namun semua itu memerlukan waktu dan untuk menyatukan semua pihak membantu Yang Ruan tidaklah mudah sehingga Shu En memiliki sebuah rencana.


“Dua ribu orang ya? Aku akan mempersembahkan dua ribu nyawa itu pada sang Dewi Iblis!”


Tanpa menjelaskan rencananya Shu En tersenyum didepan mereka bertiga sebelum melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, Shu En memberi tugas yang berbeda kepada Xu Kai dan Liu Bai.


Xu Kai mengevakuasi semua penduduk Xudong, sedangkan Liu Bai menuju Ibukota Luoyang untuk menghentikan penyerangan Lembah Musim Hujan.


Disisi lain Shu En dan Zhao Tian melanjutkan perjalannya menuju Gunung Teratai. Dalam perjalanan Shu En dan Zhao Tian beberapa kali singgah di pedesaan dan melihat raut wajah kekhawatiran dari penduduk desa yang mereka lewati.


Situasi yang terjadi di Kekaisaran Yang sangat tidak kondusif. Mulai dari pembunuhan Kaisar Yang, kematian Yang Yufeng, pengkhianatan Xu Wang dan peperangan yang akan terjadi dengan Kekaisaran Tang membuat banyak penduduk Kekaisaran Yang menjadi ketakutan.


“Kekaisaran Tang merupakan negeri yang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Aku yakin mereka semua takut jika negeri ini akan berakhir seperti itu.” Zhao Tian berbicara setelah mereka melewati pedesaan.


“Apa yang terjadi pada Kekaisaran Shu karena ulah dari sebagian kecil kultivator keji! Aku ingin mengetahui orang yang menyebabkan semua ini! Untuk itu aku akan melenyapkan semua orang yang menghalangiku!”


“Jadi bagaimana dengan rekanmu yang bernama Yong Xiang? Apa dia berada di Gunung Teratai?” tanya Shu En setelah mereka berjalan selama beberapa hari.


“Seharusnya dia mengirimkan surat... Nah itu dia elang putih peliharaannya!” Zhao Tian menatap langit dan menunjuk seekor elang yang membawa sebuah surat yang dikaitkan dikakinya.


“Surat? Apa isinya?” tanya Shu En kembali.


Zhao Tian pun mengambil surat tersebut setelah elang putih hinggap ditangan kanannya. Setelah membacakan isi surat tersebut, Zhao Tian dan Shu En memahami jika pemimpin Pagoda Tujuh Warna mengincar tubuh istimewa Xing Rou dan menggunakan Juan Fu sebagai perantara.


Situasi di Gunung Teratai saat ini terbilang kacau karena pertempuran sudah terjadi disana. Kultivator Pagoda Tujuh Warna sudah berhasil menyusup dan menguasai Gunung Teratai bersama Juan Fu.

__ADS_1


Juan Fu mengincar posisi Patriark Gunung Teratai dan berambisi menjadikan Xing Rou serta Yang Ruan sebagai istrinya. Ambisi gila ini benar-benar membutakan Juan Fu dan memilih untuk bekerjasama dengan Kai Xuexuan.


Saat ini Xing Zhuo sedang dipenjara dibawah tanah bersama beberapa kultivator yang selamat dari pertempuran, sedangkan untuk kultivator yang bertahan hidup tunduk pada Juan Fu yang dibantu Kai Xuexuan, Feng En dan Yong Xiang.


“Keberadaan Xing Rou belum ditemukan dan mereka sedang mencarinya. Sebaiknya kita bergegas, Pangeran Shu.” Zhao Tian pun mengajak Shu En bergegas.


“Aku mengerti garis besarnya, Zhao Tian.” Shu En memperhatikan Gunung Teratai dari bukit yang mereka lewati.


Sesekali Shu En memperhatikan hutan disekitar Gunung Teratai sebelum akhirnya Shu En berhenti berjalan dan mengeluarkan sebuah guci berisi cairan.


Zhao Tian melihat Shu En yang mengeluarkan guci dari udara sempat terkejut untuk beberapa saat karena menyadari itu bukanlah Cincin Ruang yang biasa digunakan kultivator.


“Ini adalah Ruang Malam, salah satu teknik milikku. Kau bisa menyimpan apapun disini dalam jumlah tak terbatas.” Shu En menjelaskan sebelum memberikan guci tersebut kepada Zhao Tian.


“Apa ini Pangeran Shu?” Zhao Tian bertanya setelah menerima guci pemberian Shu En.


“Ini adalah Racun Belalang Buas. Aku mempelajarinya dan membuatnya. Kau pasti paham maksudku bukan?” Shu En memberitahu Zhao Tian tentang tujuannya memberikan guci tersebut.


“Kau pergilah ke Gunung Teratai. Aku ada urusan sebentar.” Shu En mengatakan itu sambil melepaskan aura yang cukup besar.


Zhao Tian dibuat berdecak kagum dengan rencana atau apa yang barusan Shu En lakukan. Keduanya pun berpisah dibukit tersebut. Zhao Tian menuju Gunung Teratai, sedangkan Shu En sudah menghilang dan menuju sebuah hutan disekitar Gunung Teratai.


Diwaktu yang bersamaan, kultivator Lembah Musim Hujan bersama Pagoda Tujuh Warna yang dipimpin Mo Tianzhi berniat menyerang Ibukota Luoyang, namun pasukan mereka dihadang Liu Bai dan pasukannya yang jumlahnya jauh lebih sedikit.


Namun berkat bantuan Tang Xia, rencana yang dijalankan Mo Tianzhi bersama Guo Liang dan Huo Fei pun berantakan. Yang awalnya Pagoda Tujuh Warna dan Lembah Musim Hujan berniat membantai, justru mereka sendiri yang terbantai.


Kemahiran Tang Xia dalam bertempur benar-benar membuatnya mendapatkan julukan Dewi Perang. Entah siapa yang memulai menjuluki gadis cantik itu dengan sebutan Dewi Perang, namun keanggunan dalam berpedang saat membunuh benar-benar membuat semua orang tercengang.

__ADS_1


“Adik Shu, Baihu telah kembali. Dia sedang menuju ke tempatmu. Kabar yang dia bawa pasti akan sangat menyakitkan bagimu...” ujar Tang Xia pelan setelah memenggal kepala beberapa kultivator Pagoda Tujuh Warna.


Tang Xia menyembunyikan ekspresi sedihnya dibawah guyuran hujan dan darah dari orang yang dibunuh. Semua orang yang melihat hal ini pun lari ketakutan bahkan Liu Bai langsung teringat akan kata perkataan Shu En jika ada orang yang lebih mengerikan dibandingkan dirinya maka orang itu adalah Tang Xia.


__ADS_2