Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 94 - Intoxicating Water


__ADS_3

...L.O.S.E 94 - Intoxicating Water...


Didalam kediaman keluarga Ma terdapat sebuah rumah yang bentuknya sederhana. Disana terdapat beberapa penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi istri dari mendiang kepala keluarga Ma sebelumnya.


Semua penjaga yang bertugas disana dibunuh oleh Shu En yang sedang dalam perjalanan mencari keberadaan wanita bernama Ma Shie.


Keberadaan wanita bernama Ma Shie berada dalam sebuah ruangan gelap yang penerangannya hanya diberikan satu lilin saja. Dengan banyaknya nyamuk dan serangga disana membuat kulit wanita itu menjadi kasar, selain itu Ma Ching memberikan jatah makanan kepada Ma Shie hanya sekali saja dalam sehari. Itupun makanan yang sudah tidak layak dan bisa dikatakan basi.


Hampir selama lima tahun belakangan ini Ma Shie menjalani kehidupan seperti ini setelah menolak untuk mengandung anak dari Ma Ching.


Alasan mengapa Ma Shie masih bertahan hidup karena ingin memberikan Giok Naga Azure kepada orang yang tepat. Harta suci pemberian Shu Jiang dan Ling Shui itu disembunyikan oleh Ma Shie, sedangkan Giok Naga Azure yang palsu diambil oleh Shu Liang dan diserahkan kepada Long Wang sebelum jatuh ketangan Ling Tian.


Kemungkinan Ling Tian sudah menyadari kebenaran tentang Giok Naga Azure sehingga membuat kekacauan di Kekaisaran Shu.


“Sampai kapan aku harus hidup seperti ini, Ya Dewa? Kau melihatku bukan? Kenapa tidak menolongku!” Ma Shie dengan lemahnya menggumam sendiri.


Badannya yang lemas dan tidak bertenaga menatap penjara yang sudah merenggut kebebasannya. Sudah lima tahun dia menempati tempat ini, sedangkan beberapa tahun sebelumnya dia harus menerima kenyataan pahit saat Ma Ching memperlakukan dirinya layaknya seekor binatang.


Air mata yang telah mengering itu pun tidak bisa membuat Ma Shie menangis. Dalam gelapnya keputusasaan menanti hari-hari selanjutnya, Ma Shie mendengar langkah kaki yang mendekat.


Seharusnya malam ini ia tidak mendapatkan jatah makan malam, dalam benaknya Ma Shie mengumpat karena mengira para penjaga akan menyiksa dan meminta dirinya untuk memuaskan mereka.


“Selamat malam... Bibi Ma...”


Suara yang tenang dan asing terdengar di telinga Ma Shie. Sebuah lentera yang terang memperlihatkan dengan jelas bagaimana bentuk wajah seorang pemuda yang rupawan datang menyapa.


“Pemuda?” Ma Shie memperhatikan wajah Shu En dengan penuh pertanyaan dan tubuhnya gemetar ketakutan.


Melihat kondisi Ma Shie yang sangat memprihatinkan membuat hati Shu En teriris. Ma Shie adalah teman baik mendiang Ibunya. Shu En mengenalnya sejak kecil dan tidak menyangka wanita yang bergelimang harta hidup dalam kemewahan akan berakhir mengenaskan seperti ini.


Tanpa sadar Shu En merasakan sakit dihatinya. Ia merasakan sesak seperti saat mengetahui kondisi Hong Zi Ran. Tubuhnya pun mendadak lemas saat mencoba membuka penjara dan membebaskan Ma Shie.


“Bibi Ma... Ini aku, En‘er.” Shu En berusaha tetap tenang dan tidak menangis walaupun hatinya merasa perih melihat ini.


“Aku Shu En, putra dari Shu Jiang dan Ling Shui.”


Seketika tubuh Ma Shie bergetar hebat saat mengetahui identitas pemuda dihadapannya. Anak dari mendiang temannya sudah tumbuh dewasa. Tanpa sadar air mata yang telah mengering mulai meneteskan kebahagiaan.

__ADS_1


Ma Shie dengan tubuh yang lemah memegang pipi Shu En seperti ingin memastikan jika pemuda itu adalah benar-benar anak dari Ling Shui.


“En‘er... Kau sudah tumbuh besar Nak. Kemana saja kau selama ini?” Ma Shie akhirnya menangis hebat dan memeluk Shu En.


Mengetahui betapa hancur dan tidak berdayanya kehidupan Ma Shie beberapa tahun ini, Shu En hanya bisa diam dan mengutuk perbuatan orang-orang yang telah membuat Ma Shie menderita.


“Bibi Ma, aku pulang...” Shu En berkata lemah dan membiarkan wanita itu menangis di pelukannya.


_____


Malam itu di kediaman keluarga Guang terlihat ramai dan dipadati penduduk yang ingin melihat Shu En. Hanya dalam hitungan jam saja kabar mengenai Shu En yang masih hidup menyebar dengan cepat.


Rumor tentang Ma Ching yang bekerjasama dengan perampok pun menyebar dengan cepat dan membuat penduduk Seribu Pulau Xingma kehilangan kepercayaan kepada keluarga Ma.


Guang Peng memberitahu kejadian yang sebenarnya kepada penduduk dan membuat semua orang mengutuk perbuatan Ma Ching.


“Apa aku melakukan hal yang salah, Yang Mulia? Maafkan aku...” Guang Peng merasa bersalah saat melihat ekspresi tidak senang Shu En setelah mendengar kabar ini.


“Mereka semua akan membenci keluarga Ma. Bibi Ma tidaklah bersalah, seharusnya kau bisa menyampaikan kepada semuanya dengan cara yang lebih benar.” Shu En menegur Guang Peng sambil menatap arak yang ada dimeja.


“Jadi bagaimana dengan Bibi Ma?” tanya Shu En memastikan.


“Setelah ini pastikan kau tidak menyebarkan rumor yang membuat Bibi Ma tertekan!” Shu En dengan tegas menegur Guang Peng dan mengambil arak.


Guang Peng sedikit terkejut karena mengetahui Shu En masih belum cukup umur. Pemuda itu pun meminum arak dan terlihat seperti ingin melupakan semua masalah yang menimpa hidupnya.


“Sebentar lagi umurku tujuh belas tahun... Aku ingin merayakannya bersama mereka...” Shu En berbicara ngelantur dan membuat Guang Peng kebingungan.


“Yang Mulia... Sebaiknya anda tidak minum-”


“Berisik! Apa salahnya jika aku minum arak hah?! Aku adalah Shu En, pewaris dan pelindung negeri ini! Aku tidak kalah oleh minuman seperti ini!”


Walau berkata demikian Shu En sudah mabuk dan seenaknya berdiri diatas meja makan. Guang Peng segera memberitahu penjaga agar menjaga ruangan tersebut dan tidak mengizinkan siapapun untuk masuk.


“Paman Guang! Kenapa jari tangan kirimu putus? Siapa yang melakukan ini padamu? Aku akan membunuh orang itu untukmu!” Tiba-tiba Shu En berdiri didepan Guang Peng dan menatap tajam pria paruh baya tersebut.


“Cepat katakan padaku! Hiks!”

__ADS_1


Guang Peng pun menceritakan kepada Shu En jika dirinya lah yang memotong kelima jarinya untuk menebas kesalahannya saat memilih tunduk kepada Shu Liang.


“Yang Mulia, saat itu mendiang Yang Mulia Shu Jiang berkata padaku agar tetap hidup walau harus tunduk kepada adiknya. Beliau sangat yakin dan percaya jika suatu saat nanti, anda akan kembali ke negeri dan mengambil alih tahta yang seharusnya.” Guang Peng bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.


“Ayahanda berkata seperti itu?” Shu En memegang dagunya dengan jari telunjuk sebelum tertawa cekikikan tidak jelas.


“Banyak anggota keluarga Guang yang mati karena berusaha melindungiku. Berkat mereka semua, aku masih hidup dan bertemu denganmu.” Guang Peng tersenyum mengingat kenangan beberapa tahun kebelakang.


“Kalian telah melewati masa sulit! Seandainya aku lebih kuat dan dapat diandalkan, kalian tidak perlu merasakan hal ini!” Shu En mengoceh dan kembali meminum arak lebih banyak dari sebelumnya.


“Yang Mulia! Hamba mohon berhenti! Jangan menambah-”


“Diam, Paman Guang! Lebih baik kau pijat bahuku ini! Aku sangat lelah!” Shu En memotong teguran Guang Peng dan memberikan perintah seenaknya kepada pria itu.


Mengetahui jika pemuda itu ingin melampiaskan semua permasalahannya, Guang Peng pun meminta baju Shu En dan menahan air matanya saat mengetahui betapa kecilnya pundak Shu En namun anak muda itu harus menanggung beban yang berat semuanya sendirian.


“Dibalik pundaknya yang kecil, sudah menanggung beban seberat ini sendirian. Yang Mulia...” Terlihat kedua mata Guang Peng berkaca-kaca menahan air matanya.


“Apa kau mengatakan sesuatu, Paman Guang? Oh iya, dimana anakmu? Aku ingin bermain dengannya hehehe!”


“Ah, tidak Yang Mulia! Anakku sedang tidur! Sebaiknya anda berada disini bersamaku!”


“Heh? Kalau begitu pijat kakiku!”


Malam itu Shu En hanyut dalam hangatnya air yang memabukkan. Rasa sakit yang menghilang sementara itu membuat Shu En tersadar saat hari menjelang pagi, rasa sakit dihatinya semakin perih.


‘Semalam aku mabuk ya?’ Shu En membatin dan menemukan dirinya terbaring diruangan yang sangat berantakan.


‘Paman Guang sepertinya kewalahan menjagaku...’ Shu En tertawa kecil saat melihat badan Guang Peng yang dipenuhi mangkuk dan beberapa guci diperutnya.


“En‘er, apa kau sudah bangun. Bibi ingin berbicara sebentar.”


Saat Shu En sedang melamun menatap atap ruangan, suara Ma Shie terdengar memanggilnya. Segera Shu En bangkit dan merapikan pakaiannya lalu membuka pintu.


“Aku segera kesana Bibi Ma.”


Saat melihat ruangan yang berantakan, Ma Shie tercengang karena mencium aroma bau arak dibadan Shu En. Mata pemuda itu sembab dan wajahnya terlihat sangat kekanak-kanakan.

__ADS_1


“Mandi dulu, setelah itu kita bicara.” Ma Shie memegang pundak Shu En dan membawa pemuda itu ke kolam air panas yang ada dikediaman keluarga Guang.


__ADS_2