Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 93 - Ma and The Robber


__ADS_3

...L.O.S.E 93 - Ma and The Robber...


Saat bertemu kembali dengan Baihu dan Xudong, Shu En menemukan informasi yang menarik. Baihu tidak sengaja bertemu dengan beberapa perampok yang anggotanya rata-rata telah berada pada tahap Alam Suci.


Perampok itu mengejar seorang pria berumur tiga puluhan tahun yang sedang sekarat. Beberapa pengawal dari keluarga Guang mencoba menangkap perampok yang mengacau namun kemampuan tempur mereka kalah telak.


Informasi yang dibawa Baihu membuat Shu En bertindak untuk memastikan. Jika benar Perintah Langit memiliki hubungan dengan Ling Tian, maka ia harus bertindak dan menyelamatkan pria yang sedang dikejar sekelompok perampok.


Sementara itu Xudong menemukan informasi yang jauh lebih berharga karena mengendus pergerakan keluarga Ma yang bekerjasama dengan Perintah Langit.


“Kerja bagus kalian berdua. Sekarang kembalilah...” Shu En langsung bergerak menuju lokasi para perampok dan menggunakan topeng iblis hitam yang sudah lama ia tidak gunakan, “Aku akan memanggil kalian nanti!”


“Jangan harap bocah manusia! Aku tidak sudi menjadi informan untukmu!” Baihu menanggapi kesal sedangkan Xudong hanya tertawa.


Mungkin karena sudah menjadi apa yang ditakdirkan, saat Shu En sampai ke lokasi pengeroyokan yang dilakukan perampok terhadap seorang kultivator berjubah putih, semuanya terlambat.


“Bing Wei sialan! Dia mengecoh kita dan membiarkan Bing Xuehua kabur!” Terlihat salah satu perampok memeriksa jubah pria bernama Bing Wei dan menggeledah apa yang ada didalamnya.


“Sebaiknya kita kembali ke kediaman keluarga Ma dan mencari keberadaan gadis itu!” ajak salah satu perampok.


“Benar, kita harus menyusun strategi untuk menghancurkan keluarga Guang dan mencari keberadaan pemilik Tubuh Yin!”


Kemudian para perampok pun berniat meninggalkan pria bernama Bing Wei tersebut, namun Shu En menghadang mereka semua dan memberikan peringatan agar tidak menyerangnya.


“Tetap ditempat jika ingin tetap hidup! Bergerak sedikit saja kepala kalian akan terpenggal!”


Peringatan Shu En ini justru tidak diindahkan dan malah menjadi bahan tertawaan para perampok. Sekitar sepuluh perampok langsung mengelilingi Shu En dan berniat mengeroyok pemuda itu namun sebelum mereka menyerang, satu demi satu kepala mereka terlepas dari badannya.


“Apa yang terjadi?!”


“Kau! Kau memakai sihir apa sialan?!”


“Kepung dan bunuh dia secara bersamaan!”


Melihat rekannya mati dengan kepala terpotong oleh sesuatu tak kasat mata, para perampok yang tersisa pun menyerang Shu En dengan formasi pengepungan. Namun semuanya berakhir sama dan tidak menyadari jika Shu En telah menciptakan ratusan pedang tak kasat mata untuk membunuh mereka semua.


“Sudah aku peringatkan dan kalian malah mengabaikan!” Shu En menatap perampok terakhir yang tersisa dan menatap matanya dengan tajam.


“Sebaiknya kau bekerjasama denganku! Aku rasa kau adalah orang yang pintar dan memahami situasimu!” Shu En tersenyum dari balik topengnya dan mengintimidasi perampok dihadapannya.


Dengan gertakannya Shu En berhasil mengorek sejumlah informasi dari perampok tersebut. Setelah dirasa puas, Shu En pun menatap perampok itu dengan tatapan kosong.


“Aku sudah memberitahu semuanya! Jadi sesuai perjanjian kau akan membiarkanku hidup bukan?!” Perampok itu berharap Shu En akan melepaskan dirinya.


Namun takdir berkata lain. Shu En dengan tatapan kosong menendang kepala perampok itu hingga terlepas dari badannya. Tendangan yang dialiri energi Qi itu membuat kepala perampok itu hancur dan dalam sekejap membuat nyawanya menghilang.


“Kau... Apa kau pembunuh yang dikirim Kong Guan?” Pria bernama Bing Wei yang sudah sekarat menatap Shu En lemah.

__ADS_1


“Kau tidak akan bisa menguasai negeri ini... Aku yakin pewaris tahta yang sesungguhnya masih hidup dan mengambil alih...”


Bing Wei tersenyum lebar sebelum menghembuskan nafas terakhirnya setelah berkata demikian. Shu En pun membawa tubuh Bing Wei kesalah satu pulau terpencil yang ada disekitar Seribu Pulau Xingma.


“Aku tidak menyangka ada dua pemilik Tubuh Yin. Ling Tian mengendalikan kekacauan disini. Pembantaian yang mereka lakukan terhadap Klan Bing di Pulau Salju Rembulan membuatku berduka.” Shu En mengusap mata Bing Wei dan berjanji akan melindungi garis keturunan Klan Bing.


“Aku akan menebus dosaku dan melindungi keturunan Klan Bing. Aku tidak akan membiarkan kalian berakhir.”


Setelah itu Shu En menguburkan jenazah Bing Wei disana. Pemakaman sederhana itu Shu En lakukan dengan waktu yang singkat sebelum ia bergerak menuju kediaman keluarga Ma yang ada di Seribu Pulau Xingma.


“Mereka akan melakukan perjanjian disana...”


Shu En bergegas dan menemukan seorang anak kecil yang disandera dikediaman keluarga Ma. Sementara itu perwakilan keluarga Guang datang untuk bernegosiasi dengan keluarga Ma.


Melihat apa yang terjadi, Shu En pun mengamati dari atas atap bangunan dan itu membuatnya dilihat oleh orang-orang disana.


“Siapa yang membiarkan orang itu menyusup?! Bukankah sudah kukatakan malam ini kita akan kedatangan tamu penting dan jangan sampai warga disekitar mendengar keributan ini!” Pria paruh baya yang menggunakan pakaian kebesaran bangsawan Ma nampak marah.


“Tuan Besar Ma Ching, kami tidak tahu siapa pemuda itu tetapi sepertinya ada informasi jika perampok yang mengejar Bing Wei dibunuh olehnya.” Salah satu pengawal keluarga Ma memberitahu.


Seketika ekspresi pria paruh baya bernama Ma Ching berubah pucat. Kehadiran Shu En yang memakai topeng Iblis berwarna hitam dibawah sinar rembulan itu seolah-olah memberi isyarat akan mencabut nyawanya.


“Semuanya! Kepung pemuda itu dan bunuh! Jangan biarkan pemuda itu kabur dari kediaman ini!” Ma Ching memberikan perintah dan membuat Shu En tertawa sinis.


“Aku mengingat kalian semua! Keluarga Ma tidak membutuhkan pemimpin sepertimu! Aku akan membebaskan semua orang yang tidak tunduk pada Shu Liang dan mengambil nyawamu, Tuan Besar Ma Ching!” ujar Shu En saat dirinya dihujani senjata yang menyerangnya dari segala sisi.


Sementara itu tubuh Shu En sama sekali tidak terluka dan lecet sedikitpun. Dengan ketenangannya, Shu En berjalan mendekati Ma Ching dan menyelamatkan seorang anak kecil yang disandera.


“Kau berniat membunuh kepala keluarga Guang bukan? Kau berniat membunuh ayah dari bocah ini. Lalu mengkambinghitamkan perampok yang bekerjasama denganmu. Sungguh rencana yang menarik.” Shu En tersenyum dingin saat berkata demikian dan membuat wajah Ma Ching pucat pasi.


“Kau... Siapa sebenarnya kau?!” Dengan ekspresi ketakutan Ma Ching langsung terduduk ditanah dengan tubuh yang gemetaran.


Shu En membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya kepada semua orang.


“Aku adalah pewaris tahta Kekaisaran Shu yang sesungguhnya, Shu En! Aku kesini untuk mengambil apa yang yang menjadi milikku!”


Seketika semua orang dikediaman keluarga Ma mematung tidak percaya. Semua perampok dan prajurit yang dipekerjakan keluarga Ma mencoba menangkap dan membunuh Shu En, namun tindakan mereka semua sia-sia.


Hanya dalam waktu yang singkat kediaman keluarga Ma dipenuhi noda darah yang memenuhi jalanan. Bau amis yang menyengat dan potongan tubuh pun ditemukan disana. Shu En memberikan Ma Ching hidup dan menunggu kedatangan kepala keluarga Guang.


“Apa yang terjadi disini?”


Saat kepala keluarga Guang datang dengan kedua tangan diikat dan dikawal perampok, ekspresinya terkejut saat melihat putra semata wayangnya diselamatkan Shu En dan disekitarnya ditemukan ratusan orang tak bernyawa.


“Paman Guang. Apa kau masih mengingat diriku?” Shu En menyapa pria paruh baya tersebut.


Pandangan Shu En jatuh pada jari ditangan kiri pria itu yang telah putus.

__ADS_1


“Siapa kau anak muda? Aku sama sekali tidak mengenalmu! Apa kau yang melakukan semua ini?!” Guang Peng melepaskan diri dan langsung menatap dingin Shu En.


Namun sebelum bertindak lebih jauh, Guang Peng terkejut saat melihat putra semata wayangnya seperti berusaha melindungi Shu En.


“Ayahanda! Berhenti! Kakak ini tidaklah jahat! Dia menyelamatkan diriku! Dia juga mengatakan jika dirinya adalah pewaris tahta Kekaisaran Shu! Namanya Shu En!” Anak kecil yang berumur sepuluh tahun itu memberitahu kejadian yang sebenarnya kepada Guang Peng.


Seketika tubuh Guang Peng mendadak lemas dan langsung jatuh ketanah dengan perasaan bersalah.


“Aku selalu menunggu hari ini tiba...” Guang Peng meneteskan air mata dan bersujud didepan kaki Shu En.


“Yang Mulia, tolong ambillah nyawaku... Aku sudah banyak melakukan dosa besar karena tunduk pada Pamanmu.” Guang Peng memohon.


“Ayahanda...” Putra Guang Peng berkaca-kaca melihat hal ini.


Shu En menghela nafas karena telah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Keluarga Guang dan keluarga Dong tidak memiliki pilihan lain selain berpura-pura tunduk pada Shu Liang demi keberlangsungan hidup mereka.


Selain itu Shu En mengetahui perasaan bersalah Guang Peng karena kelima jari ditangan kiri pria itu putus akibat ulahnya sendiri.


“Hiduplah, Paman Guang. Tebus dosamu itu dengan menciptakan tempat yang damai dan aman untuk anakmu ini.” Shu En berkata dengan suara yang lembut sebelum mengalihkan pandangannya kepada Ma Ching.


“Sekarang katakan padaku dimana kau menahan mereka?! Paman Ma! Kakek Ma dan Bibi Ma!” ujar Shu En yang masih mengingat beberapa orang dari keluarga Ma dan begitu setia kepada mendiang Ayahnya.


Dengan ketakutan Ma Ching memberitahu jika kepala keluarga Ma sebelumnya telah ia bunuh. Bahkan sekarang keluarga Ma hampir tidak tersisa karena banyaknya orang yang menentang dirinya.


“Hanya Nyonya Ma Shie yang tersisa -” Kepala Ma Ching terlepas dari badannya sebelum menyelesaikan perkataannya.


“Cukup! Hanya demi mendapatkan kepercayaan Pamanku kau bertindak sejauh ini!” Shu En langsung membakar tubuh Ma Ching hingga lenyap tak bersisa, kemudian dia mengeluarkan energi Qi yang besar dan menyebar ke area sekitarnya.


“Paman Guang, apa kau sudah mendengar pembantaian di Pulau Salju Rembulan?” Shu En bertanya kepada Guang Peng sambil membakar tubuh orang-orang yang dia bunuh di kediaman keluarga Ma.


Guang Peng menelan ludah melihat apa yang dilakukan Shu En. Dengan jujur pria ini menjawab belum mengetahui apa yang terjadi di Pulau Salju Rembulan.


“Yang Mulia... Sebenarnya keluarga Guang dan keluarga Dong berniat...” Guang Peng memberitahu rencana keluarga Guang dan keluarga Dong yang ingin mengambil alih tahta dari Perintah Langit.


Dua keluarga ini sudah mengumpulkan kekuatan tempur dan akan menjalankan rencana mereka sebulan lagi. Namun pergerakan keluarga Ma yang bekerjasama dengan perampok membuat beberapa tujuan mereka terhambat.


“Kalau begitu aku ingin kau memberitahu semua orang dinegeri ini jika pemiliknya sudah kembali.” Shu En menatap Guang Peng tajam dan membisikkan sesuatu kepada pria itu.


Ekspresi Guang Peng terlihat pucat saat mendengar bisikan Shu En, namun beberapa saat kemudian wajah pria itu menjadi tenang.


“Kau persiapkan semuanya, Paman Guang. Kita akan bertemu di Tanah Hijau Dong,” ucap Shu En.


”Sebaiknya Yang Mulia berkunjung ke kediaman keluarga Guang terlebih dahulu sebelum pergi.” Guang Peng menundukkan kepalanya dan berharap Shu En menerima ajakannya.


Shu En pun menoleh melihat Guang Peng dan putranya yang ikut menundukkan kepala.


“Baiklah, aku akan kesana setelah mengurus sesuatu.”

__ADS_1


Setelah itu Shu En berjalan menuju rumah yang ada dikediaman keluarga Ma dan mencari keberadaan wanita paruh baya yang bernama Ma Shie.


__ADS_2