Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 97 - Fresh Fragrant Blood


__ADS_3

...L.O.S.E 97 - Fresh Fragrant Blood...


Suasana didalam Kota Donghua juga sama parahnya dengan diluar. Situasi ini disebabkan oleh Kong Guan yang mengambil alih tahta Kekaisaran Shu setelah kematian Shu Liang dan bekerjasama dengan Ling Tian untuk mengumpulkan penduduk yang memiliki kondisi darah berbeda dari manusia umumnya.


Saat Ras Immortal mulai kehilangan kemampuannya, mereka akan menghisap darah dari manusia biasa yang mereka sebut dengan Darah Harum Segar. Semua penduduk yang telah mendapatkan tanda sebagai Darah Harum Segar melarikan diri ke Tanah Hijau Dong, sedangkan masih banyak yang berada di Pulau Suci Shu untuk menunggu giliran dibunuh.


Kekejaman ini membuat darah Shu En mendidih, lantas ia menemui salah satu kenalan Guang Peng dan termasuk orang yang dia kenal saat kecil. Sosok penguasa Tanah Hijau Dong bernama Dong Xa akan Shu En ajak kerjasama.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Shu En untuk sampai ke lokasi kediaman keluarga Dong. Sesampainya disana Shu En menemukan sesuatu yang menarik karena pertarungan terjadi disana antara sekelompok orang yang mengatasnamakan Pembunuh Bayangan Kaisar Shu sedang mengeroyok Dong Xa dan putrinya.


“Dong Xa! Yang Mulia memberikan waktu padamu selama satu minggu lagi, jika kau tidak menyerahkan putrimu ini dan tunduk padanya maka kau akan mendapatkan akibatnya!” ujar salah satu pembunuh yang berhasil melukai Dong Xa dengan sejumlah pisau kecil beracun.


“Situasi di Pulau Suci Shu sudah tidak terkendali! Kau tahu bukan akibatnya jika berani menentang?! Dua hari lagi akan ada pembantaian besar-besaran dan itu akan membuatmu mengerti betapa besarnya kepemimpinan Kaisar Shu yang sekarang dibandingkan sebelumnya!” Salah satu pembunuh juga memberikan peringatan.


Dong Xa menatap puluhan pembunuh yang dikirim Kong Guan untuk membunuh dirinya. Melihat semua penjaga keluarga Dong mati ditangan mereka membuat Dong Xa tidak dapat berbuat banyak.


“Putriku, pergilah ke Seribu Pulau Xingma! Beberapa saat lalu aku mendapatkan surat dari teman baikku jika Yang Mulia Shu En masih hidup! Bantulah dia untuk mengatasi masalah ini dan balaskan kematianku!” Dong Xa hendak mengorbankan dirinya dan menatap sesosok gadis anggun bernama Dong Wenli yang masih berumur dua puluh tahun.


“Tidak, Ayah! Aku tidak ingin dirimu mengorbankan diri demi diriku! Aku akan ikut bersamamu!” ujar Dong Wenli.


“Kau pikir kami akan membiarkan kalian berdua melarikan diri!” Salah satu pembunuh lebih dulu bergerak cepat kearah Dong Xa sambil mengayunkan pedangnya yang tajam.


Trang!!!


Pedang pembunuh itu mengenai sebuah tombak yang terbentuk dari energi Qi saat hendak membunuh Dong Xa. Seketika semua orang disana mencari keberadaan sosok yang melempar tombak tersebut.


“Siapa yang melakukan ini?” Dong Xa terkejut dan menyadari tombak yang muncul didepannya itu telah menyelamatkan hidupnya.


“Ayah, ada orang diatas benteng kediaman!” Dong Wenli memberitahu Dong Xa dan menunjuk sesosok pemuda yang menatap kearah mereka berdua dan Pembunuh Bayangan Kaisar Shu.


Semua pembunuh yang ada disana langsung menatap Shu En dan meningkatkan kewaspadaannya mereka. Tidak ada orang bodoh yang berani ikut campur masalah ini, namun dalam situasi barusan Shu En berani ikut campur bahkan mengeluarkan aura intimidasi yang sangat mengerikan.


“Siapa kau anak muda?! Beraninya kau mencari masalah dengan kami!” ujar salah satu pembunuh dengan teriakan lantang kepada Shu En.


“Bunuh saja siapapun yang menghalangi kita!”


“Dia orang yang cukup bodoh karena berani mencari masalah dengan Pembunuh Bayangan Kaisar Shu!”


“Mari kita serang dia!”


Sekitar sepuluh pembunuh terbang dan langsung bergerak cepat menuju Shu En, namun sebelum mencapai tempat keberadaan Shu En tiba-tiba tubuh mereka semua terpotong oleh sesuatu tak kasat mata.


“Apa yang terjadi?! Mereka mati dalam sekejap seperti ditebas pedang!” Terlihat seorang pembunuh terkejut melihat hal ini begitu juga dengan yang lain.


“Apa dia menggunakan sihir?”


“Dia berbahaya jangan gegabah!”

__ADS_1


Melihat kemampuan Shu En barusan membuat semua pembunuh yang ada disana langsung menjaga jarak dari Shu En dan tidak ada yang berani mendekati.


“Ayah, apa yang barusan terjadi?” tanya Dong Wenli.


“Aku tidak mengetahuinya secara pasti, tetapi aku melihat sekilas banyak bayangan menyerupai pedang diudara. Mungkin hanya perasaanku saja...” ujar Dong Xa yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan Shu En.


“Kemampuannya sangat tinggi. Apa dia juga mengincar kita?” Dong Wenli menjadi khawatir terlebih kultivasinya sangatlah lemah karena baru mencapai tahap Alam Suci dan tidak dapat berbuat banyak saat dikepung pembunuh seperti ini.


“Putriku, pemuda itu jangan-jangan dia...” Dong Xa menebak jika pemuda itu adalah sosok Shu En seperti yang dimaksud Guang Peng.


“Sepertinya mata kalian buat semua! Banyak orang yang kultivasinya mencapai Alam Langit namun mereka tidak memiliki kemampuan tinggi yang dapat menguasai energi Qi ke tingkat yang lebih lanjut!” Shu En turun dari benteng kediaman dan berjalan dengan santai mendekati kerumunan pembunuh yang langsung membentuk formasi.


“Apa maksudmu anak muda?! Sebelum itu perkenalkan dirimu!” ujar salah satu pembunuh yang melepaskan nafsu membunuh dan berada dalam bagian formasi penyerangan.


“Tadi kalian mengatakan sesuatu yang menarik...” Shu En tersenyum dingin dan berhenti berjalan sebelum memperlihatkan semua pedang tak kasat mata yang ada di kediaman, “Kong Guan bukan? Siapa orang itu? Beraninya dia mengaku sebagai Kaisar Shu! Aku akan membunuhnya dengan cara terkeji!”


“Beraninya kau berbicara seperti itu bedebah!” teriak pembunuh yang tersulut emosi.


Saat pedang tak kasat mata terlihat, pembunuh itu terkejut saat dirinya berlari kearah sebuah pedang yang terbang di udara dan mengayun sendiri memenggal kepalanya.


“Kalian yang seharusnya sadar sedang berbicara dengan siapa!” Kedua mata Shu En melebar tajam dan ia langsung mengendalikan sekitar seratus pedang tak kasat mata untuk membunuh semua pembunuh yang ada di kediaman keluarga Dong.


“Seni Pedang Iblis - Pedang Tanpa Wujud!”


Semua pembunuh mulai berteriak ketakutan saat tubuh mereka terpotong-potong dan dan menghujam badan mereka. Shu En menyisakan satu pembunuh untuk hidup dan langsung bergerak kearah pembunuh tersebut dengan Aura Iblis yang keluar dari tubuhnya.


“Tidak... Ini tidak mungkin terjadi! Bagaimana bisa kau membunuh semua temanku bahkan tidak sampai satu menit!” Pembunuh terlihat sangat ketakutan dan terduduk diatas jalan dengan badan yang gemetar ketakutan.


Shu En menatap satu pembunuh yang tersisa dan tersenyum dingin, “Beritahu semua temanmu di alam sana jika yang telah membunuh mereka semua adalah pemuda bernama Shu En!”


“Hah?” Mengetahui jika orang yang telah membunuh semua temannya dan termasuk dirinya adalah Shu En, seketika pembunuh itu terdiam kaku tanpa bisa menggerakkan badannya saat tangan kanan Shu En mencekik lehernya dan menghancurkannya.


“Dua hari lagi ya? Sepertinya aku bisa berhadapan dengan Ling Tian dan anak buahnya! Mereka sudah keterlaluan!” Kedua mata Shu En melotot menunjukkan kemarahan dan tangannya yang mencengkeram leher pembunuh tersebut semakin erat mencengkeramnya.


KRUK!!!


Suara patah tulang terdengar. Shu En langsung membanting tubuh pembunuh yang barusan dia bunuh dengan sangat mengenaskan, lalu memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.


“Aku akan mengakhirinya! Kau akan mendapatkan balasannya Ling Tian!” ujar Shu En murka karena mengetahui Ling Tian sudah membunuh ratusan penduduk Kekaisaran Shu demi untuk meningkatkan kemampuannya.


“Apakah kau Paman Dong? Aku kemari untuk mencarimu. Apa Paman Guang sudah memberitahu.” Shu En segera menyapa Dong Xa yang mematung ketakutan melihat dirinya.


“Eh? Iya... Saudara Guang... Jadi kau adalah Yang Mulia Shu En!” Dong Xa dengan sejuta ekspresi terkejut masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, terlebih identitas pemuda dihadapannya.


Dong Wenli yang mengetahui jika pemuda yang sudah menyelamatkan mereka adalah Shu En tentu saja rumit untuk menatap pemuda itu.


Kemampuan Shu En sangatlah tidak normal dan jauh diatas mereka semua. Dong Wenli menelan ludah karena merasakan ketakutan setelah melihat sendiri bagaimana Shu En membunuh semua pembunuh dengan cara yang keji.

__ADS_1


“Benar, aku adalah Shu En. Aku kemari untuk mengambil warisan yang ditinggalkan mendiang Ayahku kepadaku. Maukah membantuku, Paman Dong?” Shu En mengulurkan tangannya kepada Dong Xa, namun membuat pria paruh baya itu langsung bersujud dikakinya.


“Yang Mulia! Hamba tidak pantas mendapatkan ajakanmu ini! Hamba sudah berdosa karena tunduk pada pemerintahan Pamanmu!” Dong Xa menangis dan merasa bersalah setelah semua apa yang dia lakukan.


Walaupun Dong Xa melakukan ini demi keberlangsungan hidup penduduk Tanah Hijau Dong dan keluarga Dong, namun dirinya merasa berkhianat karena telah tunduk kepada pemerintahan Shu Liang.


“Paman Guang juga berkata seperti itu...” ujar Shu En dengan ekspresi wajah yang tenang.


‘Saudara Guang juga berkata seperti itu? Apa yang dia maksud?’ Dong Xa berkata dalam hati dan memegang kedua kaki Shu En dengan gemetaran.


“Berdirilah, Paman Dong. Aku sudah mengetahui semuanya. Bersyukurlah karena masih hidup sampai sekarang demi menebus kesalahanmu.” Shu En tersenyum ramah dan membuat Dong Xa berdiri secara perlahan dihadapan Shu En.


Setelah itu Shu En memegang pundak Dong Xa dan berkata dengan nada yang dingin, “Setelah aku mengambil alih tahta, aku tidak akan mengizinkan siapapun berkhianat! Siapapun yang mengusik atau mencoba membunuh orang-orang ku, maka akan kubunuh!”


Seketika badan Dong Xa langsung ambruk ketanah setelah mendengar ucapan Shu En. Dong Xa merasakan sendiri bagaimana intimidasi yang dilakukan Shu En barusan.


“Ayah! Apa yang kau lakukan kepada Ayahku, Pangeran manja?!” Dong Wenli menatap dingin Shu En dan tanpa sadar berkata demikian seperti saat keduanya masih kecil dan bermain bersama.


“Lama tidak berjumpa, Dong Wenli... Tidak, maksudku perempuan kecil yang pernah buang air besar di celana.” Shu En tersenyum sinis saat mengatakan itu dan membuat wajah Dong Wenli merah padam menahan malu.


“Kau... Kau... Kau masih mengingatnya!” Dong Wenli tidak berkutik saat melihat Shu En tertawa kecil.


“Kalian berdua...” Dong Xa terkejut melihat Shu En dan putrinya ternyata seakrab ini.


Memang saat menjabat sebagai Panglima Kekaisaran Shu, Dong Xa sempat beberapa kali meninggalkan istri dan anaknya di Ibukota Shuyang. Namun tidak pernah ia sangka, saat kecil Shu En dan Dong Wenli sudah begitu akrab.


“Paman Dong, maaf aku menakutimu. Aku akan mempersingkat waktu pertemuan kita karena aku akan pergi ke Pulau Suci Shu secepatnya.” Shu En tidak berbasa-basi dan menjelaskan rencana yang sudah dia siapkan bersama Guang Peng kepada Dong Xa.


“Aku ingin Paman Dong berkontribusi dalam rencana ini dan membantu. Apa tidak keberatan?” ujar Shu En kepada Dong Xa.


“Yang Mulia! Dengan segala hormat hamba tidak akan mengecewakan harapan Yang Mulia!” Dong Xa menjawab kepercayaan Shu En dan terkejut dengan perkembangan anak muda itu.


‘Masih berumur enam belas tahun sudah sekuat ini... Apa dia monster?’ ujar Dong Xa Dalma hati saat melihat kemampuan Shu En yang sudah jauh diatasnya.


“Sebelum pergi, biarkan hamba menjamu Yang Mulia -”


Tiba-tiba tubuh Dong Xa ambruk dan pria paruh baya itu pingsan tidak sadarkan diri.


“Ayah?!” Dong Wenli yang terkejut segera memeriksanya.


“Ayah terkena racun...” gumam Dong Wenli saat mengetahui kondisi Ayahnya itu.


Shu En mendekat dan langsung memeriksa kondisi tubuh Dong Xa. Dia dapat menyembuhkan Dong Xa dengan mudah menggunakan kemampuan Phoenix Api. Namun sebelum itu Shu En menyuruh Dong Wenli untuk meminta semua penjaga kediaman membersihkan bekas pertempuran.


“Apa kau tidak sadar dengan kondisi Ayah-”


“Kakak Wenli, aku bisa menyembuhkan Paman Dong. Halaman depan kediamanmu ini membuatku tidak nyaman. Kesannya seperti menakutkan.” Shu En memotong ucapan Dong Wenli dan mengingatkan banyaknya potongan tubuh manusia yang membuat kediaman keluarga Dong terkesan horor.

__ADS_1


‘Hah? Bukankah kau yang telah melakukan semua ini?’ Dong Wenli membatin tidak habis pikir dan langsung mengikuti permintaan Shu En.


Sementara Dong Wenli memanggil penjaga yang ditugaskan untuk menjaga Ibunya yang sedang dalam kondisi kritis karena terkena racun, Shu En menyembuhkan Dong Xa menggunakan Api Phoenix.


__ADS_2