
...L.O.S.E 113 - Development of Swordsmanship...
Latihan kedua yang dijalani oleh Shu En adalah menyempurnakan kondisi tubuhnya yakni Tubuh Dewa Iblis. Butuh waktu sekitar enam bulan untuk Shu En menguasai Tubuh Dewa Iblis sebelum ia mempelajari cara menguasai Tubuh Dewa Matahari.
BOOOMMM!!!
Suara ledakan pada tubuh Shu En terdengar keras saat pemuda itu mulai menyerap cahaya matahari kedalam tubuhnya.
Jing Yang memberitahu Shu En jika dengan menguasai Tubuh Dewa Matahari dapat membuatnya memiliki Energi Dewa yang tidak terbatas selama masih ada cahaya matahari yang dapat dia serap sebagai energi spiritual.
Sekarang Shu En merasakannya sendiri saat dirinya dapat menguasai Tubuh Dewa Matahari. Energi spiritual yang terserap oleh tubuhnya serasa tidak terbatas dan membuat dantian dalam tubuhnya mengeluarkan bunyi seperti detak jantung.
‘Luar biasa, aku bisa merasakan energi spiritual yang mengalir didalam tubuhku...’ Shu En membatin dan menikmati dantian dalam tubuhnya yang berubah bentuk dan menyimpan begitu banyak energi spiritual didalamnya.
Melihat perkembangan Shu En membuat Jing Yang tersenyum. Pemuda itu terlihat sedang melewati proses pembentukan otot dan tulang pada tubuhnya.
Setelah menguasai Tubuh Dewa Matahari, Shu En terlihat berbeda dari sebelumnya. Aura yang terpancar dari dirinya menunjukkan kewibawaan dan dominasi yang kuat.
Kemudian Jing Yang turun dihadapan Shu En dan melempar sebuah pedang yang terbuat dari kayu. Shu En menangkap pedang kayu tersebut dan mendengarkan penjelasan Jing Yang tentang latihan selanjutnya yang akan ia lakukan.
“Serang aku menggunakan pedang kayu itu. Aku ingin melihat sejauh mana pemahamanmu tentang ilmu pedang,” ujar Jing Yang kepada Shu En.
Shu En segera mengalirkan energi Qi pada pedang kayu yang ia genggam dan menatap Jing Yang tajam. Sekilas Jing Yang terlihat memiliki banyak celah dan membuatnya berinisiatif melakukan serangan.
__ADS_1
‘Bagus, kau nampak begitu bersemangat.’ Jing Yang langsung mengubah pertahanannya dan membuat Shu En terkejut.
Sebuah tebasan yang dipenuhi energi Qi mengarah dengan kecepatan tinggi kearah leher Jing Yang, dengan gerakan yang cepat Jing Yang menahan tebasan pedang kayu Shu En.
WUUUSSSHHH!!!
BUAK!!!
Kedua pedang kayu itu saling bersentuhan dan menimbulkan gelombang kejut karena energi Qi yang membungkus kedua pedang kayu tersebut.
“Caramu mengalirkan energi Qi sudah bagus, bocah. Namun kau masih perlu dipoles...” Jing Yang tersenyum lebar sebelum melakukan gerakan tipuan untuk mengecoh Shu En.
“Perhatikan dengan baik caraku menggunakan Qi.”
Jing Yang mulai bergerak menyerang Shu En. Tebasan yang dilepaskan Jing Yang terlihat lambat dan Shu En dapat menahannya, namun saat kedua pedang kayu mereka bersentuhan tubuh Shu En langsung terpental jauh kebelakang.
WUUUSSSHHH!!!
BOOOMMM!!!
Saat pedang miliknya bersentuhan dengan senjata musuh, Jing Yang dapat mengendalikan energi Qi miliknya menjadi ledakan.
“Semua itu tinggal bagaimana dirimu melakukan variasi serangan dengan mengendalikan energi Qi. Kau dapat melakukan berbagai jenis serangan tergantung seberapa pandai dan mahir dirimu menggunakan Qi.” Jing Yang menjelaskan.
__ADS_1
“Sekarang perhatian dengan baik bagaimana menggunakan Hawa Dewa Sejati!” Jing Yang melepaskan semacam aura yang tak kasat mata namun Shu En dapat sekilas melihat lewat penglihatannya yang tajam.
Dengan menggunakan Tanda Mata Iblis sekilas Shu En dapat melihat pedang kayu Jing Yang memanjang. Sekuat tenaga ia menangkis tusukan pedang kayu Jing Yang dari jauh itu, namun tetap saja ia mendapatkan luka tusuk diperutnya.
“Serangannya begitu kuat dan terasa sangat berat untuk ditangkis! Sial!” Shu En mengumpat sebelum ia mendapatkan sejumlah serangan beruntun dari Jing Yang.
“Gunakam Energi Dewa dan Hawa Dewa Sejati untuk melawanku!” ujar Jing Yang.
“Baiklah, Guru!”
Lalu mereka berdua melakukan pertukaran serangan yang cepat, permainan pedang Shu En berubah menjadi gesit sedangkan Jing Yang nampak dalam posisi bertahan menyambut setiap tebasan yang dilepaskan Shu En.
Sekitar satu jam setelah keduanya melakukan pertukaran serangan Jing Yang melepaskan satu tusukan yang telak dan mengenai ulu hati Shu En.
“Kau kalah, bocah...”
Jing Yang mengayunkan pedangnya kearah leher Shu En dan pedang kayunya itu terlihat seperti melewati leher pemuda tersebut. Shu En berkeringat dingin dengan wajah yang memucat karena merasakan lehernya terpotong walaupun secara nyata kepalanya masih baik-baik saja.
“Ada apa bocah?” tanya Jing Yang sambil tersenyum.
Shu En hendak menjawab namun ia kesulitan menjawab seolah-olah ia tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Shu En memegang lehernya dan mencoba berbicara namun ia merasa kesulitan dan itu membuat Jing Yang tertawa kecil.
“Sekarang kau bisa mempelajari pengembangan ilmu pedang ini. Kemahiranmu dalam menggunakan Qi bisa dibilang tinggi, namun kau menyia-nyiakannya.” Jing Yang memberitahu Shu En agar pemuda itu lebih kreatifitas dalam melakukan serangan.
__ADS_1
Shu En hanya mengangguk karena masih kesulitan untuk menjawab. Tidak pernah ia sangka dirinya akan bertekuk lutut seperti walaupun sudah berkembang pesat berlatih dibawah arahan Jing Yang.
‘Hari ini mataku terbuka lebar. Aku akan menyerap semua yang Guru ajarkan kepadaku.’ Shu En membatin dan bangkit berdiri lalu kembali melakukan duel dengan Jing Yang.