
...L.O.S.E 119 - Shu En and Hong Zi Ran ...
Bulan yang bersinar terang menghiasi malam itu dengan indah. Detik demi detik kian berlalu dan membuat kedua insan manusia yang merengkuh keindahan dunia tertidur pulas dibawah sinar rembulan.
Keesokan harinya Shu En terbangun dan menemukan Hong Zi Ran yang tertidur disampingnya. Shu En melihat rambut Hong Zi Ran yang nampak berantakan dan membuatnya mengingat kejadian beberapa jam kebelakang.
‘Apa aku sedang bermimpi?’ Shu En membatin dan kembali memejamkan matanya.
Beberapa detik kemudian ia merasakan pelukan yang erat dan sesuatu yang bersentuhan dengan lengannya. Seketika jantungnya berdebar kencang dan nafasnya memburu karena menyadari semua ini bukanlah mimpi.
Shu En langsung mendelik dan tidak percaya, ‘Apa yang terjadi? Seingatku aku dan Bibi Hong mengobrol sesuatu, lalu aku memeluknya dan...’
Seketika Shu En terbangun dan menutup mulutnya dengan telapak tangan seolah tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan.
“Apa yang telah aku lakukan?!” ucap Shu En cukup keras dan membuat Hong Zi Ran terbangun.
“Hmmm...” Hong Zi Ran membutuhkan waktu untuk mengumpulkan kesadarannya.
Ketika terbangun Hong Zi Ran melihat Shu En yang sedang duduk dengan tubuh polos dan terlihat syok. Seketika dirinya mengingat kejadian beberapa jam kebelakang dan itu membuatnya langsung tersadar.
“En‘er...” Hong Zi Ran mengingat dengan jelas semuanya dan langsung bangkit dari ranjang mengambil pakaiannya yang terlempar ke sembarang arah.
“Bibi Hong?” Shu En terkejut melihat Hong Zi Ran sudah bangun.
__ADS_1
“Jangan melihat! Pejamkan matamu!” teriak Hong Zi Ran saat berdiri namun ketika melangkahkan kakinya, seketika tubuhnya ambruk menimpa Shu En dan menindihnya.
“Aduh!” Hong Zi Ran meringis kesakitan dan merasakan ngilu disekitar pahanya.
Setiap bagian tubuhnya terasa penat dan melelahkan. Menyadari hal ini Hong Zi Ran tidak dapat berkutik terlebih saat wajah Shu En tepat berhadapan dengan wajahnya.
Keduanya saling menatap satu sama lain dalam diam. Kedua tangan Shu En menahan badan Hong Zi Ran namun justru memegang hal yang lain.
“Aku... Bibi... Aku tidak bermaksud -”
“Pejamkam matamu!” teriak Hong Zi Ran kepada Shu En karena saat ini dirinya berada diatas tubuh pemuda itu.
Wajah Hong Zi Ran merah padam dan dengan cepat membaringkan tubuhnya kesamping lalu mengambil kain putih yang lebar dan menjadikannya sebagai selimut.
Shu En membuka matanya secara perlahan dan menjawab lirih, “Maafkan aku, Bibi... Aku... Aku... Akan bertanggung jawab.”
Dengan gugup Shu En mengatakan itu. Ia merasakan jantungnya seperti akan lepas dan ia bingung dengan keberanian yang ia lakukan semalam menghilang dipagi hari.
Mendengar ucapan Shu En membuat Hong Zi Ran dalam posisi serba salah. Berniat ingin melupakan, namun dirinya juga harus memikirkan perasaan Shu En.
“Anggap kejadian semalam tidak pernah ada. Aku ingin kau melupakannya...” ucap Hong Zi Ran dan dijawab anggukan kepala oleh Shu En.
Tak lama Hong Zi Ran mendengar Shu En bangkit dari ranjang dan pergi menuju ruangan yang ada disebelah. Setelah beberapa saat Shu En kembali dan membawakan beberapa buah-buahan untuk Hong Zi Ran.
__ADS_1
“Bibi, apa kau marah padaku? Setidaknya makanlah ini. Aku akan menemui Bibi Xhin dan Bibi Jia.” Shu En dengan ramah menawarkan buah-buahan yang termasuk sumber daya langka seperti Apel Es, Persik Abadi dan Anggur Kristal.
Hong Zi Ran ingin mengatakan sesuatu namun melihat wajah bersalah Shu En membuatnya tidak tega. Semalam bukanlah kesalahan Shu En sepenuhnya. Keduanya melakukan secara sadar dan Hong Zi Ran tidak memungkiri jika semalam merupakan pengalaman pertamanya diperlakukan dengan kasih sayang oleh seorang pria.
“Aku sedang tidak enak badan. Aku akan meminjam kamarmu ini sampai aku dapat berjalan.” Hong Zi Ran memberitahu Shu En sebelum kembali memejamkan matanya.
Sementara Shu En meninggalkan kamarnya dan pergi menemui Xhin Diao dan Jia Xiang Yi. Hong Zi Ran merenungkan kejadian semalam dan tidak menyangka Shu En telah melewati penderitaan yang tidak ia ketahui.
‘En‘er, jika seperti ini, kau sama saja memberi kesempatan pada wanita ini untuk hidup lebih lama...’ Hong Zi Ran membatin dan mengingat sebuah ingatan milik Shu En didalam mimpinya.
Walaupun mengatakan kepada Shu En untuk melupakan semuanya, namun selama hampir dua minggu belakangan ini dirinya kembali mengarungi malam yang indah bersama Shu En.
Hong Zi Ran tidak lagi menolak dan mulai menerima Shu En. Sampai akhirnya Hong Zi Ran mengingat waktu sebulan untuk Xhin Diao dan Jia Xiang Yi.
“En‘er, bisakah kau menyelamatkan Bibi Xhin dan Bibi Xiang Yi?” ucap Hong Zi Ran cemas.
“Bibi, apa kau yakin?” Shu En bertanya untuk memastikan.
Namun reaksi Hong Zi Ran terlihat berbeda. Wanita itu memicingkan matanya dan terlihat seperti ingin memprotes Shu En. Bagaimana tidak karena setelah keduanya menjalin hubungan yang lebih dalam, Shu En masih memanggilnya dengan sebutan Bibi, sementara dirinya masih memperlakukan dan menganggap Shu En sebagai anak kecil.
Hong Zi Ran ingin mengatakan dan mengungkapkan semuanya namun ia tidak bisa mengatakannya. Akhirnya Hong Zi Ran hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
“Bibi, aku tidak akan melakukan hal itu jika tidak memiliki perasaan kepada wanita itu. Jadi aku ingin mengatakan hal ini padamu...” Shu En tersenyum hangat dan membuat jantung Hong Zi Ran berdegup kencang.
__ADS_1
Bisikan hangat yang mengungkapkan segalanya itu membuat hati Hong Zi Ran berbunga-bunga. Senyuman indah terpancar diwajah cantiknya dan tak lama Hong Zi Ran membalas pelukan Shu En yang mendekap tubuhnya dengan erat.