
L.O.S.E 120 - Happiness
Setelah menghabiskan waktu selama enam bulan penuh di Dimensi Dewa, Shu En memutuskan untuk kembali. Melihat Hong Zi Ran dapat kembali berkultivasi adalah kebahagiaan terindah dalam hidupnya. Senyuman Hong Zi Ran menyembuhkan sebagian lubang yang menganga dihatinya.
Bukan hanya Hong Zi Ran saja yang menjalani kebahagiaannya di Dimensi Dewa, melainkan Xhin Diao dan Jia Xiang Yi juga sudah bisa berkultivasi secara mandiri setelah mengarungi malam yang indah dengan melakukan Teknik Kultivasi Ganda.
“Bibi Xhin, Bibi Jia, apa kalian sudah menguasai teknik teleportasi yang kuajarkan?” Shu En bertanya saat melihat kedua wanita itu duduk bermeditasi.
Mendengar Shu En berkata demikian, seketika Xhin Diao dan Jia Xiang Yi membuka matanya secara bersamaan. Keduanya sepemikiran dan langsung menatap Shu En dengan sorot mata tajam.
Melihat dirinya ditatap demikian, Shu En pun mengerutkan keningnya. Dalam hati ia bertanya tentang kesalahan apa yang dirinya buat sampai membuat Xhin Diao dan Jia Xiang Yi memasang ekspresi kesal dan kecewa.
“Apa kau akan tetap memanggilku seperti itu?” Xhin Diao menatap Shu En kecewa setelah apa yang ia jalin dengan pemuda itu beberapa bulan ini.
“Aku sepemikiran dengan Diao. Namun jika kau tidak memiliki perasaan kepada kami, maka bagiku tidak masalah. Aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab karena aku bersyukur bisa diselamatkan olehmu.” Jia Xiang Yi menanggapi dan memberikan pendapatnya.
Mendengar itu secara langsung dari Xhin Diao dan Jia Xiang Yi membuat ekspresi Shu En terkejut. Shu En tersedak dan memejamkan matanya mengingat apa yang telah ia lakukan dengan Xhin Diao ataupun Jia Xiang Yi.
‘Aku ingin melindungi semuanya. Perasaan ini seperti aku yang ingin memiliki semuanya...’ Shu En membatin dan memiringkan kepalanya mengingat dirinya yang menguasai Teknik Tujuh Dosa Besar Mematikan.
‘Kerakusan?’ Shu En mengerutkan keningnya sebelum membuka matanya secara perlahan.
“Maafkan aku...” ucap Shu En lemah sebelum menatap Xhin Diao dan Jia Xiang Yi lembut.
“Hanya saja aku seperti tidak pantas untuk kalian berdua. Apa kalian menerima lelaki yang baru akan menginjak tujuh belas tahun ini?” Shu En menggaruk pipinya dan berkata kepada Xhin Diao dan Jia Xiang Yi.
‘Sepertinya aku yang terlalu berharap, bagaimanapun En‘er adalah pemuda yang umurnya lima belas tahun lebih muda dariku.’ Xhin Diao membatin dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Disisi lain Jia Xiang Yi tersenyum sebelum tertawa pelan dan berjalan mendekati Shu En. Lalu dengan lembut Jia Xiang Yi mengecup pipi Shu En dan menunjukkan senyuman indahnya.
“Kami tidak pantas untukmu, En‘er. Terimakasih telah menyelamatkanku. Kau masih muda dan seharusnya kau bisa mendapatkan banyak wanita diluar sana yang jauh lebih baik dari kami-”
__ADS_1
“Huek! Huek! Huek!”
Saat Shu En tercengang dengan ucapan Jia Xiang Yi, suara Hong Zi Ran terdengar dan membuat Shu En dan kedua wanita itu terkejut. Berbeda dengan Shu En yang langsung berlari menuju Hong Zi Ran, Jia Xiang Yi dan Xhin Diao saling berhadapan dan menelan ludah.
“Zi Ran sepertinya...” Xhin Diao memucat wajahnya untuk sesaat namun tak lama ia tersenyum.
“Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih!” ucap Xhin Diao menambahkan.
“Sebaiknya kita memeriksanya. Namun aku rasa kau sepemikiran denganku, Diao.” Jia Xiang Yi berkata sambil berlari menuju Hong Zi Ran disusul Jia Xiang Yi.
Disaat keduanya sampai mereka menemukan Hong Zi Ran yang sedang menikmati bunga-bunga indah yang bermekaran dengan wajah yang pucat. Terlihat Hong Zi Ran terlihat seperti orang yang mual dan Shu En yang berada disampingnya menunjukkan kekhawatiran.
“Bibi! Kau kenapa? Apa yang terjadi?!” Shu En bertanya.
“Biar kami yang memeriksanya, En‘er!” Xhin Diao langsung memapah Hong Zi Ran dan menegur Shu En.
“Tetapi-”
Kemudian Jia Xiang Yi berbisik pelan, “Ini urusan wanita dewasa...”
“Urusan wanita dewasa?” Shu En mengerutkan keningnya dan hendak bertanya, namun Jia Xiang Yi mengedipkan mata menyuruh Shu En untuk diam.
“Tunggu diluar Istana dan tunggu kabar dari kami!” Jia Xiang mengingatkan sebelum menambahkan, “Dan ingat, kau tidak diperbolehkan untuk menguping pembicaraan kami!”
“Apa yang terjadi?” Shu En merasa panik namun dirinya kebingungan karena tiba-tiba ia tersenyum merasa bahagia.
“Sial, kenapa aku malah tersenyum!” Shu En mengumpat dan dengan sabar menunggu kabar Hong Zi Ran diluar Istana.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Hong Zi Ran keluar istana dan berjalan menemui Shu En ditaman. Shu En dengan cepat berlari menuju Hong Zi Ran yang berjalan lemah sambil memegang perutnya.
“Bibi, apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa kan?!” tanya Shu En penasaran.
__ADS_1
Hong Zi Ran tersenyum kecut lalu mencubit hidung Shu En menunjukkan senyuman ramah.
“Kau masih memanggilku Bibi setelah malam itu.” Hong Zi Ran menatap Shu En tajam sebelum memegang tangan pemuda itu dan menuntunnya untuk menyentuh perutnya.
“Sepertinya aku hamil dan ini adalah anakmu.” Hong Zi Ran berkata jujur dan memberitahu.
Seketika Shu En terdiam mematung dan merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
“Bibi-” Shu En hendak mengatakan sesuatu namun melihat ekspresi Hong Zi Ran membuatnya sadar jika sekarang ada yang harus ia lakukan.
“Ran‘er...” ucap Shu En lembut sambil memeluk tubuh Hong Zi Ran kepelukannya.
“Aku akan bertanggung jawab. Kumohon, lahirkan anak kita dengan selamat.”
Hong Zi Ran pun tersenyum bahagia dan meneteskan air matanya. Dengan erat wanita itu membalas pelukan Shu En dan menganggukkan kepalanya lembut.
“Aku akan mengandung anakmu, En‘gege...” Suara lembut Hong Zi Ran membuat jantung Shu En berdetak kencang.
“Ehem!” Suara Jia Xiang Yi membuyarkan kebahagiaan keduanya.
“Xiang Yi? Diao? Bukankah aku menyuruh kalian menunggu didalam!” ujar Hong Zi Ran malu setengah mati.
Melihat Jia Xiang Yi dan Xhin Diao, Shu En pun tersenyum dan mengerti.
“Yi‘er, Diao‘er, kemarilah.” Shu En memanggil keduanya.
Jia Xiang Yi dan Xhin Diao cukup malu untuk mendekat, namun dengan cepat Shu En menarik tubuh keduanya dan merangkulnya.
“Apa kalian berdua juga bersedia menerima anak muda ini sebagai suami kalian?” Shu En tersenyum saat melihat ekspresi malu keduanya.
Jia Xiang Yi mengangguk lembut begitu juga dengan Xhin Diao. Kemudian Shu En mengatakan sesuatu kepada mereka bertiga dan membuat wajah ketiganya merah padam.
__ADS_1