Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 64 - Goodbye


__ADS_3

...L.O.S.E 64 - Goodbye ...


Sebelum berangkat menuju Kekaisaran Tang, Lu Shin Rui meminta Shu En agar tidak menghadapi semuanya sendirian. Memang keputusan yang Shu En buat belum tentu menjadi yang terbaik, tetapi inilah resiko yang harus Shu En terima karena kejamnya dunia kultivator ini.


Shu En berharap Lu Shin Rui tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya dan percaya padanya. Shu En sudah memberinya rencananya kepada Xing Zhuo, Wu Tian, Cao Jin dan Xue Jian selama ia berada di Kekaisaran Tang.


“Aku sudah menyiapkan perbekalan dan meminta Nona Xia membawanya. Selain itu aku meminta Junior Xue untuk membantumu.” Lu Shin Rui memberitahu.


“Bibi Lu, sebelum pergi ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Shu En tiba-tiba menatap wajah Lu Shin Rui hangat dan memegang tangan wanita itu.


“Hmmm...” Lu Shin Rui terlihat heran saat Shu En menarik tangannya dan membawa dirinya menuju sebuah tempat yang sepi.


“Ini...” Lu Shin Rui memperhatikan sekitarnya dan menemukan dirinya berada jauh dibelakang reruntuhan Ibukota Luoyang.


“Kita ada dibelakang Ibukota. Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai membawaku ke tempat sepi seperti ini?” Lu Shin Rui mencoba bersikap tenang padahal detak jantungnya sudah tidak karuan.


“Bibi Lu, ada yang ingin ku sampaikan mengenai kondisi tubuhmu. Aku dapat menyembuhkan kondisi titik meridianmu yang lumpuh.” Shu En memerah wajahnya saat memberitahu cara untuk mengatasi semua yang terjadi pada Lu Shin Rui.


Dengan menggunakan Tubuh Dewa Iblis, Shu En mengetahui jika dirinya dapat mengatasi kelumpuhan titik meridian pada lawan jenisnya dengan melakukan Teknik Kultivasi Ganda.


Tepat setelah mendengar penjelasan Shu En ekspresi wajah Lu Shin Rui berubah. Pipi Lu Shin Rui bersemu merah dan langsung menarik tangannya yang dipegang Shu En. Dengan tatapan dingin Lu Shin Rui menatap Shu En dan meminta pemuda itu pergi.


“Anggap saja aku tidak pernah mendengar hal ini! Pergi!” ucap Lu Shin Rui murka.


“Bibi Lu... Tetapi aku hanya-”


“Pergi! Aku tidak ingin bicara lagi!” Lu Shin Rui menegaskan dan membuat Shu En merasa bersalah.


Selepas kepergian Shu En, seketika tubuh Lu Shin Rui lunglai ke tanah dan tidak menyangka pemuda yang umurnya terpaut jauh dengannya akan berbicara demikian kepada dirinya.


“En‘er... Aku tahu kau berniat menolongku. Kau sangat baik, tetapi kita tidak pantas melakukan itu dan aku sudah bersumpah tidak akan membuka hatiku kepada lelaki kembali.” Lu Shin Rui berkata dengan lemah dan mencoba bangkit berdiri kembali.

__ADS_1


Dimasa lalu Lu Shin Rui pernah memiliki seorang kekasih, namun karena patah hati yang terlalu dalam dan dikhianati, Lu Shin Rui pun memutuskan untuk fokus berkultivasi dan tidak akan membuka hatinya kepada lelaki kembali.


Bahkan hingga umurnya yang menginjak tiga puluh lima tahun, Lu Shin Rui masih belum membuka hatinya kepada lelaki. Mengetahui Shu En bersikap dan berkata demikian membuat Lu Shin Rui teringat kembali akan dirinya pada masa remaja.


“Maafkan aku En‘er...”


Sementara itu Shu En yang akan berangkat menuju Kekaisaran Tang sedang berpamitan dengan Yang Ruan dan Xing Rou.


“Kakak Ipar! Aku akan berlatih dengan giat dan tidak kalah dengan Yang Mulia Ratu!”


Diantara Yang Ruan dan Xing Rou ada Xue Fen yang akhirnya mendapatkan restu Shu En untuk menjadi muridnya. Bukan tanpa alasan Shu En mengangkat Xue Fen menjadi muridnya. Selain karena permintaan Xue Jian dan Xue Xiaoya, Xue Fen yang selalu merengek dan memohon padanya membuat Shu En akhirnya mengalah.


“Tubuh bayanganku akan sesekali kemari dan mungkin diriku akan kesini sendiri untuk melihat perkembangan latihan kalian.” Shu En mengusap kepala Xue Fen dan tersenyum.


“Hehe... Aku akan menjadi kultivator yang hebat- Aduh!”


Sebelum Xue Fen menyelesaikan ucapannya, kepalanya dijitak Shu En karena kesal Xue Fen menganggap dirinya sebagai kakak iparnya.


“Jangan panggil aku Kakak Ipar mengerti?!” ujar Shu En kepada Xue Fen.


“Kakak Ipar... Kakakku menatapmu begitu tajam.” Xue Fen memberitahu.


“Eh, ada apa?” Shu En pun menoleh kebelakang dan menemukan Xue Xiaoya yang menatapnya dengan tatapan nafsu membunuh.


“Aku tidak pernah menjitak kepala adikku, Saudara Shu! Kau melakukannya! Apa kau sebegitu tidak inginnya dipanggil Kakak Ipar?!” Xue Xiaoya tersenyum kepada Shu En dan membuat pemuda itu menelan ludah.


‘Aku lupa jika gadis ini sangat menyayangi adiknya...’ Shu En membatin dan melirik kearah Tang Xia untuk menolong dirinya.


“Tenang saja, Kakak Xia sudah memberitahuku semuanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Xue Xiaoya memberitahu.


‘Apa maksudnya? Tidak perlu khawatir?’ Shu En membatin dan memejamkan matanya saat Xue Xiaoya mengelus kepalanya.

__ADS_1


“Mari berangkat. Apa aku membuatmu takut, Saudara Shu?”


Mendapatkan perlakuan ini seketika mata Shu En saat melihat Tang Xia dan Xue Xiaoya seperti melihat dua Naga yang ganas sedang mengawasi dirinya.


“Kami akan segera menyusul kalian, Enen!” Uje Xing Rou sambil melambaikan tangannya dan membuat Yang Ruan dan Xue Xiaoya menatap Shu En sangat tajam.


“Enen... Aku do'akan yang terbaik untukmu.” Yang Ruan menanggapi.


Tang Xia hanya menghela nafas melihat Shu En yang diapit ketiga gadis, lalu menarik Shu En dan berpamitan segera.


“Dasar Adik Shu, kau memang meresahkan karena membuat banyak perempuan termakan janji palsumu!” ujar Tang Xia kesal.


“Janji palsu? Aku tidak pernah membuat janji palsu sekalipun!” Shu En menanggapi sengit.


“Masih mengelak?” Tang Xia menatap Shu En dengan sinis.


“Apa Kakak Xia juga termasuk perempuan yang termakan janji palsuku?” Shu En malah mengeledek Tang Xia dan membuatnya tertawa kecil.


“Kau mulai berani berbuat nakal ya?” Setelah itulah Tang Xia menjitak kepala Shu En dan membuat pemuda itu terdiam.


Yang Ruan, Xing Rou dan Xue Xiaoya yang melihat hal ini tercengang karena tidak menyangka Shu En seperti seorang bocah dan samsak tidak berdaya dihadapan Tang Xia.


“Apa yang Enen katakan sampai membuat Kakak Xia marah?” ucap Xing Rou.


“Bukankah Kakak Xia terlihat sangat menakutkan?” sahur Yang Ruan.


Sedangkan Xue Xiaoya tak lama tersenyum karena mengetahui bukan hanya dirinya yang tertarik kepada Shu En tetapi Xing Rou dan Yang Ruan pun juga merasakan hal yang sama dengannya.


“Kami pamit, Yang Mulia Ratu.”


Xue Xiaoya berpamitan dan langsung bergegas menyusul Shu En dan Tang Xia.

__ADS_1


Melihat kepergian mereka bertiga Xue Fen tersenyum bangga dalam hatinya.


‘Kakak Ipar memang hebat. Dia seperti Singa Buas yang berusaha menjinakkan Naga Betina...’ Xue Fen ketawa dalam hati saat mengumpamakan Shu En yang dikelilingi para gadis.


__ADS_2