
...L.O.S.E 95 - Ma Shie...
Setelah mandi, Shu En dan Ma Shie duduk berdua diteras kediaman. Disana Ma Shie menyisiri rambut Shu En yang berantakan dan mengajak pemuda itu untuk mengobrol ringan.
“Bisa kau ceritakan bagaimana dirimu selamat dari kejadian malam itu, En‘er?”
Ma Shie dengan lembut menanyakan hal ini setelah merapikan rambut Shu En. Dengan terbuka Shu En menceritakan segalanya kepada Ma Shie tentang apa yang telah dia lalui selama ini.
Kejam dan bengisnya kehidupan sudah membuatnya menjadi sosok seperti sekarang ini. Shu En memiliki begitu banyak penyesalan karena tidak dapat menyelamatkan Hong Zi Ran termasuk Ma Shie.
Mendengar penyesalan pemuda itu dan menjadi alasannya semalam untuk mabuk karena merasa sangat frustasi, Ma Shie mengacak-acak rambut Shu En hingga berantakan kembali.
“Bibi merasa senang denganmu.” Ma Shie berkata lembut.
“Rambutku jadi berantakan...” Shu En mengeluh tetapi dalam hati ia merasa senang. Sisi kekanak-kanakannya muncul dengan sendirinya dan ingin dimanja Ma Shie.
“Nanti Bibi rapikan lagi.” Ma Shie tersenyum hangat dan menatap Shu En lebih serius, “Hal yang ingin Bibi bicarakan denganmu ini mengenai Giok Naga Azure...”
“Aku memegang pusaka itu sedangkan yang palsu diambil Pamanmu dan diserahkan kepada Kaisar Tang...”
__ADS_1
Ma Shie menceritakan kepada Shu En tentang wasiat terakhir Ling Shui agar menjaga Giok Naga Azure dan jangan sampai jatuh ke tangan yang salah.
“Ibumu mengatakan ini...” Ma Shie memberitahu Shu En agar kelak setelah mampu melindungi orang-orang yang dia sayangi, ia ingin Shu En menghentikan kekacauan yang disebabkan Jalan Naga Hitam.
“Pemimpin Jalan Naga Hitam yang sesungguhnya adalah leluhurmu sendiri, dia bernama Ling Chen, Ling Shan dan Ling Tian. Mereka bertiga menempuh jalan iblis agar menjadi abadi dan membuang kemanusiaan mereka...”
Mendengar itu dari Ma Shie seketika ekspresi Shu En berubah menjadi serius. Tidak pernah ia sangka semua ini terhubung dan berkaitan dengan dirinya.
Mengetahui bagaimana Ma Shie menjaga Giok Naga Azure dan bertahan hidup walau sesakit apapun itu, Shu En kembali dipenuhi perasaan bersalah. Terlihat jelas dimata Ma Shie jika wanita itu tidak memiliki niat untuk melanjutkan hidupnya, jika bukan karena Giok Naga Azure maka ia sudah melakukan bunuh diri.
“Bibi Ma, terimakasih karena telah hidup sampai saat ini.” Shu En dengan penuh keberanian memeluk tubuh Ma Shie dan membelai lembut rambut wanita itu.
“En‘er?” Ma Shie terkejut dengan tindakan Shu En ini dan memegang dada pemuda itu dengan sedikit mendorongnya.
Mendengar pengakuan Shu En membuat Ma Shie tertawa kecil. Dimatanya Shu En terlalu rumit mempermasalahkan masalah kehidupannya. Memang terlintas dibenaknya untuk bunuh diri setelah menyerahkan Giok Naga Azure kepada Shu En.
Namun mengetahui tekad tulus pemuda tanggung yang belum mencapai tujuh belas tahun itu, Ma Shie pun bertekad ingin hidup lebih lama dan membuktikan sendiri ucapan Shu En.
“Terimakasih En‘er, tetapi aku tidak bisa membalas perasaanmu itu. Perasaanmu itu adalah rasa bersalah dan bukan cinta. Selain itu kau adalah anak dari mendiang teman baikku. Aku tidak bisa menjawab perasaanmu.” Ma Shie tersenyum hangat dan memegang pipi Shu En lembut.
__ADS_1
Setelah itu Shu En terdiam seribu bahasa dengan wajah yang merah padam karena telah mengatakan semua yang ada dipikirannya.
‘Bocah ini sangat menggemaskan...’ Ma Shie membatin dan mengelus rambut Shu En lembut.
Hari itu Shu En menerima Giok Naga Azure dari Ma Shie dan kembali mengatakan hal yang membuat Ma Shie tertawa cekikikan.
“En‘er, banyak wanita cantik diluar sana dan kau malah berjanji akan bertanggung jawab atas hidupku? Dasar anak nakal! Setidaknya kau harus berumur tujuh belas tahun dulu dan menjadi seorang Kaisar yang hebat! Setelah itu aku akan memikirkannya!” ujar Ma Shie bercanda namun Shu En menanggapinya serius.
“Sungguh? Jika aku menjadi seorang Kaisar dan telah berumur tujuh belas tahun, Bibi Ma akan menerimaku?” Shu En dengan tatapan serius berkata demikian dan membuat Ma Shie menelan ludah tak percaya.
‘Padahal aku hanya bercanda...’ Ma Shie membatin dan mengetahui pemuda ini tidak main-main.
“Emmm... Kau harus menuntaskan ambisimu dulu. Iya, kau harus menuntaskan ambisimu dulu. Kau tadi bercerita tentang itu bukan?”
Dengan memberikan syarat yang banyak, Ma Shie berharap Shu En tidak serius. Namun pemuda itu malah tersenyum dan mengangguk dengan penuh tekad.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi pria yang dapat membuatmu bahagia, Bibi Ma.”
Mendengar ini Ma Shie tersipu malu tanpa sadar.
__ADS_1
“Eh?” Ma Shie terkejut saat dirinya memiliki alasan untuk hidup lebih lama karena ingin melihat keseriusan Shu En.
Setelah kembali berbincang mengenai tujuan Shu En, akhirnya Shu En berpamitan untuk pergi ke Tanah Hijau Dong.