
...L.O.S.E 61 - Massacre News...
Nampak ekspresi Xu Xiao Chi kesakitan saat mengetahui tangan kirinya putus akibat tebasan pedang Tang Xia. Tersirat diwajah Xu Xiao Chi jika pertarungan melawan Tang Xia akan tidak menguntungkan dirinya sama sekali.
‘Sial! Gadis sialan ini memutuskan tanganku!’ Xu Xiao Chi mengumpat dalam hati sambil menjaga jarak sejauh mungkin dari Tang Xia.
“Aku tidak akan membiarkan kau melarikan dari! Terima akibat dari semua perbuatanmu ini!” teriak Tang Xia sambil mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah Xu Xiao Chi.
Melihat itu Xu Xiao Chi menggertakkan giginya dan memanipulasi tanah disekitarnya. Serangan dari berbagai arah datang kearah Tang Xia dan menghalangi pergerakan gadis itu.
“Apa kau pikir semua ini akan menghalangi pergerakanku?” ujar Tang Xia setelah mengetahui jarak antara dirinya dengan Xu Xiao Chi menjauh.
Xu Xiao Chi mengerutkan keningnya dan menatap Tang Xia tajam. Xu Xiao Chi menyadari energi spiritual disekitar Tang Xia tampak berbeda dari sebelumnya.
Apa yang Xu Xiao Chi khawatirkan terjadi saat sejumlah serangannya tidak dapat menyentuh tubuh Tang Xia. Semua serangan yang dilepaskan Xu Xiao Chi lenyap sebelum menyentuh tubuh Tang Xia seolah-olah gadis itu menetralisir segala jenis serangan yang berada diarea serangannya.
“Apa yang terjadi? Kau menetralisir semua seranganku!” ujar Xu Xiao Chi dan menyadari betapa buruknya situasi ini.
“Kau tidak dapat mengalahkanku!” Tang Xia mengalirkan energi Qi pada pedangnya dan mengincar leher Xu Xiao Chi.
“Sial! Aku tidak bisa membiarkan semua berakhir seperti ini!” Xu Xiao Chi menyadari dirinya tidak diuntungkan dalam pertarungan ini dan memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari Tang Xia.
Selepas menjauh barulah Xu Xiao Chi menotok bagian tubuhnya dan tersenyum selebar mungkin.
__ADS_1
“Kau tidak dapat melindungi siapapun!” ujar Xu Xiao Chi dan mencabut jantungnya sendiri sebelum melemparnya kearah salah satu penduduk.
Setelah itu tubuh Xu Xiao Chi hancur dan meledak. Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelombang kejut yang menghancurkan hampir seisi Ibukota Luoyang.
Tang Xia dengan segenap kemampuannya menahan ledakan besar itu dan menghempas gelombang kejut keatas. Setelah itu Tang Xia melihat kehancuran mengerikan di Ibukota Luoyang akibat pembantaian yang dilakukan Xu Xiao Chi.
Ibukota Luoyang yang memiliki ratusan ribu penduduk itu hanya menyisakan ribuan orang saja. Tragedi memilukan ini membuat Tang Xia sadar jika jalan yang mereka ambil masih terlalu naif dan kejam.
Akibat pertempuran ini Yang Ruan kehilangan banyak kepercayaan dari penduduk. Rasa takut dan keputusasaan menyebabkan banyak penduduk yang kehilangan arah dan tujuan.
Ditengah semua itu Tang Xia mencoba menghibur Yang Ruan bersama Xing Rou. Kejadian ini tidak pernah mereka perkirakan bahkan Xing Rou pun tidak dapat meramalnya.
“Seandainya saja kekuatanku bisa kugunakan seperti biasa, maka kejadian ini tidak akan terjadi!” ujar Xing Rou penuh perasaan bersalah saat melihat banyaknya mayat yang berserakan dihalaman Ibukota.
Sementara itu Yang Ruan begitu putus asa dan menatap mayat Xu Kai dan Liu Bai dengan tatapan hampa. Kedua pemuda yang menjadi pengawalnya itu sudah ada untuk melindunginya sejak ia kecil dan sekarang mereka telah tiada.
Kematian Xu Kai dan Liu Bai menjadi pukulan telak bagi Yang Ruan dan membuatnya putus asa. Tang Xia yang berada disampingnya pun tidak dapat berbuat banyak karena Yang Ruan terlihat begitu depresi.
“Kakak Xia, aku tidak akan pernah dapat mengemban tugas ini! Semua ini terlalu berat untukku!” Isak tangis Tang Xia pecah saat mengetahui ketidakberdayaan dirinya menghadapi semua ini.
“Adik Ruan...” Tang Xia tidak dapat berbicara banyak karena dirinya juga merasakan keputusasaan saat tidak menyadari jika Yong Xiang adalah seorang pengkhianat.
Kejadian di Ibukota Luoyang benar-benar membuat gempar Kekaisaran Yang. Apa yang telah Shu En persiapkan hancur dalam sehari dan semua ini menjadi awal dari pembalasan yang akan segera terjadi.
__ADS_1
Dalam perjalanannya menuju Ibukota Luoyang, Shu En dan Lu Shin Rui tidak pernah menduga jika akan mendengar kabar pembantaian ini.
Keduanya pun bergegas untuk memastikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Dunia luar yang Xue Xiaoya lihat untuk pertama kalinya adalah tragedi dan Shu En memberitahu jika kedepannya akan lebih banyak tragedi seperti ini jika tidak ada orang yang membuang kemanusiaan dan menjadi iblis.
Pergi meninggalkan Ibukota Luoyang dengan senyuman dan kembali dengan kemarahan itulah yang Shu En rasakan. Sejauh mata memandang ia hanya melihat reruntuhan dan banyaknya jenazah yang sedang dikumpulkan.
Akal sehat Shu En benar-benar dipenuhi kemarahan namun sebisa mungkin ia meredam kemarahan tersebut.
“Aku akan memanggil semua orang yang berniat bertarung bersamaku dan membahas masalah ini! Kita harus mengambil tindakan!” ujar Shu En sambil melirik Lu Shin Rui yang berada dibelakangnya.
“Bibi Lu, pergi temui Ruan. Saat ini dia butuh orang yang dapat menyembuhkan kondisi mentalnya.”
Selepas berkata demikian Shu En berjalan mendekati penduduk yang sedang membersihkan jenazah dijalankan Ibukota.
“Senior Lu, aku tidak menyangka akan melihat hal mengerikan seperti ini setelah diriku keluar dari Pegunungan Seribu Es...” ujar Xue Xiaoya dengan tatapan sendu.
“Junior Xue, tolong awasi En‘er. Aku takut dia akan bertindak gegabah karena semua ini.” Lu Shin Rui menepuk pundak Xue Xiaoya dan pergi meninggalkan gadis itu.
Xue Xiaoya pun mengikuti Shu En dan membantu pemuda itu membersihkan jenazah korban pembantaian.
“Zhao Tian...” Shu En menatap jenazah Zhao Tian lalu memejamkan matanya secara perlahan.
Berita menyedihkan ini benar-benar menjadi pukulan telak baginya. Shu En mengutuk dirinya sendiri karena terlalu mempercayai seseorang. Akhirnya semua ini menyebabkan dirinya mengambil tindakan yang berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1