
...L.O.S.E 44 - The Patriarch Is Free...
...ARC 2 - Blue Moon War...
Trang!!!
Suara dua pedang yang saling bersentuhan itu menggema. Dipuncak Bukit Petir terlihat pertarungan sengit antara Shu En melawan Wu Tian. Pertukaran serangan keduanya pun menciptakan gelombang kejut yang membuat semua orang menjauh dari mereka.
“Sepertinya pedangmu itu belumlah tumpul kakek tua!” ujar Shu En sambil tersenyum lebar.
“Kau harus kuajari tata cara berbicara sopan kepada orang yang lebih tua, anak muda!” sahut Wu Tian.
“Aku tidak tertarik dengan hal itu, kakek tua! Aku tumbuh dikelilingi para siluman dan kau menyuruhku menjadi manusia yang sopan?!” Shu En menyambut tebasan pedang Wu Tian sebelum melangkah pelan dan melepaskan tendangan.
“Jangan bercanda!” ujar Shu En dengan ekspresi marah.
Semua orang yang melihat pertarungan ini saling berbincang. Tidak pernah ada yang menyangka akan terjadi hal seperti ini di Bukit Petir.
“Bukankan Tuan Wu terlihat menikmati pertarungan ini?”
“Benar sekali, sudah lama aku tidak melihat permainan pedangnya itu.”
Terdengar suara orang-orang yang menonton berbincang. Mereka semua berharap Wu Tian dapat memenangkan pertarungan ini dan kembali mengambil alih posisi Patriark Bukit Petir.
Namun tidak semua orang memilki satu suara, sebagian ada yang berharap Shu En memenangkan pertarungan dan menjadi Patriark Bukit Petir yang baru. Dengan kultivasinya yang berkembang pesat, serta kemampuannya dalam bertarung dalam usia muda, mereka berharap Shu En dapat membawa Bukit Petir kembali pada masa kejayaannya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu siapa pemuda itu, tetapi aku berharap dia memenangkan pertarungan ini dan menjadi pemimpin baru kita.” Salah satu penonton berkomentar.
“Dengan sosoknya yang berwibawa dan penuh intimidasi itu, aku merasa tenang jika memiliki pemimpin seperti itu!” Yang lainnya menanggapi.
Pertarungan pun masih berlangsung sengit. Jual beli serangan antara Wu Tian dan Shu En benar-benar membuat semua orang yang menonton berdecak kagum.
Wu Tian berniat mengalahkan Shu En dengan beberapa teknik pedangnya, namun pria tua itu menyadari kemampuan Shu En yang ternyata jauh diatasnya.
“Dasar iblis!” Wu Tian tersenyum menyeringai karena Shu En berusaha menyembunyikan kemampuannya.
“Gunakan seluruh kemampuanmu, kakek tua! Kau tidak bisa memberikan luka padaku jika kau meremehkanku!” ujar Shu En bersiap menyambut serangan Wu Tian.
Aliran Qi pada pedang Wu Tian mulai mengalir dengan tenang. Saat Wu Tian mengayunkan pedangnya dengan cepat, Shu En menyambutnya dengan lincah.
Kedua tebasan pedang itu beradu sengit. Percikan api terlihat saat kedua pedang bergesekan. Sedetik kemudian pedang milik Wu Tian diselubungi petir kecil sebelum merambat ke pedang Shu En.
“Bahkan kau hanya kesemutan dan tidak mengalami kelumpuhan selama beberapa menit!” Wu Tian juga terkejut.
“Kultivasimu itu berada di Alam Dewa bukan?” ujar Wu Tian dan membuat orang-orang yang melihat tercengang mendengarnya.
Selain Lu Shin Rui dan Cao Jin tentu akan terkejut ketika mendengar hal ini. Tidak pernah ada satupun manusia di Kekaisaran Yang berhasil menembus ranah tersebut. Walaupun ada semua itu hanyalah orang-orang dimasa lalu sebelum mereka semua dibantai oleh Ras Immortal.
“Kau bisa berasumsi sesukamu, kakek tua.” Shu En mengibaskan pedangnya sebelum menarik nafas panjang dalam satu kali tarikan nafasnya.
Dengan gerakan yang begitu cepat Shu En melepaskan terbasan pedang beruntun. Terlihat jelas Wu Tian kesulitan mengimbangi permainan pedang Shu En yang ritmenya sulit ditebak.
__ADS_1
‘Umurnya masih sangat muda dan dia begitu berbakat. Dengan kemampuannya itu dia bisa menjadi kultivator yang angkuh, namun dia memilih untuk mengambil jalan yang berbeda...’ Wu Tian membatin sambil berusaha mengimbangi permainan pedang Shu En.
Setelah melakukan pertukaran serangan selama hampir satu jam penuh, akhirnya sang pemenang pertarungan ini terlihat jelas. Shu En berhasil mengalahkan Wu Tian setelah pria itu menjatuhkan pedangnya saat berusaha menangkis tebasan pedang Shu En yang dialiri Qi.
Tangan kanan Wu Tian pun terlihat terluka cukup parah karena terkena tebasan pedang Shu En. Setelah pertarungan berakhir Shu En menyembuhkan tangan kanan Wu Tian dan memuji langkah yang diambil Wu Tian.
“Dengan ini aku bisa bangga karena telah mengalahkan dirimu, kakek tua!”
Wu Tian tertawa terbahak-bahak karena tidak menyangka akan diselamatkan oleh Shu En. Kakek tua itu pun memegang pundak Shu En dan tersenyum bangga.
“Kau menang, anak muda. Kaulah orang yang berhak menjadi penguasa bukit ini. Aku wariskan semuanya padamu.”
Hari itu Shu En resmi menjadi Patriark Bukit Petir yang baru. Namun kepemimpinannya ini tidak berlangsung lama karena satu menit kemudian setelah dirinya dinobatkan, Shu En menunjuk Wu Tian sebagai Patriark Bukit Petir setelah dirinya.
“Apa kau tidak mendengar ucapanmu?!” Wu Tian menahan amarahnya karena Shu En terlihat bercanda.
“Aku mendengar semuanya, tetapi aku tidak tertarik untuk hal seperti ini. Aku memiliki rencana jauh lebih besar dari tempat terpencil ini.” Shu En memegang pundak Wu Tian lalu berkata, “Dengan ini aku Shu En memberikan posisi Patriark Bukit Petir kepada Senior Wu Tian!”
“Semuanya setuju bukan?!” teriak Shu En.
Semua kultivator Bukit Petir saling berpandangan sebelum mereka tertawa kecil dan tersenyum lebar.
“Kami tidak menolak perintahmu, Patriark!”
Shu En pun tertawa kecil sambil menatap Wu Tian yang menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Kau tidak bisa menolaknya, kakek tua.”
Wu Tian hanya bisa menerima posisi tersebut karena pemimpin mah bebas, selain itu ia juga ingin menebus kesalahannya saat menjabat sebagai Patriark Bukit Petir dimasa lalu.