
...L.O.S.E 45 - Proceed the journey...
...ARC 2 - Blue Moon War...
Suasana di atas puncak Bukit Petir penuh akan kehangatan menyambut era baru. Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama saat anggota terakhir Jalan Naga Hitam yang dikenal sebagai Tiga Eksekutor itu muncul.
“Setelah aku tidak bisa merasakan hawa keberadaan Ma Juan, aku kembali merasakan hilangnya hawa keberadaan Cheng Bai! Rupanya kau penyebabnya!” Sosok pria bernama He Tong menatap Shu En dengan tubuh yang melayang diudara.
Shu En dan semua orang yang ada puncak bukit menoleh keatas. Disaat yang bersamaan Cao Jin dan Wu Tian langsung mengingat sosok pria tersebut.
“Tuan Muda! Anda tidak perlu turun tangan! Aku akan mengurusnya sendiri!” ujar Cao Jin dengan kedua mata yang menatap He Tong dengan tajam.
Sementara itu Wu Tian dipenuhi perasaan yang bergejolak karena mengingat kekalahannya saat pria itu menyandera banyak penduduk Bukit Petir. Sekarang dihadapannya pria itu kembali muncul dan menatap rendah semua orang yang ada dibawahnya.
“Anak muda, terimakasih! Jika bukan karena dirimu, aku tidak akan bisa mengatakan ini dengan bangga!” Senyuman lebar terpancar diwajah kakek tua itu saat He Tong menampakkan dirinya.
“Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri! Kau jangan ikut campur!” ujar Wu Tian.
Shu En tersenyum mendengarnya dan langsung berjalan mendekati Lu Shin Rui untuk mengajaknya menikmati teh hangat dimalam hari.
“Apa kau gila, En‘er? Kau ingin bersantai disaat mereka berdua bertarung!” Lu Shin Rui menegur dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Shu En.
“Aku bisa melihat tekad dimata mereka. Jika mereka kalah, maka mereka tidaklah pantas menjadi bawahanku. Musuh yang kita hadapi jauh lebih besar dari ini. Aku tidak membutuhkan seorang kultivator dengan mentalitas pecundang.”
Detik itu Lu Shin Rui terdiam karena ucapan Shu En. Memang jalan pikiran sangat sulit ditebak. Sejauh ini semua yang terjadi disekitarnya masih dipenuhi keajaiban. Menurut Lu Shin Rui semua itu karena adanya Shu En.
Disaat Shu En dan Lu Shin Rui meminta pelayan di puncak bukit untuk membuatkan teh hangat, Cao Jin sudah terbang keatas langit dan menyerang He Tong lalu disusul oleh Wu Tian dari belakang.
“Siapa pemuda itu? Kultivasinya tidak beraturan! Apa kalian berdua tidak melupakan kekalahan kalian dimasa lalu?!” He Tong menatap dingin Cao Jin dan Wu Tian yang menunjukkan ekspresi marah mereka.
“Jika itu pilihan kalian maka aku juga tidak menahan diri lagi! Akan kubalaskan kematian mereka berdua!” Ledakan Qi tercipta saat He Tong berteriak.
Dalam radius 10 KM, ledakan itu tercipta diatas langit Bukit Petir. Tubuh Cao Jin dan Wu Tian terpental kebawah dengan kecepatan tinggi dan menghantam tanah dengan sangat keras.
“Seperti biasa serangannya ini sulit ditebak!” Cao Jin meringis kesakitan sambil memegang dadanya.
“Senior Wu, aku akan menjadi umpan sementara kau membantuku dari belakang.” Cao Jin tersenyum sambil mengumpulkan energinya.
“Aku akan mengambil Cincin Ruang ditangannya dan mengambil kembali senjata kita!” Setelah berkata demikian, Cao Jin terbang melesat dengan kecepatan tinggi ke udara.
__ADS_1
Aura tubuh Cao Jin berwarna emas dan kobaran api pun tercipta disekitar tubuhnya. Saat Cao Jin mengarahkan telapak tangannya diudara, seketika semburan api tercipta disana.
He Tong menghindarinya dan mempersingkat jaraknya dengan Cao Jin. Keduanya tersenyum lebar saat mengarahkan pukulan masing-masing.
BOOOMMM!!!
Kedua pukulan yang dipenuhi Qi itu pun beradu sengit diatas sana. Ledakan demi ledakan tercipta seiring pertukaran serangan yang terjadi. Baik Cao Jin ataupun He Tong tidak ada yang mau mengalah.
Dalam jangkauan serangan ledakan He Tong tentu tidak menguntungkan Cao Jin. Tubuh Cao Jin sudah babak belur dan dipenuhi darah karena pertukaran serangannya dengan He Tong.
“Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan!” He Tong tersenyum lebar dan mengarahkan pukulan tangan kanannya pada wajah Cao Jin.
Namun dengan gerakan yang cepat Cao Jin menangkap tangan kanan He Tong, lalu menarik paksa Cincin Ruang yang digunakan pria itu dan melemparnya ke bawah.
“Senior Wu! Sisanya kuserahkan padamu!” teriak Cao Jin sambil menahan serangan He Tong dengan segenap kemampuannya.
“Keparat!” He Tong nampak murka dan meledakan apapun disekitar jangkauan serangannya.
Dengan Qi yang tersisa, Cao Jin menyelimuti tubuhnya guna melindungi dirinya. Tubuh Cao Jin pun terhempas kebawah dengan kondisi yang mengenaskan namun hal yang dilakukan Cao Jin tidaklah sia-sia.
Dibawah sana Wu Tian berhasil mengeluarkan pedang kesayangannya begitu sebuah tongkat berwarna emas. Serangan balik pun dimulai, Wu Tian yang telah mendapatkan kembali pedangnya itu sudah berada pada jangkauan serangan He Tong.
“Hahahaha! Lihat siapa yang dibawah sana! Aku akan membunuh anakmu itu!” He Tong menanggapi dan melepaskan sebuah pukulan jarak jauh yang dipenuhi Qi.
“Kau pikir aku akan membiarkannya!” Wu Tian pun menebaskan pedangnya dan ledakan besar pun tercipta.
Dibawah sana Shu En yang sedang menikmati teh hangat bersama Lu Shin Rui pun terkejut dengan pertarungan ini.
“Ini melebihi perkiraanku. Sepertinya musuh berniat menjadikan para penduduk menjadi sandera.” Shu En berkomentar setelah menikmati teh hangat.
“Apa yang akan kau lakukan, En‘er? Bukankah tadi kau tidak ingin ikut campur?” ujar Lu Shin Rui.
“Aku akan menyembuhkan Paman Cao dan memastikan kakek tua itu bertarung tanpa khawatir,” jawab Shu En.
Melihat apa yang dilakukan Shu En tentu membuat Wu Tian tersenyum lebar. Wu Tian dengan segenap kemampuannya menyerang He Tong dengan tebasan pedang beruntun.
“Sial! Anak muda sialan itu!” ujar He Tong saat gagal melepaskan serangan tak berarah pada orang-orang dibawah sana.
“Sekarang kita bisa bertarung dengan bebas, bocah sialan!” Wu Tian tersenyum lebar saat dirinya berhasil mengumpulkan energi spiritual yang besar.
__ADS_1
Sebuah bayangan naga berwarna ungu muncul diatas awan saat bilah pedang Wu Tian dipenuhi Qi yang sangat besar.
“Naga Petir Mengarungi Langit!”
Semua orang yang melihat teknik pedang Wu Tian berdecak kagum. Semua anggota Bukit Petir tersenyum bangga karena melihat kembali sosok pemimpin mereka yang telah lama depresi.
Serangan penghancur itu benar-benar membunuh He Tong. Tugas perdana Wu Tian setelah kembali menerima posisi Patriark Bukit Petir pun berjalan dengan lancar.
“Kau telah kembali, Senior Wu...” ujar Cao Jin setelah Phoenix Api menyembuhkan lukanya.
“Terimakasih, Tuan Muda...” Cao Jin langsung menuju Shu En yang berhasil menciptakan keajaiban di Bukit Petir.
Sementara itu Shu En terdiam karena mengingat apa yang ia lihat didalam ingatan Cheng Bai.
‘Tubuh Yin dan Klan Kuno Xue di Pegunungan Seribu Es menyimpan rahasia besar yang berhubungan dengan Ramuan Keabadian. Aku tidak boleh lengah...’ Shu En membatin sebelum ia menatap Lu Shin Rui cemas.
Shu En mengetahui kondisi Lu Shin Rui yang telah dilumpuhkan titik meridiannya, namun wanita itu terlihat enggan memberitahunya.
Akhirnya Shu En pun memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanannya ke Pegunungan Seribu Es. Mulai dari sini, Shu En meminta Lu Shin Rui untuk tetap tinggal di Bukit Petir.
“Bibi Lu, aku ingin kau tetap tinggal disini. Aku akan pergi sendiri.” Keputusan Shu En pun ditentang oleh Lu Shin Rui.
Namun sekeras apapun Lu Shin Rui membujuknya, Shu En pun enggan mengizinkannya.
“Aku sudah mengetahui semuanya. Aku telah mengetahui apa yang terjadi pada tubuhmu. Jadi tetap disini dan menungguku kembali.” Shu En pun tersenyum hangat dan membuat Lu Shin Rui tidak dapat mengatakan apapun.
‘Apa dimatamu aku hanya akan menjadi beban karena sudah tidak bisa lagi menjadi seorang kultivator?’ Lu Shin Rui membatin putus asa.
Sedangkan Shu En menghela nafas karena tidak bisa memberitahu kondisi tubuhnya yang dapat mematahkan semua itu.
‘Mana mungkin aku memberitahu Bibi Lu tentang Tubuh Dewa Iblis didalam diriku. Dia bisa sembuh dan menjadi seorang kultivator yang jauh lebih hebat dari dirinya yang sekarang jika melakukan Kultivasi Ganda denganku.’ Shu En membatin penuh perasaan bersalah sebelum akhirnya ia berpamitan dengan Lu Shin Rui.
“Tuan Muda, apa kau tidak melupakanku?” Cao Jin tidak berniat untuk tetap tinggal di Bukit Petir dan mengikuti Shu En.
Bukan hanya Cao Jin saja, tetapi Wu Tian pun mengikuti Shu En dalam perjalanan menuju Pegunungan Seribu Es.
“Anak muda, klan kuno yang akan kau datangi itu sekarang dalam situasi yang mengerikan. Aku akan membantumu.” Wu Tian berjalan disamping Shu En dan mengutarakan tujuannya untuk ikut dalam perjalanan.
‘Sosok Iblis yang menjadi pemimpin mereka... Selanjutnya bisa saja kita berhadapan dengan sosok itu...’ batin Shu En bergejolak.
__ADS_1
Akhirnya Shu En pun melanjutkan perjalannya menuju Pegunungan Seribu Es bersama Cao Jin dan Wu Tian. Apa yang menanti ketiganya disana adalah sesuatu yang tidak terduga. Semua itu akan membuat Shu En merasakan keputusasaan dan rasa takut yang mencekam karena kekuatan mengerikan.