Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 40 - Devil figure


__ADS_3

L.O.S.E 40 - Devil figure


ARC 2 - Blue Moon War


Cao Jin dengan cepat mempersingkat jarak dan melepaskan pukulan yang dipenuhi Qi kepada Shu En.


BOOM!!!


Shu En menahan pukulan itu dan terkejut saat ledakan tercipta dari gelombang Qi yang ada ditangan Cao Jin.


‘Dia berniat membunuhku, tetapi dia telah memilih lawan yang salah!’ Shu En membatin dan mengamati.


Cao Jin yang mengira Shu En terluka parah dikejutkan dengan sebuah serpihan es berbentuk tubuh Shu En yang secara perlahan hancur.


“Pemuda itu mengelabui Patriark! Apa dia melarikan diri?!”


“Baru melawan Patriark dengan tangan kosong saja sudah melarikan diri apalagi jika Patriark mendapatkan kembali senjatanya!”


Para kultivator Hutan Bambu Kuning yang berkumpul mengomentari jalannya pertarungan sampai akhirnya Shu En menampakkan diri kembali.


“Jadi kau tidak dalam kondisi penuh untuk bertarung, Senior Cao!”


“Kau sangat merepotkan bocah!”


BOOM!!!


Kedua pukulan Shu En dan Cao Jin beradu. Berawal dari satu pukulan hingga akhirnya pertukaran pukulan yang dipenuhi Qi pun terjadi. Shu En tersenyum lebar saat melihat kemampuan Cao Jin yang melebihi perkiraannya.


Namun Shu En belum melihat kemampuan Cao Jin yang sesungguhnya sampai pria itu menunjukkan Qi yang lebih besar dari sebelumnya.


“Aku tidak akan menahan diri!”

__ADS_1


Tubuh Cao Jin pun diselimuti api yang berkobar dan membuat Shu En menjaga jarak. Hanya dalam hitungan detik Cao Jin sudah mempersingkat jarak dan memanipulasi api disekitar tubuhnya menjadi sebuah senjata.


Setelah dirasa cukup melihat kemampuan Cao Jin akhirnya Shu En mengeluarkan hawa dingin yang menandingi panasnya api tubuh Cao Jin.


“Apa kau seorang praktisi es?” Cao Jin mengerutkan keningnya karena kemampuan yang dilepaskan Shu En hanya dimiliki kultivator dari Pegunungan Seribu Es.


Shu En tidak menjawab dan bergerak dengan sangat cepat mendekati Cao Jin. Pergerakannya itu tidak bisa diikuti Cao Jin yang telah mengantisipasi serangan balik Shu En.


“Tidak terlalu buruk.” Shu En tiba-tiba berada didepan Cao Jin dan langsung menggerakkan tangannya dengan sangat cepat.


BOOMM!!!


Tubuh Cao Jin pun terkena pukulannya secara telak. Cao Jin merasakan perutnya seperti diremas, sehingga semua isi perutnya seolah-olah seperti akan keluar dari tubuhnya.


“Arrgghhh!!!” Sontak saja semua kultivator Hutan Bambu Kuning terkejut saat melihat Cao Jin mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.


Cao Jin pun terkapar setelah terpental cukup jauh karena pukulan Shu En. Saat itu juga Cao Jin menyadari bahwa Shu En masih menahan diri, jika Shu En mau bisa saja pemuda itu membuat perutnya berlubang dan membunuhnya. Namun Shu En enggan melakukan itu karena membutuhkan dirinya.


“Jangam bilang kau...” Cao Jin tidak dapat berkata lebih jauh lagi saat melihat semua bawahannya terkapar karena mencoba menyerang Shu En.


“Kami kalah telak. Kau mendapatkan yang kau inginkan anak muda...” Cao Jin merasa lega karena orang berkemampuan tinggi seperti Shu En malah membantu Kekaisaran Yang dan bukan menjadi musuh.


“Sesuai perjanjian aku akan bergabung denganmu. Kau harus ingat satu hal ini, kami bergabung bukan karena ingin terlibat dalam urusan politik melainkan menjadi bawahanmu.”


Shu En pun menjawab keinginan Cao Jin sambil mengulurkan tangannya, “Aku menyambut kalian semua!”


Cao Jin menjabat tangan Shu En dan tersenyum, “Ciptakan era baru untuk kami semua, Tuan Muda!”


“Kau bisa memanggilku Shu En.”


“Tuan Muda Shu En...”

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju Pegunungan Seribu Es, Shu En mendapatkan rekan yang berharga. Malam itu sebelum melanjutkan perjalannya, Shu En mendengarkan kisah tentang hancurnya Hutan Bambu Kuning ditangan kultivator misterius.


“Hingga detik ini aku masih mengingat bagaimana orang itu membunuh anak kecil, gadis sampai bayi sekalipun! Dia bukanlah manusia! Dia menghisap darah para korbannya dan abadi!” Cao Jin menjelaskan.


Shu En yang mendengar hal ini langsung mengerutkan keningnya. Menurutnya Cao Jin terlalu melebih-lebihkan, namun ekspresi ketakutan Cao Jin dan bawahannya menjelaskan segalanya.


“En‘er, sosok yang dimaksud Senior Cao sepertinya bukan manusia. Apa benar sosok Iblis itu ada?” Lu Shin Rui sendiri jadi penasaran sedangkan Shu En memegang dagunya dan mengingat apa yang dia pelajari di Dunia Siluman.


‘Aku adalah wadah sang Dewa Iblis, aku rasa Paman Cao tidak berbohong...’


Shu En membatin cukup lama sebelum akhirnya ia kembali mendengarkan cerita Cao Jin tentang bagaimana sosok kultivator itu.


“Semalaman kami bertarung tanpa henti, tidak terhitung berapa orang yang mati. Namun saat matahari akan terbit, kultivator itu pergi seperti orang yang melarikan diri...” Terlihat Cao Jin mengepalkan tangannya dengan erat setelah berbicara.


“Aku pikir dia akan kembali, namun hingga saat ini dia tidak pernah menunjukkan wujudnya kembali. Sekitar satu tahun yang lalu, kami pada kultivator Hutan Bambu Kuning yang tersisa dikejutkan dengan tiga kultivator yang menemukan keberadaan kami dan mereka bertiga mengambil senjata milikku.”


Cao Jin kembali menceritakan bagaimana sosok ketiga kultivator yang mengaku dari Jalan Naga Hitam dan meminta kami untuk tunduk pada sosok pemimpin mereka. Namun Cao Jin dengan tegas menolak sehingga pertarungan pun terjadi dengan kekalahan Cao Jin yang kehilangan senjatanya.


Mendengar itu Shu En pun berniat membantu Cao Jin untuk mengambil kembali senjatanya. Kebetulan ketiga orang yang Cao Jin maksud pernah Shu En hadapi sebelumnya. Ma Juan telah Shu En kalahkan dan yang tersisa adalah dua orang dari Jalan Naga Hitam.


Dari yang Cao Jin ceritakan, Jalan Naga Hitam muncul di Pegunungan Seribu Es karena mengincar pusaka klan kuno yang terisolasi dari dunia luar dan juga Tubuh Yin.


“Selain itu mereka berniat memperkuat pasukan mereka sehingga berusaha menundukkan kami. Entah apa yang mereka rencanakan dengan semua ini, tetapi mereka semua telah menginjak-injak harga diri kami sebagai seorang kultivator.”


Terlihat jelas raut kemarahan diwajah Cao Jin saat mengingat pembantaian setahun yang lalu dan penyerangan yang dilakukan Ma Juan beserta kedua rekannya.


“Apa Paman Cao tidak tertarik untuk mengambil kembali senjatamu?” Shu En beranjak setelah mendengarkan cerita Cao Jin.


“Kami akan melanjutkan perjalanan.”


Malam itu Cao Jin berpamitan dengan bawahannya untuk ikut dalam perjalanan Shu En menuju Pegunungan Seribu Es.

__ADS_1


__ADS_2