Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 17 - The Grasshopper King


__ADS_3

L.O.S.E 17 - The Grasshopper King


ARC 1 - Fall To Rise


Melihat kejadian tersebut, Xu Kai nampak tidak percaya jika kakeknya melakukan kejahatan tersebut. Setelah kepergian Xu Wang, segera Xu Kai mendekati Shu En dan berusaha menolong pemuda tersebut.


“Tidak! Dia adalah penyelamatku! Aku tidak bisa membiarkannya mati!”


Xu Kai terlihat panik karena darah yang keluar dari perut Shu En sangatlah banyak, namun saat Xu Kai hendak menyentuh perut Shu En yang terluka itu sebuah aura berwarna merah muncul secara perlahan.


“Api?”


Xu Kai terkejut saat melihat api tersebut secara perlahan berubah menjadi api yang membakar perut Shu En. Tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Shu En, Xu Kai berusaha memadamkan api tersebut namun api itu tidaklah padam.


“Tenanglah, aku tidak akan semudah itu...”


“Kau masih hidup?”


Xu Kai kembali dikejutkan dengan Shu En yang menahan tangan Xu Kai, kemudian Shu En menghempaskan tangan Xu Kai sambil tersenyum tipis.


“Xu Kai, apa pendapatmu tentang Kakekmu?”


Shu En bertanya untuk memastikan apakah Xu Kai dapat dia jadikan sebagai bawahannya atau tidak memenuhi kriterianya.


“Kakek... Aku menjadikan dia sebagai panutan. Dia adalah sosok yang menyelamatkan Kekaisaran Yang dari kekejaman kultivator hitam. Aku ingin menjadi seperti dirinya.”


Walau Xu Kai mengatakan hal itu namun dirinya merasa ragu. Xu Kai ragu bukanlah tanpa alasan karena setelah melihat sendiri ekspresi Xu Wang yang berbeda dari yang biasa ia lihat.


“Wajahmu terlihat ragu, Xu Kai...” Shu En menanggapi.


Lalu secara perlahan Shu En bangkit untuk duduk sambil memegang perutnya.


“Zhuan, terimakasih.”


Setelah Shu En mengatakan itu, api Phoenix menghilang dan luka diperut Shu En sembuh secara total. Melihat kejadian ini membuat Xu Kai terheran-heran.


Xu Kai pun menatap Shu En tajam dan merasakan ketakutan. Jelas selama ini Shu En menyembunyikan kemampuannya dan membuat Xu Kai berpikir jika Shu En adalah salah satu dari kultivator berpengaruh di Benua Bulan Biru.


“Malam ini, sebuah pasukan besar akan memporak-porandakan Ibukota Luoyang. Orang yang mendalangi semua itu adalah Kakekmu, Xu Wang,” ucap Shu En secara tiba-tiba.


“Bukan hanya untuk kejadian kali ini saja, tetapi kejadian sebelumnya seperti pembunuhan Kaisar Yang dan jauh sebelum itu, semuanya didalangi Raja Belalang Buas, Xu Wang. Kakekmu itu adalah satu diantara tujuh petinggi Pagoda Tujuh Warna.” Shu En menambahkan.


Mendengar itu secara langsung dari Shu En membuat Xu Kai terkejut. Tentu saja Shu En tidak langsung mempercayai ucapan Shu En, namun dia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri setelah melihat apa yang terjadi hari ini.


“Tuan Muda En, anda adalah penyelamatku. Aku tidak ingin mempercayai ucapanmu dan jujur saja saat ini aku ingin menghajar wajahmu karena menuduh kakekku seperti itu.”


Xu Kai menatap Shu En tajam dan mengatakan bahwa dirinya akan mencari kebenaran itu sendiri.


“Aku akan melihat dengan mata kepalaku sendiri dan membuktikan semua ucapanmu hanyalah tuduhan belaka.”

__ADS_1


Setelah itu keduanya berpisah. Shu En tersenyum dan menghilangkan hawa keberadaannya sepenuhnya, kemudian dia menghilang untuk melakukan pergerakan menghadang pasukan Pagoda Tujuh Warna dibawah kepemimpinan Xu Wang.


Diwaktu yang bersamaan proses penguburan jenazah kedua orang tua Yang Ruan berlangsung lancar. Banyak penduduk yang turut hadir disana untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok Kaisar Yang dan istrinya itu.


Para bangsawan dan orang-orang penting di Kekaisaran Yang juga hadir. Namun beberapa kultivator aliran putih yang dekat dengan Kaisar Yang tidak hadir disana. Ada sebuah kabar burung jika beberapa minggu ini banyak penyerangan yang dilakukan kelompok misterius terhadap beberapa sekte yang mendukung pemerintah Kaisar Yang.


Yang Ruan yang tidak menyadari apa yang akan terjadi di Ibukota Luoyang. Namun perasaan gelisah Yang Ruan menyebar dengan cepat dan membuatnya gelisah.


“Nona Xia, kenapa aku menjadi begitu gelisah? Diriku tidak bisa tenang dan begitu cemas,” ucap Yang Ruan.


“Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Tuan Putri.” Tang Xia menjawab.


‘Dia memiliki intuisi yang kuat. Aku pernah bertemu dengannya saat kecil dan dia seumuran dengan Adik Shu. Tegakkan kepalamu, Yang Ruan, jika kau ingin melewati kekejaman ini.’ Tang Xia membatin sebelum melirik Xu Wang yang berbincang dengan para jendral kekaisaran.


Tepat setelah Xu Wang berbincang dengan para jendral kekaisaran, kakek tua itu mendekati Tang Xia dan menawarkan sebuah pekerjaan kepada gadis tersebut.


Namun Tang Xia menolak tegas dan itu membuat Xu Wang sedikit tersinggung. Sikap arogan Xu Wang yang secara mendadak diperlihatkan membuat Yang Ruan keheranan.


‘Apa Kakek Wang selalu bersikap seperti ini?’ Yang Ruan bertanya-tanya dalam hati.


“Gadis muda, berapa anak muda itu membayarmu? Aku akan membayarmu berkali-kali lipat lebih banyak darinya!” ujar Xu Wang kepada Tang Xia.


“Aku tidak mempunyai hak untuk menjawab segala pertanyaanmu! Yang jelas aku menolak!” Tang Xia menjawab tegas.


Hal ini membuat Xu Wang tersenyum lebar dan melepaskan hawa membunuh dalam sekejap. Tanpa menyembunyikan niatnya, Xu Wang langsung memberi isyarat kepada para jendral kekaisaran untuk mengepung Tang Xia begitu juga dengan Yang Ruan.


“Kalian semua kepung mereka berdua dan pastikan jangan sampai melukai mereka! Mereka berdua adalah harta nasional yang berharga!” ujar Xu Wang memberikan perintah.


“Keluarga Liu juga sedang dalam kekacauan setelah kita berhasil membunuh kepala keluarga mereka!”


“Mereka saling menuduh dan tidak ada yang menyadari jika kitalah yang melakukannya!”


Mendengar ucapan para jendral membuat keringat dingin membasahi wajah Yang Ruan. Jelas yang dilakukan Xu Wang dan para jendral kekaisaran adalah pengkhianatan.


“Kakek Wang! Apa maksud dari semua ini?!”


Melihat Yang Ruan yang belum memahami situasinya membuat Xu Wang tertawa.


“Tuan Putri, apa anda belum menyadarinya?”


“Selama ini aku selalu menyuruh bawahanku untuk membuat kekacauan di negeri ini dan aku yang menumpas mereka. Berkat itu kalian memanggilku orang yang bijaksana.”


Xu Wang mendekati Yang Ruan dan tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi pucat gadis tersebut.


“Apa kau tidak penasaran dengan orang yang menjadi dalang pembunuhan orang tuamu?”


Xu Wang mengulurkan tangannya memegang pipi Yang Ruan dengan lembut.


“Orang itu adalah aku...”

__ADS_1


Tubuh Yang Ruan mendadak lemas saat Xu Wang membeberkan semuanya.


“Tidak... Tidak... Ini tidak mungkin terjadi!” Yang Ruan menjerit histeris karena tidak ingin percaya.


“Itulah yang sebenarnya terjadi, Tuan Putri! Orang yang telah meracuni dan melumpuhkan Kakekmu itu juga aku! Dimataku kalian semua hanyalah orang-orang bodoh yang tidak berguna dan pantas dimanfaatkan!” ujar Xu Wang tegas.


Saat tangan Xu Wang hendak menyentuh bibir Yang Ruan, sebuah pukulan mengenai perutnya dan membuat tubuhnya mundur beberapa langkah menjauh.


“Kakek! Apa yang kau katakan itu benar?!”


Orang yang memukul barusan adalah Xu Kai. Terlihat Xu Kai menatap rumit Xu Wang. Disana ada ekspresi penuh kebencian, kecewa dan amarah yang luar biasa.


“Kakek? Xu Kai, kau harus mengetahui hal ini...” Xu Wang memegang perutnya dan menatap Xu Kai dengan tajam.


“Kau bukanlah cucuku, melainkan kau adalah anakku. Aku memperkosa Ibumu dan membuatnya mengandung dirimu. Selama ini aku membesarkanmu seorang diri karena Ibumu itu telah mati.”


Mendengar hal ini membuat emosi Xu Kai meledak. Ekspresi Xu Wang yang benar-benar menjengkelkan dan tidak berdosa membuat Xu Kai melepaskan Qi dalam jumlah besar.


Xu Kai berniat menyerang Xu Wang namun sebelum Xu Kai melakukan aksinya, Xu Wang melancarkan beberapa pukulan bertenaga dan membuat Xu Kai bertekuk lutut.


“Sadarilah posisimu itu! Apa kau berpikir dapat mengalahkan diriku yang dikenal sebagai Raja Belalang Buas?!”


Setelah membuat Xu Kai terkapar, Xu Wang tertawa lebar dan menjentikkan jarinya. Suara jentikan jarinya terdengar menggema ke penjuru Ibukota Luoyang sebagai tanda penyerangan.


“Saatnya pembantaian!”


Namun tidak ada satupun bawahannya yang muncul untuk menjalankan rencana. Hingga beberapa menit kemudian tidak ada tanda-tanda anggota Pagoda Tujuh Warna akan menyerang.


“Apa yang terjadi? Kemana mereka semua?!” Xu Wang bertanya tegas kepada para jendral kekaisaran.


“Kami tidak mengetahuinya, Senior Xu!”


Xu Wang berdecak kesal sebelum menatap Tang Xia yang berdiri dengan tenang tanpa mempedulikan apa yang terjadi.


“Gadis sialan! Apa semua ini adalah ulahmu?!”


Mengetahui Xu Wang yang mendekat, Tang Xia tertawa pelan sebelum menunjuk ke arah atap bangunan disekitar mereka.


”Ulahku? Apa kau sedang bercanda, kakek pikun?”


“Aku rasa Tuanku yang melakukannya.”


Segera saja Xu Wang menoleh keatas atap bangunan dan menemukan Shu En yang berdiri mengamati mereka.


“Kau?! Tidak mungkin! Kau seharusnya sudah kubunuh!”


Shu En tertawa dingin melihat ekspresi terkejut Xu Wang.


“Kau tidak bisa membunuhku! Justru kau yang akan kubunuh!”

__ADS_1


Setelah Shu En mengatakan itu udara disekitarnya menjadi dingin. Serpihan es dalam sekejap membekukan apa saja yang ada disekitar dirinya.


“Saatnya kita serius!” ujar Shu En dengan tatapan dingin menatap Xu Wang yang membeku ketakutan.


__ADS_2