Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 52 - Demon Bat Poison


__ADS_3

...L.O.S.E 52 - Demon Bat Poison...


Ketika mata Shu En terbuka, ia menemukan dirinya berada di hamparan Padang rumput yang sangat luas. Tempat ini tidak asing karena secara tidak sengaja Shu En melakukan teleportasi ke Kekaisaran Zhang.


“Aku berhasil selamat dari kematian. Disaat terakhir pun aku masih memikirkan tempat ini. Sangat banyak penyesalan disini.” Shu En tersenyum kecut sambil membaringkan tubuhnya menikmati sejuknya angin.


Tanpa Shu En ketahui situasi di Kekaisaran Zhang sekarang sedang bergejolak. Setelah melihat sendiri bagaimana pembantaian yang dilakukan terhadap Jie Hung, Wang Zhi dan anggota Kalajengking Hitam, Kaisar Jia memutuskan untuk mengambil alih tahta Kekaisaran Zhang.


Namun rencana itu digagalkan Zhang Xue bersama kultivator dari Istana Rembulan. Dengan mengambil alih tahta yang seharusnya menjadi miliknya, Zhang Xue membentuk kembali pemerintahan yang baru.


Namun sisa-sisa kultivator dari Sekte Seribu Pedang dan para penduduk Jie Hung masih tersebar diserap wilayah Kekaisaran Zhang. Hal ini dimanfaatkan Kaisar Jia untuk membuat pemberontakan yang sama seperti enam tahun lalu.


Saat Shu En sedang asyiknya menikmati sejuknya angin, ia pun larut dalam kenyamanan dan membuat matanya terpejam untuk sesaat.


Samar-samar Shu En mendengar langkah kaki yang mendekat. Suara langkah yang halus dan ramah itu membuat Shu En tidak khawatir malah memejamkan mata lebih lama hingga hampir tertidur.


“En‘er...”


Suara yang tidak asing menembus telinganya dan membuat kedua mata Shu En terbuka secara perlahan. Jantung Shu En berdegup kencang karena mengenal suara tersebut, segera saja ia bangun dan menoleh kebelakang.


Shu En menemukan sosok wanita dewasa yang berpenampilan anggun berdiri dihadapannya. Dia adalah Hong Zi Ran yang setiap pagi dan sore selalu mengunjungi tempat ini karena berharap bisa bertemu dengan sosok pemuda yang memakai topeng iblis hitam.


“Kau... Shu En bukan?” Hong Zi Ran bertanya untuk memastikan.


Shu En berniat menyembunyikan identitasnya, namun ia tidak mampu memberikan jawaban karena merasa begitu berdosa kepada Hong Zi Ran.


Mengingat penderitaan yang dialami Hong Zi Ran membuat Shu En semakin merasa bersalah. Alasan inilah yang membuat Shu En menjauh dan ia sadar jika dirinya tidak bisa seperti ini dan harus menjelaskan semuanya kepada Hong Zi Ran.


Namun saat mulutnya bergerak hendak menjelaskan, Shu En menyembunyikan segalanya dan pergi menjauh.


“Maaf Nyonya, aku tidak menganl orang yang dirimu maksud...”


Setelah berkata demikian tubuh Shu En menghilang dari pandangan Hong Zi Ran. Wanita itu merasa yakin jika anak muda yang barusan ia lihat adalah Shu En. Menyadari Shu En menjauh darinya, Hong Zi Ran pun berharap pemuda itu akan menjelaskan semuanya.


“Melihatmu masih hidup saja sudah cukup bagiku, En‘er. Aku senang kau baik-baik saja dan tumbuh menjadi lelaki yang sehat.” Hong Zi Ran mengatakan itu dengan lembut sebelum kembali ke Kota Jiehan.

__ADS_1


Shu En yang bersembunyi dibalik pohon dan menyembunyikan hawa keberadaannya tersentuh mendengar ucapan Hong Zi Ran.


“Aku tidak bisa terus-menerus melarikan diri!” Shu En menampar pipinya cukup keras sebelum mengeluarkan topeng iblis hitam dan memakainya.


“Selama beberapa hari ini aku akan bergerak sendiri. Saat pagi aku akan berada disini dan saat malam aku akan kembali ke Kekaisaran Yang.” Shu En pun memutuskan tujuan selanjutnya dan langsung bergerak menuju Ibukota Jiehan.


Shu En berniat menyusup ke dalam Kota Jiehan untuk mengamati situasi setelah dirinya membantai Jie Hung bersama semua petingginya.


Sebelum memasuki Kota Jiehan, Shu En menghilangkan hawa keberadaannya dengan cepat, namun beberapa saat kemudian ia merasakan hawa keberadaan yang mendekat.


“Aku berada disudut kota dan masih ada orang yang menyadarinya? Merepotkan!” Shu En pun melompat keatas bangunan dan mengamati sosok yang mendekat.


Melihat sosok itu, Shu En pun mengingat dua wanita yang ia selamatkan saat itu yakni Chu Yui dan Su Rong. Shu En pun mengamati sosok Su Rong yang menyisir setiap penjuru sudut kota mencari keberadaan dirinya.


“Tidak salah lagi dia adalah lelaki bertopeng iblis hitam! Aku kehilangan jejaknya!” Terlihat Su Rong mengeluh dan menghela nafasnya panjang.


“Rongrong, apa kau menemukannya?” teriak wanita yang berlari kearah Su Rong. Dialah Chu Yui, sosok yang menjabat Matriark Istana Rembulan dimasa sekarang.


Su Rong menggelengkan kepalanya dan memberikan jawaban, “Aku kehilangan jejaknya, Yui.”


Lalu Chu Yui pun menoleh keatas dan sesaat dia melihat bayangan seseorang. Shu En yang terkejut pun memundurkan langkah kakinya dan tanpa sengaja menginjak ranting kayu hingga patah.


“Dia disini, Rongrong!” ujar Chu Yui memberitahu.


“Ah, benarkah?” Su Rong pun mengikuti Chu Yui dan melompat keatas.


Shu En mengumpat dalam hati, ‘Apa yang mereka berdua pikirkan dengan mencari diriku?!’


“Kami mengawasi Ranran, maksudku wanita bernama Hong Zi Ran dan tidak sengaja melihat dirimu, lelaki bertopeng iblis hitam.” Chu Yui tersenyum dan mendekati Shu En tanpa menunjukkan rasa takut.


“Aku ingin meminta bantuanmu.” Chu Yui pun mengulurkan tangannya kepada Shu En.


Shu En mengamati Chu Yui dan memalingkan wajahnya, “Kau bisa meminta bantuan orang lain. Kau pikir diriku ini siapa?!”


“Aku akan mengabdi padamu jika kau membantuku! Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi tetapi ini mengenai keselamatan Penatua Istana Rembulan dan Xuexue!” ujar Chu Yui memberitahu.

__ADS_1


Shu En tidak bersuara dan langsung khawatir dengan keadaan Zhang Xue.


“Dari reaksimu itu sepertinya kau memiliki hubungan dengan Hong Zi Ran ataupun Zhang Xue bukan? Katakan padaku siapa dirimu yang sebenarnya?!” Su Rong tersenyum manis sambil berjalan mendekati Shu En dan memegang topeng yang digunakan pemuda tersebut.


Shu En pun mencengkeram tangan Su Rong dan menatap matanya tajam dari balik topeng.


“Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?” Merasakan intimidasi Shu En, membuat Su Rong menjaga jarak.


“Kau bilang ingin mengabdi padaku bukan? Itu artinya kau bersedia melakukan apapun untuk diriku jika aku menyelamatkan orang yang berharga bagimu itu.” Shu En tersenyum dari balik topengnya dan menatap Chu Yui tajam.


“Aku... Aku bersedia.” Chu Yui menjawab penuh keraguan dan ketakutan.


“Yui, kita salah paham. Aku pikir dia memiliki hubungan dengan Ranran dan Xuexue, tetapi sepertinya tidak sama sekali.” Su Rong mengamati Shu En cukup lama sebelum mengambil kesimpulan.


“Bukan hanya Yui saja, tetapi aku juga akan bersedia melakukan apapun untukmu asal kau bersedia membantu kami.” Su Rong pun menawarkan diri.


Setelah itu Su Rong dan Chu Yui saling berpandangan dan tersenyum. Shu En tidak mengetahui arti senyum itu diwajah mereka dan berniat manfaatkan situasi tersebut.


“Baiklah, aku akan membantu kalian.” Shu En memberikan bantuan dan membuat kedua wanita itu tersenyum lega.


“Jelaskan padaku apa yang terjadi!” ujar Shu En pada keduanya.


Chu Yui pun menjelaskan kepada Shu En mengenai kondisi Zhang Xue dan Penatua Istana Rembulan yang terkena Racun Kelelawar Iblis. Sudah seminggu lamanya keduanya terkena racun tersebut saat pemberontakan terjadi.


Ramuan Racun Kelelawar Iblis hanya dimiliki oleh Kaisar Jia, bahkan Su Rong yang ahli di bidang racun pun tidak dapat menyembuhkan kondisi kedua orang tersebut.


Chu Yui meminta Shu En membantu mereka berdua untuk mengambil ramuan tersebut demi menyembuhkan kondisi Zhang Xue dan Penatua Istana Rembulan.


Mendengar itu, Shu En pun menjadi khawatir dengan keadaan Zhang Xue. Segera Shu En menanyakan tempat keberadaan Kaisar Jia kepada keduanya.


“Pasukan Kekaisaran Jia menguasai Benteng Angin Utara. Kami rasa Kaisar Jia berada disana.” Chu Yui berasumsi.


“Diperbatasan ya? Aku akan bergerak sendiri, kalian berdua tidak perlu ikut campur!” Shu En menegaskan namun Chu Yui dan Su Rong bersikeras untuk ikut.


“Tidak, kami berdua akan ikut! Sudah kami katakan bukan jika kami berdua akan mengikutimu!” Su Rong mengingatkan dan membuat Shu En mengalah.

__ADS_1


“Lakukan sesuka kalian!” Shu En pun menatap kemegahan Kota Jiehan dari kejauhan sambil mengumpulkan nafas untuk menenangkan dirinya yang kelelahan,“Jangan membebaniku!”


Setelah itu Shu En langsung bergerak menuju Benteng Angin Utara dengan kecepatan tinggi dan diikuti Su Rong dan Chu Yui dari belakang.


__ADS_2