Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 46 - Crying Mountain


__ADS_3

...L.O.S.E 46 - Crying Mountain...


...ARC 2 - Blue Moon War...


Selepas meninggalkan Bukit Petir, Shu En tidak mengalami hambatan yang berarti saat melanjutkan perjalanannya menuju Pegunungan Seribu Es. Bayangan pegunungan yang membentang luas pun sudah terlihat dari jauh, namun sebelum sampai ditempat tujuan mereka harus melewati sebuah gunung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Pegunungan Seribu Es.


Gunung Menangis adalah sebuah permukiman kultivator yang tidak jauh dari Pegunungan Seribu Es. Alasan tempat itu disebut dengan Gunung Menangis karena energi spiritual disekitar gunung sangatlah pekat, selain itu cuaca disana selalu hujan.


Fenomena unik itulah yang membuat gunung tersebut dikenal sebagai Gunung Menangis. Sesampainya Shu En pedesaan yang dekat dengan Gunung Menangis, ia melihat beberapa penduduk membawa gerobak dan kereta kuda seperti hendak pergi meninggalkan wilayah tersebut.


Cao Jin dan Wu Tian pun mengambil inisiatif untuk bertanya kepada para penduduk desa. Jawaban para penduduk desa membuat Cao Jin dan Wu Tian tersentak kaget mendengarnya.


“Sebaiknya kalian bertiga juga harus pergi meninggalkan wilayah gunung ini! Semalam kekacauan terjadi di Gunung Menangis! Semua kultivator disana saling membunuh satu sama lain! Bahkan ada beberapa kultivator yang membunuh penduduk desa!” ujar pria yang sedang mendorong gerobak.


“Mereka seperti orang yang kesurupan! Cepat pergi jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian!” ujar penduduk yang lainnya memberi peringatan.


Mendengar ini Shu En pun merasakan kekhawatiran yang ia rasakan semakin nyata. Sementara itu Cao Jin dan Wu Tian langsung memberitahu dirinya sebelum akhirnya mereka bergegas menuju Gunung Menangis.


Dalam perjalanan mereka bertemu dengan rombongan penduduk desa yang menuju arah sebaliknya. Saat hari menjelang sore, akhirnya mereka tiba di kaki Gunung Menangis.


“Auranya sangat terasa. Sebenarnya apa yang terjadi disini?” ujar Wu Tian penasaran.


Sedangkan Cao Jin berekspresi buruk. Wajahnya terlihat pucat pasi dan tubuhnya gemetaran.


“Aku sangat yakin dengan aura ini... Sosok yang telah membunuh banyak orang tak berdosa! Aura ini adalah miliknya!” ujar Cao Jin dengan suara yang bergetar.


Shu En langsung memejamkan matanya dan menajamkan semua indera miliknya. Hanya dalam hitungan detik saja ia merasakan aura yang sangat mengerikan diatas sana. Shu En pun menelan ludah karena merasakan perasaan trauma yang pernah memenuhi dirinya dimasa lalu.


‘Aku gemetaran? Tidak mungkin!’ Shu En membatin keheranan saat melihat tangan kanannya tidak berhenti gemetar.


Wu Tian menyadari hal ini dan menahan nafas. Apa yang ada dihadapan mereka adalah medan tempur yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

__ADS_1


“Sial! Kenapa aku gemetarnya?!” Shu En mengumpat keras sebelum akhirnya ia menggertakkan giginya hingga mengeluarkan bunyi.


“Anak muda, apa yang sebaiknya kita lakukan?” Wu Tian bertanya dan ingin memastikan langkah Shu En.


“Kita tidak akan mundur! Kita akan melanjutkan perjalanan kita!” ujar Shu En berusaha mengalahkan traumanya itu.


Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan menapaki Gunung Menangis. Saat matahari terbenam, mereka bertiga melihat lentera disekitar mulai menyala dan setelah sampai di permukiman Gunung Menangis, mereka bertiga disambut dengan bau amis yang menyengat dan puluhan mayat yang mengering tubuhnya.


Saat itu juga Cao Jin menyadari jika pelaku semua ini adalah orang yang sama dan telah membantai penduduk Bukit Petir. Segera Cao Jin melepaskan Qi dan bersikap waspada, hal ini membuat Wu Tian melakukan hal yang sama.


Sedangkan Shu En mengamati sekelilingnya dan melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan selain hawa keberadaan yang mengerikan.


“Ada yang mendekat!” ujar Shu En memberikan peringatan pada Wu Tian dan Cao Jin.


Tak lama dari dalam bangunan muncul puluhan orang yang berlumuran darah dengan mulut yang menyeringai menunjukkan giginya yang bertaring tajam.


Shu En merasakan puluhan orang itu tidak menunjukkan hawa keberadaan manusia, melainkan hawa keberadaan Iblis. Hal ini membuatnya mengeluarkan Aura Iblis untuk menekan pergerakan mereka.


Namun dalam hitungan detik, sosok itu kembali pulih. Ada sekitar dua puluh detik untuk memulihkan tubuhnya yang terluka. Semua ini membuat Shu En menjadi lebih waspada dibandingkan sebelumnya.


Melihat Shu En bertindak demikian membuat Cao Jin menyadari betapa berbahayanya musuh mereka. Cao Jin mengira Shu En akan bersikap selalu tenang, namun untuk pertama kalinya ia melihat Shu En begitu waspada.


“Seingatku sosok itu melarikan diri saat matahari akan terbit. Aku rasa kelemahan semua makhluk didepan kita adalah sinar matahari.” Cao Jin memberikan asumsinya.


Shu En juga berpikir demikian. Namun ia ingin mencoba hal lain dengan mengeluarkan api Phoenix yang membakar semua bangunan disekitarnya. Hal ini sangat efektif karena puluhan Iblis yang mengelilingi mereka langsung menjaga jarak.


“Gunakan api untuk melenyapkan tubuh mereka!” Shu En pun melepaskan serangannya.


Dengan permainan pedangnya yang lincah, Shu En menghabisi semua sosok misterius didepannya tanpa kesulitan yang berarti. Setelah mati semua sosok itu langsung lenyap tubuhnya hingga tak bersisa.


Cao Jin dan Wu Tian pun mendekati Shu En sebelum akhirnya mereka bertiga menyadari jika yang mereka bunuh adalah kultivator Gunung Menangis.

__ADS_1


Sejumlah pertanyaan pun muncul dibenak Shu En tentang hal ini. Saat Shu En sedang mencoba memecahkan misteri yang terjadi di Gunung Menangis, ia dikejutkan dengan suara tepukan tangan yang menggema ditelinganya.


“Siapa itu?!” ujar Cao Jin dengan wajah yang panik.


“Hati-hati! Aku merasakan aura yang sangat mengerikan!” Wu Tian menanggapi dengan tubuh yang gemetaran.


“Tidak aku sangka kalian dapat membunuh mereka semua! Kalian bertiga mendapatkan pujian dariku!”


Suara itu menggema seisi Gunung Menangis sebelum akhirnya sosok itu menunjukkan wujudnya lewat sebuah portal yang terbentuk dihadapan mereka bertiga.


Sosok pria paruh baya yang muncul dihadapan mereka bertiga adalah Long Wang. Aura yang terpancar dari Long Wang sangatlah padat dan pekat, bahkan Shu En yang sudah melepaskan Aura Iblis dalam jumlah besar pun masih merasakan tekanan intimidasi yang begitu besar.


Long Wang yang menyadari aura milik Shu En pun langsung menatap pemuda tersebut.


“Tidak salah lagi kau adalah orang yang dibalik semua ini! Aku sudah berlatih secara tertutup di Pulau Es Utara untuk mematahkan ilusi di Pegunungan Seribu Es! Namun aku tidak menyangka kau membunuh ketiga bawahanku!” Long Wang berjalan mendekati Shu En yang tidak bergerak.


“Aku sedikit terlambat! Tetapi semua akan terbayar dengan nyawamu itu!”


Hanya dalam satu kali tarikan nafasnya saja, seluruh permukaan Gunung Menangis membeku diselimuti es yang tebal. Dalam sekejap Shu En langsung melompat keatas dan menghindari ancaman tersebut, berbeda dengan Cao Jin dan Wu Tian yang terlambat bereaksi.


Terlihat tubuh keduanya membeku bersama seluruh permukaan Gunung Menangis. Fenomena ini membuat Shu En tidak menurunkan kewaspadaannya kepada Long Wang.


“Darah mudamu itu, aku ingin mencicipinya! Sepertinya rasanya sama dengan Kaisar Shu sebelumnya!”


Pertarungan yang sudah ditakdirkan pun tidak terhindarkan. Shu En tidak menyangka akan menghadapi sosok yang merenggut segalanya secepat ini.


Tanpa menahan diri Shu En pun mengeluarkan segenap kemampuannya. Diawali dengan pernafasannya yang tenang, Shu En melancarkan serangan beruntun dengan tinju ditangannya.


Long Wang pun menyambutnya penuh antusias dan sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya. Saat kedua pukulan mereka bersentuhan, gelombang kejut yang tercipta menimbulkan badai yang besar bahkan langit diatas sana terlihat seperti akan terbelah menjadi dua bagian.


Suara petir pun bergemuruh saat kedua tinju Kultivator Alam Dewa beradu. Untuk pertama kalinya Shu En akan menggunakan segenap kemampuannya kepada musuhnya, sedangkan Long Wang terlihat bersemangat karena akan menghisap darah Shu En dan menjadikan sumber kekuatannya.

__ADS_1


__ADS_2