
L.O.S.E 16 - The Great Conspiracy
ARC 1 - Fall To Rise
Kejadian yang menimpa Kaisar Yang membuat situasi di Kekaisaran Yang menjadi gempar. Pembunuhan yang dilakukan Pagoda Tujuh Warna menimbulkan konspirasi hebat sehingga hubungan antara Kekaisaran Yang dan Kekaisaran Tang menjadi dingin.
Kembalinya Yang Ruan ke Ibukota Luoyang disambut dengan berita duka yang mendalam. Setelah kepergian orang tuanya, Yang Ruan harus menerima kenyataan pahit jika sang kakek sedang dalam kondisi kritis karena diracuni oleh seseorang.
Jika bukan karena Shu En dan Tang Xia yang membantu, sudah dipastikan dalam perjalanan kembali ke Ibukota Luoyang, nyawa Yang Ruan melayang. Banyaknya kelompok kultivator yang mengincar nyawa Yang Ruan menjadi perhatian bagi Liu Bai dan Xu Kai.
Kedua pengawal Yang Ruan tersebut berhasil sembuh berkat kemampuan Shu En yang menggunakan kemampuan dari Zhuan sang Phoenix Api.
“Tuan Putri, maaf atas kelancangan hamba sebelumnya,, tetapi hamba ingin bertanya tentang racun yang ada pada tubuh Kakek Tuan Putri.”
Shu En menanyakan hal tersebut kepada Yang Ruan dan membuat Yang Ruan menjelaskan kepada Shu En jika kakeknya sedang dalam kondisi kritis selama beberapa tahun terakhir. Selain tidak bisa beraktivitas penuh, kondisi tubuhnya semakin parah setelah Racun Belalang Neraka semakin menyebar.
Shu En mengangguk pelan dan sedikit mengerti kondisi yang menimpa Kakek Yang Ruan. Sesampainya di Istana Yang, segera saja Yang Ruan berlari menuju ruangan kakeknya dirawat.
Disana Yang Ruan melihat seorang kakek tua sedang menemani kakeknya dan kakek tua itu merupakan kakek dari Xu Kai.
“Tuan Putri, anda sudah kembali?!”
“Kondisi beliau semakin parah...”
Kakek tua itu berusaha menjelaskan sesuatu namun melihat Yang Ruan yang sudah menangis akhirnya ia diam. Kakek tua itu pun menyapa Xu Kai dan berbincang mengenai penyerangan yang dilakukan Pagoda Tujuh Warna.
Mendengar cerita pembantaian secara langsung dari Xu Kai membuat kakek tua yang bernama Xu Wang menghela nafas panjang.
“Aku tidak menyangka diumurku yang sudah tidak lagi muda akan terjadi hal seperti ini. Aku turut berduka tentang apa yang menimpa Kaisar Yang...” Xu Wang mengalihkan pandangannya menatap Shu En setelah berkata demikian.
“Jadi mereka berdua yang menyelamatkan kalian dan membawa tubuh jenazah Kaisar Yang dan permaisuri?”
__ADS_1
“Benar, Kakek. Jika bukan karena mereka berdua sudah dipastikan kami telah mati.” Xu Kai menjawab.
Xu Wang mengelus jenggotnya dan memperhatikan tubuh Shu En. Terlihat ekspresi heran diwajah Xu Wang karena kultivasi Shu En tidak stabil dan kemampuan Shu En tidak lebih dari manusia biasa yang bukan seorang kultivator.
Dibandingkan dengan Shu En yang tidak menarik dimatanya, pandangan Xu Wang jatuh kepada Tang Xia yang memakai topeng Iblis Putih. Melihat topeng tersebut membuat Xu Kai melebarkan matanya untuk sesaat.
‘Gadis ini berbahaya! Topeng ini milik Heng Long! Tidak kusangka mereka berdua mati ditangan gadis ini!’ Xu Wang membatin sebelum menyuruh Xu Kai untuk membiarkan Shu En dan Tang Xia beristirahat.
Selepas kepergian Xu Wang, Yang Ruan memanggil Shu En dan Tang Xia untuk memeriksa kondisi kakeknya tersebut.
“Tolong aku pendekar! Aku akan melakukan apapun asalkan kau dapat menyembuhkan kakekku! Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi!” Dengan putus asa Yang Ruan bersujud dikaki Shu En.
Tang Xia yang berdiri disebelah Shu En menghela nafas ringan karena menyadari mental Yang Ruan sangat terguncang. Kondisi Yang Ruan sungguh mengingatkan Tang Xia pada dirinya dimasa lalu dan itu membuat Tang Xia melirik Shu En menunggu jawaban pemuda tersebut.
“Tuan Putri, anda tidak perlu khawatir. Esok hari beliau akan sembuh.” Shu En memegang kedua pundak Yang Ruan dan tersenyum hangat.
Lalu menuntun Yang Ruan untuk berdiri sambil menjelaskan kepada Yang Ruan bahwa cepat atau lambat sesuatu akan terjadi di Ibukota Luoyang.
“Apa maksud anda, Pendekar En?”
“Maaf, pendekar - En...”
“Pagoda Tujuh Warna adalah sebuah organisasi kultivator yang dikuasai tujuh kultivator kuat. Mereka semua berada pada tahap Alam Langit. Kemampuan mereka tidak bisa diremehkan dan salah satu dari ketujuh orang yang berkuasa di Pagoda Tujuh Warna berada di sini.”
Seketika ruangan menjadi hening saat Shu En mengatakan hal tersebut. Mata Yang Ruan melebar dan langsung menjaga jarak dari Shu En karena mengira pemuda itu adalah salah satu dari tujuh orang yang berkuasa di Pagoda Tujuh Warna tersebut.
“Tuan Putri, apa anda berpikir hamba adalah salah satu orang yang berkuasa tersebut?” Shu En tersenyum karena melihat reaksi Yang Ruan.
Gadis itu hanya mengangguk pelan dan semakin menjaga jarak.
“Orang itu akan segera datang.”
__ADS_1
“Maksudmu-”
Sebelum Yang Ruan menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan terbuka dan Xu Wang muncul bersama beberapa pelayan untuk memberitahu Yang Ruan bahwa pemakaman orang tuanya akan dilakukan.
‘Kakek Wang?! Apa dia yang dimaksud Pendekar En?!’ batin Yang Ruan bergejolak mengetahui Xu Wang datang.
Xu Wang sudah ia kenal sejak kecil dan Yang Ruan tidak bisa percaya semudah itu pada ucapan Shu En.
“Aku akan segera kesana, Kakek Wang.”
Akhirnya Yang Ruan meninggalkan ruangan ditemani pelayan dan meminta Tang Xia menemani dirinya. Selepas kepergian Yang Ruan dan Tang Xia, Xu Wang mengajak Shu En untuk berjalan keliling Istana Yang.
“Apa pekerjaan anda, Pengelana En?” Xu Wang bertanya setelah mereka berdua menjauh dari Istana Yang.
“Seperti yang anda lihat, Kakek Wang, saya hanya seorang pengelana.” Shu En menjawab santai dan membuat Xu Wang tersenyum.
“Bagaimana bisa seorang pengelana biasa memiliki pengawal yang hebat.”
“Semua itu bisa dilakukan, Kakek Wang. Dengan uang, kau bisa melakukan itu bukan?”
“Hahahaha! Kau benar anak muda! Aku menyukai cara berpikirmu itu!”
Seketika suasana disekitar menjadi hening setelah Xu Wang tertawa. Kepala Xu Wang memperhatikan keadaan disekitarnya sebelum tersenyum dingin menatap Shu En yang berekspresi tenang.
“Anak muda, aku akan membunuhmu disini dan membuat pengawalmu itu menjadi salah satu bidakku!”
Xu Wang menunjukkan tangan kanannya yang secara perlahan berubah menjadi hijau dan dipenuhi energi spiritual. Dengan gerakan yang cepat Xu Wang menusuk perut Shu En menggunakan tangan kanannya yang menajam dan keras itu.
Shu En tersenyum lebar dan memuntahkan darah segar dari mulutnya tepat setelah Xu Wang menarik tangan kanannya dari perutnya.
“Malam ini aku akan membuat konspirasi yang meriah.”
__ADS_1
Xu Wang pun berjalan meninggalkan Shu En yang tergeletak dijalan dengan perut bersimbah darah sendirian. Selepas kepergian Xu Wang, terlihat sepasang mata yang tidak sengaja melihat kejadian itu terdiam tak bersuara dan menghilangkan hawa keberadaannya sepenuhnya.
‘Kakek, tidak mungkin!’