
...L.O.S.E 98 - Dong Wenli...
Penjaga keluarga Dong melakukan pembersihan yang cukup membuat perut mereka mual. Tidak pernah mereka sangka kelompok pembunuh yang diciptakan Kong Guan untuk menghancurkan siapa saja yang berani menentangnya kini telah tiada.
“Siapa sangka jika putra dari Yang Mulia Shu Jiang masih hidup. Ini akan menjadi berita yang besar bukan?” Salah satu penjaga kediaman keluarga Shu En mulai menceritakan sosok Shu En.
“Benar, aku selalu mengira jika kita tidak akan memiliki masa depan namun keajaiban datang secara tiba-tiba dihari ini.” Yang lain menanggapi dengan antusias.
“Tetap saja aku masih tidak percaya dengan kemampuannya yang dapat mengalahkan semua anggota Pembunuh Bayangan Kaisar Shu dalam sekejap.”
“Sangat jelas jika kultivasinya berada pada tahap Alam Langit...”
Beberapa penjaga mulai memperbincangkan sosok Shu En dan mempertanyakan tingkat kultivasinya. Tentu saja tidak ada yang mengetahui jika Shu En telah mendapatkan Alam Dewa.
Untuk menguasai ilmu yang telah diwariskan melalui ingatan Mao Ruyue, Shu En akan belajar menguasai Energi Dewa. Demi melindungi orang-orang yang dijaga mendiang Ayahnya, Shu En mengambil langkah yang tidak diketahui semua orang.
Sementara para penjaga melakukan pembersihan sisa-sisa bekas pembantaian yang dilakukan Shu En, didalam ruangan kediaman keluarga Dong terlihat Dong Xa sudah pulih berkat kemampuan Shu En.
“Terimakasih Yang Mulia... Hamba sangat berhutang padamu...” ujar Dong Xa saat merasakan energi dalam tubuhnya sudah mulai membaik.
“Paman Dong, cukup panggil aku En‘er saat tidak ada orang lain.” Shu En merasa sungkan dengan sikap Dong Xa sehingga berkata demikian.
“Baiklah, Yang Mulia- En‘er... Rasanya sedikit aneh. Aku tidak menyangka anak kecil yang dulunya cengeng sekarang menjadi pria yang hebat dan berwibawa.” Dong Xa tersenyum canggung dan mencoba untuk bangun dari tidurnya, “Maaf atas kelancanganku, Yang Mulia...”
“Tidak apa dan jangan terlalu formal kepadaku Paman Dong.” Shu En tersenyum tipis sebelum pandangannya jatuh kepada Dong Wenli yang datang membawakan sejumlah cemilan dan minuman hangat.
“Silahkan diminum, Pangeran manja.” Dong Wenli bersikap seperti biasa kepada Shu En saat tidak ada orang lain selain Ayahnya.
Dong Xa yang melihat sikap putrinya itu langsung menegur, “Putriku, jaga bicaramu! Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Yang Mulia - Uhuk! Uhuk!”
“Ayah, jangan banyak berbicara dan bergerak! Tubuhmu masih dalam pemulihan!” Dong Wenli malah balik menegur dan tidak mempedulikan teguran Ayahnya.
__ADS_1
“Ayah tidak perlu khawatir. Aku dan dia sudah berteman sejak kecil. Jika ada penyesalan, maka itu karena masa remaja kami tidak bersama...” Dong Wenli menegaskan dan membuat Shu En tersenyum kecut.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masa lalu. Namun aku senang karena Kakak Wenli tidak berubah.” Shu En pun tersenyum hangat kepada Dong Wenli dan membuat gadis itu memalingkan wajahnya karena tersipu malu.
‘Kau sudah banyak berubah, Enen. Terlebih kau lebih dewasa dan tampan walau umurmu empat tahun lebih muda dariku...’ Dong Wenli membatin dan masih sulit menerima jika Shu En sudah tidak lagi menjadi bocah cengeng yang dirinya ingat.
“Kakak Wenli, bukankah tadi kau memintaku untuk menyembuhkan Bibi Lun juga?” Shu En menanyakan kondisi istri Dong Xa yang bernama Lun Ziuha dan katanya terkena racun yang sama dengan Dong Xa.
“Ibuku ada dibangunan sebelah. Dia berada dalam ruangan yang dijaga penjaga karena beberapa hari ini para pembunuh itu ingin menjadikan dirinya sebagai sandera.” Dong Wenli memberitahu dan itu membuat Shu En memintanya untuk membawa Lun Ziuha kemari.
“Bawa dia kemari, kalian tidak perlu khawatir lagi. Kelompok pembunuh sudah aku kalahkan. Selanjutnya aku akan menghancurkan pemimpin mereka.” Shu tersenyum sinis dan membuat Dong Wenli menghela nafas ringan.
“Kau sudah banyak berubah, Enen...” Dong Wenli berkata lirih sebelum menyuruh penjaga untuk membantu dirinya membawa Ibunya kemari.
“Aku masihlah orang yang sama, Kakak Wenli. Jikalau berubah, dunia lah yang telah membuatku seperti ini...” Shu En menanggapi ucapan Dong Wenli yang sudah pergi.
“En‘er... Aku sangat berhutang budi padamu...” Dong Xa menggumam sendiri sebelum pria paruh baya itu tertidur karena masih dalam pemulihan.
Shu En yang mendengarnya hanya tersenyum dan menunggu kedatangan Lun Ziuha. Setelah beberapa menit akhirnya Dong Wenli datang bersama Lun Ziuha dengan dibantu para penjaga.
“Aku akan berusaha.” Shu En menjawab singkat sebelum memberikan arahan kepada penjaga untuk membaringkan tubuh Lun Ziuha.
Terlihat wajah Lun Ziuha yang sangat pucat. Tubuhnya dipenuhi keringat dan kulit putihnya sedikit membiru. Beruntung Shu En datang diwaktu yang tepat jika tidak maka nyawa Lun Ziuha sudah dipastikan melayang.
“Pelayan, bisa siapkan minuman hangat untukku dan juga cemilan kentang goreng ini. Sepertinya aku menyukai ini.” Shu En dengan ramah meminta tolong kepada pelayan kediaman keluarga Dong.
“Tentu saja, Yang Mulia. Kami akan segera menyiapkannya.” Para pelayan langsung pergi untuk menyiapkan makanan yang diminta Shu En.
Melihat sikap Shu En yang demikian membuat Dong Wenli sedikit terkejut. Beberapa saat setelah pelayan pergi, para penjaga pun juga pergi.
‘Apa dia sangat menyukai cemilan kentang goreng? Apa yang sebenarnya dia pikirkan?’ Dong Wenli bertanya-tanya dalam hati karena penasaran dengan apa yang dipikirkan Shu En.
__ADS_1
“Sudah lama aku tidak seperti ini. Berada di kediaman keluarga Guang dan keluarga Dong mengingatkanku saat-saat berada di istana...” Terlihat Shu En menunjukkan pandangan yang sendu sambil mengalirkan aura kepada tubuh Lun Ziuha.
“Enen...” Dong Wenli terkejut dengan perubahan sikap Shu En yang mendadak.
Setelahnya mereka berdua hanya saling diam dan tidak ada obrolan. Dong Wenli fokus memperhatikan Shu En yang memperlihatkan kemampuannya. Dengan api Phoenix, Shu En terlihat seperti orang yang sengaja membakar tubuh Lun Ziuha.
Namun secara bertahap, tubuh Lun Ziuha mulai pulih. Setelah itu Shu En meminta Dong Wenli mengambil gelas kayu dan langsung mencairkan es dari Phoenix Es.
“Bibi Lun, minumlah...”
Sama seperti yang ia lakukan kepada Dong Xa, Shu En menyuruh Lun Ziuha meminum air yang memiliki banyak khasiat dari es sang Phoenix.
Kedua mata Lun Ziuha secara perlahan terbuka dan melihat siluet orang yang telah menyembuhkan dirinya.
“Kau... Siapa?” ujar Lun Ziuha pelan sambil membuka mulutnya secara perlahan.
Shu En tidak menjawab melainkan tersenyum ramah sambil memberikan air minum tersebut. Setelah Lun Ziuha meminumnya, Shu En meminta Dong Wenli untuk menjaga kondisi tubuh keduanya agar mengistirahatkan badan mereka selama seharian penuh.
“Aku akan pergi setelah cemilan yang kupesan datang. Sampaikan kepada Ayahmu, dua hari lagi agar melakukan apa yang telah kuperintahkan.” Shu En tiba-tiba memasang ekspresi serius dan menatap Dong Wenli lurus, “Saat ada sebuah portal yang muncul dikota, kalian masuklah kesana. Portal itu akan membawa kalian semua ke Pulau Suci Shu dalam sekejap.”
“Tunggu, kenapa tiba-tiba mendadak seperti ini? Apa kau tidak ingin bermalam disini terlebih dahulu?” Dong Wenli tidak menyangka akan berbicara seperti itu kepada Shu En karena pemuda itu tiba-tiba ingin pergi.
Sebelum Shu En menjawab, pelayan datang membawakan cemilan yang diminta Shu En.
“Terimakasih,” ucap Shu En kepada pelayan.
Kemudian Shu En menikmati cemilan kentang goreng yang diiris dengan tipis, kemudian ia meminum teh hangat dan memakan cemilan dengan lahap.
“Terimakasih atas jamuannya, Kakak Wenli.” Shu En berdiri dan langsung berpamitan.
“Kalau begitu aku pergi, Kakak Wenli.” Dengan meninggalkan senyuman hangatnya, Shu En pun menghilang dari pandangan Dong Wenli.
__ADS_1
“Tunggu-” Suara Dong Wenli seolah tertelan bumi dan tidak didengar Shu En yang sudah pergi.
“Setidaknya kita mengobral dulu...” Dong Wenli menghela nafas setelah kepergian Shu En.