
“Bangunlah!!! Tunjukkan jalan menuju markas kalian!!!” (bahasa gunung) Zhen Long berkata sembari mengikuti pergerakan para suku gunung selatan yang di pimpin oleh Ratu Maya.
Sesampainya di pusat pegunungan Lachi, Zhen Long dan Huang Lingruo melihat para penduduk suku gunung bersujud sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan hingga mereka memasuki markas Ratu Maya menyambut idolanya yang telah datang, Zhen Long juga memperhatikan tumbuhan herbal yang telah dibudidayakan dengan baik oleh para penduduk suku gunung menandakan mereka telah lama menyediakan tanaman tersebut, Huang Lingruo merasa senang dengan segera memasukkan tanaman herbal langka dari pegunungan Lachi kedalam cincin kuasa langitnya, sembari menyusul Zhen Long yang telah terlebih dahulu menduduki singasana Ratu gunung selatan.
Ratu Maya beserta bawahan dan penduduknya berlutut dihadapan singasana yang Zhen Long dan Huang Lingruo duduki sembari menunggu perintah.
“Ratu Maya apakah telah menerima pesan Raja Bin Tang!!!” (bahasa gunung) Zhen Long bertanya dengan tegas kepada bawahannya.
“Sudah Dewa!!!”(bahasa gunung) Ratu Maya berkata dengan penuh hormat.
“Jadi dimana tetesan darah penduduk suku gunung selatan!!!” (bahasa gunung) Zhen Long berkata dengan tegas, sembari Huang Lingruo terlihat sibuk mengeluarkan buah persik abadi, ratusan ribu perlengkapan dan senjata perang, beberapa salinan kitab serta puluhan ribu pil mustika YinYang dan langit 7 lapis yang telah Zhen Long sediakan.
__ADS_1
"Darah para penduduk telah tersedia di meja altar persembahan Dewa” (bahasa gunung ) Ratu Maya berkata dengan hormat sembari menunjukkan arah meja altar yang dimaksudnya, Zhen Long kemudian bergegas menuju altar tersebut dan mengkristalkan darah sekaligus menggabungkan kristal darah suku gunung lain, kemudian membuat formasi sihir terkutuk Shu Ron hingga tahap puncak beradius puluhan mil membungkus markas dan tempat tinggal para penduduk suku gunung selatan.
Melihat hal tersebut serentak Ratu Maya beserta rakyatnya berteriak “Semoga Dewa dan Dewi panjang umur dan sehat selalu” (bahasa gunung) dengan penuh kebahagiaan melihat lapisan transparan membungkus tempat tinggalnya.
“Bangunlah kalian semua !!! waktunya penjamuan di mulai!!!” (bahasa gunung) Zhen Long berkata dengan tegas sembari menikmati hidangan yang telah disediakan beserta para petarung suku gunung.
Zhen Long juga menyerahkan semua perlengkapan dan sumber daya yang ada untuk dimanfaatkan untuk meningkatkan kekuatan para petarung suku gunung selatan, serta berpesan agar Ratu Maya memanfaatkannya secara adil dan bijaksana kepada bawahannya.
Setelah perjamuan selesai Zhen Long dan Huang Lingruo melanjutkan perjalanan menuju pegunungan Puning yang berada di Kekaisaran Tang.
“Ruo’er sepertinya perjalanan ini akan sedikit lebih lama dikarenakan jauhnya tempat yang akan kita tempuh” Zhen Long berkata dengan lembut kepada kekasihnya.
__ADS_1
“Tidak mengapa Yang Mulia, berjalan bersama Anda sangatlah menyenangkan bagiku” Huang Lingruo berkata dengan tersipu malu, membuat Zhen Long tersenyum dan melesat meninggalkan pegunungan Lanchi.
Di waktu yang bersamaan Raja Bai Yan berhasil menduduki kota Shillong dengan peperangan singkat terjadi disebabkan ketidaksiapan Negara Amethi menghadapi serangan Negara Taili, Raja Balaram Mahesa sangat marah mendapatkan berita jatuhnya Kota Shillong wilayah Negaranya dibawah kendali Negara Taili dan dengan segera Raja Balaram Mahesa mengutus seluruh pasukannya dibawah kepemimpinan anaknya untuk mempertahankan Kota Imphal dikarenakan Pasukan Negara Taili sedang mengarah ke Kota tersebut, Raja Balaram Mahesa tidak menyangka Negara Taili yang dirinya remehkan telah menjadi sangat kuat saat ini, Raja Bai Yan mengusir seluruh penduduk Kota Shillong untuk pergi ke ibu kota Vododara guna menghambat laju bala bantuan dari ibu kota Negara tersebut, setelah memasang formasi sihir terkutuk Shu Ron mengelilingi Kota Shillong, Raja Bai Yan memerintahkan Jenderal Ye Tongsu dan Jenderal Wang Yoshang beserta puluhan komandan tempur serta 200. 000 pasukan Negara Taili untuk membangun dan menjaga kota tersebut sesuai arahan Zhen Long, Raja Bai Yan dengan pasukannya bergerak menuju kota selanjutnya dengan kecepatan penuh armada pasukannya sebelum bala bantuan Pasukan Negara Amethi mendahulinya.
Mendengar keberhasilan kakeknya mengusai Kota Shillong, Zhen Long kemudian mengubah sedikit rencananya untuk membantu kakeknya mengusai 4 kota yang tersisa dengan menghalangi dan mengalihkan bala bantuan yang datang dari arah ibu kota Negara Amethi.
“Roe’er keluarkan seluruh Raja dan Ratu binatang buas beserta pasukan lebah giok kita akan mengacaukan Kota kota Negara Amethi untuk mengalihkan pergerakan Kakek Bai Yan” Zhen Long berkata dengan tegas sembari mengubah haluan pergerakannya menuju kota yang terdekat darinya, Huang Lingruo bergerak sigap melaksanakan perintah kekasihnya dengan perasaan senang karena birinya beranggapan akan terjadi pertarungan.
“Baik Yang Mulia” Huang Lingruo berkata sembari mengeluarkan para Raja dan Ratu binatang buas dari cincin kuasa langitnya.
Zhen Long dan Huang Lingruo dengan segera memakai jubah perang miliknya dan melesat ke kota Indore untuk mengalihkan pasukan dari Negara Taili yang dipimpin langsung oleh Panglima Perang Vigram Shindu, Zhen Long memerintahkan para Raja dan Ratu binatang buas beserta jutaan lebah giok untuk menyerang pasukan Negara Amethi tanpa melukai penduduk kota tersebut, Huang Lingruo melesat bersama jutaan lebah giok memasuki kota Indore dan langsung menyerang kediaman pemimpin kota tersebut dari dalam kota, sedangkan Zhen Long bersama Raja dan Ratu binatang buas menghancurkan benteng benteng pertahannan kota tersebut dari luar, Huang Lingruo membantai Gubernur bersama pengawal istana kota Indore dan mengangantung kepala Gubernur di depan kediamannya serta memerintahkan seluruh penduduk untuk meninggalkan kota tersebut menuju ibu kota, gelombang serangan petir, es dan api yang keluar dari mulut para Raja dan Ratu binatang buas membuat pertahanan kota tersebut hancur lebur dari luar kota, dan sengatan lebah giok dan keganasan Huang Lingruo dari dalam kota membantai para pasukan Negara Amethi, sehingga dalam waktu sehari kota Indore rata dengan tanah tanpa menyisakan kehidupan.
__ADS_1