
Dengan garangnya Jenderal Arman As Syam beserta pasukannya, membantai pasukan Kekaisaran Zhao serta mengejar Jenderal Mo Qinji yang lari meninggalkan area pertempuran untuk memasuki kota Xois, layaknya sehati dengan pimpinannya pasukan kavaleri berat Negara Aliansi Bursa dengan segera membukakan jalan Jenderal Arman As Syam yang sedang mengejar Jenderal Mo Qinji, Jenderal Arman As Syam memacu kudanya dengan kecepatan penuh mengejar Jenderal Mo Qinji yang berjarak 5 Mil dari benteng kota Xois, melihat jarak di antara mereka yang berada sekitar ratusan meter Jenderal Arman As Syam berdiri di atas kudanya yang sedang terpacu kencang mengangkat tombaknya serta melemparkannya ke arah Jenderal Mo Qinji, Tombak tersebut melaju akurasi yang tepat dan sangat cepat menghujam pangkal leher belakang Jenderal Mo Qinji, membuat Jenderal tersebut tersungkur di atas tanah dan bersimbah darah segar, dengan sigap Jenderal Arman As Syam meraih tombaknya yang masih menancap ditubuh Jenderal Mo Qinji dan bergerak menjauhi benteng pertahannan kota Xois agar terhindar dari serangan hujanan anak panah dari pasukan Kekaisaran Zhao yang telah bersiap untuk di lepaskan, Jenderal Arman As Syam lalu mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepala Jenderal Mo Qinji yang telah tewas, serta menancapkan kepala jenderal tersebut di ujung tombaknya kemudian mengarak mengelilingi benteng Kota Xois guna membuat mental pasukan Kekaisaran Zhao tertekan dan menurun, melihat keberhasilan Jenderal Arman As Syam membunuh Jenderal Mo Qinji, para koleganya berdiri di atas benteng kota menatap kesadisan Jenderal Arman As Syam.
__ADS_1
Jenderal Cai Yunrui dan Jenderal Qin Xiumu beserta para pasukan Kekaisaran Zhao yang membantu Murzi Bin Lahap sangat marah, namun tak berdaya melakukan tindakan akibat tekanan gempuran ratusan ribu pasukan yang dipimpin Panglima Fitrah Al Zainal menyerang dari sisi Barat kota dan Sultan Yasir Al Mahmud dari sisi Selatan kota secara bersamaan. serta semakin kuat melontarkan batu gunung dengan busur pelontar dan busur silang yang dimilikinya ke arah dinding benteng kota Xois.
__ADS_1
Melihat keberhasilan Jenderal Amran As Syam membuat Panglima Perang Fitrah Al Zainal beserta Jenderal Imran As Safarai dan Jenderal Haz Al Djafary bergerak secara perlahan menggempur dinding barat dengan mengerakkan menara pemanah setinggi 25 meter secara perlahan, taktik serangan panglima Fitrah Al Zainal mengempur benteng kota Xois dengan hujanan anak panah guna menghalau pasukan pemanah Kekaisaran Zhao sehingga membuat pasukan infantri Negara aliansi Bursa lebih leluasa maju serta dapat memanjat dinding benteng kota tersebut, rusaknya mental pasukan Kekaisaran Zhao membuat kepanikan sehingga kesulitan menghalau anak panah yang di luncurkan pasukan aliansi Negara Bursa, menyerang 3 sisi kota diterapkan Panglima Fitrah Al Zainal agar membuka ruang bagi Sultan Yasir Al Mahmud memporak porandakan gerbang utama benteng kota Xois bersama beberapa Jenderal gabungan Negara Aliansi Bursa, di sisi perbatasan lainnya Perdana Menteri Imam Al Arif bertanggung jawab menjaga Kota perbatasan Negara Bursa yang berhubungan dengan Negara Zugen dan Kekaisaran Wu untuk mengantisipasi serangan dadakan yang mengarah ke kota Hibah dan Kota Atmaneyah agar Aliansi Kekaisaran Zhao tidak dapat mengambil keuntungan pada peperangan tersebut setelah kota Xois jatuh ketangan Aliansi Kekaisaran Zhao, penempatan kekuatan militer Negara Bursa berfokus ke 2 kota perbatasan lainnya guna mendukung pergerakan pasukan aliansi Negara Bursa dalam merebut kembali Kota Xois.
__ADS_1
Di bawah sinar rembulan pasukan kavaleri ringan Negara Bursa membantai para pasukan Kekaisaran Zhao layaknya anak domba di gurun pasir, hal ini karena mayoritas pasukan Kekaisaran Zhao merupakan pasukan Infantri berat sehingga membuat pergerakannya sedikit lambat, Jenderal Imran As Safarai menerjang dan mengayunkan 2 bilah pedangnya sembari menunggang kudanya yang terpacu sangat kencang memenggal setiap pasukan Kekaisaran Zhao yang ada dihadapannya, bersama sama pasukan tempur miliknya, melihat hal Tersebut Murzi Bin Lahap, Jenderal Cai Yunrui, Jenderal Qin Xiumu beserta komandan tempur dan para pasukan kavaleri Kekaisaran Zhao terpaksa meninggalkan para pasukan infantri mereka, sedangkan Sultan Yasir Al Mahmud, Panglima Fitral al Zainal, Jenderal Arman As Syam, Jenderal Fan Jingwo ( Negara Xiang), Jenderal Sin Hodong ( Negara Taili), Jenderal Ryan ( Negara Durham), bersama pasukannya mengejar komplotan Murzi Bin Lahap yang memacu kudanya dengan kecepatan penuh, Sultan Yasir Al Mahmud menyerahkan pembantaian ratusan ribu pasukan infantri Kekaisaran Zhao kepada Jenderal Imran As Safarai.
__ADS_1