
“Tapi!!! Jenderal!!!” salah satu Komandan Tempur berusaha menyela permohonan tersebut.
“Tidak ada tapi tapian!!!, Saya telah merusak kepercayaan Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud!!! Beliau adalah sosok diriku bagi kalian!!! Ikatan persahabatan, persaudaraan dan pelindung dalam segala situasi!!!, Saya akan menyelesaikan masalah pengkhianatan Imam dengan tangan ini!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan penuh amarah sambil mengepalkan tangan kanannya, mendengar pernyataan tersebut membuat Panglima Fitrah Al Zainal tersadar akan loyalitas dan integritas Jenderal Senior yang seangkatan dengannya yang merupakan kandidat Panglima perang dan Perdana Menteri layaknya dirinya dahulu, serta merasa menyesal telah meragukan kesetiaan sahabatnya tersebut, dengan memacu kudanya mendekati Jenderal Imran As Safarai yang tidak jauh bedanya merasakan kesedihan yang sama dengannya atas mangkatnya Sang Sultan.
“Maafkan perkataanku tadi!!! Sahabat!!!, Saya telah meragukan integritas dirimu!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata dengan penuh hormat membuat semua komandan tempur tersentak mendengar permintaan maaf tersebut.
“Tidak mengapa Sahabat!!!, Saya sangat mengerti akan perasaanmu!!! mohon jaga mereka!!!, mereka merupakan keluargaku yang sebenarnya, mereka telah mengarungi lautan darah bersamaku selama berpuluh puluh tahun dalam suka dan duka!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata sembari menunjuk kearah para Komandan tempur membuat hati para Jenderal Negara Aliansi tersayat karena perkataan Jenderal senior tersebut.
“Apa rencanamu Sahabat!!!” Panglima Fitrah Al Zainal bertanya dengan prihatin dengan tekanan mental yang dialami sahabatnya.
“Saya akan membunuh Imam Bin Murzi dengan tanganku ini, setelah itu Saya akan melenyapkan nyawaku dihadapan makam Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud!!, atau apakah kamu berencana memenggal kepalaku terlebih dahulu Panglima!!! namun Saya memohon biarlah orang tua ini menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya!!!” Jenderal Imran As Safarai mamaparkan rencananya membuat para Jenderal Armada Sultan Yasir Al Mahmud dan Para Jenderal Negara Aliansi tersentak mendengarnya.
__ADS_1
“Bukankah keluargamu dalam keadaan aman!!! Bagaimana mungkin kami bisa mempercayaimu!!!” Jenderal Haz Al Djafary berkata dengan keras tidak mempercayai penjelasan yang tidak masuk akal baginya dari Jenderal Imran As Safarai.
“Jaga mulutmu Saudara Haz!!!, Apakah kamu tidak mempelajari panduan militer tentang Semboyan Negara Bursa!!!” Jenderal Fitarah Al Zainal berkata menghentikan perkataan Jenderal Haz Al Djafary yang semakin tajam menyerang Jenderal Imran As Safarai.
“Pasukan nomor satu, keselamatan pimpinan yang paling diutamakan melebihi keluarga sendiri” serentak Para pesukan berkata dengan lantang mengingat semboyan militer Negara Bursa.
“Jenderal dihadapan kalianlah yang membuatnya!!!, dasar dasar kemiliteran lahir dari pemikirannya, Jenderal Imran merupakan kandidat utama menjadi Panglima Perang Negara Bursa dahulu, hanya Jenderal senior ini lebih memilih menjadi Jenderal Utama demi bersama para pasukannya yang dianggapnya melebihi keluarganya!!! Apakah dirimu masih belum paham Jenderal Haz!!!, kalian fikir tanpa rekomendasinya siapa yang mampu membuat Imam Bin Murzi dapat memasuki istana Negara Bursa dan menjadi Perdana Menteri saat ini, meskipun itu merupakan satu satunya kesalahan yang diperbuatnya dalam merekomendasikan peinggi militer dan kerajaan!!! Terlepas dari hal tersebut!!! Jenderal Imran As Safarai bersama resimennya memiliki rate tertinggi dalam peperangan hingga mencapai 99% berhasil menyelesaikan misi Negara Bursa dan hanya mampu disamai oleh Resimen 16 milik Jenderal Arman As Syah yang baru puluhan tahun yang baru terbentuk” Panglima Fitrah Al Zainal memperjelas posisi Khusus Jenderal Imran As Safarai dihadapan Sultan Negara Bursa saat ini dan dahulu sebelum manfkatnya Sultan Mahmud Al Lahap, membuat para Jenderal tersadar terutama Jenderal Haz Al Djafary yang begitu tersentak mendengar penjelasan Panglimanya yang tidak pernah meragukan kemampuan Jenderal Imran As Safarai selama ini.
Dengan segera Jenderal Haz Al Djafary memacu kuda ke depan menuju arah Panglima Fitrah Al Zainal dan rombongan Jenderal Imran As Safarai.
“Lupakanlah Jenderal Haz!!!, lagi pula Saya yang telah menyebabkan Yang Mulia mangkat” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan bijak.
__ADS_1
“Sebaiknya Saudara Imran!!! Bergabung dengan armada kami!!!, sembari membalaskan dendam kepada manusia biadap keturunan Murzi!!!, lagi pula siapa yang akan memimpin resimen 3 nantinya bila saudara mengundurkan diri!!!, alangkah baiknya kita bekerja sama membalaskan dendam Yang Mulia dan seluruh keluarga Pasukan Negara Bursa dari pada bergerak secara individual” Panglima Fitrah Al Zainal membujuk Jenderal Imran As Safarai, karena merasa peranan sahabatnya tersebut akan sangatlah besar dalam pertempuran kelak, begitu pula yang dirasakan para Jenderal Negara Aliansi yang merasa tindakan tegas Jenderal Imran As Safarai begitu memukau dalam peperangan kali ini.
“Dum…dum… dum… dumm…!!!!” X 100. 000 suara dentuman senjata pasukan Kavaleri menandakan setuju dengan keputusan tersebut, sekaligus ikut serta membujuk Jenderal Imran As Safarai, begitu pula mantan pasukan resimen 3 yang baru saja dibubarkan dengan sangat antusias memberikan dukungan.
“Saya setuju Panglima!!! tetapi dengan satu syarat!!!, berikan kesempatan diriku untuk memimpin Armada tempur Sultan Yasir Al Mahmud untuk menghadapi Imam Bin Murzi untuk pertempuran pertama, jika diriku gagal maka pasukan Negara Aliansi boleh turut serta mengambil bagian!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan tegas membuat para Jenderal sangat bahagia mendengarnya, begitu pula para Komandan tempur yang di bawahinya dahulu.
“Baiklah Sahabat!!!!, bagaimana jika kita menyelamatkan keluargamu terlebih dahulu!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata sembari menawarkan langkah pertama pergerakan armada perang Sultan Yasir Al Mahmud.
“Tidak perlu Sahabat!!!, bagiku mereka telah binasa jika menerima tawaran Imam Bin Murzi untuk hidup!!!, termasuk putra kesayanganku Zurah Al Imran!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan tegas akan menghadapi putranya sendiri bila turut serta mendukung Imam Bin Murzi dalam pertempuran kelak, membuat para Komandan Tempur merasa sangat bahagia dengan kembalinya pimpinan mereka yang telah dianggap layaknya seorang ayah, begitu pula dengan Panglima Fitrah Al Zainal yang merasa tekad kuat sahabatnya hingga berani mengorbankan seluruh keluarganya untuk membalaskan dendam Sultan Yasir Al Mahmud, meski dirinya ketahui Putra kesayangan Jenderal Imran As Safarai merupakan Komandan Tempur yang dibawahi Jenderal Zaffar Al Gasali resimen 13 Negara Bursa serta merupakan pemuda yang handal dalam pertempuran.
“Dengar mulai saat ini kita adalah Resimen 3 Armada Sultan Yasir Al Mahmud yang berada dibawah arahan Raja Konery Negara Durham, yang dipimpin langsung oleh Panglima Fitrah Al Zainal!!!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan sangat keras membakar semangat pasukannya untuk membalaskan dendam Sultan Yasir Al Mahmud.
__ADS_1
“Dum,..Dum.. Dum.. !!!” X 100. 000 serentak pasukan resimen 3 membenturkan senjatanya sebagai tanda kesiapan melaksanakan misi.
“Saatnya kembali ke Negara Bursa!!!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berteriak diikuti isyarat dari para Jenderal dan Komandan Tempur kepada para pasukan, mereka memacu kuda ke arah kota Xois untuk membantu Negara Durham yang diyakininya dalam keadaan bahaya jika diserang dari arah wilayah Negara Bursa, mengingat penjagaan dikota kota tersebut sangatlah renggang dan jarang terjadi karena hubungan kedua Negara sangatlah erat terjalin sejak dahulu, begitu pula pemikiran Jenderal Ryan yang sedang bertugas di Negara Bursa memacu kudanya dengan sangat cepat dikarenakan kampung halamannya merupakan kota perbatasan Bursa dan Durham yaitu kota Truko.