Legend Of The Great Emperor

Legend Of The Great Emperor
Pertempuran Negara Aliansi Zhen Long IX " Negara Bursa "


__ADS_3

“Katakan apa yang telah terjadi!!!! Cepat katakan!!!” Sultan Yasir Al Mahmud mendesak sembari mengcengram leher Murzi Bin Lahap dengan penuh amarah.


“Hahahh.. huakk ...hahaha... meskipun kamu dapat membunuhku namun Negara Bursa tetap akan lenyap dari dunia ini!!!, Hahahaha... hahahahah..hahahah kamu telah mengambil langkah yang salah mengejarku hingga ke mari keponakanku!!!” Murzi Bin Lahap berkata sembari tersenyum bahagia menyiratkan sesuatu yang penting akan segera terjadi sembari mencari peluang melakukan serangan terakhirnya, ucapan Murzi Bin Lahap membuat Sultan Yasir Al Mahmud semakin penasaran akan maksud orang yang paling di bencinya selama ini, di sisi lain para Penasehat Agung bersama Panglima Fitrah Al Zainal segera mendatangi Sultan Yasir Al Mahmud setelah memastikan para pasukan iblis mayat hidup benar benar telah menarik diri dari lokasi tersebut.


“Katakan apa rencana kalian!!!” Sultan Yasir Al Mahmud geram melihat senyuman Murzi Bin Lahap yang begitu membuatnya kesal.


“keponakanku, kamu telah mempercayakan Negaramu kepada Adik sepupumu, anakku benar benar hebat dalam bersandiwara hingga mampu mendapatkan kepercayaan dari kamu dan Raja Konery!!! Suepp.. !!! mari kita mati bersama keponakanku tercinta... hhahahahah.. hahahha.. hahahah” Murzi Bin Lahap berkata sembari menusukkan jarum beracun yang dibuat oleh Ming Taiqing ke leher Sultan Yasir Al Mahmud dengan menggunakan tangan kirinya mengambil peluang dari kelengahan keponakannya, jarum beracun tersebut dengan cepat masuk ke dalam pembuluh darah Sultan Yasir Al Mahmud, dengan ganas menyerang meridian meridian vital Sultan Bursa yang sedang fokus menelaahkan pernyataan Murzi Bin Lahap,namun sebelum kesadarannnya hilang dan tenaga dalam yang dimilikinya rusak dengan segera Sultan Bursa melayangkan pukulan sekuat mungkin ke arah kepala Murzi Bin Lahap hingga orang tersebut terhempas puluhan meter.


Panglima Fitrah Al Zainal dengan segera menimang tubuh Sultan Yasir Al Mahmud ketika baru saja datang bersama Para Penasehat Agung, Panglima Fitrah Al Zainal sangat terkejut melihat keadaan Sultannya yang dalam keadaan kaku di dekapannya, dirinya merasa sesuatu yang mengerikan telah menimpa Sultannnya yang beberapa waktu lalu dalam kondisi yang prima.

__ADS_1


“Yang Mulia... Yang Mulia ada apa!!! Apa yang terjadi!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata dengan nada panik karena Sultan Bursa tersebut layaknya manusia tanpa energi kehidupan, seluruh tubuh Sultan Yasir Al Mahmud terlihat menampakkan Urat urat nadi berwarna hijau keunguan yang begitu mencolok, para Penasehat Agung dengan segera memeriksa kondisi Sultan Yasir Al Mahmud dikarenakan merasa sedikit aneh dengan kondisi tubuh Sultannya yang mengalami kejang menahan derita yang tiada terkira.


“Yang Mulia terkena Racun Panglima !!!!” Salah satu Penasehat Agung berteriak setelah memeriksa kondisi Sultan Yasir Al Mahmud, Panglima Fitrah Al Zainal tanpa ragu memberikan air suci kehidupan yang dianggapnya merupakan obat dari segala obat, beberapa saat urat urat yang menonjol berwarna hijau pekat di tubuh Sultan Yasir Al Mahmud berangsur angsur memudar, membuat Sultan Bursa sedikit tersadar namun tidak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dengan leluasa, di sisi lain dengan sigap Murzi Bin Lahap mengambil sebuah tabung kecil dari sakunya sembari menarik pematik tabung tersebut dengan mulutnya, sebelum tubuhnya mengalami kelumpuhan permanen, kembang api bercahaya perak meluncur menghiasi langit sebagai pertanda sesuatu yang penting akan segera dimulai.


Sultan Yasir Al Mahmud yang tersadar dengan nada lirih membisikkan sesuatu kepada Panglima Fitrah Al Zainal karena merasa hidupnya tidak akan lama lagi, di tempat lain Murzi Bin Lahap tertawa dengan penuh bahagia sembari meluapkan kepuasan hatinya.


“Bunuh dia cepat Panglima!!! sebelum berbuat sesuatu yang lebih berbahaya!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berbisik dengan suara lemah kepada Panglima Fitrah Al Zainal, dengan sigap Panglima Bursa menuju ke arah Murzi Bin Lahap sembari menghunus pedangnya, setelah memahami maksud pernyataan Murzi Bin Lahap sebelum dirinya diracuni.


“Hahahaha... hahaha... hahaha.. sudah terlambat Panglima!!! Negara Bursa saat ini telah sirna dari dunia” Murzi Bin Lahap berkata sembari memandang ke arah Negara Bursa yang terlihat kemerah merahan layaknya mentari yang akan terbit, Panglima Fitrah Al Zainal tanpa berfikir panjang mengayunkan pedangnya menebas leher Murzi Bin Lahap membuat kepala pemberontak tersebut berpisah dengan tubuh menjalankan perintah Sultannya sembari menyadari telah kejauhan terjadi sesuatu di Negara Bursa saat ini, setelah memenggal kepala pengkhianat Panglima Fitrah Al Zainal mengantarkannya kepada Sultannya sebagai persembahan.

__ADS_1


“Yang Mulia jangan khawatir!!! Yang Mulia akan segera sembuh!!! Kita memiliki obat yang ampuh!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata sembari menenangkan Sultan Yasir Al Mahmud yang merupakan Sahabat kecil serta Guru baginya.


“Panglima!!! Terima kasih atas kesetiaanmu!!! Maafkan Saya telah gagal menjaga kedamaian Negara Bursa tercinta!!! Para Penasehat Agung Saya harap kalian memulihkan segera kekuatan kalian sebelum kembali ke Negara Bursa!!!” Sultan Yasir Al Mahmud memberikan perintah agar dapat menceritakan sebuah rahasia yang besar kepada Panglima Fitrah Al Zainal tanpa didengarkan oleh orang lain, Panglima Fitrah Al Zainal memahami maksud sultannya yang memutus pembicaraan, para Penasehat Agung kemudian menjauh untuk berkultivasi mengembalikan sedikit tenaga dalamnya serta melaksanakan perintah Sultan Yasir Al Mahmud.


Dari kejauhan para pasukan Negara Bursa terlihat menuju ke arah mereka yang di pimpin Jenderal Arman As Syah dan Jenderal Haz Al Djafary bersama pasukan kavaleri Negara Bursa yang ikut serta mengejar Murzi Bin Lahap telah mendekat.


“Panglima bunuh semua Penasehat Agung!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berbisik membuat Panglima Fitrah Al Zainal tersentak mendengarnya dan dipenuhi kebimbangan atas titah yang diterimannya.


“Lakukan Panglima!!! waktu hidupku tidak lama lagi!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berkata dengan berbisik sembari memudarkan lamunan Panglima Fitrah Al Zainal sembari menatap arah Negara Bursa, meskipun berat Panglima Fitrah Al Zainal dengan segera menjalankan perintah Sultannya dengan kecepatan langkah gaibnya mendekati para Penasehat Agung yang sedang bermeditasi secara berkelompok, para Penasehat Agung sebenarnya menyadari kedatangan Panglima Fitrah Al Zainal ke arah mereka, namun tetap fokus melanjutkan meditasinya karena menganggap Panglima Bursa merupakan orang sendiri, tebasan pedang naga melingkar dengan sekejap menebas leher seluruh para Penasehat Agung dalam satu tebasan hingga membuat mereka meregang nyawa tanpa disadari, perasaan bersalah berkecamuk di dalam hati Panglima Fitrah Al Zainal namun tetap melaksanakan perintah tersebut dikarenakan merasa yakin dengan keputusan Sultan Yasir Al Mahmud yang selama ini dipercayai memiliki pandangan yang matang dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


__ADS_2