
Setelah melaksanakan perintah!, Panglima Fitrah Al Zainal bergegas menghampiri Sultan Yasir Al Mahmud yang terlihat sedang duduk sembari mengatur pernafasannya untuk mencoba menetralisir racun mematikan di dalam tubuhnya.
“Perintah telah dilaksanakan Yang Mulia!!! para Penasehat Agung telah hamba binasakan!!!” Panglima Fitrah Al Zainal melaporkan sembari berlutut dengan perasaan penuh rasa bersalah.
“Terima kasih sahabat!! Saya tahu hal ini sangat berat bagimu, namun kamu telah menyelamatkan banyak nyawa setelah melakukan hal tersebut!!” Sultan Yasir Al Mahmud berkata dengan senyuman tipis sembari menenangkan hati sahabat kecilnya, membuat Panglima Fitrah Al Zainal sedikit bingung dengan pernyataan tersebut, dikarenakan sudah sangat lama Sultan Yasir Al Mahmud memanggilnya sahabat seperti saat ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi Yang Mulia?, sebaiknya kita kembali ke Negara Bursa!!” Panglima Fitrah Al Zainal bertanya penasaran akan perintah sahabat kecilnya sembari menyarankan untuk segera pulang karena tidak terlalu baik berada di wilayah perbatasan antara dua Negara yang sedang berperang saat ini.
“Telah terlambat Sahabatku!!! Lihatlah ke sana Sahabat!!!, Negara Bursa telah jatuh ketangan orang yang kita percayai yang ternyata merupakan penghianat yang sesungguhnya!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berkata sembari menunjuk ke arah posisi Negara Bursa yang berwarna jingga di atas langit.
__ADS_1
“Maksud Yang Mulia Perdana Menteri Imam Al Arif!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata dengan sangat terkejut karena firasat buruknya menjadi kenyataan sembari mengepalkan tangannnya seakan tidak percaya akan jatuhnya Negara Bursa.
“Imam Bin Murzi tepatnya Sahabat!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berkata sembari menjelaskan kebenarannya, membuat Panglima Fitrah Al Zainal lebih terkejut serta memahami akan perintah sultannya untuk membunuh para Penasehat Agung sembari menitikkan air mata kepedihan menyadari apa yang sedang terjadi di kampung halamannya.
“Saat ini apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?, Tolong carikan jalan keluarnya!!!” Panglima Fitrah Al Zainal bertanya dengan penuh amarah serta meminta pencerahan kepada Sultan yang paling diandalkannya.
“Sahabat Saya merasa umurku tidak akan lama lagi, racun yang bersarang ditubuhku sangat mematikan, Saya memiliki 3 permohonan kepadamu sebelum meninggalkan dunia ini!! Sebagai Sahabat kecilku bukan sebagai bawahan setiaku!! Apakah dirimu ingin melakukannya untukku Sahabat!!!” Sultan Yasir Al Mahmud berkata dengan nada lirih menahan sakit yang mengrogoti tubuhnya setelah merasa khasiat air suci kehidupan tidak mampu mengobat racun yang dideritanya.
“Saya ingin dirimu membakar jasadku pada saat meninggal kelak begitu pula jasad dari para Jenderal dan Pendekar yang kita binasakan maupun yang tewas dipihak aliansi kita, Saya merasa penjarahan makam makam para tokoh dunia persilatan yang telah terjadi puluhan tahun hingga saat ini merupakan ulah mereka untuk dijadikan Iblis mayat hidup!!!, Saya ingin dirimu dan para pengikut setia Negara Bursa untuk bergabung dibawah Arahan Yang Mulia Raja Konery sembari meningkatkan kemampuan ilmu beladirimu setelah diriku mangkat nanti serta membunuh Imam Bin Murzi sepupuku yang telah menghancurkan Kerajaan dan membunuh para pengikut setia kita, dan permintaan terakhirku tolong sampaikan pesanku ini kepada Sahabatku Raja Konery!! Bahwa Pangeran Zhen Long dalam keadaan kritis serta Saya sangat bahagia memiliki Saudara tak sedarah seperti dirinya dan berharap akan terulang kembali dikehidupan selanjutnya”Sultan Yasir Al Mahmud berkata dengan nada sedih merasa nafasnya telah sangat sulit untuk dikendalikan sembari memberikan kitab ilmu beladiri yang dimilikinya dari Pangeran Zhen Long kepada sahabatnnya, membuat Panglima Fitrah Al Zainal menjadi sangat panik kemudian segera merangkul tubuh sahabatnya tersebut yang hampir lunglai jatuh ke tanah.
__ADS_1
Beberapa Saat kemudian rombongan pasukan Negara Bursa sampai ke lokasi tersebut, dengan sigap Jenderal Haz Al Djafary dan Arman As Syah turun dari kudanya serta memberikan penghormatan kepada Sultan yang bersama dengan Panglima Negaranya, kedua Jenderal tersebut sangat terkejut melihat kondisi Sultan Yasir Al Mahmud sekarat dan berada didekapan Panglima Fitrah Al Zainal yang sedang dibanjiri air mata kesedihan mengantarkan nafas terakhir Sahabat kecilnya.
“Akkkkkhhhhhh….. Ahhhh… ahhhh akan kubunuh kamu Imam!!!! akan kupastikan utang ini terbayar lunas!!!!” teriak Panglima Fitrah Al Zainal sembari melepas kepergian Sahabatnya yang paling dirinya hormati, membuat kedua Jenderal turut bersedih karena mangkatnya Sang Sultan yang mereka hormati serta melindunginya selama ini.
Para Komandan Tempur beserta Pasukan Negara Bursa dengan segera turun dari kudanya turut serta berlutut memberikan penghormatan terakhir kepada Sultan Yasir Al Mahmud yang mangkat, Panglima Fitrah Al Zainal menggendong jasad Sultan Yasir Al Mahmud, sembari memberikan perintah kepada Jenderal Haz Al Djafary dan Arman As Syah untuk mengumpulkan ranting kering sebanyak banyaknya untuk melaksanakan pembakaran jasad Sultan bersama mayat para Penasehat Agung beserta Murzi Bin Lahap agar tidak dapat dijadikan Pasukan Iblis mayat hidup nantinya, dengan segera kedua Jenderal melaksanakan perintah tersebut, meski diselimuti penasaran dihati mereka akan perintah tersebut, para pasukan Negara Bursa dengan segera mengumpulkan dahan dan ranting kering sebanyak banyaknya menjalankan perintah Jenderalnya.
Prosesi pembakaran Jasad Sultan Yasir Al Mahmud dipimpin langsung oleh Panglima Fitrah Al Zainal sembari disaksikan oleh para Pasukan Negara Bursa, terlihat kebingungan diwajah para Pasukan akan yang dilakukan Panglima mereka yang tidak sesuai dengan tradisi Negara Bursa melainkan mirip tradisi sebagian kecil rakyat Negara Amethi saat ini, namun tetap diam menanti penjelasan dari pemimpinnya kelak, kegelisahan para pasukan dirasakan pula oleh kedua Jenderal yang merasa bertanggung jawab menjelaskan hal tersebut nantinya kepada para bawahannya, meski tetap melaksanakan prosesi tersebut dengan hikmat sebagai penghomatan terakhir kepada Sultan Yasir Al Mahmud sembari menanti penjelasan Panglima Fitrah Al Zainal yang merupakan Pimpinan sekaligus Guru mereka.
Setelah api padam Panglima Fitrah Al Zainal kemudian mengambil abu dari pembakaran jenasah Sultan Yasir Al Mahmud memasukkannya ke dalam sebuah wadah serta menyimpannya dengan hati hati, kemudian Panglima Fitrah Al Zainal menuju kehadapan seluruh pasukan Negara Bursa untuk menyampaikan segala kejanggalan yang baru saja mereka lihat sembari mengendarai kuda perangnya.
__ADS_1
“Perhatian semuanya pasukan Negara Bursa!!! Kalian pasti mempertanyakan semua tindakanku saat ini!!! Namun itu merupakan titah terakhir Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud begitu pula jika diriku tewas di kemudian hari!!!, Yang Mulia tidak ingin jasadnya dijadikan iblis mayat hidup seperti mahhluk mahluk itu untuk berbuat kejahatan!!! abu Yang Mulia akan Saya makamkan di suatu tempat sesuai arahan Raja Konery!!! Saat ini pasukan Negara Bursa akan saya dibubarkan!!! bagi yang ingin bergabung denganku menjadi bawahan Raja Konery dan membalaskan dendam Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud kepada Imam Al Arif yang tidak lain adalah anak dari Murzi Bin Lahap dengan tangan terbuka saya menerimanya!!! Tidak ada paksaan bagi kalian saat ini Negara Bursa telah hancur dan Jatuh ketangan Imam Bin Murzi!!!” Panglima Fitrah Al Zainal menjelaskan dengan teriakannya sembari menunjuk tumpukan mayat hidup kemudian ke arah Negara Bursa yang dianggapnya telah habis dibantai oleh Imam Bin Murzi, membuat Jenderal Haz al Djafary dan Arman As Syah beserta pasukannya memahami kondisi yang terjadi, suasana menjadi hening setelah mendengar penjelasan Panglima Fitrah Al Zainal, terlihat kebimbangan dari wajah para Pasukan Negara Bursa dalam mengambil keputusan.