Legend Of The Great Emperor

Legend Of The Great Emperor
Armada Perang Sultan Yasir Al Mahmud


__ADS_3

“Saya ikut bersamamu Panglima!!!, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan!!!, Saya akan membalas kebaikan Yang Mulia kepadaku!!! Lagi pula mungkin semua keluargaku telah binasa begitupun para Jenderal Negara aliansi yang sudah kuanggap sebagai Saudaraku sejak diriku diangkat menjadi salah satu Jenderal utama Negara Bursa!!! Dengarkan kalian para Pasukan Resimen 16 Negara Bursa dengan ini dibubarkan!!! Silahkan pilih jalan kalian masing masing!!!” Jenderal Arman As Syah berkata sembari mengucurkan air mata membayangkan kerabatnya yang kemungkinan besar telah tiada dikarenakan mengetahui jelas cara berfikir Perdana Menteri Negara Bursa yang tidak lain merupakan anak dari Murzi Bin Lahap sembari memacu kudanya dengan santai mendampingi Panglima Fitrah Al Zainal.


“Saya Juga Ikut Panglima!!! Lebih baik menjadi senjata Negara Durham daripada menjadi anjing pengkhianat Negara Bursa yang telah membantai keluargaku!!! Dengarkan kalian para Pasukan Resimen 7 Negara Bursa dengan ini dibubarkan!!! Mulai saat ini saya bukan lagi Jenderal Resimin 7 Negara Bursa namun akan menjadi pesuruh Raja Konery dibawah arahan Panglima Fitrah Al Zainal!!! pilihlah jalan kalian masing masing!!!” Jenderal Haz Al Djafary berkata dengan air mata kepedihan merasakan pemahaman yang serupa dengan Jenderal Arman As Syah, sembari memacu santai kudanya menghampiri Panglima Fitrah Al Zainal dan Jenderal Arman As Syah.


“Bawa kami Juga juga Panglima!!! Kami akan selalu bertempur di sisi Anda Jenderal!!!” serentak para Komandan tempur berkata sembari memacu kudanya ke depan karena telah menganggap Panglima dan para Jenderalnya seperti layaknya Saudara sendiri disetiap pertempuran yang telah mereka jalani, tiba tiba suara dentuman perisai dan tombak terdengar bergemuruh dari barisan pasukan Negara Bursa.


“Dum…dum… dum… dumm…!!!!” X 100. 000 suara dentuman senjata pasukan Kavaleri yang bersedia ikut serta dengan keputusan pimpinannnya, terlihat wajah Panglima Fitrah Al Zainal sangat bahagia bersama dengan para Pimpinan militer lainnya.


“Baiklah!!! Mulai saat ini kita akan berganti nama namun tetap pada barisan yang sama dan pimpinan yang sama pula!!!! Dengan ini nama kita adalah Armada Perang Sultan Yasir Al Mahmud Resimen 7 dan Resimen 16!!!!, dan saya bersumpah mulai saat ini kalian semua adalah saudaraku!!! Apa yang aku dapat dan makan akan dibagi sama rata untuk kalian semua!!! apakah kalian semua bersedia mengikutiku!!!” Panglima Fitrah Al Zainal berkata dengan sangat keras memutuskan hubungan dengan Negara Bursa serta menjalin persaudaraan dengan bawahannya dahulu.

__ADS_1


“Dum…dum… dum… dumm…!!!!” X 100. 000 suara dentuman senjata serentak pasukan Kavaleri menandakan setuju dengan keputusan tersebut.


“Kembalilah ke posisi kalian masing masing!!! Mari kita bergerak dan memberitahukan hal ini kepada para Jenderal yang selamat!!!!” Panglima Fitrah Al Zainal memberikan perintahnya kepada Para Jenderal dan Komandan Tempur Armada perang Sultan Yasir Al Mahmud yang baru saja dibentuk.


“Bersiap!!!! Pasukan Armada Sultan Yasir Al Mahmud!!! Basmi penghianat demi kedamaian dunia!!!!” Panglima Fitrah Al Zainal memberikan komando menuju ke arah Negara Bursa.


“Yo…yoo… Dum.. Dum,!!!” Teriak para pasukan Armada Sultan Yasir Mahmud menyambut pernyataan Panglimanya bersiap bergerak untuk bertempur merebut kembali kehormatan yang telah hilang, setelah menerima isyarat dari kedua Jenderal dan para komandan tempurnya.


“Panglima!!! Dimana Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud?!!!” Jenderal Imran As Safarai bertanya dengan sangat terkejut karena melihat Sultan Bursa dan kesepuluh Penasehat Agung yang bertugas melindungi tidak berada di antara pasukan yang kembali dari mengejar Murzi Bin Lahap dengan perasaan Khawatir mewakili para Jenderal lainnya.

__ADS_1


“Yang Mulia telah mangkat!!! Saat ini kami bukan lagi Pasukan Negara Bursa!!! Kerajaan Bursa telah di ambil alih oleh Perdana Menteri!!! Jenderal Imran!!! Panglima Fitrah Al Zainal berkata dengan tegas karena mengetahui hubungan Jenderal Imran As Safarai dengan Imam Al Arif sangatlah erat, membuat para Jenderal Negara Aliansi menjadi sangat terkejut akan pernyataan tersebut.


“Apa maksud pernyataan Anda Panglima?!!!” Jenderal Imran As Safarai bertanya dengan nada tinggi tersinggung atas penjelasan Panglima Fitrah Al Zainal disertai ketidak percayaan bahwa Imam Al Arif sahabatnya adalah pengkhianat seperti yang dituduhkan pimpinannya saat ini, hal ini dikarenakan Jenderal Imran As Safarai yang telah merekomendasikan Imam Al Arif sehingga menjadi Perdana Menteri serta salah satu orang kepercayaan Sultan Bursa, karena pemikiran cerdasnya dalam mengelola strategi perang dan administrasi Negara serta jauh dari motif melakukan pemberontakan.


“Yah!!!!, itu benar Jenderal Imran!!! Kami saat ini telah mengubah haluan menjadi pasukan armada Sultan Yasir Al Mahmud menjadi bawahan Raja Durham dan Saudara tak sedarah dari Panglima Fitrah Al Zainal!!!, kami berencana membunuh Imam Bin Murzi yang kamu bawa memasuki istana Bursa puluhan tahun yang lalu!!! Meski kami harus menghadapimu dalam medan perang nanti!!!” Jenderal Arman As Syah memotong pembicaraan sekaligus menjelaskan permasalahan tersebut, membuat seluruh pimpinan pasukan Negara aliansi terkejut serta tersentak mendengarnya, namun sesuatu tidak biasa terjadi pada pimpinan Resimen 3 Negara Bursa yang layaknya orang yang sedang tersambar petir disiang bolong setelah mengetahui latar belakang Imam Al Arif yang merupakan anak Murzi Bin Lahap, dirinya tidak mempercayai perkataan rekannya tersebut, namun Jenderal Imran As Safarai membayangkan perkataan sahabat mudanya yang dianggapnya ngelantur pada saat minum bersama dahulu yang memintanya ikut serta bila ingin mendirikan sebuah Negara kelak, dia tidak menyangka hal ini benar benar terjadi serta menganggap pernyataan tersebut adalah sebuah mimpi manis seorang pemuda ambisius.


“Dengar kalian pasukan kavaleri Resimen 3 Negara Bursa !!! Saat ini kalian dibubarkan!!!, pilih jalan kalian masing masing!!!” Saya tidak layak menjadi pimpinan kalian!!!” Jenderal Imran As Safarai berkata dengan teriakan bergetar sembari mengucurkan air mata penyesalan yang begitu dalam atas perbuatannya dahulu.


“Mengapa kamu bersedih Jenderal!!!, bukannya kamu harusnya bahagia atas naik tahtanya Imam Bin Murzi!!! dan Saya sangat yakin seluruh keluargamu dalam keadaan selamat saat ini berbeda dengan keluarga kami yang mungkin telah binasa!!!” Jenderal Haz Al Djafary menyindir Jenderal senior yang sangat hebat di medan tempur selama berdirinya Kerajaan Bursa, membuat Jenderal Imran As Safarai hanya menitikkan air mata penyesalan serta perjuangannya selama ini menjadi sia sia, dengan segera puluhan Komandan Tempur Resimen 3 Negara bursa dahulu berkumpul menanyakan keputusan pimpinannya.

__ADS_1


“Jenderal!!! Kami sepakat mengikuti Anda!!!, Meskipun melalui jalan Neraka” Salah satu Komandan Tempur berkata dengan penuh hormat karena menganggap Jenderal Imran As Safarai bagaikan Ayah mereka, namun banjir air mata tetap menyelimuti mata tajam sang Jenderal Imran As Safarai yang shok mendengar berita tersebut.


“Negara Bursa telah tiada!!!, Saya mohon kalian mengikuti Panglima Fitrah Al Zainal untuk membalaskan dendam Yang Mulia Sultan Yasir Al Mahmud, sebagai balas budiku kepadanya!!!” Jenderal Imran As Safarai memohon kepada para komandan tempurnya yang sangat menyayanginya.


__ADS_2