Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 100


__ADS_3

Wah sudah bab ke 100 nih ! di luar target author yang awal hanya ingin membuat 70-80 bab saja, semua karena dukungan Anda semua para pembaca budiman karena apalah arti nya tulisan ku jika tanpa ada yang membaca apalagi menanti kehadiran dari episode ke episdode. Untuk semua nya !


Jazakumullah khaeron khasiiro


Terimakasih atas atensi semua nya, jangan lelah untuk memberi kesan pada novel ini dengan like , komen dan vote


Dukung author agar formulir pengajuan kontrak secepat nya di acc melalui like .


Tetap semangat !


Just four my readers Can' t stop loving you


because I need you forever !!


Salam sayang selalu😍😍


______________________________


Tak pernah ada kepedihan yang abadi pun demilkian dengan kebahagiaan tak pernah ada yang abadi karena hidup tak ubah nya serupa bumi yang berputar pada poros nya, tak jauh beda serupa mentari yang selalu setia menyapa bumi dari arah timur lalu akan berjalan kembali pulang ke arah barat .


Dan keabadian hanyalah ada pada pemilik kehidupan Tuhan semesta alam .


Maka bersedih lah sewajar nya saja dan berbahagialah seada nya saja jangan terlalu di paksakan .


******************


Mobil melaju cepat membelah jalanan kota malam itu, di bawah selimut kabut pekat yang sedikit mengurangi pandangan . Hardi memacu mobil serupa orang kesurupan tak dipedulikan tikungan tajam menukik . Sampai di depan kantor arrahman mobil berhenti , tiga orang ikut naik di jok tengah .


Hardi kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tak dipedulukan nya Erza yang berulangkasi mendesah kesal ,hampir saja mobil selip saat berpapasan dengan truk dam pembawa pasir kali gunung .


" Pelan sedikit kenpa sih ! sengaja ya mau bikin sport jantung ?! " Kesal Erza terlihat cemas .


" Kalau jalan ku lamban macam keong nanti Emil ku keburu di apa - apakan ! Tahan kenapa cowok laju gini saja sudah ribut ! "


Kesal Hardi dengan nada tinggi .


" Iya tapi gak serobotan seperti itu ! "


Dengus Erza lagi .


" Bisa diam tidak ! Aku sedang fokus nyetir ! "


Hardik Hardi keras .


Erza terdiam , Hardi terus melajukan mobil nya sesuai peta yang terpapar di ponsel yang Dia taruh di depan kemudi . Berjalan sangat cepat serupa laju angin, beberapa kilo kemudian mobil belok ke kiri mengikui jalan yang lebih sempit dan sepi serupa tak ada kehidupan bahkan hewan pun seperti enggan tinggal di sana . Dan tiba - tiba .


Duaarrr... !!


Ban mobil bagian depan mengempis mobil oleng, beruntung Hardi mampu mengendali kan laju mobil , hingga mampu menghindari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


* Ternyata si bucin bayi tua manja ini pandai juga menyetir mobil * Bathin Erza .


" Shiiit...!! Kita diintai ! Kedatangan kita sudah diketahui oleh mereka ! " Geram Hardi menahan emosi .


" Pakai pelindung nya Bos !! Seperti nya mereka juga bersenjata ! " Pinta kapten Andreas menyerah kan baju anti peluru ke Hardi dan Erza beserta helm baja .


" Kita turun dari mobil hati - hati ! Jalanan gelap dan kita tak menguasai medan ! Bisa saja mereka sudah membuat persiapan untuk menyambut kita ! " Jelas Kapten Andreas lagi.


Tring...! triiinnngg !!


Ponsel Erza berdering, nama Agus terpapar di sana, Erza menekan tombol hijau .


" Hallo Za..!! Kamu ke arah selatan kan ?! Jangan matikan ponsel mu ! Kami sedang menuju ke arah mu dengan pelacak ponsel ! "


Suara Agus dari sebrang sambungan .


" Kebetulan Ndan !! Kita sedang menghadapi kendala di sini , ban mobil kita ada yang menembak , bagian kiri sobek memanjang ! "

__ADS_1


Jelas Erza sepelan mungkin .


" Hati - hati ! Kamu hanya berdua dengan Mas Hardi ..?! " Tanya Agus .


" Kami berlima , ada orang nya Pak Handoko yang ikut bersama kami " Jelas Erza lagi .


" Oke Za ! kuusahakan dalam waktu sepuluh menit aku sudah sampai sana ! " Balas Agus.


" Baik Ndan hati - hati di sini jalanan gelap tanpa penerangan ? " Balas Erza.


" Hayu Za !! kita tidak punya banyak waktu , harus bergerak cepat ! " Hardi menarik tangan Erza berjalan mengendap dengan penuh kewaspadaan .


***************


Sementara di tempat penyekapan Emil !


" Kumbang Satu kumbang dua memanggil ! Gantii !! " Suara dari sambungan Handi Talkie si tampan .


" Panggilan di terima kumbang dua masuk ! Ganti ! " Balasan si tampan .2


" Lapor ada pergerakan singa prasojo di gerbang masuk ! Ganti ! " Suara dari sebrang HT .


" Halangi sampai eksekusi selesai ! Perlambat laju ! Ganti ! " Perintah si tampan .


" Siap laksanakan ! kumbang dua undur tuk laksanakan tugas ! " Suara di sebrang HT .


Semenit kemudian si tampan memerintah kan anak buah nya untuk merapikan tempat.


" Ayoo ..kita cepat berkemas sebelum singa prasojo sampai kemari ! John Kau dan pitak awasi keadaan di luar . Jeff ikut aku ke dalam dan kalian kemasi barang - barang agar saat mereka datang tak menemukan apa pun !."


Perintah si tampan ke anak buah nya .


Cekrek ! cekrek !


Si tampan membuka pintu kamar Emila , mendekat ke arah Emila yang terbangun saat mendengar suara HT si tampan dengan kumbang dua .


Lelaki itu mengambil sapu tangan dan menyumpal mulut Emila dan megikat tangan serta kaki Emila .


" Kumbang tiga ! kumbang satu memanggil ganti ! " Ucap si tampan di HT .


" Panggilan di terima , siap jalan kan tugas ! Ganti ! " Balasan dari sambungan HT .


" Kumbang satu memastikan keamanan eksekusi ! Ganti ! " Perintah si tampan .


" Perintah di terima ! Capung telah di darat kan dengan sempurna seratus meter arah timur laut ! Menunggu kedatangan kumbang satu ! Ganti ! " Jawab suara dari sebrang .


" Siap kumbang satu bersiap menuju lokasi !


Aman kan keadaan sampai kedatangan ! Ganti ! " Perintah si tampan.


" Siap laksanakan pengamanan kumbang satu di bantu kumbang tiga ! "


Balas suara dari sebrang HT.


Usai menyelesai kan panggilan di HT, si tampan mengangkat tubuh Emil membopong nya keluar dari rumah berjalan dengan pengawalan bodyguard bersenjata di bagian depan , belakang dan kanan kiri . Melalui jalan setapak di belakang vila yang gelap dan sempit dengan pepohonan menjulang tinggi, melewati sungai bebatuan nan jernih nampak elok tertimpa cahaya rembulan.


Seratus meter kemudian nampak lah tanah lapang nan luas serupa padang savana, sebuah heli berwarna putih orange terparkir di sana , seorang pengawal menyambut mereka, membantu menaikan Emil dan mendudukan di dalam heli, si tampan naik duduk di sebelah nya membantu memasang kan pengaman dan headset untuk melindungi telinga Emil dari kebisingan .


" Kumbang satu ready ! Lets go ! " Perintah nya kemudiam ketika Dia beserta kaki tangan nya telah selesai memasang pengaman.


" Capung siap mengudara ! Lets go " Balas sang pilot Heli menyalakan mesin lalu helikopter bergerak naik ke atas perlahan kiam naik ke atas , setelah melewati.batas tinggi pepohonan Heli melasat jauh meninggalkan hutan belantara .


" Selamat tinggal singa prasojo ! Merana lah engkau di sana ! Maaf wanita secantik dan sebaik Dia tak pantas bersanding dengan mu, karena nya akan ku bebas kan Dia dari belenggu mu ! * Gumam si tampan lirih tersenyum penuh kemenangan .


Sementara di dalam hutan , rombongan Hardi berjalan menyusuri jalan nan sepi gelap dengan kabut memedih kan pandangan, udara dingin menyergap menusuk hingga ke dalam tulang belulang .Setiap berbicara asap akan keluar dari mulut.


Beberapa ratus meter di depan suara riuh Helikopter mematah kan semangat mereka.

__ADS_1


" Shiiit...!! Mereka bergerak lebih cepat kita terlambat dan kehilangan jejak ! " Geram Hardi , gigi nya bergemeretak menahan amarah membuncah , tak patah semagat Hardi mempercepat langkah dan dua puluh meter kemudian di temukan nya bangunan vila megah diantara perkebunan bunga .


Mereka masuk menggeledah ke dalam rumah, menelusuri setiap lorong di dalam nya, tak di temui nya seorang pun di sana .


Hanya ada beberapa puntung rokok ,botol dan kaleng bir dan minuman keras beralkohol rendah .


Hardi membuka pintu dimana Emil di sekap di dalam nya sebelum Dia di bawa lari menggunakan Heli , di temui nya kotak makanan dan gelas plastik bekas Emil, masih ada lipstik isteri nya membekas di pinggiran gelas .


Hardi mengusap bekas lipstik Emil dengan penuh kerinduan, airmata nya menetes .


" Shiiittt....!!! Siapa pun kalian..!! Kemana pun kalian membawa pergi isteri ku akan aku temukan kalian ! Akan aku pecah kan otak di kepala kalian !! " Getar nya menahan amarah membahana menggelegar ke seluruh ruang .


" Ya ini aku kapten Andreas tolong lacak sebuah Heli baru bergerak dari kawasan hutan lindung X , kabari secepat nya pergerakan mereka ke arah mana ! Ku tunggu kabar secepat nya !! " Kapten Andreas menghubungi pusat kendali udara .


Suara sirine mobil patroli meraung membelah hutan nan sepi , masuk ke dalam vila satu - satu nya bangunan rumah yang ada di sana .


Agus dan beberapa rekan nya turun dari mobil di sambut oleh Erza yang terduduk lesu di bangku taman bunga .


" Gimana Za..?! " Tanya Agus kemudian .


Erza menggeleng kan kepala dengan wajah merah padam menahan kecewa dan amarah yang berbaur berkecamuk dalam hati nya .


Di tutupi wajah nya dengan kedua tangan .


" Kita terlambat , mereka lebih dulu mengetahui kedatangan kita dan sebelum sampai di sini mereka telah membawa lari Mbak Emil mengenakan Heli , Entah kemana mereka membawa kabur kaka perempuan ku ! "


Suara Erza lirih putus asa , mata nya nanar menatap ke arah tak menentu .


polisi masuk ke dalam memeriksa setiap sudut ruang , mencari sidik jari dari setiap titik sudut .


" Kawanan kumbang hitam rupa nya !! "


Gumam Andreas begitu memerikss beberapa sidik jari yang menempel di botol minuman dan beberapa tempat di sana .


" Kumbang hitam..,?!! pembunuh bayaran berdarah dingin yang di gawangi Antonio seagel van dirk..?!! " Selidik Hardi menatap lekat kapten Andreas .


" Ya aku mengenali sidik jari kaki tangan nya Jeferano morano dan si pitak yang selalu di bawa nya kemana pun mereka pergi ! "


Jelas kapten Andreas .


" Aaagggghhhh.....!! Brengsek...!! Aku tak ada urusan dengan mereka !! Berani nya kau menggugah jiwa iblis ku ! Belum tau kau siapa singa prasojo ! Akan aku hancur kan kalian dengan kedua tangan ku sendiri !!! "


Raungan Hardi menggelegar memenuhi sudut ruang , membuat merinding bulu kudug siapa pun yang mendengar nya bahkan aparat kepolisian yang berada diantara mereks pun terbelalak mendengar kemarahan Hardi .


Hardi mengambil botol minuman di lempar nya keras ke jendela .


Prannnggg...!!! pyur... !!


Suara kaca jendela pecah berkeping keping .


Kapten Andreas membisikan sesuatu ke telinga Hardi .


" Siap kan Heli sekarang !! Aku mau menyusul mereka ! Jangan kan ke sungapura ke ujung dunia pun akan aku kejar mereka !! "


Geram nya menahan emosi membara .


" Baik Tuan ! sepuluh menit lagi Heli akan mendarat di padang savana, seratus meter arah timur laut ! " Jelas Hardi .


" Erza aku akan terbang ke singapura sepuluh menit lagi ! tolong sampai kan itu ke Ayah ku , ini Kunci mobil ! ada dua ban serep di bawah tolong ganti ban yang pecah, besok di bawa ke bengkel dealer ganti ban yang pecah dengan yang baru , minta lah uang pada.Ayah !!


Aku titip anak - anak ku ! " Perintah Hardi tegas . Erza hanya menganggukan kepala tak berani banyak bicara melihat sorot amarah memenuhi wajah kaka ipar nya .


Baru kali ini Erza melihat sorot menakutkan dari suami kaka nya itu , serupa singa yang terbangun dari tidur panjang menahan lapar .


Seperti hampir yang haus akan darah .


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2