
Sementara di kediaman Prasojo ramai di kunjungi oleh kerabat termasuk adik-adik Emil dengan keluarga nya, sebuah kejutan saat Erza datang dengan seorang wanita yang di kenalkan sebagai calon isteri nya. gadis cantik teman satu alumni dengan Erza saat kuliah yang pernah bertemu dengan Emil di sebuah rumah makan.
Kejutan datang lagi saat rombongan karyawan Arrahman datang, Nurma bendahara di Arrahman yang telah bertunangan dengan Agus si bujang lapuk turut datang memberi undangan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan secara sederhana seminggu selepas lebaran.
"Selamat Ndan akhir nya ketemu jodoh juga"
Sapa Emil ramah dalam raut bahagia.
"Alhamdullillah banget saingan ku mulai berkurang satu persatu" Ucap Hardi, mengerling ke arah isteri nya.
"Bagaimana cerita nya bisa begini, perasaan Mas Hardi bilang mau jodohin Ka Erza sama mbak Nurma .., lah ko cerita nya malah berubah ?" Tanya Eksan yang masih tak memahami peristiwa diantara mereka.
"Cerita nya panjang Dek, gak bakal selesai sehari untuk nyelesein" Balas Agus tersenyum simpul, Nurma mengiyakan dengan paras memerah.
"Gak masalah sih siapa sama siapa yang terpenting saling memahami, saling mengerti dan saling mengisi" Balas Emila masih dalam raut sumringah.
"Terus kamu rencana kapan mau melamar Nayla Za!" Tanya Ibu lembut.
"In Syaa Allah secepat nya Bu.dalam bulan ini, tadi aku sudah bicarakana sama Mas Emran dan Mas Akmal, tinggal menunggu restu Ibu dan Mbak Emil saja" Balas Erza pelan sembari menggenggam tangan Nayla yang wajah nya berbinar dalam semu kemerahan.
"Siapa pun pilihan kamu Mbak akan mendukung Za ! selama itu membuat mu bahagia" Balas Emil tulus.
"Terimakasih Mbak" Balas Erza dengan seulas senyum bahagia.
"Lebih cepat lebih baik Nak ! Usia kamu juga lebih dari cukup untuk membangun bahtera rumah tangga, Ibu juga gak peduli sama bobot, bibit dan bebet, selama pilihan mu tidak di larang agama" Balas Ibu Winarti bijak.
Mareka lalu larut dalam pembicaraan hangat dan atas permintaan Tuan rumah, Pak Handoko, malam hari itu mereka menginap di puri kediaman nya.
----------------------------------------
Petang menjelang malam seorang Dokter beserta asisten nya datang berkunjung memeriksa kondisi kesehatan fisik Emila.
"Nyonya masih ada keluhan ?" Tanya Dokter ramah.
"Hanya masih terasa sedikit lemas dan mulut hambar mengecap makanan" Balas Emil lemah.
"Seperti nya ada urat dalam lidah yang mengalami kerusakan akibat pengaruh racun Nyonya, sebaik nya konsultasikan dengan ahli nya, nanti saya beri surat pengantar" Balas Dokter masih tetap ramah dan berhati-hati dalam berbicara.
"Baik Dok, lusa saya bawa isteri saya untuk konsultasi" Balas Hardi ramah.
"Lebih cepat lebih baik Tuan Hardi, sebelum lebih parah" Balas Dokter dalam mode hormat. Hardi membalas dengan anggukan kepala. Dokter pamit meninggal kan ruangan di antar oleh pak Handoko.
"Pah mau makan rujak kerupuk mie, beliin cepet Mamah sudah lapar" Rengek Emil manja.
"Malam-malam begini cari rujak dimana Mah ?, dan lagi ini masih suasana lebaran mana ada yang jualan ?" Tanya Hardi bingung.
"Gak mau tahu, Dede nya pengin makan rujak sekarang, emang kamu mau anakku ileran ?"
Ancam Emil dengan raut kesal.
Hardi menggaruk rambut nya tidak gatal dengan raut putus asa.
"Mau cari dimana coba malam lebaran gini permintaan nya yang aneh aja" Bathin Hardi.
Hardi beranjak keluar belum lagi sampai pintu Emil memanggil nya.
__ADS_1
"Pah , mau kemana ?!" Tanya Emil dengan nada kesal.
"Mau cari makanan permintaan mu lah !, emang mau kemana lagi ?" Balas Hardi datar.
"Jangan pergi, Papah di sini aja temenin aku"
Rajuk Emil dalam mode manja.
"Lah terus rujak nya gimana ?, gak jadi di beli ?" Balas Hardi dalam raut bingung.
"Tetep di beli lah, orang Dedek nya mau makan itu" Nada Emil manja.
"Ya udah papah beli rujak dulu" Suara Hardi masih berusaha sabar.
"Gak kamu juga yang harus beli kan Pah ?, bisa minta tolong orang kamu buat nyariin kan ?" Rajuk Emil masih dalam sikap manja.
"Ya Papah keluar tak suruh Bik Ratmi nyari rujak" Balas Hardi lembut.
"Gak boleh ! Papah gak boleh keluar dari kamar, telfon aja !" Perintah Emil manja.
Hardi menggaruk tengkuk nya, meraih ponsel dari dalam saku celana nya lalu menghubungi Pak Sastro kepala pelayan di puri prasojo, menyuruh nya membuat rujak kerupuk mie permintaan isteri nya. Usai menelfon Hardi berjalan mendekati Emil yang terbaring di tempat tidur dengan selang infus yang masih terpasang.
"Sini Pah naik ke atas" Rajuk Emil manja. Hardi menuruti keinginan isteri nya beranjak naik ke atas tempat tidur pelan, rebahan di samping nya.
"Buka baju nya sama celana nya gih Pah, tidur nya pake boxer aja" Pinta Emil pelan.
"Kenapa ?, kangen ya ?, bentar Mah ! kalau rujak nya sudah datang takut nya lagi nanggung ke ganggu" Balas Hardi dengan seringai mesum.
"Iiihhh siapa juga yang minta main, orang Mamah cuma pengin tiduran di dada Papah yang telanjang aja ko" Balas Emil polos.
"Pah hadapin badan nya ke sini" Rengek manja Emil. Hardi menuruti nya memiring kan badan ke samping berhadapan dengan isteri nya, setelah nya Emil membenam kan kepala nya ke dalam dada Hardi, menciumi setiap inci dada bidang suami nya.
"Mah !, jangan bikin Papah putus asa deh, kondisi mu masih lemah, Papah takut lepas kontrol" Desah Hardi menahan nafsu yang membuncah.
"Bayangin deh sudah hampir seminggu puasa gara-gara isteri nya koma, eh sekarang di rangsang gini, mana tahan junior ku gak bangun" Bathin Hardi merana.
"Mah ! Tuh kan junior nya jadi bangun" Desah Hardi, menarik tangan Kanan Emil yang tidak terpasang jarum infus ke arah junior nya.
"Suruh tidur aja Pah junior nya, kan aku cuma mau ciumin dada Papah aja" Jawab nya polos.
"Mana bisa Mah !, kamu nya rangsang tubuh ku gini, aku masih normal Mah, gairah ku masih tinggi" Balas nya lembut di telinga Emil.
"Masukin junior nya pelan aja ya, Mah !" Pinta Hardi lembut, mata nya merem melek menikmati ******* bibir Emil di atas dada nya dan remasan tangan Emil di atas junior nya
"Gak mau nanti mual lagi" Balas Emil manja.
"Pelan aja Mah !, Papah janji akan main selembut mungkin" Desah nya kian putus asa.
Emil menggelengkan kepala tegas, menatap wajah suami nya yang bersemu merah menahan gejolak junior nya.
"Please Mah, janji deh Papah bakal ngelakuin selembut mungkin, hentakin nya pelan banget" Pinta Hardi lembut, mencium pucuk rambut isteri nya.
Tok ! tok ! tok !
Pintu di ketuk dari luar tiga kali, dengan raut sedikit kesal dikenakan nya kaos yang tadi di buang nya asal lalu beranjak turun berjalan ke arah pintu , membuka nya, Bunda berdiri dengan Bik Nah di belakang nya.
__ADS_1
Entah mengapa mata Bunda spontan menatap ke arah celana boxer anak nya yang memperlihat kan tonjolan keras memanjang.
Lalu Bunda menggelengkan kepala pelan berulangkali sambil berdecak.
"Har.. Har ! Mbok yo tahan diri bentar kenapa, isteri mu masih lemah gitu, masih tega aja mau digarap nanti nek pinsan lagi gimana?!"
Sungut Bunda tak habis mengerti dengan gairah putera nya. Hardi nyengir kuda dengan mengacak rambut nya kasar membalas ucapan Bunda nya.
"Ini rujak nya Nak Emil, berhubung gak ada yang jual jadi Bunda suruh Bik Nah bikin aja"
Ucap Bunda pelan, meletakan piring berisi rujak mie di atas nakas.
"Terimakasih Bun" Balas Emil tersenyum dalam wajah berbinar melihat makanan di atas nakas.
Hardi meraih piring, menyuapi isteri nya pelan, Emil melahap habis rujak kerupuk mie yang di goreng tanpa menggunakan minyak.
"Enak ya Mah ?" Tanya Hardi tak habis mengerti dengan selera makan isteri nya yang jadi merakyat.
"Banget Pah !, harus nya tadi kamu cobain juga" Balas Emil mengusap kening nya yang berkeriingat setelah makan ruja sampai habis.
"Apa enak nya makanan kaya gitu Mah, terus itu Dedek kita dapat gizi nya darimana coba kalau Mamah makan nya gak bermutu gitu" Sungut Hardi kesal.
"Sabar to Har !, jenenge wong nyidam ya kaya gitu to" Balas Bunda menengahi kekesalan putera nya.
"Gak tahu tuh Bun, Mas Hardi gak ngerti'in banget kemauan anak nya dalam perut" Balas Emil mendesah kesal.
"Bukan nya gak ngerti Mah !, aku cuma khawatir nanti anakku kurang gizi aja" Bela Hardi pelan.
"Orang nyidam itu biasa minta yang aneh-aneh Har, kamu selama ini kemana aja sewaktu isteri mu hamil anak yang lain ?"
Tanya Bunda pelan.
"Perasaan hamil sebelum nya gak pernah nyidam.yang aneh gini deh Bun" Balas Hardi berusaha mengingat masa lalu.
"La iyo wong isteri mu nyidam anak sebelum nya minta nya ke Yu inah ko, nanti Yu inah yang beli'in, kadang juga kalau pas ada Bunda atau Ayah kita yang beli'in" Jelas Bunda.
Hardi terdiam dalam rasa bersalah pada masa lalu nya, Dia menyeringai mengatasi perasaan tak nyaman dan ketakutan Emil akan membenci nya bila mengjngat semua.
Beberapa menit kemudian Bunda pamit keluar kamar, memberi waktu menantu nya untuk istirahat.
"Pah lepas kaos sama celana nya terus naik sini, aku mau cium dada mu sampai puas"
Pinta Emil dengan tingkah manja nya.
' Hem siksaan bathin berlanjut' Gumam Hardi dalam hati, namun diakui nya Dia bahagia dengan tingkah isteri nya yang berubah manja dan berharap kemanjaan Emil akan berlanjut meski sudah tak hamil lagi.
----------------------------------------
**Hai readers jangan lupa like dan vote nya
mohon dukungan untuk kelanjutan novel ini
Barakallah fiikum🙏
Salam sayang selalu😘😍😍**.
__ADS_1