
Sesampai di rumah aku bersih kan tubuh Daffa yang kotor dan mengganti baju yang belum sempat di ganti oleh pengasuh nya.
" Adek sudah makan Mbak Susi ? " Tanya ku.
" Sudah Bu , tadi Adek minta nya makan sambil sepedaan di taman " Jawab nya masih dengan nada takut bercampur salah.
" Adek minum obat terus bobok ya biar cepat sembuh " Perintah ku . Daffa menurut apa yang ku suruh tanpa susah aku membantu nya meminum obat.
" Adek mau bobok di temeni Mamah " Rengek nya manja.
Kubaringkan tubuh ku di samping si kecil membelai nya lembut untuk membantu nya cepat tertidur . Setelah Daffa tertidur pulas aku beranjak ke kamar untuk membersih kan badan dan menunai kan solat mahgrib .
"Heeemmm... jadi begini ya kelakuan mu selama ini tiap kali aku tinggal keluar kota ?!, asyik tebar pesona di luar rumah sampai lupa diri , lupa tugas dan tanggung jawab seorang Ibu.., enak - enakan dengan lelaki lain sampai anak terluka pun tak mengetahui ?! " Hardik Mas Hardi dengan nada tinggi, duduk di sofa menyilang kan satu kaki , mendekap kedua tangan di depan dada nya dengan sorot tajam diliputi amarah .
" Astagfirullahal'adziim.., aku terlambat baru hari ini karena ada berkas deadline yang harus aku serah kan besok pagi, biasa nya juga jam empat aku sudah di rumah " Balas ku sembari menata mukena di hanger .
" Kejar deadline apa kejar lelaki lain..?! " Dengus nya menghampiri ku .
" Demi Allah Mas, silah kan kamu cek cctv kantor kalau tak percaya " Bela ku memupuk beribu sabar .
" Bukan nya kamu betah di kantor karena bos muda mu itu..?!! " Mas Hardi menyeringai .
" Subhanallah.. jangan nuduh sembarangan Mas , Dia punya keluarga punya isteri dan anak juga nanti jadi fitnah kasihan keluarga nya " Balas ku pelan menahan sesak di dada.
" Fitnah katamu..?! , kamu kira aku tidak tahu kamu sering pergi keluar dengan nya..? "
Dengus nya kesal sembari melempar bantal ke arah kepala ku.
__ADS_1
" Aaauggghhh..., sakit Mas " ku ambil bantal yang terjatuh di bawah .
" Aku pergi karena urusan pekerjaan dan tidak pernah berdua saja dengan pak kacab, ada supir serta anastasia asisten kantor yang ikut bareng dalam rombongan " Aku beranjak naik ke tempat tidur ku pejam kan mata yang terasa lelah untuk menghindari keributan lebih besar, tak ku peduli kan cacing dalam perut yang menabuh genderang kelaparan .
Mas Hardi ikut naik ke atas tempat tidur, membalikan badan yang ku telungkup kan dalam busa kasur dengan kasar hingga aku harus menahan sakit , meraih dagu ku dan di tatap nya penuh emosi .
" Ooo.. , jadi begini kelakuan kamu setelah lelah dengan lelaki lain di luar, sampai di rumah suami pulang jauh - jauh dari luar kota cukup kamu abaia kan dengan wajah kamu sembunyi kan ..? " Dia meraih rambut ku di remas nya penuh emosi .
" Aaaggg... sakit Mas, tolong lepas kan rambut ku " Pinta ku dengan kelopak mata memanas menahan sakit.
" Jadi isteri cuma bisa menyenang kan lelaki lain di luar saja, sama suami sendiri malah di cuekin " Keras nya melepas rambut ku .
Detik berikut nya Mas Hardi merambah tubuh ku di kuasai emosi , melampias kan rindu berbalut nafsu barbaur dengan cemburu, menghempas kan tubuh ku dalam kesakitan lahir menciptakan kepedihan dalam bathin.
Usai jiwa kebinatangan nya terlampias kan,
Di depan cermin ku pandangi ruam merah keunguan bekas gigitan bertebaran di leher dan dada yang sengaja Dia tinggal kan untuk menunjukan kekuasaan atas diri ku. Ku pejam kan mata menahan letih nya jiwa ku atas segala perlakuan kasar berbalut cemburu yang terlalu sering ku terimA bukan hanya har ini saja .
Mas Hardi masuk ke kamar tak mendapati ku di atas tempat tidur, Dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi, mengangkat tubuh ku yang terbaring lemas di atas bathup dalam air yang tak lagi menghangat. Di kering kan tubuh ku lalu di balut kan piyama dalam keadaan aku masih tak sadar kan diri .
*******************
Flasback off
Mas Hardi menepuk lembut pipi sembari berbisik di telinga berusaha membangun
kan dari mimpi buruk ku.
__ADS_1
" Mah...., sayang...bangun Mah..., Maafin Papah .., Maaf Papah yang tak pandai menahan emosi , bangun Mah..., jangan begini..! " Suara nya serak tertahan .
Ku buka mata perlahan, masih dalam bayang remang kuedar kan pandangan ke seluruh ruangan . Sepi..?!!, hanya ada lelaki yang sering menyiksa lahir bathin ku, lelaki yang ku benci namun tak mampu kuhindari tersenyum dengan wajah lega serupa anak kecil yang baru mendapat hadiah yang di ingin kan nya .
" Alhamdulillah.. Mamah sudah siuman " Ucap nya sumringah , mencium lembut telapak tangan ku .
" Mamah mimpi buruk lagi..?, Maaf kan Papah yang selalu berlaku kasar selama ini, tolong bantu Papah biar bisa mengendalikan emosi,
Papah sayang kamu Mah.., sangat .., jangan tinggal kan Papah " Pinta nya dengan nada serak menahan sesal.
Aku membeku dalam bisu . Berjuta luka yang membalur dalam relung jiwa terasa perih membara menyesakan nafas ku hingga susah bagi naluri ku mengendalikan benci yang kadung meracuni hati dan asa .
Butiran kristal memanas di kelopak mata sekejap kemudian membasah di pipi mengalir tanpa mampu di kendali .
" Mah..., jangan seperti ini...,.tolong kata kan sesuatu, beritahu Papah perasaan apa yang saat ini Mamah rasa kan, jika Mamah benci bilang saja , jangan hanya diam.. , jangan siksa Papah seperti ini " Suara lelaki itu kembali menggema dalam nada putus asa .
Mata ku menerawang menatap langit kamar putih bersih, segala luka yang di tancap kan dalam hidup ku tergambar serupa siluet membayang dalam kelopak mata . Kalimat pedas yang selalu di lontar kan kepada ku, lidah nya yang jauh lebih tajam dari sebilah samurai mengarat dalam ingatan ku. Tangan kasar nya yang tak henti meremukan benda di hadapan nya untuk melumpuh kan mental ku.
Mulut ganas nya yang seringkali merambah tubuh ku dengan kasar di penuhi nafsu angkara murka, senjata rudal nya yang di tancap kan dengan kekerasan dan brutal hingga menyisa kan luka dan perih. Sungguh semua melintas di atas otak ku menjadi cerita paling menakut kan sepanjang sisa usia ku membalurkan trauma mendalam .
Aku membenci lelaki yang saat ini masih mengajak ku berbicara dengan tangan membelai lembut rambut dan mulut sesekali mencium kening ku . Aku berharap Dia enyah dari hadapan ku dan tak pernah ku lihat lagi.
Aku ingin melepas belenggu yamg di erat kan dalam hidup ku, mematikan rasa dan asa ku .
" Mah.., kangen anak - anak ?, Papah minta Bunda ajak ke sini ya ? " Bujuk nya lembut.
Dia mengambil Hp dari saku nya, menelfon Bunda meminta membawa anak - anak ku untuk di bawa ke rumah sakit . Meminta Bunda untuk membeli kan salad buah dan puding alpukat coklat kesukaan ku di gerai langganan Bunda . Sekilas ku lihat sorot lelah dari balik wajah dengan rambut ikal yang mulai di tumbuhi sedikit warna putih .
__ADS_1
Suami ku kembali duduk di samping ranjang pasien usai menelfon, menatap ku lembut, mencium kening dan tersenyum lalu kembali berusaha mengajak untuk berbicara .