Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 28


__ADS_3

Sekilas aku melihat seseorang mirip dengan Erza , duduk di sofa ruang tunggu sebelah barat ruang perawat menundukan wajah nya yang di tutup dengan hodie jaket warna biru saat keluar dari kamar, Dia melirik kami sekilas lalu beranjak pergi menjauh dengan langkah panjang nya, masuk ke dalam lift .


*Erza...? Dia di sini tapi hanya di luar..?, tak menemui ku seperti biasa nya.., kenapa..?


Ada apa sebenar nya..? ,tidak tahu kah Dia aku mengingin kan kehadiran keluarga ku di sini pun kehadiran nya juga . Bisik ku dalam hati bertanya - tanya sejak kapan Dia berada di sana.., sejak semalam kah ?, atau baru tadi pagi Dia kemari tuk memasti kan keadaan ku .


Mas Hardi membawa ku ke taman di balkon di sebelah timur ruang perawat, menempat kan kursi roda ku persis seperti kemarin Erza menempat kan ku. Dari ataa sini bisa ku lihat pemandangan jalan di depan gerbang rumah sakit, lalu lalang kendaraan dan orang yang keluar masuk rumah sakit.


Deretan ruko menjajakan dagangan dari mulai warung makan , penjual buah - buahan, toko sembako hingga toko kelontong berjajar rapi dengan model bangunan hampir serupa .


Hari ini cuaca sedikit mendung, mentari enggan menampakan sinar nya tersembunyi di balik punggung awan , tetes embun pun asik bersemayan di atas tubuh dedaunan.


Mas Hardi mengambil nampan di pangkuan ku, membuka isi nya. semangkuk kecil bubur ayam dengan kuah kuning, suwiran ayam dan telur , kerupuk merah , segelas susu high calsium dan potongan buah melon satu cup.


" Mas..., aku bosan dengan menu sarapan dari rumah sakit " Tatap ku datar.


" Kalau bosen makan nasi rames ayam aja ya barengan sama Papah " Balas Mas Hardi siap beranjak untuk mengambil nya di kamar.


" Aku pengen nasi goreng seafood " Pinta ku.


Mas Hardi mengambil ponsel dari saku celana, mencari daftar nama, memencet nomer tujuan.


" Assallamualaikum Ya ada apa Mas .." Suara Hani di seberang telefon .


" Bisa minta tolong, Mbak Emil pengin nasi goreng seafood bisa belikan sekarang ?! " Perintah Mas Hardi ke adik nya .


" Hallo Har.. iya gimana.." Suara Bunda .


" Emil mau sarapan nasi goreng Bun , bosan sama menu di sini " Jawab Mas Hardi pelan.

__ADS_1


" Oh ya ini kita sudah sampai depan rumah sakit, itu depan ada warung nasi goreng biar Ibu pesen dulu " Balas Ibu Mas Hardi .


Beberapa mwnit kemudian aku lihat mobil Bunda Mas Hardi antri di loket masuk parkir rumah sakit . Di belakang nya ku lihat motor Eksan membonceng kan Ibu di belakang.


Tak berapa lama kudengar suara ramai Daffa anakku mencari ku dan Papah nya.


" Mamah.. , sedang ngapain di cini cama Papah belduaan.., cieee pacalan yah.." Suara jenaka si kecil menggelitik hati ku .


Mas Hardi meraih tubuh si kecil di angkat dan di cium pipi nya gemas.


" Anak Papah mulai beeani usil ya.., " Mas Hardi menggelitik wajah Daffa dengan kumis dan jambang nya yang tumbuh tak teratur .


" Papah iiihhhh .., geli cakit lambut nya jelek "


Ledek Daffa, meronta turun lalu naik ke pangkuan ku.


" Aku mau makan sendiri, Mas makan nasi rames nya aja " Pinta ku lembut.


Mas Hardi mengabai kan permintaan ku, Dia menyuapi pelan dan sabar . Daffa turun dari pangkuan ku , mengajak Eksan dan Hani bermain di ayunan di taman lima puluh meter an dari tempat ku duduk Ibu mengamati apa yang di lakukan Mas Hardi kepada ku , begitu pun Eksan meski Dia bermain dengan Daffa sesekali ku dapati Dia memandang ke arah kami . Entah apa yang ada dalam fikiran mereka aku tak tahu .


Pukul 08.05 menit seorang perawat datang memberitahukan waktu untuk mengikuti fisioterapi . Mas Hardi meminta kepada perawat biar Dia saja yang mendorong kursi roda ku, dan di setujui oleh nya dengan tetap di dampingi oleh perawat di belakang kami .


Turun dari lift di depan bangku tunggu ruang laboratorium yang bersebrangan dengan lorong yang kami lalui untuk menuju ruang fisioterapi ku lihat sosok lelaki mengena kan hodie biru yang serupa Erza mengena kan masker khas lelaki bergambar gigi tengkorak, menatap kami dari sudut mata yang terhalang ponsel di depan wajah nya seperti sengaja untuk memberi kesan Dia tidak sedang mengamati kami .


Hari ini aku menjalani fisioterapi di dampingi Mas Hardi yang memberi ku semangat untuk bisa menapakan kaki ku lebih kuat . Sesekali mengusap keringat yang membasahi wajah dan tangan ku dengan handuk kecil yang diberi oleh asisten terapis, memberi minum teh kemasan yang sengaja Dia simpan di saku kursi roda ku .


Terapi hari ini berjalan lebih baik dari kemarin terasa lebih cepat tanpa melelah kan seperti hari kemarin. Suasana hati ku pun jauh lebih baik dari hari sebelum nya. Mungkin ini pengaruh dari kehadiran Mas Hardi dengan perubahan sikap nya . Aku berharap Dia benar - benar akan berubah ke arah yang lebih baik selama nya, bukan hanya saat ini saja .


" Mah lelah gak..?, Papah mau ajak makan bakso di kantin sebelah sana " Ajak nya.

__ADS_1


" Barusan juga makan Mas., memang sudah lapar lagi..? " Tanya ku datar .


" Enggak terlalu sih Mah , Papah cuma pengin ajak Mamah makan berdua aja, terus Papah fikir barangkali Mamah lapar habis terapi "


" Ya udah tapi Mamah cuma mau es teler aja ya pah , sedang gak ingin bakso " Pinta ku.


Mas Hardi menganggukan kepala tersenyum simpul memutar kursi roda ku menuju arah kantin dekat parkir khusus karyawan rumah sakit di ujung utara .


Kantin yang lebih menyerupai foodcourt ini bersih dan tertata rapi. ku lihat karyawan , petugas paramedis dan beberapa dokter santai menyantap makanan mereka. Mas Hardi memilih tempat duduk di teras yang lebih luas untuk memudah kan ku tetap berada di kursi roda .


" Pak Bakso spesial satu gak pake mie sama.es teler satu " Pesan Mas Hardi .


Sosok lelaki mengena kan hodie biru kembali tertangkap oleh mata ku, kali ini Dia terlihat duduk santai dengam segelas ice capucino masih dengan ponsel yang menutupi wajah .


Kualih kan pandangan menatap nya lekat.


" Mah... ngeliat apa sih... fokus banget.." Mas Hardi mengalih kan pandangan ke arah dimana aku menatap dari tadi .Lelaki itu berdiri membalikan badan masuk ke warung


kopi, mengambil sebungkus potato, lalu kembali duduk ke tempat tadi saat di lihat Mas Hardi berjalan ke arah wastafel tuk mencuci tangan sebelum makan.


Kebiasaan Mas Hardi yang selalu mencuci tangan sebelum makan dan sesudah nya, walau makan pake sendok sekali pun , membuat Dia selalu mencari tempat makan yang tersedia wastafel .


Kualih kan pandangan ke arah nya lagi, Dia menurun kan masker ke dagu, mengalih kan ponsel menjauh ke wajah nya lalu tersenyum manis ke arah ku.


Aku membulat kan mata sembari tersenyum geli melihat Dia mencoba menghibur ku dengan tingkah kocak , menjulur kan lidah dengan ekspresi wajah di buat sejelek - jelek nya .Saat tangan ku menyentuh tombol untuk menjalan kan roda secara otomatis Dia melambai kan tangan kiri nya dengan tangan jari telunjuk kanan di tempel kan ke mulut.


Ku anggukan kepala tanda mengerti isyarat yang meminta nya untuk tidak mendekat ke arah nya .


.

__ADS_1


__ADS_2