Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 73


__ADS_3

Hingga dini hari belum ada kabar keberadaan Mas Hardi , aku mulai merasakan kelelahan , lapar dan mengantuk. .


" Mbak pulang aja ya bareng rombongan yang tadi, di sini biar aku sama Pak Handoko yang nunggu kabar Mas Hardi " Erza menatap ku.


Ku geleng kan kepala tegas.


" Aku mau tetap di sini sampai ku dapat kepastian kabar Mas Hardi " Balas ku sedikit kesal .


" Tapi wajah mu terlihat pucat Mbak, kamu nampak sekali kelelahan, Kamu bisa sakit kalau memaksakan diri..! " Ucap Erza dengan raut cemas terlihat jelas .


" Aku mau tetap di sini titik ! " Tegas ku lagi.


" Nak Emil istirahat di kantor darurat Arrahman saja ya, di sana ada ruangan khusus milik suami mu " Saran Ayah lembut. memahami perasaan ku .


Ku turuti nasehat Beliau dengan di dampingi Erza dan Andy pelaksana proyek jalan lingkar dari perusahaan putera ku , berjalan di tengah dingin nya angin malam pegunungan yang berselimut kabut . Aku menggigil menahan perih dalam perut ku juga .


Andy mempersilah kan aku masuk ke dalam ruangan Mas Hardi . Di dalam ruang dengan luas empat kali tiga ini terdapat sebuah meja kerja , ranjang kecil cukup untuk tidur satu orang , gantungan baju dan sebuah foto pernikahan kami yang terpajang indah .


Di atas meja nya ada figura foto ku dalam pelukan Mas Hardi yang diambil beberapa waktu lalu saat kami berlibur di vila , sebutir kristal bening menetes melihat raut bahagia Mas Hardi yang ada dalam foto tersebut .


Ku edar kan pandangan menatap ke seluruh sudut bilik yang terbuat dari baja ringan ini ,


di atas gantungan baju aku lihat jas hitam yang ku kenakan ke badan Mas Hardi tadi pagi. Aku mengambil nya, ku cium aroma wangi tubuh suami ku yang melekat di jas hitam milik nya , hati ku terasa sakit amat sakit memendam rindu tak tertahan .


Aku beranjak ke tempat tidur Mas Hardi , kucium bantal dan bed yang ada di atas ranjang, wangi tubuh nya menusuk tulang hidung ku membuat ku tak mampu membendung airmata agar tak jatuh membasahi pipi, dalam rindu ku tak ku peduli kan rasa lapar yang menampar perut, aku menangis hingga kelelahan lantas tertidur dalam posisi setengah duduk , tubuh ku bersandar pada dinding baja ringan


" Emil ..! jangan menangis sayang hapus airmata mu, aku tak ingin melihat kekasih ku bersedih ! Jaga anak - anak kita . Aku mencintai mu sangat, kamu satu - satu nya wanita dalam hidup ku , takan pernah ada yang lain " Suara Mas Hardi menggema memenuhi seluruh ruangan .


Aku bergegas berdiri mencari nya .


" Mas kamu di mana..??!, Mas jangan tinggal kan Emil sendiri , Emil tak sanggup hidup tanpa ada kamu di sisi ku..! Mas.., tampakan diri mu, beritahu dimana kamu berada ! Mas Hardi..!! "


Tangis ku pecah dalam kebimbangan mencari cari keberadaan suami ku.


Pintu ruangan terbuka , Erza , Ayah , Agus dan Pak Rt berdiri di samping ku , Erza meraih tubuh ku mendekap nya ke dalam dada bidang nya .


" Mbak Emiil...! bangun..,! Mbak buka mata ! "


Suara Erza serak mengguncang tubuh ku pelan . Ku buka mata ku perlahan berharap ada dalam pelukan Mas Hardi .


" Mas Hardi kembali , jangan tinggal kan aku, biarkan aku tetap berada dalam hangat peluk mu, biarkan aku merasakan kehangatan mu "

__ADS_1


Desah ku manja merasakan kehangatan yang menyalur dalam tubuh ku .


" Mbak Emil bangun ! Sadar Mbak ini aku Erza adik mu bukan suami mu.., Mbak..! Bangun.., jangan begini ! " Erza berusaha membangun kan ku , menyadar kan dari halusinasi .


Ku buka mata perlahan , airmata ku kembali tumpah saat tak kudapati Mas Hardi di sini .


Andy masuk membawa beberapa kotak makanan yang di dapat nya dari Basarnas .


" Bu Emil makan dulu biar ada tenaga, ini teh jasmine hangat dengan satu sendok madu dan satu sendok air perasan jeruk nipis kesukaan Ibu, Pak Hardi pernah memberitahu saya ". Ucap nya sembari menyodor kan sekotak nasi dan segelas besar teh hangat .


Erza meraih nya, menaruh kotak nasi di samping ku , mengambil gelas teh hangat perlahan membantu ku minum teh .


" Di minum dulu Mbak biar badan Mbah hangat , habis ini aku suapin makan "


Suara Erza lembut dengan tatapan cemas .


Aku meminum seperempat isi air teh dalam gelas, hangat menelusuri badan ku yang sedari tadi menggigil kedinginan. Erza mengambil kotak nasi membuka nya, menyuapi ku perlahan hingga habis seluruh isi dalam kotak .


" Mbak Emil istirhat saja untuk memulih kan tenaga , jangan melamun Mbak..!, besok setelah matahari terbit dan kabut menghilang aku bantu mencari Mas Hardi lagi "


Janji Erza tuk menenang kan perasaan ku .


Erza menata tempat tidur Mas Hardi, membantu ku membaring kan badan di atas tempat tidur, ku coba memejam kan mata perlahan dan aku kembali terlelap .


Pagi aku terbangun saat matahari mulai meninggi dan kehangatan mulai masuk melalui celah atap baja ringan di atas bilik peristirahatan milik Mas Hardi . Ku langkah kan kaki keluar kamar mencari kamar mandi untuk melaksanakan hajat alam.


" Mbak sudah bangun ?! " Sapa Erza dengan sesungging senyum manis, aku anggukan kepala pelan, ku lihat di luar sudah kembali ramai antara para pekerja proyek dan aparat yang masih mencari korban bercampur alat berat membersihkan lumpur dan pohon - pohon tumbang yang memenuhi jalan .


" Za .., ada kamar mandi gak yah, aku ingin buang hajat " Tanya ku pelan takut di dengar orang lain yang ada di sekitar kami.


" Di Masjid aja Mbak, di sana kamar mandi nya bersih " Erza menggandeng tangan ku melangkah ke satu - satu nya Masjid di daerah sini, berjarak tiga ratus meter dari kantor darurat Pt. Arrahman hidaya.


Dalam perjalanan ku lihat Ayah berkumpul bersama team peduli bencana membantu mencari korban yang belum di temukan dan puing - puing material yang menumpuk.


Usai membuang hajat dan membersihkan diri ala kadar nya , aku beranjak ke lokasi bencana, berjalan menyusuri sepanjang area.yang di lewati air bah yang di perkirakan telah menghempas tubuh Mas Hardi dan membawa nya hanyut entah kemana. Ku ikuti terus hingga hulu sungai , tak ku temukan tanda - tanda keberadaan Mas Hardi .


Erza dengan penuh perhatian menemani ku dengan kesabaran tanpa batas, selalu menyedia kan bahu nya untuk ku bersandar di saat aku merasa kelelahan .


Hari berlalu berganti hari hingga seminggu berlalu, team pencari orang hilang pun telah di henti kan , pembangunan proyek pun telah kembali berjalan setelah material lumpur dan runtuhan pepohonan telah di singkir kan dan di bersih dari area pembangunan jalan.


Hari ini Ayah meminta ku pasrah menerima berita acara dari kepolisian yang menyatakan jika Mas Hardi di anggap telah meninggal dunia dalam musibah bencana alam tersebut. Aku menolak nya tegas, jauh di lubuk hati ku masih ku yakini jika Mas Hardi masih hidup entah ada dimana.

__ADS_1


" Saya selaku isteri Hardiman Adi Prasojo menolak menandatangani berita acara kematian suami ku, aku percaya Mas Hardi masih hidup ! " Tolak ku keras .


" Aku akan mencari keberadaan suami ku sendiri ! " Desah ku dengan nada kesal .


" Nak yang sabar.., tolong ikhlas kan suami mu, sebagai Ibu yang mengandung dan melahirkan nya , Ibu juga masih berharap jika Hardi itu masih hidup, tapi ini sudah seminggu lebih Dia tak di ketahui kabar nya "


Bunda mengelus pundak ku lembut. Setetes airmata tumpah membasahi wajah ku .


" Sudah seminggu lebih berlalu kemungkinan untuk menemukan Pak Hardi dalam keadaan hidup sangat kecil Bu Emill " Jelas petugas kepolisian berhati - hati .


" Silah kan Anda sekalian berfikir hal yang terburuk sekali pun pada Mas Hardi , aku. hargai pemikiran Anda tapi saya juga punya perasaan sendiri sebagai isteri nya , tolong hargai perasaan saya, hanya itu yang saya minta dari Anda semua ! " Tegas ku lalu beranjak naik masuk ke dalam kamar .


Ku tumpah kan airmata ku di dalam kamar, menangis sejadi - jadi nya dengan memeluk erat figura foto Mas Hardi bersama ku .


* Kamu dimana Mas ..! , tolong beritahu aku keberadaan mu, beri aku petunjuk untuk bisa menemukan mu, bagaimana.pun keadaan mu, seperti apa pun kondisi mu aku akan menerima mu, pulang lah Mas, kembali lah kepada ku kekasih hati mu * Gumam ku lirih sendiri dalam hati menahan perih .


Ku buka pintu kamar menuju balkon, keluar dari dalam kamar , berdiri dengan bersandar pagar balkon , ku tatap langit malam nan cerah bertabur bintang laksana permata indah berkerlap kerlip di atas langit dengan cahaya terang rembulan menerangi malam.


Angin berhembus semilir menerpa wajah ku, dingin menyergap menusuk tulang.


* Angin tolong lah aku sampai kan kepada kekasih hati ku yang kini entah dimana berada betapa aku sangat merindukan nya, betapa aku mengingin kan kehadiran nya di sisi ku untuk melalui hari - hari bersama nya lagi , aku merindukan hangat pelukan nya, gombalan rayuan nya, perlakuan manja dan segala perhatian kasih sayang nya * Bisik ku dalam hati.


Ku pejamkan mata membayangkan semua yang telah kami lalui hari - hari belakangan sebelum Mas Hardi di nyatakan hilang , kemanjaan nya, perhatian , perlakuan manis, kasih sayang, sentuhan - sentuhan lembut nya dan tatapan mata dengan sorot penuh cinta yang terlukis jelas dalam manik mata.


Aku tersiksa sangat amat dengan semua kenangan yang Mas Hardi ciptakan. Dalam hati aku terus memupuk keyakinan jika Dia masih hidup. Rasa nya kehilangan Mas Hardi jauh lebih menyakit kan di banding kan saat aku kehilangan Mas Nano .


* Seperti ini kah dulu kau merindukan ku saat kau tak mampu menyentuh ku meski aku ada di dekat mu Mas..! *


* Maaf kan aku membiarkan mu merindu hingga berbulan - bulan tanpa tahu rasa mu, maaf kan aku yang pernah ingin lari dari kehidupan mu tanpa memahami asa mu, maaf kan aku membiarkan mu hidup dalam fantasi tentang ku..! Maaf kan aku..! , ku mohon jangan kau balas dengan perlakuan yang sama seperti yang pernah kau terima dari ku, aku tak sekuat kamu Mas ! aku wanita yang tak punya ketabahan dan ketegaran sekokoh batu karang.., aku tidak seperti mu yang memiliki keangkuhan untuk menghadapi pedih nya tercampakan .. kumohon kembalilah..., tunjukan dimana kamu berada *


Ratap ku dalam hati menerawang ke atas berharap angin menyampaikan pesan ku untuk suami ku ... Kekasih ku .


----------------------------------


Terimaksih readers yang masih setia dengan karya ku hingga kini


Tolong jangan lupa tinggal kan kesan dengan Like komentar dan vote serta jadikan sebagai karya favorit Anda .


Maaf belum bisa balas komentar satu persatu jujur nih author juga ikut halu menulis kata kata dengan imajinasi yang ingin author berikan ke reader semua, sering juga author ikutan mewek pas baca ulang sebelum di pasrah kan ke redaktur πŸ˜–πŸ˜–


ternyata author cengeng juga yaπŸ™ŠπŸ˜€πŸ˜

__ADS_1


Love U allπŸ™πŸ˜


__ADS_2