Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 62


__ADS_3

Siang ini kami berwisata sekeluarga ke sebuah obyek wisata di sebuah lereng bukit sebuah gunung ternama di pulau jawa .


Pemandangan berupa air terjun yang mengalir indah dari ketinggian sekian ratus meter dengan cekungan tanah menyerupai danau kecil dengan air bening di bawah air terjun dihiasi bebatuan persis di bawah air yang jatuh dari atas .


Ketiga anak ku pun sudah terjun ke air sejak mereka usai makan siang bersama Ayah dan Bunda .


" Mah.., yuk ikut turun mandi " Ajak Mas Hardi usai aku selesai menata sisa - sisa makan siang di hamparan rumput hijau nan luas di bawah pohon abasia yang tumbuh subur di sana .


" Males agh Mas , dingin nanti masuk angin "


Balas ku enggan beranjak dari tempat duduk.


" Kalau udah turun gak akan terasa dingin percaya aja sama Papah " Bujuk Mas.Hardi .


" Kan Mamah gak bawa baju ganti Mas "


Balas ku lagi .


" Bunda sudah bawain baju ganti lengkap, yuk turun Mah " Mas Hardi memaksa ku.


" Mah..., Pah..., kesini air nya sejuk banget " Seru Zahwa dari arah pemandian.


" Iya Mah.. seger di badan " Balas Zarra.


Aku lihat Daffa tertawa ceria bermain bersama Ayah dan Bunda .


" Tuh Mah anak - anak pengin main sama kita " Rayu Mas Hardi .


Akhir nya aku menuruti Mas Hardi mengganti baju di ruang ganti yang tersedia, dengan menggunakan letjeans dan kaos oblong lengan panjang warna hitan serta kerudung instan warna hitam aku berjalan di peluk Mas Hardi yang mengenakan kaos tanpa lengan warna hitam dan celana boxer menuju pemandian di bawah air terjun .


Awal nya dingin menyergap saat kaki baru melangkah turun ke dasar pemandian, Mas Hardi meremas tangan ku untuk menyalur kan kehangatan ke dalam tubuh ku, begitu sebagian badan ku masukan baru terasa segar nya air alami dari atas celah bukit .


" Gimana Mah.., gak dingin kan " Tanya Mas Hardi yang sudah memeluk ku dari belakang.


" Mas .., jangan begini iihh.., ini tempat umum ada anak - anak.juga malu di lihat mereka "


Ucap ku risih dengan perlakuan suami ku .


" Habis badan Mamah seperti magnet buat Papah.., jadi gak bisa jauh mau nya nempel terus " Balas nya menyeringai nakal .


" Tapi tau tempat dikit lah Mas.., malu tau ! "


Umpat ku kesal. Mas Hardi melepas pelukan nya, aku beranjak ke arah Zahwa dan Zarra bermain cipratan air dengan mereka, Mas Hardi ikut bermain bersama kami dan Daffa pun ikut bergabung meminta gendong Papah nya dengan manja .


Usai puas mandi kami ke kamar bilas Mandi di bawah pancuran air alami nan sejuk di dalam ruang yang tersekat oleh almunium, berganti baju lalu beranjak ke tempat perkebunan buah masih dalam obyek wisata yang sama .

__ADS_1


Lima menit berjalan mobil memasuki area parkir perkebunan nan luas dengan berbagai rupa tanaman buah di sana, kami memilih memasuki perkebunan durian lokal , syukur nya bulan maret masih ada beberapa buah durian yang masak di atas pohon .


Daffa dengan semangat mengikuti Akung nya yang di pandu seorang petugas wisata memetik buah durian yang telah matang .


Empat durian di petik langsung di buka dan di makan di sana . Durian bawor khas pulau jawa berwarna kuning serupa mentega dengan kulit tebal dan biji tipis memiliki rasa manis legit khas membuat orang ketagihan memakan nya .


" Mah..,aaa.. " Mas Hardi menyuapi ku tanpa malu dan aku malah merasa risih meski anak - anak ku seakan tak peduli dengan tingkah Papah mereka .


" Adek juga mau cuapin Mamah " Ucap Daffa mendekat ke arah ku dengan seruas durian di tangan kanan nya , memasukan ke dalam mulut ku dengan tingkah lucu nya .


" Mau lagi Mah.. ? " Tanya nya dengan tangan siap mengambil durian lagi .


" Sudah sayang Mamah pusing gak bisa makan durian banyak - banyak. " Balas ku pelan biar tidak ngambek.


" Ya udah adek aja yang makan.. " Ucap Daffa lantas memasukan daging durian yang sudah di ambil nya ke dalam mulut nya sendiri .


Usai puas bermain di kebun dan membawa beberapa butir durian untuk di bawa pulang.


Bunda mengajak menginap di villa milik adik nya yang berjarak lima kilo dari obyek wisata.


Villa milik Om Ardian terletak diantara perkebunan bunga mawar dan anyelir, wangi semerbak bunga menentram kan hati .


Satu kiloan di atas ada pemandian air panas lengkap dengan taman bunga dan waterbom.


Villa bergaya alla rumah adat Bali memiliki lima kamar dua di lantai bawah dua di lantai atas dan satu memisah serupa paviliun .


" Nikmati hari kalian.., anggap ini halimun, gak usah memikir kan pekerjaan , gak uash mikir anak - anak, biar mereka semetara jadi anak - anak Ayah sama Bunda " Pesan Bunda kepada ku dengan senyum simpul .


" Gak sampai senin kan Bun, soalnya kan Emil harus kerja " Tanya ku pelan untuk tidak menyinggung perasaan nya .


" Eeemmm, ajukan cuti sementara bisa kan .,? mumpung anak - anak juga tidak masuk sekolah selama dua minggu ini " Balas Bunda menatap ku lekat .


" Loh.. anak - anak libur toh Bun.., memang sudah ujian semester..?, atau buat ujian kelas enam..? " Tanya ku yang sedikit ketinggalan berita karena terlalu sibuk dengan target perusahaan .


" Emil gak pernah baca atau lihat berita..? , selama dua minggu ini anak - anak sekolah di libur kan untuk memutus rantai penyebaran virus corona, mereka di minta untuk belajar di rumah " Jelas Ibu .


" Oohh giti Bu.., baik nanti Emil coba izin untuk hari senin, tapi untuk hari selasa Emil berangkat dulu baru mengajukan cuti tahunan, selama anak - anak libur biar tinggal di sini ya Bu..! " Pinta ku dengan memohon setulus hati .


" Iya rencana kita memang seperti itu, biar mereka dekat kembali dengan kedua kalian dan kembali merasakan kasih sayang kedua orangtua nya " Balas Ibu sembari tersenyum.l


" Alhamdulillah... " Balas ku bahagia dan terharu akan kembali berkumpul dengan buah hati yang selama ini terpisah .


Malam itu usai makan malam, Mas Hardi menarik ku kembali ke dalam paviliun . Ku buka berita lewat jaringan internet mencari tahu perkembangan tentang isu virus corona yang pada akhir nya meluas hingga hampir ke seluruh dunia dan menjadi musibah dunia .


" Mah serius banget lihat apa sih.., gak tahu masih kangen juga " Mas Hardi memeluk ku dari dalam melihat ke arah gadget ku .

__ADS_1


" Gak usah pusing mikirin corona Mah..,by nikmati hidup aja " Tangan Mas Hardi mulai nakal belanja kemana - mana .


" Mas...iihhh geli ..hihihihii". Mas Hardi menggelitik pinggang ku mencari perhatian .


Akhir nya aku matikan gadget karena tak tahan dengan gelitikan nya .


Mas Hardi membalikan tubuh ku dan mulut nya aktif menyerang ku hingga aku susah bernafas .


" Mas..iiihhhh kamu gak pernah ada puas nya dari kemarin juga " Sungut ku sedikit kesal .


" Salah Mamah ninggalin lama banget..., bikin jumior nelangsa , sekarang ganti harus bikin puas junior bahagia " Bisik nya nakal di telinga sembari menghembus kan nafas nya.


Aku merinding di buat nya .


Mas Hardi mengangkat tubuh ku naik di rebah kan di atas tempat tidur dengan mulut yang tak pernah lepas memanggut bibir ku .


" Tubuh Mamah itu benar - benar candu buat ku, sehari saja gak lihat wajah Mamah rasa nya bisa gila " Mas Hardi mendesah, meraba pipi , hidung dan kening ku lembut .


" Tuhan juga berpihak sama kamu ya Mas, aku menerima kerja di sini untuk menghindar dari mu, ternyata malah kamu lebih dulu punya proyek di sini " Balas ku menahan geli dengan jamahan nya. Mas Hardi tersenyum sembari menggeleng pelan .


" Ikut campur Ayah juga sebenar nya, waktu Ayah tahu akan ada promosii jabatan untuk mu , Ayah sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan Mamah, meminta kepada dewan direksi untuk menempat kan Mamah di kota ini " Jelas Mas Hardi yang membuat aku membulat kan mata .


* Ahhh.. apalah aku ini, berurusan dengan penguasa pemilik harta manalah bisa aku menang * Bisik ku dalam hati. Aku sendiri baru tahu kalau Ayah memeliki saham juga di perusahaan tempat ku bekerja. Dan aku pun berfikir jangan - jangan dulu saat aku selesai kuliah terus mendapat panggilan kerja pun karena campur tangan Beliau .


Ku tatap wajah lelaki di depan ku, betapa pun Dia lelaki satu - satu nya dalam keluarga nya, putera mahkota bagi Ayah dan Bunda beserta kerajaam bisnis nya pantas jika tindak laku nya suka seenak sendiri karena terbiasa hidup dalam segala kemudahan , tak ada hal yang susah bagi nya .


Mas Hardi tersenyum membalas tatapan ku .


" Kenapa Mamah pandangin Papah seperti itu..?, Mamah kecewa dengan campur tangan Ayah dalam kerjaan Mamah ? " Tanya nya cemas , ku geleng kan kepala pelan.


Aku tak tahu apa yang kurasa kan dalam hati saat ini.


Harus kah aku kecewa setelah segala kemudahan dan kehidupan lebih dari kata layak , seluruh perhatian , kasih sayang dan kebaikan sahabat Ayah ku yang diberikan di belakang ku tanpa sepengetahuan ku..?, atau kah aku harus nya bersyukur karena tidak semua wanita mendapat keberuntungan seperti diri ku..? .


" Mah..., ko malah melamun sih.. ?! "


Mas Hardi meraih wajah ku, hidung nya di tempel kan di hidung ku .


" Aku cinta kamu Emila Nurul Hidaya dari sejak Ayah memperlihatkan foto mu, aku terobsesi untuk mendapat kan dan memiliki mu seutuh nya selama nya , tak kan kubiar kan orang lain menyentuh wajah mu, tubuh mu pun hati mu.. aku yang akan memiliki semua yang ada pada mu " Rayu Mas Hardi dengan suara selembut angin surga .


Aku terbuai kata - kata nya hingga merasa terharu, sebutir kristal bening lolos menetes di telapak tangan ku, Ku sesali kebodohan ku selama ini yang mengabaikan ketulusan nya kepada ku hingga sempat berusaha terlepas dari nya . Kupeluk Mas Hardi erat dengan isak pecah dalam dada nya .


--------------------------------------


Hai readers terlambat up date dari kemarin karena libur lockdown jadi gak ngeh ini sudah akhit bulan dan author di kejar deadline di tempat kerja .

__ADS_1


Jangan lupa ya Author tunggu kesan nya dengan like, vote komen dan point πŸ™πŸ™πŸ™


Love you all😍😍


__ADS_2