
Dia langsung menaikan kembali masker menutupi sebagian wajah nya dan kembali pura - pura sibuk denga Ponsel aple promax 11 nya saat dilihat Mas Hardi membalikan badan berjalan ke arah ku , aku pun mengarah kan pandangan ke pelayan yang menaruh pesanan ku di atas meja .
" Silah kan dinikmati Bu pesanan nya " Sapa pelayan tersenyum ramah.
" Terimakasih " Jawab ku menunduk kan kepala membalas senyum nya.
Mas Hardi menghampiri , duduk di sebelah ku , mengambil sendok yang masih terkemas rapi membuka segel plastik nya , menaruh satu di atas mangkuk es dan satu di mangkuk bakso . Sesekali Mas Hardi menyuapi dengan bakso setengah memaksa dan kadang Dia yang minta aku menyuapi dengan es teler milik ku..
Lewat sudut mata ku lihat Dia masih berdiam diri di tempat nya , menyilangkan satu kaki , menyandar kan punggung nya ke sandaran kursi , mengawasi kami di balik ponsel nya.
" Itu orang kenapa ya mulut dan dagu nya di tutup pake masker kaya gitu, minum sama makan camilan gimana cara nya, dari tadi aku gak lihat Dia ambil gelas tapi isi gelas tinggal separuh , itu potato nya juga sudah hampir habis " Gumam Mas Hardi lirih dengan sorot mata menunjuk ke arah nya .
" Ngapain ngurusin orang lain sih Mas, lebih baik cepet habisin makanan nya terus kembali ke kamar , kasihan Daffa pasti nyari in kita " Ku alih kan perhatian Maa Hardi dari nya dengan menekan perasaan was was dalam hati , takut jika Mas Hardi mengenali lelaki itu .
Mas Hardi menuruti permintaan ku, di habis kan nya bakso suapan terakhir dan air mineral dalam kemasan cup, beranjak ke arah kasir membayar makanan dan minuman kami.
Dia mengcung kan jempol kanan nya ke arah ku dengan hati - hati . Ku balas dengan senyum simpul .
Ku pencet tombol di atas tangan ku tuk menjalan kan kursi roda ku ke arah keluar kantin, Mas Hardi berlari kecil mengejar langkah ku.
" Sayang kenapa ninggalin Papah sih.." Tegur nya , meraih besi pendorong di belakang kursi roda lalu mendorong ku pelan.
Sepanjang jalan kembali ke ruangan Mulut Mas Hardi tak henti bercerita mulai dari cerita keseharian anak - anak selama tidak ada Ibu nya, cerita tentang pekerjaan, proyek - proyek yang terhambat hingga tingkah dan perilaku karyawan - karyawan di kantor, pelaksana lapangan , para mandor hingga buruh kasar nya, susah nya mencari tenaga kerja kasar muda yang berkualitas .
Terkadang para mandor penyedia buruh tenaga kerja kasar sampai harus mencari sampai ke pelosok desa bahkan sampai ke daerah pegunungan. Selama menikah ini untuk pertama kali nya Mas Hardi mau bercerita panjang lebar apalagi mengenai perusahaan nya. Selama ini Dia tak pernah sedikit pun mencerita kan perihal pekerjaan nya, hingga aku tak mengerti apa pun yang suami ku hadapi di luar rumah . Tak pernah ku tahu berat nya persaingan antar sesama pelaku bisnis kontruksi .
Selama ini yang ku tahu hanya suami ku pergi pagi pulang terkadang larut malam bahkan tak jarang videocall Dia sedang ada di luar kota mendadak karena sesuatu hal yang mendesak. Memenuhi segala kebutuhan rumah tangga dan memanjakan kami isteri dan anak - anak nya dengan barang branded.
__ADS_1
Tak pernah seksli pun berkeluh kesah dalam hal apa pun apalagi dalam masalah finansial.
Sesampai di lorong VIP, si kecil berlarian menyambut kami diiring susi di belakang nya.
" Adek jangan lari - lari an di lorong rumah sakit nanti gangguin yang lain " Peringatan dari Maa Hardi.
" Adek mau gendong Papah.., lama benget cih Mamah di peliksa nya " Daffa cemberut manja mengangkat kedua tangan nya ke arah Mas Hardi, diangkat nya tubuh Daffa di peluk dalam gendongan. Ibu menghampiri kami, meraih kursi roda ku dan mendorong nya dari belakang masuk ke dalam kamar.
Mas Hardi menurun kan Daffa di atas bed dekat jendela, mengangkat tubuh ku naik ke atas tempat tidur , merapi kan selimut , mencium kening ku lembut.
" Istirahat dulu Mah., Papah mau tenangin Adek dulu " Bisik nya sembari tersenyum lalu mengangkat tubuh Daffa kembali di gendong dalam dekapan hangat hingga tertidur.
Ibu dan Eksan menghampiri ku, membelai rambut ku lembut .
" Semalam baik - baik aja Mbak "Tanya nya.
" Mas Hardi sudah merubah perilaku nya jauh lebih baik ko bu "
Jawab ku menenang kan hati Ibu .
" Syukur lah semoga bukan hanya akal akalan nya saja untuk menghindari jeratan hukum "
Ibu menghembus kan nafas nya pelan .
" Maksud nya Bu...? " Ku bulat kan mata meminta penjjelsan Ibu.
" Kemarin kita pihak dari keluarga mu di wakili oleh Akmal dan Irwan om kamu bermaksud mengajukan delik aduan atas KDRT yang kamu terima dari Dia , terus pihak keluarga Dia terutama Ayah nya minta pada kami untuk penyelesaian secara kekeluargaan " Ibu menghela nafas nya lagi .
__ADS_1
" Saat itu suami mu ada di sana juga, Dia mencium kaki Ibu memohon untuk tidak memisah kan mu dari nya dan berjanji akan merubah perilaku nya terutama kepada mu "
Ada genangan di mata Ibu.
" Kedua orangtua nya juga memohon ke kami untuk memberi kesempatan sekali lagi kepada anak nya dengan jaminan mereka sebagai orangtua nya yang akan menyerah kan ke pihak berwajib jika Dia melakukan hal buruk kepada mu lagi " Ibu memejam kan mata, di gigit nya bibir bagian bawah nya .
" Awal nya Ibu dan adik - adik mu sudah sepakat untuk mengambil mu kembali dari nya , tapi om irwan menengahi meminta kami untuk bersikap lebih bijaksana , mengingat kondisi mu saat ini , om mu minta kita tunda dulu keinginan memisah kan kalian sampai kau sembuh dan mampu mengingat apa yang terjadi pada hari itu hingga membuat mu terkapar tak berdaya, nanti nya keputusan kami pasrah kan sepenuh nya padamu Nok, apa pun keputusan yang akan kau ambil, apa pun jalan yang akan kau pilih kami akan menerrima dan menghargai nya " Jelas Ibu panjang lebar .
" Kemarin Emil sempat takut Bu, saat bangun hanya ada Mas Hardi sendirian, Emil terus memohon berharap ada yang datang tapi sampai pagi Emil hanya berdua sama Mas Hardi " Jelas ku menggigit bibir .
" Itu permintaan Dia di dukung oleh orangtua nya untuk memberi kesempatan pada nya menemani dan merawat mu sendirian tuk beberapa hari ini, kata nya biar Dia tahu sakit dan penderitaan mu " Jelas Ibu lagi.
" Jadi hari ini Emil hanya akan di temani Mas Hardi lagi Bu..?" Tanyaku menatap sendu .
" Kenapa Nok..? Emil takut..?, apa Ibu minta biar salah satu adik mu menani ? " Tanya Ibu.
Aku terdiam dalam kebingungan, di satu sisi aku masih takut jika hanya berdua dengan Mas Hardi , di sisi lain aku tak bisa egois mengabai kan perasaan Mas Hardi yang pasti akan merasa canggung jika ada adik apalagi Ibu ikut menemani ku bersama nya .
Lalu aku teringat si hodie biru, hati ku lega setidak nya aku tidak benar - benar di tinggal sendirian dengan suami ku, masih ada Erza yang rela menyamar untuk menjaga ku meski dari luar. Aku ingin tahu Dia melakukan atas inisiatif sendiri atau setingan dari keluarga .
" Erza kemana Bu , gak ada kabar nya " Selidik ku tuk mencari tahu kebenaran nya .
" Erza sedang ke Ibukota berangkat kemarin sore ada urusan dengan tempat kerja nya di kantor pusat, kalau pulang juga paling ke sini " Jelas Ibu.
" Oohhh.." Jawab ku sambi tersenyum .
Aku bersyukur ada adik ku yang rela kembali dari negeri orang untuk menjaga ku . Mungkin karena amanat Ayah dan Mas Nano kepada nya untuk menjaga ku hingga Dia rela meninggal kan pekerjaan nya demi menjaga ku, sekilas terbesit pertanyaan dimana Dia tidur semalam..?, setahu ku di rumah sakit ini peraturan nya lumayan ketat tak ada yang di izin kan tidur di luar ruang pasien .
__ADS_1