
Haii..pembaca setia novel ku ..
sorry banget baru bisa up dari kemarin gegara tepar ni body jadi gak punya feel untuk nulis..
Selamat membaca..
semoga teribur..
Jangan lupa tekan tombol like setelah membaca dan vote untuk penyemangat 🙏🙏
salam sayang selaluu 😘💕💕
------------------------------------
Author Pov
Usai taraweh jama'ah berakhir dan pengumuman dari MC bahwa acara syukuran malam telah berakhir dengan pembagian souvenir dan pengumuman pembagian THR akan di berikan esok hari untuk seluruh karyawan dalam lingkup prasojo group yang di sambut gegap gempita oleh seluruh karyawan dari segenap lapisan , Aula kembali sedikit lengang , hanya ada karyawan katering yang mengemas barang - barang nya , petugas kebersihan dan panitia acara yang masih merapikan area aula .
Keluarga besar Prasojo pun sudah kembali pulang ke daerah masing - masing tinggal , hanya keluarga Handoko dan keluarga Ibu Emil yang masih berkumpul di ruang satu - satu nya dalam aula itu dengan beberapa pengawal dan sniper yang masih siaga .
" Lapor Tuan pesawat jet sudah mendarat dan siap untuk pemeriksaan " Seorang bertubuh kekar melapor pada Tuan Handoko .
" Baik bagaimana pengamanan di jalan ? "
Selidik Pak Handoko tegas . play
" Siap , aman untuk melintas "
Balas nya sembari memberi hormat .
" Ayok anak - anak kita pulang sekarang "
Ajak Pak Handoko kepada anggota keluarga nya dan keluarga besan nya , diraih nya Daffa dalam pelukan nya , memberi waktu untuk putera nya berduaan dengan menantu nya.
" Yah boleh gak kalau kita berdua pulang besok , malam ini aku ingin menginap di hotel " Pinta Hardi merajuk pelan.
Pak Handoko menghentikan langkah nya pelan, menatap lekat ke arah anak nya .
" Tidak untuk saat ini !, terlalu berbahaya untuk nyawa kalian , sebelum Ayah menuntas kan semua sampai ke akar nya , tidak ada satu pun keluarga Prasojo yang diizin kan tinggal di luar tanpa pengawalan " Jelas Ayah tegas dengan wajah keras nya .
" Heemmm.. padahal pengin halimun lagi "
Sungut Hardi kesal , sementara Emil hanya bergeming dengan tingkah manja suami nya.
Pak Handoko menggelengkan kepala pelan, berdecak dengan tingkah putera nya .
Rombongan keluarga Prasjo memasuki lif turun ke lantai satu , menuju lobi kantor dimana mobil telah terparkir di sana , untuk mengantar kan ke landasan pesawat pribadi terparkir .
Rombongan mobil meluncur dengan pengamanan bukan hanya dari bodyguard prasojo saja pun dari aparat kemanan yang telah diminta untuk mengaman kan jalan .
Lima belas menit rombongan sampai di landasan , sebuah pesawat jet pribadi jenis Embraer Legacy 500 terparkir nyaman dengan tangga menjuntai ke lantai landasan .
Mobil terparkir beberapa meter saja dari pesawat , Pak Handoko berjalan paling depan dengan memeluk Daffa , Bunda mengapit tangan Zarra , di belakang Hardi dan Emil menyusul Hana , Hani , Zahwa dan Ibu nya Emil beserta anak , menantu dan cucu - cucu nya dengan pengawalan ketat bodyguard dalam mode siaga .
Keluarga Emila yang baru pertamakali menaiki pesawat jet pribadi tercengang melihat kemewahan interior di dalam pesawat yang terbuat dari lapisan kulit kayu halus megah nan elegan dengan lantai marmer yang bisa untuk bercermin .
Pak Handoko membaring kan Daffa yang tertidur dalam pelukan nya di sebuah tempat tidur yang ada di dalam kabin pesawat dengan anak Akmal dan Emran yang tertidur juga . Lima menit kemudian pesawat lepas landas , membelah malam pekat menuju tempat tujuan .
Kurang dari dua jam pesawat sampai di sebuah bandara kota tujuan , perjalanan kembali di sambung dengan mobil pribadi masih dengan pengawalan ketat , rombongan mobil menembus jalan tol nan sepi .
Hanya memerlukan waktu dua puluh menit saja dari bandara menuju istana Tuan Handoko yang berada di pinggiran ibukota sebuah provinsi di pulau jawa .
Pintu gerbang terbuka begitu rombongan sampai di depan pagar yang menjulang tinggi, mobil masuk mengantar kan penumpang sampai di depan teras kemudian meluncur ke samping ke garasi nan luas dimana masih. ada beberapa mobil mewah terparkir nyaman.
" Untuk malam ini istirahat saja di sini dulu , Jeng Hasan , besok baru di lanjut pulang ke kota T . " Pinta Pak Handoko pada Ibu dan adik - adik Emil .
" Pak Sastro tolong antar tamu saya ke kamar mereka " Perintah Pak Handoko pada Pak Sastro kepala urusan rumah tangga di rumah milik nya yang lebih menyerupai istana .
" Nggeh Ndoro " Balas Pak Sastro ramah .
" Mari ikut saya " Ajak Pak Sastro berjalan di depan menuju sayap sebelah kiri rumah dimana terdapat deretan kamar tamu
Hardi sudah lebih dulu menarik Emil masuk ke dalam kamar dan mengunci nya rapat .
---------------------------------
Di dalam kamar
Emila Pov
__ADS_1
Ku baring kan tubuh di atas.tempat tidur king size yang masih sama seperti saat awal Mas Hardi membawa ku dan mengenal kan pada nikmat nya surga dunia , melepas lelah setelah dua jam lebih perjalanan kembali membawa ku ke kota nya .
" Mah , masih sore jangan tidur dulu , baru juga jam sepuluh " Bisik nya lembut di telinga dengan tangan nya mulai aktif bergerilya .
" Emmm..,. capek Mas , besok aja ya "
Balas ku malas .
" Dihh... tega banget ! otong nya seminggu belum nyelup juga , jadi kerak kelamaan "
Desah nya manja , di balik nya tubuh ku yang memunggungi nya .
Mata kami bersitatap ku lihat kerinduan membuncah di kedalaman manik mata nya .
" Baru seminggu kan Mas., belum ada sebulan ini " Balas ku menggoda .
" Kamu gak kangen gitu Mah ? , kamu gak kepengen..? , apa selama di sana kamu dipuasin sama kumbang hitam..?! Jangan bilang Dia menyentuh mu ya Mah ! apalagi
sampai memasuki lubang surga milikku "
Hardik nya kesal dengan raut kecewa .
" Iiiisss....! Otak mu itu Mas isi nya cuma suudzon melulu , kamu pikir aku serendah itu apa mau menyerah kan kehormatan ? "
Balas ku manahan emosi .
" Ya siapa tahu Dia memaksa kamu gitu , atau kasih perangsang di makanan mu gitu "
Selidik nya lagi .
" Dia mungkin orang jahat karena pekerjaan nya tapi Dia gak selicik seperti yang ada dalam perasaan mu " Balas ku sengit.
" Ko kamu jadi belain Dia sih ! Tuh kan kaya nya kamu sudah mulai punya hati deh sama kumbang bangke ! " Gusar Mas Hardi wajah nya di liputi kecurigaan .
" Ya aku punya hati lah Mas , kalau gak mana bisa aku hidup, emang ada orang bisa hidup tanpa hati..? " Balas ku datar .
" Aku serius Emil ! " Bentak nya kesal .
" Aku juga serius , siapa bilang sedang becanda " Balas ku lagi masih dengan nada datar.
Mas Hardi kehabisan kata , Dia mendekat ke arah ku , melepas jilbab dan menurunkan resleting gamis ku .
" Sudah ?! " Tanya ku kemudian setelah Mas Hardi memastikan tak ada bekas kismark di area tubuh ku .
" Belum... , otong nya belum masuk " Desah nya menahan nafsu yang membuncah dalam dada .
" Kan sudah ku bilang besok aja " Goda ku .
" Jangan bikin aku putus asa Emiilll " Nafas nya kian memburu , diangkat nya dagu ku manyatukan bibir nya dengan bibir ku, mengigit lembut bibir bawah meminta ku untuk membuka mulut dan di masukan lidah nya memainkan di dalam hingga aku menggelinjang menahan nikmat .
Mas Hardi memeluk tubuh ku erat mendorong nya naik ke atas pembaringan dan mengunci tubuh ku dengan menindih nya, tangan nya aktif memain kan tiap inci tubuh, memagut gunung kembar ku dengan lembut , jemari nya nakal menerobos masuk merambah sawah ku yang lama mengering.
" Masss..oggghh... " Desah ku tak lagi mampu menahan rasa yang membuncah dalam jiwa .
Mas Hardi tersenyum nakal menatap rona wajah ku yang memerah .
" Kamu juga mengingin kan nya kan Mah !,
milik mu sudah siap di rambah junior ."
Desah nya lembut di telinga , menghembus kan uap panas menjalari sekujur tubuh ku .
Di malam hening nafas kami berpacu , keringat bercucuran membasah di sekujur tubuh yang saling menyatu menuju puncak nirwana lagi dan lagi seakan tak pernah merasa kan puas , bergelut dalam baluran rindu menyesak dalam kalbu .
Dua jam berlalu , ku sandar kan kepala di headboard tempat tidur masih dengan peluh menagalir dan wajah pucat pasi . Mas Hardi mendekap perut ku lembut masih dengan usaha nya mengatur nafas yang tersengal .
" Terimakasih Mah , mau menjaga milik ku "
Ucap nya lirih , membalikan wajah , meletakan kepala di atas paha ku .
" Sudah jadi kewajiban ku sebagai isteri untuk menjaga kehormatan suami " Balas ku datar .
Mas Hardi tersenyum, mengangkat kepala , meraih wajah ku dan menyatukan kembali bibir kami .
" Masih belum puas Mas ? sudah jam dua loh bentar lagi waktu sahur " Ku tepis wajah nya lembut .
" Masih ada waktu sejam lagi kan Mah ? "
Seringai nya genit dan tangan kembali aktif bergerilya .
__ADS_1
Dan tetiba perut ku terasa mual luar biasa hingga tak lagi mampu menahan nya , aku beranjak.turun menuju wastafel tanpa mengenakan penutup tubuh, Mas Hardi mengikuti dari belakang membawa piyama untuk menutupi tubuh ku .
" Wueg...! wuegh.. "
Seluruh isi di dalam perut ku keluar kembali, Mas Hardi memijat tekuk ku lembut .
" Kamu masuk angin Mah ? " Selidik Mas Hardi khawatir . sembari memakai kan piyama kimono ke tubuh ku .
" Entah lah " Balas ku lemah terduduk di atas closet yang tertutup .
Mas Hardi memapah keluar , membaring kan di atas tempat tidur , diambil nya minyak kayu putih di atas nakas, membaluri sekujur tubuh ku dengan minyak kayu putih hingga kehangatan meresap di sekujur tubuh .
" Kamu kelelahan Mah ? , maaf Papah khilaf , terlalu merindukan mu jadi lepas kontrol "
Ucap Mas Hardi dengan nada menyesal , meremas tangan ku lembut menular kan kehangatan .
Ku pejam kan mata menahan rasa mual yang masih memenuhi rongga perut ku , melihat ku yang terus menahan mual , Mas Hardi mengambil kantung plastik .
" Mah muntahin aja di sini , jangan di tahan "
Mas Hardi melebar kan kantung kresek menyodor kan di bawah dagu ku .
Tok.. tok.. tok..
Pintu di ketuk dari luar, Mas Hardi meminta ku memegang kantung plastik lalu Dia beranjak ke pintu .
" Har.. sudah bangun to ? Emil nya mana , ayuk turun makan sahur yang lain sudah kumpul di ruang makan " Perintah Bunda pelan di depan pintu .
" Emil sedang gak enak badan Bun , dari tadi muntah terus " Balas Mas Hardi .
" Wualah ko kamu biarain aja sih ? sana ke bawah minta bik sumi bikin teh jahe "
Perintah Bunda , beranjak masuk mendekat ke arah ku, menempel kan telapak tangan di kening ,dan memijat tengkuk ku pelan .
" Kamu kecapean Nduk , tangan dan kaki mu dingin sekali " Bunda menyelimuti kaki ku , meremas telapak tangan ku lembut .
Mas Hardi kembali masuk kali ini diikuti oleh Ibu dan Eksan , mendekat ke arah ku .
" Nok Ibu kerik badan mu yo , seperti nya kamu masuk angin " Ibu menatap ku lembut .
" Nggeh Bu , tapi Ibu sahur dulu nanti keburu imsak " Pinta ku .
" Sudah barusan Ibu selesai makan sama adik - adik mu " Jelas Ibu .
" Mah hari ini gak usah puasa dulu ya "
Pinta Mas Hardi setengah memerintah .
" Lihat nanti aja Mas , kalau aku masih mampu In Syaa Allah akan tetap puasa, kalau gak ya tengah jalan aku buka " Mohon ku .
" Gak usah ngeyel sih Mah , lepas sehari gak masalah kan masih bisa di qodho sehabis lebaran " Nada suara Mas Hardi menekan .
" Jangan terlalu dipaksakan Nak ! Dalam keadaan sakit tidak di wajib kan untuk berpuasa ko " Pinta Ibu .
" Bu Emil mandi dulu , baru nanti di kerik "
Pinta ku pelan .
" Wualah Har... , awak mu kui loh mblegedes tenan, wong bojo kesel ko yo esih dipekso , mriang to akhire " Seloroh Bunda menggeleng kan kepala sembari berdecak .
" Lah wong kangen to Bun , ora iso tahan "
Balas Mas Hardi cengar - cengir
" Tapi yo ojo di gaspol to !! " Sungut Bunda lagi.
Mas Hardi memapah ku masuk ke dalam kamar mandi, membantu ku mensucikan diri , setelah usai kembali memapah dan membaring kan aku di tempat tidur , meraih hairdrayer mengeringkan rambut ku .
Ibu mengerik tubuh ku yang memerah karena masuk angin , Bunda membawa masuk sup jagung hangat dan air teh jahe . Mas Hardi menyuapi hingga habis .
" Mas Kamu gak sahur ? , jangan bilang gak puasa ya " Ucap ku setengah menekan
" Iya Mah tenang ni aku mau sahur tadi bik sumi bawain makanan ke atas , tenang Mah masih ada waktu empat puluh lima menit "
Balas nya , lalu Mas Hardi meraih makanan di meja dan menyantap nya ,
Kau baring kan tubuh ku di atas tempat tidur, Ibu masih menemani memijat kaki ku lembut hingga aku terlelap dalam buaian mimpi dan melupakan solat subuh .
Bersambung....
__ADS_1