Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 59


__ADS_3

Kamar Mas Hardi di lantai atas dua kali lebih besar dari kamar di rumah dinas ku, dengan kamar mandi di dalam meski tak sebesar kamar yang dulu kami tempati bersama .


Aku duduk di sofa tunggal satu satu nya yang ada du dalam kamar .


" Mah tolong pilihin baju buat di pake Papah, dulu kan Mamah yang suka pilihin baju "


pinta nya dengan raut manja. Aku bernjak ke lemari tiga pintu dekat kamar mandi, memilih Hem cardinal lengan pendek warna bergundi dengan celana jeans cream .


" Pake kan sekalian Mah " Manja nya lagi serupa Daffa saat merajuk .


" Duh Mas Daffa aja gak semanja kamu kali "


Sindir ku kesal. Mas Hardi melirik dengan senyum nakal .


Usai ku kancing baju nya Mas Hardi mencium bibir ku kilas, lalu menggandeng ku ke bawah di mana yang lain sudah menunggu di ruang tengah .


Kami pergi menggunakan mobil Alpard milik Ayah yang lebih luas , aku duduk di samping Mas Hari yang mengemudi dengan memangku Daffa yang tak mau lepas dari ku, Bunda dan Ayah duduk di tengah , Zahwa , Zarra dan Bik Ratmi duduk di belakang .


Jalanan di kota lumayan rame malam akhir pekan ini , isyu tentang virus corona tak terlalu berpengaruh di kota sejuk yang mayoritas penduduk nya bertani dan berkebun.


setelah tiga puluh menit mobil berhenti di sebuah resto bernuansa alam pedesaan dengan pemandangan kebun plus kolam pemancingan ikan air tawar yang di buat mengalir seperti sungai di lengkapi dengan air terjun buatan di ujung sebelah barat kolam menambah suasana serupa berada di alam sebenar nya, suasana resto cukup ramai oleh pemancing di malam minggu seperti saat ini dengan penerangan lampu taman berjejer indah .


" Selamat datang Mas Handoko..., senang sekali bisa bertemu kembali setelah sekian puluh tahun berlalu " Sapa seorang lelaki seumuran Ayah dengan wajah oriental putih bersih di dampingi seorang wanita berwajah jawa tulen, menjabat tangan Ayah lantas saling berpelukan .


" Ini Arlinda isteri saya, ini Hardi anak lelaki saya dan di sebelah nya menantu saya puteri nya Mas Hasan dulu kita satu kos bareng dan itu ketiga cucu - cucu saya dan Mas Hasan "


Ayah memperkenal kan kami dengan raut bahagia terselip rasa bangga.


" Wah.. jadi Mas Han sama Mas Hasan berbesan ya.., senang nya bisa menjalin silaturahmi dengan sahabat lama, puteri Mas Hasan cantik sekali mirirp artis india "


Puji Koh Yoko sembari menatap ku lembut.


Aku tersipu malu dan hanya membalas ucapan nya dengam senyum ramah .


Seorang lelaki yang ku kenal sebagai klien perusahaan ku keluar dari dalam pantri resto, koh yoko melambai kan tangan meminta nya untuk bergabung di gazebo kami .


" Satrio kemari Nak.., kenal kan ini teman lama Papah zaman kuliah dulu " panggil Koh Yoko kepada nya, Dia berjalan ke arah kami dan saat melewati pintu gazebo wajah nya tertumpu kepada ku .


" Bu Emila.., Apa kabar .., senang sekali mau mampir di resto keluarga kami " Ucap nya sembari mengulur kan tangan ke arah ku dan menjabat nya erat membuat yang lain menatap kami penuh tanya .


" Eheeemmm .., kenal kan saya suami Bu Emila " Mas Hardi melepas genggaman Satrio dengan raut geram menahan cemburu


" Ahh...., maaf saya satrio kebetulan kami ada kerjasama finansial dengan tempat kerja Bu Emila " Balas Satrio salah tingkah melepas genggaman nya dari ku, menatap Mas Hardi dengan raut entah tak ku pahami jalan fikiran laki - laki .

__ADS_1


" Wah..wah..wah.., jadi kalian sudah saling kenal selama ini.. dunia ternyata sempit ya kan Mas Handoko.? " Ucap Koh Yoko menengahi aura panas antara putera nya dan putera sahabat nya . Ayah membalas dengan senyuman dan menepuk - nepuk bahu putera nya menyadari kecemburuan Mas Hardi yang berlebih dengan watak temperamental nya .


" Mari di cicipi dulu hidangan dari resto kami "


Sambut Pak Yoko ramah setelah dua pelayan menata hidangan di atas meja kami .


Usai makan - makan Ayah asyik ngobrol dengan Pak Yoko mengenang masa lalu, Bunda dan istri Pak Yoko ikut bergabung , sementara ketiga anak ku asyik memancing dengan di temani Satrio yang terlihat begitu akrab dengan mereka , sementara aku hanya duduk di bangku pemancingan dekat taman dengan Mas Hardi yang menempel seperti lem tak mau melepas lengan nya dari bahu ku.


" Pantes kamu betah di sini Mah, Nasabah dan klien nya tampan tampan gitu belum lagi bujang yang ada di rumah dinas " Hembus nya kesal .


" eheemm cie yang cemburu.., Mas mas .. , mau setampan apa mereka juga gak ngaruh buat ku.., aku. gak pernah memikir kan lelaki lain yang aku fikir kan cuma anak - anak "


Balas ku meredam kan kekesalan nya .


" Ngomong nya gitu tapi nyata nya Mamah masih menghindari Papah juga " Sungut nya.


" Menghindari yang gimana sih Mas, bukti nya sekarang juga aku turutin kemauan kamu mojok berduaan kaya ABG aja " Balas ku kesal. Sekilas kulihat Satrio menatap ke arah kami dengan raut sendu .


" Ayah lama banget sih, apa yang di obrolin mending tadi pake mobil sendiri habis makan langsung pulang gantian junior nya yang makan " Sungut nya mendesah kesal .


" Apa an sih Mas fikiran mu mesum aja "


Balas ku heran .


" Mesum sama isteri sendiri juga lagian sudah hampir setengah abad puasa ni si junior kasihan juga kan Mah " Rengek nya masih dengan raut di buat manja .


" Sejak rumah itu di jual karena pemilik nya pindah tugas ke daerah lain sekitar sebulan ini " Balas nya datar .


" Kamu dapet info dari siapa rumah itu mau di jual " Tanya ku lagi penasaran .


" Dari pak Rt .., kan aku kos di rumah sebelah Pak Rt " Balas tanpa ekspresi .


* Jangan jangan kamu serumah sama Mas Agus ..?, sejak kapan..? " Tanya ku dengan mata melotot tak habis fikir dengan kelakuan nya . Mas Hardi menganggukan kepala pelan.


" Ehmm, sejak sehari kamu tinggal di rumah itu ,aku juga tahu seberapa besar harapan si bujang lapuk itu untuk bisa jadi suami kamu "


Bisik. nya kesal dan menghembus kan uap panas nya di telinga ku .


" Ko bisa ya empat bulan aku tinggal di sana dan kamu juga tinggal satu kompleks tapi aku gak pernah tau sama sekali,.gak pernah kepapasan gitu ..lihai banget jadi stalker kamu " Ku bulat kan mata menatap wajah nya yang masih tersenyum penuh kemenangan .


" Kan sudah ku bilang gak akan pernah melepas mu dan akan terus mengikuti mu sampai ke lubang semut sekali pun "


Balas nya lagi menyeringai nakal lantas mencuri cium bibir ku .

__ADS_1


" Mas Ighh..., malu kali ini tempat umum ada anak - anak kita juga.. jangan mesum bentar aja kenapa sih..? ! " Sungut ku menahan malu.


sembari mendorong wajah nya .


" Habis nya Mamah cantik banget bikin junior ku berontak terus kaya gini.. ,Ayah juga lama banget sih. ., ini kan sudah hampir jam sepuluh malam , mau pulang jam berapa coba.,.gak tahu anak nya ke siksa di sini " Gumam nya kesal meremas tangan ku .


Bik Ratmi menghampiri kami memberitahu jika Ayah dan Bunda hendak pamit, Daffa berlari ke arah kami minta gendong, Mas Hardi menangkap tubuh Daffa dan menggendong dalam dekapan nya sembari mengingat kan ku untuk memeluk lengan nya , berjalan menyusuri tepian kolam menuju ruang utama resto di mana keluarga Mas Hardi dengan Koh Yoko berada.


Satrio menatap kami dengan wajah sendu dan rasa iri terpancar di wajah nya, Koh Yoko seperti memahami perasaan putera nya , di elus pundak sang putera memberi kekuatan agar tabah melihat kemesraan kami .


Ayah pamit pulang ke Koh Yoko, kami saling berjabat tangan lalu berlalu keluar dari resto.


Satrio masih menatap ku lekat , Mas Hardi membuka kan pintu untuk ku setelah aku duduk menaruh Daffa di pangkuan ku yang mulai terlelap dalam kantuk .


Mobil melaju membelah kota yang mulai sepi hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang dan beberapa pedagang kaki lima di pinggiran jalan . Sesekali Mas Hardi meraih tangan ku yang mendekap Daffa, meremas telapak tangan ku lalu mencium nya, tanpa perduli kedua orangtua nya di belakang memperhatikan perilaku nya yang menyerupai anak remaja baru jatuh cinta .


Sesampai di rumah Bunda meminta ku untuk tidur di kamar Mas Hardi, Zahwa dan Zarra tidur di kamar bawah dan Bik Ratmi tidur dengan Daffa di kamar sebelah nya,, sedang rumah dinas ku di tempati Ayah dan Bunda .


Zahwa dan Zarra yang sudah tertidur di perjalanan dari mobil keluar resto di gendong Ayah dan Mas Hardi di bawa ke kamar mereka, sedang Daffa di gendong Bik Ratmi.


" Nak Emil kamar nya biar Ayah sama Bunda yang nempatin , Nak Emil temenin Papah nya anak - anak tidur di atas ya.. ! " Bunda menatap ku dengan sorot memohon .


" Nggeh Bun.., sebentar Emil ganti baju dulu, gak enak tidur pake gamis, panas ! " Balas ku pelan .


" Ambil baju tidur aja terus ganti sekalian di atas " Pinta Bunda lagi .


Mas Hardi berdiri sandaran di body mobil menatap ku penuh harap .


" Nggeh Bun " Jawab ku datar , membuka pintu rumah dinas ku masuk ke kamar mengambil piyama dan cleansing untuk membersih kan mike up ku, dengan Mas Hardi yang mengikuti ku dari belakang .


" Pake ini aja Mah " Pinta Mas Hardi melihat piyama sutera tipis tergantung di lemari .


" Iya.. " Balas ku malas berdebat, Mas Hardi tersenyum bahagia .


Kami melangkah keluar dari kamar , Bunda sudah menunggu di teras rumah ku , tersenyum sumringah melihat Mas Hardi yang tak mau lepas dari ku .


--------------------------------------------


Hai Readers terimakasih untuk kesempatan waktu membaca karya ku ...


Jika terhibur tolong tinggal kan kesan dengan Like vote dan point untuk penyemangat author mengembang kan cerita


Untuk Redaktur terimakasih masih menerima Karya ku hingga kini

__ADS_1


Salam Noveltoon..💪😘😘


Love you all..😍😍


__ADS_2