Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 51


__ADS_3

Bukan kah hati manusia ibarat kayu dan ucapan itu umpama paku..? . Ketika paku menancap dalam kayu meski paku telah di cabut sekali pun akan ada lubang yang membekas diantara hamparan nya , begitu pun hati manusia saat terlukai oleh kata - kata keji dan kotor meski telah terucap kata maaf sekali pun masih akan terasa sakit nya ketika memori otak terbuka tanpa di sengaja sekali pun . Dan aku telah ribuan kali mencoba tuk menenggelam kan luka atas kalimat keji nya.


Tiiinnnggg !!!


Notifikasi WA di Hp ku berbunyi, dengan enggan ku buka dan kiriman video dari Susi pengasuh putera kecil ku menohok hati .


video berdurasi satu menit tiga belas detik menampil kan bagaimana bahagia nya Suami ku berlibur di vila keluarga Eyang Agung di Jimbaran Bali bersama - sama anak - anak ku dan Susi yang ku lihat mencoba mencari perhatian dari Ayah mereka dengan genit nya tanpa malu - malu mengenakan bikini melenggokan tubuh di hadapan lelaki yang masih menjadi suami ku .


Ku pejam kan mata tuk menahan sakit yang menusuk rasa . Sakit ku bukan hanya karena ulah pengasuh putera ku tapi terlebih apa yang mereka pertunjukan di hadapan ku, ketika aku sedang berjuang untuk bangkit dan memulih kan raga ku dari derita yang di timpa kan nya dan lebih ketika aku selalu berusaha untuk mencari cara berkomunikasi dengan anak - anak ku namun akses ku di tutup dengan sengaja oleh mereka dan kini mereka seolah mengejek ku dengan mengirim video kedekatan mereka yang seolah ingin memberitahu jika anak - anak tak lagi peduli pada aku Ibu nya yang mengandung dan melahir kan mereka .


Tetes air mata itu akhir nya lepas juga di atas sejadah yang terhampar di kamar ku, Isakan tertahan terdengar oleh Yu Tinah yang saat itu hendak ke kamar ku untuk memberikan surat pemberitahuan dari kantor tempat ku bekerja .


Tok..tok..tok


" Mbak Emil..., ini ada surat dari kurir kantor tempat Mbak Emil bekerja " Suara Yu Tinah terdengar cemas, Yu Tinah membuka pintu perlahan menghambur ke arah ku .


" Ya Allah Mbak Emil..., enten nopo melih..., cah ayu.., sing sabar..! " Yu Tinah setengah berteriak mendekap tubuh ku yang tersungkur lemas di atas sajadah . Suara keras Yu Tinah mengundang Ibu yang sedang membuat adonan donat berlarian dari dapur, Eksan yang sedang memberi makan burung merpati aduan nya ikut berlari mendatangi kamar ku dan Erza yang baru masuk rumah setelah pulang dari joging pun ikut cemas masuk tanpa melepas sepatu .


Erza meraih ponsel ku di buka nya video video kiriman Susi menatap dengan amarah yang membakar hati nya .


" Kadal busuk , manusia rendahan .." Umpat nya keras menahan emosi . Ibu merengkuh ku membaringkan aku di atas tempat tidur .


* Hebat ya suami teladan saat isteri berjuang untuk memulih kan diri seorang suami menutup akse Ibu dari anak - anak nya dan malah asyik bersenang - senang dengan sengaja mendidik anak - anak untuk menjadi pengkhianat bagi Ibu nya * Klik..


Erza mengirim WA ke Hp Mas Hardi memakai ponsel ku,. di kirim kan nya juga video video kiriman dari Susi .


Tak butuh waktu lama telefon ku berdering berkali - kali, notifikasi panggilan tak terjawab dari Mas Hardi, Bunda dan Ayah yang sengaja di abai kan oleh ku dan keluarga ku. Aku matikan daya pada ponsel untuk menahan agar tak lebih terluka lagi .


Sore ini Ibu mengumpul kan anak - anak dan saudara sekandung Ayah dan Ibu untuk membahas keinginan ku bercerai dari suami.


" Mbak sudah fikir kan lagi baik buruk nya .?, jangan ambil keputusan saat emosi " Suara Om Hanif mencoba untuk menengahi .

__ADS_1


" Saya sudah fikir kan baik - baik om dari tersadar di rumah sakit terakhir kali, Emil sudah tidak mampu menerima kekasaran dan perlakuan keji nya.., Emil sudah semenderita ini Om, kaki Emil pun tak akan membaik seperti semula." Suara ku serak menahan pedih yang menyergap dada .


" Kalau di terus kan opo enek jaminan Hardi bener - bener iso ngerubah perilaku ne, ndak mungkin orang temperamental sekasar Dia akan mampu merubah perilaku nya seratus delapan puluh derajat..." Ketus Ibu .


" Perceraian memang di benci Allah tapi masih di boleh kan apalagi jika membahaya kan salah satu pihak , kalau nyawa Mbak Emil memang terancam lebih baik menggugat cerai daripada harus hidup dalam cekaman dan ancaman " Balas Pakde Wisnu kaka Ibu .


Rembug keluarga malam itu akhir nya mencapai kesepakatan esok aku dengan di bantu Pak de wisnu yang saat ini menjadi modin di kampung ku akan mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama di kota kabupaten dimana aku tinggal saat ini .


Pagi hari di temani Akmal, Erza dan Pakde Wisnu aku bergegas menuju pengadilan agama untuk mengajukan gugat cerai atas dasar Kekerasan Dalam Rumah tangga yang ku terima dari suami ku . Usai dari sana aku menuju kantor untuk menerima promo jabatan sebagai kepala cabang di sebuah kota kabupaten di provinsi tetangga , Aku menyerah kan gugat cerai ku kepada seorang pengacara karena tiga hari kedepan aku sudah bertugas di tempat yang baru .


Keesokan hari nya aku menghadiri acara pelepasan di kantor, usai acara aku datangi Zahwa dan Zarra di sekolah mereka . Kedua anak ku menghambur ke arah ku memeluk ku erat, kami menangis bersama dalam ruang tamu sekolah dimana anak - anak ku belajar .


" Mah.., kapan pulang ke rumah , kita kangen sama Mamah, ingin kumpul bersama lagi " Ucap Zahwa menatap ku sendu.


" Untuk saat ini Mamah belum bisa bersama kaka dan adek - adek, In Syaa Allah suatu saat nanti Mamah akan perjuang kan untuk kalian bisa bersama Mamah lagi " Balas ku dengan suara serak menahan pedih


" Ka Susi sudah tidak di rumah lagi Mah , Eyang uti sudah memecat nya " Ucap Zarra.


Tanya ku menyelidik.


" Adek sama Bi Ratmi " Jawab mereka .


" Mamah titip Adek ya Ka, jaga diri kalian baik - baik, ke depan In Syaa Allah mamah akan usahain untuk bisa bertemu dengan kalian, tolong jangan ganti nomer ponsel kalian " Pinta ku sembari menatap mereka sendu.


Sekuat tenaga aku berusaha menekan agar tak ada airmata yang tertumpah di hadapan mereka .


" Mamah mau kemana ? " Tanya mereka bersamaan menatap ku lekat .


" Mamah ada tugas di tempat baru, maafin untuk saat ini tidak bisa sering - sering bersama kalian, In Syaa Allah akan Mamah usahain untuk komunikasi lewat videocal " Ku tatap satu persatu puteri - puteri ku , ku peluk dan ku cium mereka sebelum beranjak pergi meninggal kan mereka .


Aku mampir ke rumah ku juga dengan rasa was - was takut bertemu Bapak anak - anak ku mengemas baju - baju dan beberapa barang yang tertinggal di sana di temani oleh Erza dan Emran , beruntung Mas Hardi masih ada di daerah sehingga ketakutan ku tak terjadi.

__ADS_1


" Yu Inah titip rumah dan anak - anak, tolong jaga mereka baik - baik " Pinta ku lembut.


" Ibu mau kemana ..? " Selidik nya .


" Saya ada tugas di tempat baru Yu, saya juga ingin menenang kan diri di sana " Jawab ku menahan pedih .


" Tapi Bu.. kasihan Adek masih terlalu kecil harus di tinggal kan " Mata Yu Inah berkaca - kaca .


" Saya juga gak ingin ninggalin Adek dan anak - anak saya yang lain, tapi mau gimana lagi keadaan memaksa saya harus seperti ini " Jelas ku dengan buliran airmata membasahi wajah .


" Ya Allah Bu.., saya kasihan kalau lihat Ibu di lukai bapak tapi saya juga gak tega kalau Kak Zahwa, Zarra dan Adek harus kehilangan kasih sayang Ibu mereka " Ucap Yu Inah menatap ku sendu .


" Ibu hati - hati di tempat baru, sering - sering kasih kabar ya Bu.., ini nomer Hp saya Bu, kalau kangen anak - anak hubungi saya ke nomer ini aja " Yu Inah menyerah kan secarik kertas yang sudah di tulis no Hp nya .


Aku beranjak keluar dari rumah ku, awal nya aku tak berniat tuk bertemu dengan Daffa putera ku, takut hati ku goyah setelah melihat nya tapi pada saat aku melintas di taman komplek perumahan mertua ku tak sengaja aku melihat Daffa sedang bermain dengan Bi Ratmi dan Bunda, aku hendak mendekat , Erza mencegah ku, Dia tak ingin aku pergi dengan membawa luka lebih dalam setelah menemui mereka . Hampir satu jam aku berdiam di dalam mobil melihat keceriaan si kecil dengan tetes airmata menganak sungai.


Saat Bunda menggendong Daffa untuk di bawa nya pulang Erza melajukan mobil nya melintasi jalanan kota yang telah kutempati hampir delapan tahun belakangan . Ku alih kan pandangan keluar jendela mobil.


* Selamat tinggal kota nan penuh kenangan pahit, biar ku kubur semua rasa dan asa yang pernah ku kibar kan di dalam hati, kini biar lah ku melangkah pergi mencari asa di tempat baru tempat yang bahkan tak pernah kutahu seperti apa dan tak pernah kudatangi sebelum nya * Bisik ku lirih.


Di perbatasan kota ku pejam kan mata, berharap segala luka dan duka berakhir sampai di sini , dan ku gantung kan harapan di tempat baru tuk meraih bahagia dalam sisa usia ku .


**********************************************


Haii Reader's ku terimakasih tuk luang waktu nya membaca karya ku ini


Mohon dukungan like dan vote untuk author mengembang kan cerita lebih dalam lagi.


mohon maaf jika jalan cerita tak sesuai apa yang ada dalam imajinasi readers karena setiap kita memilki imajinasi sendiri sendiri dan ini lah imajinasi yang ingin author berikan untuk pembaca..


Selamat membaca

__ADS_1


Love You All 😘😍😍


__ADS_2