
Haii... Reader's ku terimakasih untuk kesetiaan pada karya ku ini.., jangan lupa tinggal kan jejak Like ,komen and vote nya
kalau bisa kasih tips juga ya..
Iiihhh author kemaruk ya..heheheee
sesekali gak papa ya
Salam sayang tuk kalian semua
Sarangheo muachππππ
------------------------------+-+++++++-------------------------
" Kalau Mas Hardi gak mau ya udah kasih ke Bunda aja biar jadi adek kita.. ,ya gak Mbak ..?! " Seru Hani dengan nada kesal .
" Ya bener aku juga mau ko di kasih adek tapi kan Bunda gak bisa ngelahirin lagi , biar nanti jadi adek kami aja " Timpal Hana .
" Kalian fikir anakku boneka apa bisa di minta seenak saja " Dengus Mas Hardi kesal .
" Ya udah tau gitu kenapa Mas masih gak nerima kalau baby nya cewek !! " Ketus Hani .
" Bukan nya aku gak mau nerima, aku cuma ingin punya anak pertama cowok tau..!!! " Balas Mas Hardi sewot .
" Ya sama aja kali sikap Mas itu nunjukin kalah gak mau terima sama calon ponakan ku.. , daripada nanti di sia - sia mending di gedein di sini aja " Balas Hana lebih keras.
Bunda melerai pertengkaran diantara mereka. malam itu Bunda meminta kami untuk menginap di rumah nya saja. Bunda takut Mas Hardi yang masih kecewa akan melukai perasaan ku.
Malam itu Mas Hardi memilih tidur di sofa kamar nya saat masih lajang, sementara aku tidur sendiri di atas ranjang nya masih dengan isakan tertahan. tak ada sedikit pun penyesalan apalagi permintaan maaf atas perlakuan nya kepada ku dan calon anak kami . Ini pertama kali sejak menikah kami tidur teepisah walau masih dalam satu ruangan .
__ADS_1
Keesokan hari nya Maa Hardi sudah berangkat pagi sekali tanpa pamit meninggal kan ku yang masih tertidur pulas akibat semalaman aku menangis tak bisa tidur.
Mata ku membengkak, ku ambil telefon memencet nomer telefon kantor meminta izin cuti sahari ini .
Bunda masuk ke dalam kamar ku sesaat setelah sambungan telefon ku putus kan. mengajak ku untuk turun sarapan . Aku meminta izin untuk mandi baru keluar dari kamar menuju meja makan dan ku edar kan mata mencari suami ku. Bunda memberitahu Mas Hardi sudah berangkat selepas subuh ke proyek di daerah dan meminta untuk sementara aku tinggal bersama keluarga nya selama Dia ke daerah beberapa hari .
Aku memilih untuk pulang dan tinggal di rumah sendiri di temani Yu Inah dan Mang Dino tukang kebun merangkap penjaga rumah. Aku kembali berangkat kerja mengendarai sendiri dan aku lebih memilih menyetir motor yang lebih efisien dan cepat sampai karena mampu menembus macet.
Sampai hari kedua Mas Hardi di daerah tak menghubungi sekali pun begitu juga aku yang masih menyimpan rasa sakit hati atas penolakan terhadap anak dalam kandungan ku,. tak hendak menghubungi nya lebih dulu.
Ku jalani aktifitas seperti hari - hari biasa dengan ceria mencoba menghilang kan beban atas masalah yang ku hadapi . Tak kuperlihat kan sedikit pun rasa sedih, kecewa dan amarah yang ku simpan dalam hati .
Di hari ke empat Mas Hardi pulang sore hari, Dia tiba di rumah lebih dulu sebelum aku yang hari itu memutus kan mampir di Baby shop mencari keperluan calon anakku sendiri , aku enggan meminta Mas Hadi menamani belanja takut Dia akan menolak dan kalau pun mau tapi terpaksa hanya akan menambah luka dalam hati juga . Aku juga tak mau merepot kan keluarga untuk mencari keperluan anakku.
Sempai di rumah lepas maghrib Mas Hardi sudah menunggu di teras dengan wajah memerah di penuhi emosi .
" Baru kali ini juga aku mampir mall sepulang kantor, aku belanja nyari keperluan bayi ku, karena kamu gak mau terima anak ini, maka nya aku belanja sendiri " Jawab ku kesal baru juga sampai garasi , mesin motor belum mati sudah diributin .
" Siapa yang bilang aku gak mau terima anakku sendrir, aku kan cuma bilang ingin anak pertama cowok, apa aku gak boleh punya harapan..? , terus itu siapa yang izinin kamu nyetir motor sendiri seperti itu, kalau jatuh aku kehilangan anak gimana " Sungut nya dengan nads tinggi .
Ku abai kan kemarahan nya, aku melangkah masuk setelah barang belanjaan ku di bawa Mang Dino di letakan di ruang keluarga . Ku langkah kan kaki menuju kamar mandi membersih kan diri. Entah bawaan bayi kali, aku terisak, ku elus bayi dalam perut ku dengan derai airmata.
*Sabar Nak, jika Ayah mu tak menerima mu kita bisa hidup berdua, Ibu akan merawat mu tanpa seorang Ayah " Bisik ku pilu .
derderder...derderder..
Pintu kamar mandi di gedor dari luar keras - keras oleh Maa Hardi. Emosi nya memuncak.
" Sedang apa sih kamu di dalam., mandi lama banget.. kasihan anakku nanti masuk angin "
__ADS_1
Seru nya dengan nada kesal .
Aku keluar menggunakan piyama handuk, begitu ku buka pintu Mas Hardi sudah ada di depan dengan sorot amarah bercampur rindu, diraih nya tubuh ku masuk dalam dekapan nya, dengan paksa di ***** bibir ku dan tubuh ku di tarik naik ke atas tempat tidur.
" Jadi isteri gak tahuan banget suami kangen empat hari berkutat dengan Asap Aspal di hutan membelah bukit cari fulus untuk menuhin kebutuhan isteri, pulang - pulang malah di tinggal belanja " Sungut nya kesal sembari tangan nya merambah setiap lekuk tubuh ku lebih dalam emosi membara .
" Siapa suruh pergi gak pamit , gak ada kabar , mau pulang juga kasih tahu, ads Hp kan , di rumah juga ada telfon paling gak kasih tahu Yu Inah kalau males telfon aku " Bela ku kesal.
" Mana pernah aku males nelfon isteri, di sana tidak ada sinyal " Kilah nya . Masih dengan nafsu kasar nya. Dan malam itu aku harus melayani nafsu nya dengan emosi yang membuat Dia melakukan secara kasar tidak seperti biasa nya, tanpa ku nikmati sedikit pun, yang ada hanya rasa sakit di sekujur tubuh dan milik ku setelah nya .
Dua bulan kemudian aku melahir kan di rumah sakit bersalin tanpa di temani suami, Mas Hardi ke daerah lagi , meninjau proyek pembuatan jalan antar provinsi yang menembus hutan dengan membelah bukit . Pak Handoko sudah melarang Dia meninjau ke daerah sementara waktu sampai aku melahir kan, Dia mengabai kan peringatan Ayah nya dan memilih tetap pergi seperti biasa tanpa ada kabar sedikit pun, nomer Hp nya pun susah di hubungi selalau berada di luar jangkauan .
Selama tidak ada Mas Hardi Ibu menemani ku di rumah ku dengan Ibu mertua ku yang setiap pagi datang dan pulang sore hari setelah di jemput Ayah mertua ku, begitu pun adik ipar kembar ku yang selalu ke rumah setiap pulang sekolah terkadang malah menginap di rumah ku juga.
Kepergian Mas Hardi kali ini lebih lama dari biasa nya. Di hari ke sembilan sejak aku melahir kan Dia baru kembali dengan wajah kusut dan bulu - bulu memenuhi kumis, jambang dan janggut nya tak beraturan .
Begitu masuk kamar Dia menatap anak kami yang tertidur pulas di samping ku dengan senyum yang tak bisa ku arti kan . Saat Dia hendak menyentuh nya tangan Mas Hardi langsung di tepis Bunda nya.
" Mandi bersih kan badan mu dulu, jangan sembarang menyentuh bayi yang masih rentan sama kuman dan virus " Hardik Bunda.
Mas Hardi mendengus kesal* pegang anak sendiri aja gak boleh * gumam nya kesal sambil berlalu kedalam kamar mandi.
Dan sejak saat itu Mas Hardi sering keluar daerah dengan alasan harus meninjau sendiri proyek dari pemerintah pusat yang di amanat kan kepada perusahaan nya.
Saat kami mengadakan acara turun tanah Zahwa anak pertama ku, seorang perempuan bertubuh seksi datang tanpa di undang , mengaku sebagai kekasih suami ku yang menuntut untuk di nikahi .
Aku menangis di pojok kamar ku dengan mendekap si kecil erat, di ruang keluarga Pak Handoko di saksi kan Ayah ku yang saat perempuan itu datang masih berada di rumah ku , sementara Ibu dan adik - adik ku sudah lebih dulu pulang , menyidang Mas Hardi dan perempuan itu .
Sebuah tepukan lembut di pipi membangun kan ku, Mas Hardi menyeka airmata yang menetes di pipi ku dengan tangan satu nya lagi meremas tangan . Bu Zee membantu ku bangun dari pembaringan, Mas Hardi memapah ku duduk di sofa tunggal dengan Bu zee duduk di depan ku tersenyum ramah.
__ADS_1