
Mas Hardi memutar musik romantis dari Dvd yang tersedia di kamar hotel, memutar film romantis semi blue untuk mamacu gairah.
Diangakat nya tubuh ku di rebah kan di atas tempat tidur pelan hingga terasa nyaman.
Di lepas nya kancing piyama ku, tangan dan bibir nya aktif merambah setiap lekuk tubuh hingga menghadir kan sensai emosi yang tak terkendali . Di buka nya pengait Bra dan di turun kan celdam ku hingga terlepas . Mulut Mas Hardi aktif m****** milik ku hingga terasa basah. Dia meminta ku membantu melepas kan boxer yang masih di kenakan nya. Sedetik kemudian aku memejam kan mata menahan malu melihat junior nya yang berdiri tegak mengeras sempurna .
" Sayang buka mata mu, lihat ini milik mu sejak saat ini hingga selama nya ..," Bisik nya lembut di telinga dengan nafas memburu, meraih tangan ku di arah kan ke junior nya, meminta ku untuk m****** nya lembut penuh perasaan hingga beberapa saat kemudian...
" Tahan sedikit sayang .., ini akan terasa sakit pada awal nya.., " Bisi nya dengan mulut memain kan telinga ku .
Aku merasa kan sedikit perih di bagian milik ku lalu ada rasa mengganjal yang memberi sensasi aneh dan saat Mas Hardi mulai menghentak kan lembut aku mulai merasa kan desiran dan getaran nikmat tak tertahan hingga saat junior memuntah kan isi nya nafas kami saling memburu hingga peluh membanjiri tubuh meski AC hotel dalam suhu 18 derajat celcius . Mas Hardi merebah kan kepala nya di ceruk leher ku meninggal kan tanda merah keunguan di beberapa tempat bagian leher ku.
" Sakit sayang...?, Maaf aku kurang mampu mengontrol junior ku " Dia menatap manik mata ku lembut mengulas senyum nakal .
Dengan tubuh masih menindih ku .
" Gak terlalu sakit ..,.aku juga menikmati ..,' jawab ku lirih menahan malu, Dia terlihat gemas melihat rona wajah ku, mencuil pipi ku lembut lalu membanjiri dengan ciuman dan kembali junior menggelitik milik ku hingga kami kembali melakukan percintaan berulang kali seakan tak pernah ada puas nya hingga Dia terkapar di sisi ku tanpa sehelai benang pun, terlelap dalam buaian mimpi .
Aku selimuti tubuh nya , lalu beranjak turun ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kuisi bathup dengan air hangat dan aroma terapi bunga jasmine yang tersedia di kamar mandi
kurendam tubuh yang terasa sangat lelah sehabis bercinta tadi, ada rasa perih dan nyeri di bagian milik ku.
Ku rebah kan kepala di pinggiran bathup dengan kedua tangan kuregang kan ke samping , kupejam kan mata menikmati sensasi pijatan dari air hangat dalam bathup.
__ADS_1
Aku kembali terbayang permainan yang kami lakukan dengan Mas Hardi di atas tempat tidur barusan, ada getaran aneh yang bergejolak membuncah dalam jiwa ku.
Aku tak punya cinta untuk nya seperti yang ku punya pada Maa Nano, aku tak mengharap kan hadir nya seperti aku mengharap kan keberadaan Mas Nano, entah mengapa tubuh ku tak menolak saat di sentuh nya, mengapa jiwa ku tak memberontak saat dinikmati oleh nya bahkan aku ikut menkmati keindahan yang Dia berikan dalam permainan nya.
Tuhan ... munafik kah aku..,? .Hina kah aku membiar kan tubuh ku terjamah oleh lelaki yang tak pernah ada dalam hati ku meski Dia telah mengucap kan ikrar di hadapan Mu di depan keluarga kami..,?. Bisik ku lirih .
Sebutir kristal bening menetes melewati pipi , sentuhan tangan lembut menyadar kan aku, saat ku buka mata Mas Hardi duduk di samping ku , membelai rambut dan mencium telapak tangan ku penuh perasaan .
" Mimpi buruk lagi Mah..?, Maaf kan Papah "
Suara nya serak tercekat di tenggorokan. Di usap nya kelopak mata ku yang membasah .
Ku geleng kan kepala ku tersenyum tulus kepada nya, Mas Hardi tersenyum menatap ke dalam manik mata ku dengan sorot kerinduan dalam biasan cinta di sana .
Mas Hardi mengambil satu kotak nasi liwet dengan lauk ayam betutu, oseng bunga pepaya, cah tauge dan kerupuk udang, siap menyuapi ku, namun ku tepis tangan lembut.
" Makan nya nanti aja Mas , nyawa ku belum kumpul sempurna " Seloroh ku manja.
Mas Hardi meletak kan kembali kotak makanan nya di atas nakas. menghela nafas halus.
" Mah ini bunda sengaja masakin buat mantu kesayangan nya loh yang sudah bosan sama menu rumah sakit,..," Ucap nya memelas .
" Iya nanti aku makan Mas , sekarang aki mau penuhi hajat alam dulu " Balas ku datar .
__ADS_1
" Ooghhh.." Balas Mas Hardi , ysng telah siap mengangkat tubuh ku namun ku tepis lembut.
" Mas.., aku pengin pake walker aja, jarak kamar mandi kan tidak terlalu jauh, itung - itung buat lemesin otot " Pinta ku dengan sorot memohon.
Mas Hardi menuruti keinginan ku, di ambil nya walker berkaki empat di samping bed penunggu pasien , di bantu nya aku turun pelan - pelan hingga menapak lantai . Mas Hardi masih memegang tubuh ku hingga tangan ku menggenggam walker dan berjalan pelan hingga masuk kamar mandi, Mas Hardi meletakan botol infus di besi pengait dalam kamar mandi, keluar kamar mandi menunggu ku di depan pintu.
Saat hajat alam ku selesai Mas Hardi masuk dan membersih kan milik ku meski aku sudah menolak Dia bersikeras untuk melakukan nya.
Selesai Dia menaikan kembali celdam ku, membantu ku berdiri dengan berpegangan pada walker, aku terdiam sesaat ketika mata ku tak sengaja melihat ke bagian bawah suami ku tepat nya di bagian resleting, terlihat tonjolan memanjang ke atas .
Mas Hardi tersenyum melihat ku terdiam, di raih nya tangan kanan ku di arah kan ke atas resleting.
" Kenapa Mah.., kangen sama ini ya , barusan tadi Mamah mimpi ya sewaktu tidur Papah cium ini ( telunjuk kanan nya menempel di bibir ku ), mamah membalas dan mendesah manja sampi junior papah meronta " Mas Hardi mengerling nakal.
Ku angkat tangan ku kembali menggenggam walker, ku langkah kan kaki keluar dari kamar mandi, Mas Hardi memegang bahu ku erat melihat jalan ku masih goyah meski berpegangan pada walker .
*Hem jadi saat tidur tadi Dia mencium ku dalam keadaan aku terlelap dalam mimpi, pantes saja mimpi ku yang hadir kali ini malah masa halimun kami ." Bisik ku dalam hati menahan geli .
Ku Arah kan kaki menuju sofa dekat jendela aku merasa jengah terus berada di atas tempat tidur, Mas Hardi duduk di samping ku, meminta ku untuk duduk melurus kan kaki ke maja di depan sofa , lalu memijat telapak kaki ku pada titik tertentu .
Ku alih kan pandangan keluar jendela di bawah ku lihat lalu lalang petugas paramedis, taman yang ramai oleh anak - anak pasien dan pengunjung dan di ujung timur ku lihat kantin yang tadi siang sempat kudatangi bersama Mas Hardi masih dalam keadaan biasa tak terlalu ramai tapi tak sepi oleh pembeli juga.
Ku tatap wajah Mas Hardi , bulu - bulu halus di sekitar wajah nya sangat mengganggu ku, menjadi kan Dia terlihat lebih tua dari usia yang sebenar nya .
__ADS_1