
" Aku mengejar hanya sebatas rasa tanggung jawab , karena aku yang menjemput nya dan meminta izin untuk membawa kemari di hadapan keluarga nya maka aku juga yang harus mengembalikan kepada keluarga nya "
Jelas Mas Hardi mengusap airmata , ku tepis tangan nya untuk menjauh dari wajah ku.
" Hebat ya keluarga perempuan mu itu sudah tahu lelaki suami orang sudah punya anak juga masih nyodorin anak gadis nya untuk di jadikan perusak rumah tangga orang, dimana naluri nya, demi harta dan status rela menjual harga diri , menghalal kan segala nya seakan harta akan di bawa nya mati !! " Geram ku dengan suara bergetar menahan luka .
" Jangan sebut Da perempuan ku , hanya kamu satu - satu nya perempuan ku !! "
Hardik nya keras melempar botol parfum milik nya sendiri ke dinding hingga pecah berkeping - keping , lalu beranjak naik ke pembaringan, tidur tengkurap dengan wajah dibenamkan ke dalam bantal.
Aku terisak di sofa dengan berjuta perasaan berkecamuk, kecewa , marah , terluka ,sakit hati dan tak berdaya memenuhi relung jiwa .
Beberapa waktu kemudian aku mendengar CV pak Ibra bangkrut dan jatuh terpuruk dalam kubangan rentenir setelah Bunda
dan seluruh anak perusahaan di bawah naungan keluarga besar nya melepas kemitraan bisnis dengan Cv milik Pak Ibra.
Bunda dan Ayah murka setelah mendapat kabar jika Pak Ibra sengaja ingin menjerat Mas Hardi dengan menjodoh kan kepoanakan nya untuk mendapat kemudahan bagi nya menguasi Suplai material ke perusahaan Mas Hardi dan Bunda dengan berharap mendapat suntikan dana dari Mas Hardi
Taufan yang melapor kan semua hasil penyelidikan atas perempuan bernama santi yang di bawa ke rumah kami, Dia dijadikan tumbal tante nya di jodoh kan dengan Mas Hardi yang saat itu sering berkesah tentang keinginan nya mendapat seorang anak cowok tapi belum terwujud.
Lantas terbesit niat licik di hati Pak Ibra dan isteri nya dengan menyaran kan Mas Hardi untuk menikah lagi agar bisa memiliki anak laki - laki yang diingin kan nya, Pak Ibra kemudian menjadikan keponakan sang isteri yang memiliki paras cantik untuk menjerat Mas Hardi masuk dalam perangkap nya.
Pak Ibra memberikan khayalan setinggi langit pada keponakan nya dengan memberikan akses info siapa Mas Hardi lewat situs bisnis di internet.
****************************************
" Emil..., Nok..,.ada apa to..,.Dari tadi kamu ngelamun, sing sabar Nok.., coba cerita kan sama Ibu jangan di pendam sendiri..hayoo buka aja Ibu siap jadi pendengar yang baik,
ben ati mu plong Nok..!" Ibu mengusap air mata ku, membelai rambut dan bahu ku lembut.
__ADS_1
Ku peluk Ibu dan menangis di perut nya yang berhadapan dengan wajah ku.
" Emil dilema Bu..." Suara ku serak .
" Dilema kenapa, coba kasih tahu Ibu " Pinta Ibu tulus, lalu duduk di kursi samping ranjang pasien, menatap ku lembut .
" Rasa nya Emil gak kuat lagi hidup dengan Mas Hardi Bu.." Suara ku lirih hampir tak terdengar, Ibu diam memberi ku waktu untuk menenang kan gejolak dalam hati .
" Aku gak kuat sama temperamen kasar nya, caci maki, hinaa , hujatan , kecemburuan yang seringkali di bumbui fitnah dan perlakuan seenak sendiri , keangkuhan dan keegoisan nya yang merasa selalu paling benar dan selalu menang sendiri.. " Suara ku tercekat menahan sakit . Butiran kristal menggenang di pelupuk mata lalu mengalir pelan di pipi .
Ibu meraih tangan ku lalu di genggam nya erat seakan ingin memberi ku kekuatan.
" Sejak kapan suami mu kasar seperti ini ..?, Ibu perhatikan awal nikah kalian baik - baik saja , seperti nya Hardi itu memanjakan mu *
Tanya Ibu pelan .
" Ko sepicik itu Dia, orang berpendidikan tinggi sekolah saja sampai S2 tapi ko fikiran nya pendek gitu " Geram Ibu menahan emosi.
" Emil pernah minta di cerai kan Bu, tapi tiap kali Emil memgucap kata cerai Dia malah semakin kesetanan dan selalu bilang Emil mau menghancur kan hidup nya dengan meninggal kan nya, Mas Hardi gak mau melepas Emil tapi selalu menyakiti hati ini "
Sekuat tenaga aku berusaha untuk tegar agar tidak mengeluar kan airmata .
" Loh sekarang kan ada Daffa anak lelaki kalian kenapa masih kasar begitu..?! " Tanya Ibu dengan suara bergetar menahan amarah.
" Ra ngerti aku Bu, .. apa yang dimau sama Mas Hardi sebenar nya, ku fikir setelah aku punya anak laki - laki sikap nya ke aku akan berubah, ku fikir Dia akan kembali seperti saat awal kami menikah , nyata nya egois masih tinggi dan tingkat kecemburuan nya kian tak terkontrol , Emil jalan sama teman kantor kalau ada yang cowok nya aja Dia langsung memfitnah Emil selingkuh " Tangis ku pecah, airmata yang sedari tadi terbendung pada. akhir nya tumpah meruah
Ibu memeluk ku erat, mengelus punggung ku lembut , wajah ku susup kan di dada Ibu mencari kedamaian di sana dalam kehangat an kasih sayang orang yang melahir kan ku.
" Sabar...Nok...,.sabar.., ini mungkin ujian untuk mu, Ibu pasrah kan semua nya sama kamu yang akan menjalani hidup, kalau kau memang sudah tak mampu bertahan jangan memaksa kan diri, hidup hanya sekali Nak, jangan sampai tak bisa kau nikmati " Bisik Ibu di dekat telinga ku, setetes butiran hangat menetes di pundak ku. * Ibu menangis kah..?*, Tanya ku dalam hati .
__ADS_1
" Bagaimana dengan anak - anak Bu..?!, Emil tak sampai hati jika harus melukai mereka, bukan kah dalam setiap perceraian anak lah yang akan menjadi korban..?. Dan anak juga yang akan meraskan sakit paling dalam "
Tanya ku bimbang menahan rasa .
" Solat istikharoh Nok, pasrah kan sama pemilik hidup, minta di beri jalan terbaik, hanya Allah yang bisa menolong mu "
Nasehat Ibu bijaksana .
"In Syaa Allah nanti Emil usahain setelah boleh keluar dari rumah sakit " Jawab ku
Pintu kamar terbuka, Dokter yang menangani ku selama di rawat dan di dampingi perawat nya masuk ke ruangan, memeriksa kondisi ku
meminta perawat memindai suhu tubuh ku..
" 38°c Dok tekanan 100/60.. " Jawab perawat pelan .
" Kondisi masih belum stabil, jika sampai sore nanti suhu belum menurun beri paracetamol cair lagi " Perintah Dokter sembari menempel kan stetoskop di dada ku, memeriksa mata dan lidah ku.
" Ibu Emil apa yang Ibu keluh kan..?! " Tanya Dokter lembut.
" Pusing Dok, leher masih sakit di gerakan " Jawab ku pelan .
" Untuk hari ini terapi di libur kan dulu ya Bu, nunggu sampai kondisi Ibu stabil kembali , istirahat yang cukup tidak usah terlalu banyak berfikir , rileks saja ya Bu " Nasehat Dokter sembari menepuk punggung tanganku lembut.
" Baik Dok., terimakasih " Jawab ku tulus .
" Saya pamit Bu, jangan lupa obat nya di minum. " Pesan Dokter lalu beranjak keluar beraama perawat .
Ibu meraih obat dan segelas air membantu ku untuk meminum tiga butir obat yang tadi di beri oleh perawat . Sepekan aku terkurung di ruang serba putih ini membuat ku mulai merasa bosan, ingin rasa nya cepat keluae dan pulang ke rumah, senyaman apa pun tinggal di rumah sakit, meski ruangan di desain serupa kamar hotel berbintang sekali pun, tinggal di rumah sakit bukan lah hal yang menyenang kan .
__ADS_1