
Seorang perawat masuk ke ruangan ku lima menit setelah kepergian suami ku, membantu minum obat dan mengecek suhu tubuh ku.
Setelah perawat keluar aku sendirian lagi di dalam kamar, lima belas menit kemudian pintu terbuka Eza masuk bersama Eksan menemani ku malam ini .
Pagi nya saat aku keluar mengguna kan walker dengan di bantu Eksan aku melihat Mas Hardi duduk di lobi VIP dekat ruang perawat dengan wajah kusut masih mengena kan baju kerja yang kemarin . Dia melihat ku dari jauh aku berjalan ke taman tapi hanya diam mematung tanpa mendekat . Ada sorot luka terpancar di wajah nya , sekilas rasa iba ku muncul melihat keadaan nya namun ego ku menekan nya lebih kuat menghapus rasa iba, kebencian atas ucapan keji dan perlakuan kasar nya lebih menguasai rasa ku .
" Mbak duduk di sini aja biar bisa melihat pemandangan di luar plus mendapat sinar matahari pagi " Pinta Erza sembari meletak kan kursi yang di bawa nya dari dalam kamar.
Ku balas dengan mengangguk kan kepala.
" Ini earapan nya di makan Ka, mau Eksan suapin..? " Tanya si bungsu lembut .
" Kaka bisa makan sendiri , tolong taruh di sini " Balas ku meminta nya menaruh makanan di atas pangkuan ku. Eksan menuruti keinginan ku. Usai makan aku berjalan di taman dengan berpegangan besi balkon taman melatih otot kaki ku.
Beberapa menit kemudian saat aku ke bawah di depan gerbang pintu keluar ku lihat mobil Mas Hardi keluar parkiran menuju jalan raya dan melaju dengan sangat kencang . Entah mengapa ada rasa pilu dan hampa dalam ruang hati ku, mata ku mulai berkaca - kaca.
Jam sembilan siang seorang perawat memberitahu jadwal fisioterapi, Erza menemani ku mendorong kursi roda menuju ruang fisioterapi, di dalam segala kenangan ku saat menjalani fisioterapi bersama Mas Hardi melintas menyesakan dada .
Sampai siang hari keluarga Mas Hardi tidak ada yang datang menjenguk ku. pukul sebelas tiga puluh menit Dokter yang merawat ku melakukan visit pemeriksaan.
" Kondisi Bu Emil sudah lebih baik dari sebelum nya semoga stabil seperti ini " Ucap Dokter tersenyum ramah .
" Boleh kah saya izin pulang dan menjalani rawat jalan Dok ?" Ucap ku dengan sorot memohon .
" Eeemmm.., kalau itu keinginan Bu Emil, tapi harus rutin menjalani pemeriksaan dan fisioterapi seminggu dua kali, nanti saya kasih jadwal nya,.tinggal ambil di perawat jaga " Balas Dokter dengan seulas senyum .
" Terimakasih Dok, In Syaa Allah saya akan rutin menjalani peemeriksaan dan fiaioterapi " Jawab ku dengan senyum bahagia .
" Baik Bu Emil sampai bertemu lagi tiga hari ke depan " Balas Dokter menatap ku lekat sesaat melihat rona bahagia di wajah ku, setelah sadar menyalami ku dan berlalu keluar dari ruangan .
" Za tolong urus administrasi mbak di bagian pembayaran, ini kartu asuransi kesehatan mbak dan ini kartu debet Mbak ,bayar pake ini, Pin nya hari kelahiran Daffa " Pinta ku .
" Baik Mbak, tunggu di sini ya aku telfon Ka Akmal untuk menjemput Mbak pulang " Erza meraih dua kartu dari ku dan berlalu pergi.
" San kamu beresi barang - barang Mbk Emil, biar Ka Akmal datang sudah rapi " Pnta Eksan.
" Aaasiiaapp.. Ka Emil santai aja ya biar ini aku yang kerjain " Eksan tersenyum memperlihat lekukan di pipi nya.
__ADS_1
Satu jam kemudian Akmal datang dengan Ibu.
" Pulang ke rumah Ibu saja ya Nok sementara ini biar ada yang ngurusin kamu, nanti kalau sudah sehat baru pulang ke rumah sendiri "
Ibu menatap ku dengan sorot memohon, aku menyetujui saran Beliau dengan senyuman .
*************************
Sasampai di rumah Ibu menjelang sore, di rumah sanak saudara dan tetangga sudah menunggu kedatangan kami . Aku merasa terhibur selama rumah Ibu ramai di kunjungi kerabat , sanak saudara dan tetangga , tapi tiap kali di dalam kamar sendirian rasa kesepian dan kerinduan dengan keluarga kecil ku seringkali menyesakan hati .
Setiap pagi Erza dan Ekmal membawa ku ke taman kecamatan dekat rumah, mengajari ku melatih otot - otot kaki ku agar kembali kuat berjalan tanpa alat bantu . setiap rabu dan sabtu aku menjalani fisioterapi di rumah sakit tempat ku di rawat.
Sampai hari ke lima aku di rumah Ibu , aku tak mendapat kabar apa pun tentang suami dan anak - anak ku . Hari ini Erza dan Akmal mengantar ku ke kota kabupaten untuk membeli handphone baru dan besok lusa aku sudah mulai kembali aktif bekerja setelah cuti panjang ku berakhir .
Di sebuah konter ponsel di kota kabupaten T.
" Selamat pagi Bu, ada yang bisa kami bantu ? " Senyum pegawai konter ramah .
" Iya Mbak aku mau lihat - lihat handphone keluaran terbaru " Jawab ku lembut .
" Mau merk apa dan seri berapa bu ?" Tanya nya lagi .
" Oh ya Bu silah kan " pegawai menyodor kan brosur beberapa milik Hp ternama beseta LDU dan menunjikan fitur - fitur masing - masing Hp. .
Setelah ku dapati Handphone sesuai selera , aku beranjak ke kasir untuk membayar nya.
Ku sodor kan kartu debit ku.
" Maaf Ibu ini Handphone sudah diisi aplikasi lengkap dari sini dan ini kuitansi nya " Kasir menolak kartu debit ku.
" Saya tidak bawa uang cash Mbak, ke Atm juga malas , gak bisa pake kattu ini..? " Tanya ku bimbang.
" Bukan Bu , maaf Hp ibu sudah di bayar via transfer " Kasir konter menunjukan bukti transferan .
" Sudah di bayar ?, siapa yang transfer ? " Tanya ku kebingungan .
Kasir konter terdiam sesaat, ku lihat raut kebingungan di wajah nya, sesaat kemudian Dia menerima telefon dari seseorang.
__ADS_1
" Baik pak..," Jawab kasir pada suara telefon yang tersambung entah dengan siapa .
" Mbak aku gak jadi aja ambil Hp nya , maaf aku tidak biasa menerima hadiah dari mister guset , bisa timbil fitnah dan masalah di kemudian hari " Jelas ku .
" Eeemmm gimana ya Bu.., maaf tolong bantu saya, di sini saya cuma bekerja , tolong mengerti posisi saya " Pinta nya tulus dengan wajah masih di liputi kebinhungan.
" Saya mengerti posisi Anda dan memahami Anda yang hanya pekerja tapi saya juga gak bisa menerima pemberian cuma - cuma dari seseorang yang bahkan aku tidak tahu Dia siapa dan lagi Hp ini mahal kan Mbak ?, bukan uang sejuta dua juta mana bisa aku terima " Jawab ku kesal menahan emosi.
Sesaat kemudian pemilik toko keluar menemui kami , kasir toko memberitahu masalah yang kami hadapi. Beliau tersenyum lalu menelfon seseorang .
" Iya kamu jelasin aja ke customer saya broo, siapa tahu kalau jelas identitas mu mau di terima, atau kau datang lah ke sini kasih saja sendiri gitu kan gak repot " Suara pemilik toko ke seseorang di sambungan telefon nya .
Sesaat kemudian telefon ku berdering, aku terkejut karena merasa handphone ku belum kuisi sim card , ku ambil Hp yang sedari tadi tergeletak di meja kasir , ku lihat nama yang tertera di layar Hp. *Suami ku*, dengan malas ku angkat panggilan dari nya.
" Hallo Mah, tolong terima pemberian Papah anggap itu permintaan maaf Papah yang sudah merusak Hp Mamah " Pinta nya dengan suara memohon.
Deg..!!! ada kerinduan yang menyeruak mendengar suara nya, kangen yang mendesak palung hati terdalam, namun ego ku menekan nya lebih kuat lagi .
" Mah..., maafin aku atas segala salah ku, benci lah aku sesuka hati mu tapi ku mohon kali ini saja terima pemberian ku " Suara di sana kembali memohon.
" Mah.., Papah senang melihat Mamah sudah bisa berjalan tanpa alat bantu lagi, semoga maaf sehat selalu . Miss you honey.. love me four you forever " Suara Mas Hardi serak mengakhiri panggilan nya.
Aku tergagap menerima gombalan dari nya,
desiran - desiran aneh memenuhi kalbu, kangen menyeruak lebih menyesakan, wajah ku merona semerah tomat, ku edar kan pandangan keluar konter , mencari - cari sosok nya berharap Dia muncul di hadapan ku memberi kejutan serupa di sinetron dan novel - novel yang ku baca .
" Gimana Bu Emila bisa di terima Hp nya ? "
Pertanyaan pemilik toko membuyar kan lamunan ku, menyadar kan ku dari khayalan dalam lamunan panjang .
Bersambung...
____________________
Haiiii. ...kaka kaka readers terimakasih tuk kesetiaan nya mendukung novel ini sampai saat ini...
Tolong like, vote dan point ya
__ADS_1
Love you allππππ