
Aku berdiri berpegangan pada besi balkon .
Mentari menampak kan keelokan paras putih nya, bersinar hangat menembus kulit langsat yang terbalut tunik tosca polos dengan rok
pliscet hitam . Kunikmati Harum aroma embun pagi yang meluruh di atas dedaunan .
Ku hirup oksigen pagi nan segar diantara rindang pepohonan yang tertata rapi .
Jauh dari pandangan di luar pagar rumah sakit, pagi mulai menampak kan kesibukan kehidupan manusia dengan segala aktifitas mereka, lalu lalang kendaraan berbagai jenis, dari sepeda yang ramah lingkungan hingga kendaraan bermesin dengan asap knalpot menodai udara di sekitar nya.
Pintu masuk rumah sakit pun mulai ramai oleh antrian kendaraan dari para pekerja dan pengunjung rumah sakit. Mas Hardi memeluk bahu ku dari samping, menatap ku lembut .
" Mah capek kan ..,? Papah ambil kursi roda ya, lihat pemandangan nya sambil duduk aja " Lirih di telinga ku.
" Kursi biasa aja Mas , aku tak terlalu suka di atas kursi roda terkesan seperti lumpuh tak berdaya, aku sudah bisa berdiri meski dengan berpegangan benda lain " Ucap ku datar .
Mas Hardi menatap dengan ekspresi yang tak mampu ku mengerti, mencium rambiut ku, dan beranjak ke dalam mengambil kursi besi lipat yang sengaja di bawa oleh Amri salah satu pegawai nya dari kantor Mas Hardi untuk duduk di samping ranjang pasien .
Menempat kan kursi di tempat favorit ku, memapah langkah ku dan mendudukan aku di atas kursi lipat .Seorang kurir makanan menghampiri kami membawa nasi kebuli lengkap dengan lauk nya kiriman dari Ayah Mas Hardi yang di pesan di resto India dekat kantor nya .
Kembali sarapan dari rumah sakit terabai kan, Satu kotak nasi kebuli plus kari kambing porsi besar kami nikmati berdua dengan Mas Hardi yang menyuapi ku .
" Aku ingin teh hangat Mas " Rengek ku .
__ADS_1
Mas Hardi berjalan ke dalam ruangan memanas kan air dengan teko listrik dan membuat kan ku satu gelas besar teh jasmine.
Saat pandangan ku terarah ke bawah mata ku melihat Erza dengan hoodie hitam keluar dari mobil mazda merah milik nya, melambai kan tangan, membentuk isyarat sarangheo dengan dua jari tangan kanan , memberi kissbyae tiga kali ke arah ku lalu beranjak keluar parkiran belok ke kiri menembus jalanan kota , meninggal kan ku sendiri .
Mas Hardi menghampiri ku setelah Dia selesai menghisap vape nya di tempat lain menjauh dari ku, selama ini Mas Hardi hanya menghisap vape saat di kantor bersama karyawan nya atau saat bersama rekan bisnis, teman dan kolega nya. Dia tahu aku alergi asap rokok bentuk apa pun, jika di rumah Dia hanya akan menghisap vape selepas bercinta di area belakang rumah atau keluar pagar rumah, selesai itu akan langsung mengganti baju dan mencuci tangan sebelum mendekati ku kembali atau anak - anak .
Aku tak pernah melarang nya menikmati rokok sebelum marak rokok elektronik yang lebih di kenal dengan vape, Mas Hardi biasa menikmati Sisa sejenis rokok khas timur tengah, tapi untuk rokok tembakau Dia malah alergi, habis satu batang saja sudah langsung batuk - batuk . Aku hanya meminta Mas Hardi menjauh dari kami keluarga kecil nya saat Dia menikmati rokok nya .
" Sudah cuci tangan Mas.. ?, aku gak suka bau sisa vape di tangan dan baju mu " Ku tatap mata bening yang memancar kan sorot cinta.
" Sudah cantik.., Papah lebih tahu apa yang isteri kesayangan ku gak suka, ini Papah juga ganti kaos ,tangan Papah juga sudah di beri Handsanitizer " Diarahkan telapak tangan nya ke mulut ku yang ku raih dan kucium harum aroma palm. Mas Hardi menepuk lembut pipi yang mulai sedikit berisi .
pagi ini tidak ada kunjungan keluarga, Ibu sudah memberitahu ku ada acara pengajian rutin hari senin di rumah nanti sore, Beliau harus mempersiap kan suguhan dan memberes kan rumah, Ibu Mas Hardi baru akan kemari sore, pagi sampai siang harus menghadiri pertemuan darmawanita, Eksan , Hana dan Hani ada kelas di kuliah mereka.
Seorang wanita cantik berusia empat puluhan menyambut kami, menyalami ku dan Mas Hardi dengan senyum hangat, memulai sesi konsultasi dengan saling memperkenal kan diri terlebih dulu . Zee Arumdani m.spi nama dan titel yang di sandang beliau, sosok cantik nan ramah dengan wajah teduh keibuan , mampu membuat ku cepat akrab dan dekat meski baru beberapa menit mengenal nya .
" Ibu Emila berbaring dulu di sini, rileks kan fikiran Anda, tenang kan perasaan Anda, fokus pada jarum yang bergerak di hadapan Anda...fokus..fokus.., masuk lelap lah dalam dunia mimpi Anda " Suara nya merdu di telinga dan detik berikut nya aku hanya bisa mendengar suara nya .
Aku masuk dalam labirin masa lalu. Tiga bulan setelah peenikahan kami, seorang janin bersemayam dalam rahim ku yang di sambut bahagia oleh kerluarga Mas Hardi terutama Ayah nya dan keluarga ku. Kehamilan ku bagi Pak Handoko bukti bahwa aku sudah bisa menerima kehadiran anak nya dalam kehidup an ku yang akan menumbuh kan benih cinta dalam hati menantu nya kepada putera nya.
Begitu pun Mas Hardi yang semakin sayang dan perhatian sejak kehamilan ku, jika saat belum hamil aku diizin kan naik motor atau menyetir mobil hadiah pernikahan ku dari Pak Handoko tanpa seorang supir, sejak di ketahui aku hamil Dia memilih untuk mengantar dan menjemput ke kantor dan ke tempat lain.
Kehidupan itu umpama perputaran roda yang tak selalu mulus jalan nya, begitu pun dengan hidup pernikahan kami yang manis pada awal nya di perjalanan onak menerjang tanpa henti. Di usia kehamilan tujuh bulan usai acara adat mitoni Mas Hardi membawa ku menjalani pemeriksaan dengan USG, dokter memberitahu kan jenis kelamin anak kami yang jauh dari harapan Mas Hardi .
__ADS_1
Kehadiran putera mahkota yang akan di harap kan oleh nya menjadi penerus kerajaan bisnis yang sedang di rintis., namun Tuhan menentu kan lain justeru puteri cantik yang saat itu tumbuh dan berkembang dalam rahim ku.
" Memang nya kenapa kalau anak pertama itu perempuan Har.., rubah fikiran kolot mu, ini zaman milenium Har , laki - laki dan wanita punya kedudukan yang sama, gak semua anak lelaki becus nerusin bisnis keluarga , gak semua anak perempuan tak mampu memimpin " Pak Handoko kesal saat putera nya mengungkap kan kekecewaan nya.
" Kamu lihat Bunda mu ini Nak.., Ibu yang melahirkan mu ini wanita, Bunda melepas bisnis yang di tawar kan keluarga karena merasa tak sesuai dengan ilmu yang ku
dapat dan memulai bisnis baru yang berbeda dengan keluarga, nyata nya Bunda sukses meski perempuan memulai dari awal sendiri "
Bunda menatap tajam wajah anak nya yang hanya tertunduk lesu.
" Tapi aku tetap ingin anak pertama ku cowok Bun.., baru anak seterus nya perempuan " Desah nya kesal .
Aku yang saat itu duduk terdiam di meja makan di temani Hana dan Hani menundukan kepala menggigit bibir kelu, genangan kristal bening menetes membasahi pipi .
Bik Ratmi pembantu Bunda mengelus bahu ku pelan., Hana memeluk erat.
" Sabar Mbak.., nanti kita cari solusi biar Mas Hardi bisa menerima calon keponakan ku "
Lirih nya sembari meremas tangan ku lembut.
Aku terisak dalam perih, bagaimana bisa ada seorang Ayah tak bisa menerima kehadiran anak nya hanya karena terlahir dengan jenis kelamin yang tak sesuai keinginan nya.
Aku menyesali keputusan ku dulu menerima pinangan nya , andai aku tahu akan seperti ini pada akhir nya. Bisik ku dalam hati .
__ADS_1