
Ayah menyambut bahagia keluarga Mas Hardi. Ibu menatap ku cemas karena tak pulang seharian kemarin mesk orangtua Mas Hardi sudah meminta izin pada Ayah.
" Mbak cantik banget.. " Puji Ibu menciumi pipi ku lembut. Wajah ku merona dj sanjung Ibu sendiri.
" Heemm puteri ku sekarang pandai bersolek rupa nya " Puji Ayah.
" Mboten ko bu.. Yah.., ini Dek Hani yang ndandani wajah ku " Jawab ku tersipu malu.
Mereka tertawa bersamaan mendengar jawab an ku membuat wajah ku kian bersemu merah, Mas Hardi menatap ku dengan sorot cinta tergambar di wajah nya.
Orangtua ku mempersilah kan mereka duduk di ruang tamu, supir Ayah Mas Hardi mengeluar kan barang bawaan mereka masuk ke dalam rumah. Aku membawa sendiri barang bawaan ku ke dalam kamar.
Barang bawaan keluarga Mas Hardi yang banyak membuat tetangga yang berkerumun di depan rumah selepas senam di depan aula RW, membuat mereka menggunjing kan keluarga kami.
Aku mendengar gunjingan mereka dari ruang makan yang jendela nya menghadap aula RW.
" Mbak Emil cantik sih ya jadi dapet jodoh nya cepet, barusan kemarin di tinggal Mas Ustadz sudah dapat ganti orang kaya lagi " Ucap salah seorang Ibu.
" Itu kan selingkuhan Mbak Emil kali, mereka sudah sering pergi bareng dari Mas ustadz masih hidup, itu kan yang bikin Mas Ustadz cemburu terus naik motor lepas kontrol sampai kecelakaan , enak di mereka gak enak di keluarga Mas Ustadz kehilangan anak lelaki harapan mereka ." Nyinyir seorang tetangga .
Aku tercekat mendwngar pendapat nya, ada nyeri menyelinap dalam relung jiwa. sebisa nya ku tekan airmata yang menggenang .
Emran menepuk bahu ku lembut
" Jangan diambil hati omongan mereka, masuk kamar aja mbak biar gak dengar " Saran Emran, aku menggeleng kan kepala, aku malah pensaran ingin tahu apa lagi yang akan mereka bicara kan.
" Huusss.., jangan tebar fitnah sembarangan, Mbak Emil gak seperti itu. Beliau itu sahabat karib Pak Hasan yang baru ketemu lagi setelah lama berpisah, jaga itu ucapan jangan sampai di dengar orangtua Mbak Emil, mereka kurang baik apa sama warga sini, ini yang jadi aula juga kan masih lahan milik Bu Narti, jagan melukai perasaan nya " Bela bulik Ros tetangga belakang rumah.
" Iya betul itu lelaki yang sering ke sini, kata Yu Tinah sih anak sahabat pak guru, nah itu tadi orangtua nya sahabat karib Pak guru Hasan sewaktu sekolah dulu terus baru ketemu lagi pas reunian " Jelas yang lain.
" Hidup, jodoh dan kematian seseorang itu takdir Allah, gak baik menyangkut kan sama orang lain , Mbak Emil sendiri juga seperti apa hancur nya di tinggal Mas Nano sampai berminggu - minggu mengurung diri di kamar, paling pergi ke kampus terus pulang ke makam nya, Bu Narti itu sampai nangis melihat kondisi Mbak Emil, kalau sekarang putera sahabat Pak guri bisa menghibur dan syukur jadi pengganti Mas Ustadz ya lebih baik kan..?, kalau gak suka mending diam aja jangan ngomong yang tak pasti kebenaran nya malah jadi fitnah ' Nasehat Bu ustadz.
__ADS_1
" Kabar nya memang sahabat pak guru mau jodohin mereka cuma karen Mbak Emil sudah punya Mas Nano jadi mereka mundur, Nah sekarang Mas Nano gak ada wajar ya kalau perjodohan di lanjut " Timpal yang lain .
" Eeehhh Mbak Emil nya tad ko keluar berdua dari mobil cowok nya , pagi - pagi ini .. sudah cantik lagi, perasaan tadi pagi gak ada mobil terparkir ya.., jangan - jangan mereka sudah nikah duluan " Selidik yang lain.
" Huuusssttt jangan tebar gosip yang gak jelas nanti jadi masalah lo " Tegur yang lain.
" Kan memang Mbak Emil sering diajak nginap sama sahabat Pak guru , diajak jalan - jalan ke luar kota , liburan gitu, sebelum Mas Nano meninggal juga Mbak Emil sama Eksan kan di ajak ke Bali, kita dapat oleh - oleh nya "
Jelas yang lain.
Akmal masuk ke ruang makan, membuka jendela lebih lebar sembari berdehem, kerumunan Ibu - Ibu yang berada di aula menatap ke jendela, menundukan kepala ke arah Akmal lalu pergi satu persatu.
" Mbak suruh ke ruang tamu sama Ayah " Pesan Akmal.
Ku langkah kan kaki keluar ruang tamu masih menyimpan sedih dan kecewa ataa komentar Ibu - ibu tetangga tentang ku, berjalan duduk di samping Ayah dan Bunda yang menatap ku penuh tanya dengan airmata yang masih membekas di kelopak mata.
Mas Hardi menatap ku dengan ekspresi tanda tanya melihat perubahan di wajah ku.
" Mmm.., ini giini Emil , Orangtua Mas Hardi mau minta persetujuan mu untuk menggelar acara pertunangan kalian , Kita tidak berani memutus kan sebelum ada kesediaan dari Emil sendiri, yang mau jalani hidup kan Emil
Aku terdiam tak berani mengambil keputusan, hati ku di liputi oleh kebimbangan . Di satu sisi hati ku masih tertaut oleh Mas Nano, masih berduka atas kematian nya yang belum lama berselang, baru juga akan di adakan peringatan seratus hari kematian nya , nanti malam, brlum lagi gunjingan tetangga yang barusan ku dengar memojokan ku. sementara di sisi yang lain aku tak enak hati dengan kebaikan Mas Hardi dan keluarga nya, pun niat baik Ayah nya yang ingin menjalin ikatan persaudaraan dengan keluarga sahabat nya, melalui pernikahan kami dan aku pun sudah merasa ternoda atas perbuatan mesum Mas Hardi walau sampai saat ini Dia masih belum memasukan milik nya ke milik ku, Toh aku merasa tak lagi suci lagi .
Mataku sudah tercemar dengan menyentuh milik nya, begitu pun milik ku trlah di lihat oleh nya .Ku gigit bibir bawah ku menahan perih melawan kebimbangan .
" Emil..., putus kan sesuatu " Perintah Ayah mengelus lengan ku lembut.
Ku angkat kepala menatap sofa di seberang ku , Mas Harrdi terlihat gelisah, menatap ku resah dengan sorot pengharapan.
" Jangan sekarang Yah.., beri Emil waktu untuk memikir kan lebih dulu " Pinta ku lirih hampir tak terdengar .
" Berapa lama..? " Tanya Mas Hardi menatap ku putus asa.
__ADS_1
" Setidak nya beri aku waktu sampai acara wisuda dua minggu ke depan " pinta ku .
Mas Hardi menundukan kepala, menarik nafas pelan lalu menghembuskan nya.
Ayah Mas Hardi teraenyum lega, setidak nya aku tidak menolak niat baik nya menjodoh kan ku dengan putera nya .
" Baik lah kalau itu sudah menjadi keputusan Nak Emil kami terima dengan lapang dada " Ayah Mas Hardi melirik anak nya.
" Dua minggu tak terlalu lama Mas ..,. sabar ya berdoa saja semoga semua berjalan lancar tanpa hambatan " Hibur Ayah ke Mas Hardi .
" Bener kata om Hasan Har..,, yang terpenting sekarang Nak Emil sudah mau menerima kamu..., iya kan Nak Emil.." Hibur Ibu Mas Hardi sembari menatap ku lembut.
Ku tundukan wajah menyimpan segala rasa bimbang di dalam hati . Mas Hardi melempar senyum menatap ku lekat .
Siang nya keluarga Mas Hardi mengajak keluarga ku makan siang di sebuah resto dekat pantai. Masih dengan posisi yang sama aku di biar kan hanya berdua saja dengan Mas Hardi dengan mobil yang di kendarai oleh nya . Sepanjang jalan tangan ku di genggam nya erat, dengan sesekali melirik memandangi wajah ku lalu tersenyum .
Kami makan bersama di resto pinggir pantai dalam obyek wisata alam yang di kelola oleh pemerintah daerah . Selesai makan Ayah ku dan Ayah Mas Hardi berkaroke ria bersama mengenang masa muda dulu. Ibu ku dan Ibu Mas Hardi sesekali ikut nimbrung mereka.
Adik - adik ku yang sengaja membawa alat pancing memlih memancing di anjungan pantai bersama si kembar Hana dan Hani.
Mas Hardi mengajak ku jalan - jalan di pinggiran pantai lalu memasuki hutan bakau.
Duduk di kursi yang tersedia diantara rerimbunan hutan bakau, sesekali Mas Hardi mencium ku lembut tiap kali situasi dalam keadaan sepi .
-----------------------------------------------------------------------profil Hardiman Adi prasojo
prifil Emila Nurul Hidayah
semoga reader suka🙏🙏l
__ADS_1
a