
Mas Hardi membaringkan aku di tempat tidur pelan, menutupi tubuh ku dengan selimut, lalu menyerah kan taspack kembali ke Bu Dokter.
Ada senyum terkembang di wajah Bu Dokter .
" Selamat Pak Hardi akan ada penghuni baru dalam rumah Anda , sebaik nya nanti sore Bu Emil di bawa ke klinik permata Bunda untuk pemeriksaan lebih lanjut menggunakan USG "
Saran Bu Dokter dengan senyum ramah .
Mas Hardi berjingkat kegirangan , melompat tinggi , tangan nya di ayunkan naik turun seperti orang sedang main gitar sembari menggoyangkan pinggang nya, sontak membuat ku melongo terperangah melihat tingkah nya yang seperti anak kecil mendapat hadiah impian nya , Bu Dokter menutup mulut nya menahan tawa . Ibu menggeleng kan kepala sembari mengelus perut ku .
" Amit -amit jabang bayi .." Ucap Ibu pelan.
Bik Sumi membuang wajah menahan tawa .
Seperkian menit baru tersadar akan polah nya sendiri , meringis menahan malu . Mendesah mendekat ke arah ku yang menatap nya dengan beribu rasa .
" Terimakasih Mah.., akhir nya akan ada generasi baru klan Prasojo " Bisik nya lembut, menciumi setiap inci wajah ku .
" Maaf Pak Hardi , saya pamit dulu, kami tunggu kedatangan Nyonya Emil untuk pemeriksaan USG " Ucap Bu Dokter lembut .
" Baik Dok , saya usahakan sehabis buka puasa akan membawa isteri saya ke klinik "
Balas Mas Hardi dengan wajah sumringah .
" Nyonya Emil untuk sementara banyak istirahat dulu , kalau tidak memungkin kan sebaik nya lepas saum dulu " Saran Bu Dokter lembut, mengelus perut ku pelan .
" Terimakasih Dok " Balas ku ramah .
Bik Sumi mengantar Bu Dokter keluar kamar .
Adek terbangun memeluk tubuh ku erat .
" Mamah aku mau punya adek ya , jangan panggil aku adek lagi ya , panggil abang ya mulai sekarang " Pinta nya dengan mimik lucu.
" Ko abang sih ? , Mas dong kan kita orang jawa " Balas Mas Hardi sedikit tidak suka .
" Gak mau !! , aku mau nya di panggil abang , kan Mamah suka panggil Papah Mas , nanti bingung panggil mas yang mana ?! "
Alasan yang sangat masuk akal dilontar kan oleh si kecil Daffa .
" Ya sudah kalau Kaka aja gimana ? "
Saran ku menengahi .
" Kan sudah ada Ka Zahwa di panggil nya Kaka ! Aku mau nya abang aja "
Kekeuh si kecil Daffa .
" Gak pokok nya tetep Mas ,kalau gak mau ya beli aja , kan masih ada darah Bali mengalir di tubuh kita " Tegas Mas Hardi .
" Panggilan aja di ributin sih ? " Tanya ku heran. Mereka terdiam .
" Dek sana'an dikit Papah mau peluk Mamah sama adek dalam perut juga " Pinta Mas Hardi ke Daffa .
" Abang.... Papah !!, bukan Dek , gak mau aku masih kangen Mamah , abang mau jagain Adek juga " Daffa memperat pelukan nya .
Aku meringis menahan mual saat tangan Daffa menecengkeram erat perut ku .
" Mas Daffa jangan kekencangan pegang perut Mamah , kasihan Adek dalam perut gak bisa nafas " Mas Hardi menepis tangan Daffa dari perut ku .
Daffa mengangkat tubuh nya duduk di samping ku , mencium perut ku dengan tingkah lucu nya .
" Adek Maafin bang Daf ya ! , gak sengaja nekan perut Mamah, cepet gede nanti main sama babang ya " Seloroh Daffa dengan mimik dibuat seperti anak dewasa .
" Iya abang tampan " Balas ku mengacak rambut nya pelan bercampur gemas .
" Abang sama Papah nya minggir dulu ya , Mamah mau ajakin adek solat dulu " Pinta ku lembut .
" Mah , gak usah solat dulu kalau masih lemas " Perintah Mas Hardi pelan .
" Ya nggak bisa lah Pah, solat itu wajib yang gak bisa ditinggal kan " Balas ku memberi pengertian .
" Tapi kan kamu nya masih lemas gitu ,nanti kalau jatuh terus ada apa - apa gimana ? "
__ADS_1
Nada Mas Hardi cemas .
" Mamah solat nya sembari duduk Pah ,di atas tempat tidur, di bolehin ko kalau memang urgen " Jelas ku lagi .
" Hem ya sudah , Papah bantu buat wudhu , Bu maaf bisa bantu bawain kursi plastik ke kamar mandi buat Emil duduk ? " Pinta Mas Hardi tulus .
Ibu berjalan keluar dan masuk lagi diikuti oleh Zahwa , Zarra dan si kembar .dengan membawa kursi plastik bundar menaruh nya di depan keran air .
Mas Hardi mengangkat tubuh ku membawa ke kamar mandi lalu membantu ku bersuci, setelah nya membawa ku kembali ke atas tempat tidur menghadap kiblat .
Ku kenakan mukena dan menjalan kan solat dzuhur sembari duduk di atas tempat tidur karena untuk berdiri aku masih belum mampu, tubuh ku masih sempoyongan .
Bukan kah Tuhan tidak pernah mempersulit umat nya untuk beribadah ?, selagi masih ada niat dan kemauan dimana pun dan dengan jalan apa pun kita masih diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan - Nya .
Dalam sujud ku utarakan rasa syukur kepada - Nya atas anugerah amanah yang saat ini sedang di semai dalam rahim ku .
Saat aku sedang berdzikir ponsel Mas Hardi berdering , sedetik kemudian terdengar sambungan telefon dari seberang .
" Hallo Har..., wuiihhhh selamat ya seneng banget mau nambahin bunda cucu , kamu tokcer juga ya , gak nyangka gaspol banget "
Suara Bunda terdengar gembira di sebrang.
" Maturnuwun Bun, la yo pastilah Bun , siapa dulu gitu... , Hardi ! " Balas nya membusung kan dada .
" Halah kamu..., kalau Emil nya gak tangguh juga belum tentu gitu " Suara Ayah melemah kan kesombongan Mas Hardi .
" Halah Ayah ngiri jane itu heheheee.. "
Mas Hardi terkekeh .
" Ko ngiri., lagian Ayah nya juga sudah tua..
gak pengen lah punya anak , kalau di kasih cucu sih Alhamdullillah kan kalau kamu kebanyakan anak jadi repot nah nanti yang gede biar ikut sama kita aja ..ya gak Bun "
Seloroh Ayah di sebrang sambungan .
" Enak aja ikut kalian , gak ada kebo kabotan sungu, anak ku ya tinggal nya sama aku lah, habis lebaran kalau rumah ku sudah jadi keluarga ku mau tak boyong ke rumah baru *
Jelas Mas Hardi sedikit bersungut .
" Lah ya gak bisa gitu Bun , kalau di sini terus kasihan Emil ku Bun, gak bebas kaya di rumah sendiri , kalau di sini Bunda kan ratu nya tapi di istana yang sedang aku bangun Emil yang akan jadi ratu ku " Jelas Mas Hardi tegas gak mau di bantah .
" Tapi gak ada selir yo Har..! Awas kalau sampai Ayah dengar ada perempuan lagi ! "
Ancam Ayah dengan nada tinggi .
" Nothing dad.., cinta Hardi utuh buat Emil seorang ko " Balas Mas Hardi mengerling ke arah ku genit .
" Halah...! Kamu tuh mblekesunu ko , sok gantengan , gak tahan goda " Sungut Bunda.
" Iiiihhh..., Bunda kapan percaya sama anak sendiri sih " Nada Mas Hardi jeles..
" Kejadian kemarin itu yang terakhir buat kamu Har ! , awas ada peristiwa lagi kamu nya yang Ayah depak, semua harta mu tak ambil alih buat Emil sama anak - anak ! "
Ancam Ayah dengan nada tinggi .
" Ben jadi gelandangan kowe ! " Sela Bunda.
" Kalian ortu jahat ! Mosok ngarep ke anak nya jadi gelandangan , berasa anak tiri aku "
Seloroh Mas Hardi , dan suara gelak tawa membahana di sebrang telefon .
" Har ..! Emil mana Bunda mau ngobrol , kasih kan Hp nya ke Emil cepet ! " Perintah Bunda .
" Aaassiiaappp kanjeng sury ! " Seloroh Mas Hardi jenaka . Mas Hardi menyodor kan ponsel nya ke arah ku .
" Assallamuallaikum Bun.. " Sapa ku ramah masih terasa lemah .
" Waallaikumsallam.., masih lemas Nak ?!, gak usah puasa dulu, bisa di qodho lain waktu kalau sudah sehat kan..?! , jangan di paksain "
Nasehat Bunda dengan Nada khawatir .
" Nggeh Bun , nanti semampu Emil "
__ADS_1
Balas ku sopan.
" Bunda mau pulang ba'da maghrib, kamu kepengen apa Nak , biar Bunda belikan di sini, Bunda pake pesawat pribadi gak bakal lama sampai nya " Tanya Bunda .
" Asinan bogor Bun , Asinan salak sama kacang mete panggang balado "
Balas ku sembari membayang kan nikmat nya makanan yang ku sebut .
" Oh Ya .., ini Bunda tak berangkat cari sekarang " Balas Bunda dengan nada semangat .
" Har..! , jaga menantu Ayah sama calon cucu baru , awas kalau kamu lalai , sebelum Nak Emil sehat bener kamu gak boleh manjat dulu , dengerin itu !! " Suara Ayah mengingat kan dengan nada sedikit tinggi .
" Gak Manjat ko Yah, paling lewat belakang kan bisa ,yang penting otong tetep nyelup "
Bisik Mas Hardi dengan nada pelan .
" Huuusssttt.., sama aja kalau nyetak nya kelewatan bisa bahaya " Balas Ayah pelan .
" Eheemm..., ada anak di bawah umur woii !! "
Geram Hanie kesal .
" Siapa suruh dengerin " Ketus Mas Hardi .
" Yo wes Har , jaga menantu ku ,ni telefon Ayah tutup " Balas Ayah , lalu sambungan terputus .
" Gimana gak denger wong di loudspeaker gitu , berbisik pun tetep lah kedengaran "
Balas Hanie tak mau kalah .
" Hemm..., gak anak , gak Ayah sama saja sebelas dua belas , nek ngomong suka vulgar " Desah ku kesal .
" Tahu tuh , gak lihat tempat kalau ngomong "
Balas Hanie .
" Lagian kalian lagi apa juga ngumpul di sini semua , sana keluar Ka Emil nya biar istirahat ! " Usir Mas Hardi dengan nada kesal .
" Orang lagi mau nemenin Ka Emil juga , boleh kan Ka ?." Hanie menatap ke arah ku meminta pembelaan .
" Boleh gak papa, lagian juga banyakan tidur nambah pusing " Balas ku , di sambut bahagia oleh Hanie , yang menjulurkan lidah ke arah Kakak nya .
Tok ! tok ! tok !
Pintu di ketuk dari luar , Zahwa beranjak membuka pintu, Bik Sumi masuk membawa nampan berisi mangkuk dan air hangat .
" Den ayu saya di perintah Pak Sastro suruh anterin bubur kacang hijau sama teh madu, perintah Nyonya besar suruh di makan sekarang mumpung masih anget " Ucap Bik Sumi begitu sampai di hadapan ku .
Mas Hardi mengangkat tubuh ku di dudukan bersandar headboard dengan alas bantal, lalu mengambil nampan mendekat ke arah ku .
" Mah diminum dulu teh nya biar gak lemes "
Diangsurkan gelas ke arah mulut ku .
" Nak dalam keadaan seperti ini sebaik nya gak usah puasa dulu , daripada membahaya kan diri sendiri sama janin dalam kandungan " Nasehat Ibu lembut mengelus kepala ku .
Ku anggukan kepala, lalu meminum teh yang Mas Hardi sodor kan, Mas Hardi menyuapi bubur kacang hijau pelan dan telaten .
*
*
Bersambung.....
****************
Mohon kebijakan untuk menekan tombol like setelah membaca
mohon dukungan dengan memberi vote , rate *5 dan share ke sesama pembaca
Terimakasih untuk kesetiaan nya pada novel novel ku
jangan lupa mampir di * Senandung Rindu *
__ADS_1
Karya ku yang lain
Salam sayang untuk semua😘💕💕