Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 47


__ADS_3

" 🎵 Kidung kedrasaning kapti


( Nyanyian keseriusan hati )


 


Yayah nglamong tanpa mangsa


\( Seolah kacau tanpa kenal waktu \)


 


Hingan silarja jatine


\( Hingga keselamatan yang benar \)


Satata samaptaptinya


\( Sikap akan hati nya \)


 


Raket raketing Ruksa


\( Menjalani rangkaian masalah \)


Tahan tumaning siku


\( Tahan menghadapi kemarahan \)


Karasuk sakeh kasrakat


\( menerima segala penderitaan \)


 


🎵 Gegaraning wong akrami


( Penguat dalam pernikahan )


 


Dudu bandha dudu rupa

__ADS_1


\( Bukan hanya harta atau fisik \)


Amung ati pawitane


\( Namun hati lah modal utama nya \)


Luput pisan kena pisan


\( Apabila jadi , jadi selama nya \)


Lamun gampang luwih gampang


\( Jika mudah akan semakin mudah \)


Lamun angel, angel kalangkung


( Jika sulit akan kian sulit )


 


Tan kena tinumbas arta


( Tidak bisa di beli dengan uang )


Nyanyian Kidung asmarandana meluncur fasih dari mulut ku sebegitu syahdu meski tanpa iringan gendhing alat musik jawa .


nya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.


Ustadzah terpana sejenak memahami arti kidung asmaradana yang ku lantun kan, kelopak mata nya berkaca - kaca , sedetik kemudian lafadz istigfar di dengung kan.


Bunda terisak di rangkul oleh Pak Handoko yang datang masih dengan seragam PSH .


" Nyi Ayu Sarinah kau mau keluar dari raga nya tanpa merasa sakit atau aku yang akan menghalau mu hingga kau akan merasa kan kesakitan " Hardik lelaki bersorban


Tubuh ku bergidig ngeri melihat tatapan nya, ada panas yang menjalar di sekujur tubuh ku.


" Ampun kyai aku mau keluar sendiri.., sabar sebentar aku belum siap " Rengek ku manja.


" Baik jika itu mau mu jangan salah kan jika kau hanya akan menjadi asap " Ancam laki - laki bersorban menahan emosi .


" Sebentar kyai.., sing sabar.., aku hanya ingin mengembalikan ingatan pemilik raga ini yang telah terhapus, aku ingin Dia bisa cerita ke semua orang kejadian yang hampir saja merenggut nyawa nya .." Ku tatap lelaki bersorban dengan kesungguhan .


" Laknatullah jangan berulah, bukan nya itu cara mu untuk mengadu domba bangsa kami agar saling bermusuhan dengan cara licik kalian mencerita kan kebohongan ?! " Sungut lelaki bersorban keras .

__ADS_1


" Tidak kyai sungguh..., aku tak berbohong, aku tak menipu kalian, aku akan membantu wanita elok ini mengingat semua nya, kau boleh tanya kan pada lelaki itu nanti kebenaran cerita ku " Dengus ku menahan amarah yang masih memenuhi hati .


Ku tatap Ayah dari anak - anak ku yang berdiri gelisah , keringat mengucur dari kening nya dalam ruangan dingin ber Ac, Dia semakin terlihat resah saat aku menyeringai kesal dengan sandiwara yang di pertonton kan oleh nya tuk menutupi kejahatan yang telah Dia perbuat atas jiwa lemah yang kini terbelenggu dalam dimensi waktu .


Ibu membisikan sesuatu ke Akmal yang kemudian di terus kan ke lelaki bersorban yang kini berdiri tepat di hadapan ku.


" Kyai bukan kah mereka menunggu kebenaran cerita dari kisah wanita elok berjiwa lemah ini..?, bukan kah kebenaran itu harus di ungkap sepahit apa pun.. ? " Rajuk ku lagi meyakin kan agar lelaki bersorban mengerti.


" Aku akan kembali ke asal ku , ke tempat ku di mana selama ini aku tinggal bersama rakyat ku tanpa kau paksa jika jiwa ini telah menjadi kuat dan semua telah terungkap "


Janji ku setengah memaksa .


" Baik aku beri waktu kamu untuk cerita setelah itu lepas kan jiwa pemilik raga ini dari belenggu mu dan kau kembalilah segera tak perlu menunggu jiwa nya menjadi kuat, biar Allah nanti yang akan membantu menyembuh kan seiring waktu . Cerita kan sekarang !! "


Perintah lelaki bersorban tegas .


Tetiba saja tubuh ku terasa lemas lantas aku di seret oleh sesuatu entah apa keluar dari lingkaran kabut putih menembus ruang dan waktu masuk ke sebuah tempat yang tak asing bagi ku.


Mata ku terppejam, dalam alam bawah sadar, aku kembali di bawa mundur. ke waktu dua minggu yang lalu , semua tergambar jelas .


" Pagi hari itu setelah aku di jemput pulang paksa dari rumah Ibu, sepanjang jalan aku di caci maki dengan kata - kata pedas menyakit kan, sesampai di rumah aku di hempas kan di atas tempat tidur dan di perkosa nya berkali - kali hingga aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian intim milik ku dan tubuh ku serasa remuk redam dengan rasa ngilu di seluruh tulang belulang ku " Aku berhenti sejenak menghirup udara lalu ku hembus kan pelan .


" Usai puas melampias kan nafsu Dia kurung aku dalam kamar, pintu di kunci dan kunci di bawa nya dalam keadaan aku terkapar sendiri tanpa makanan, aku terlelap hingga sore hari aku terbangun kelaparan, pintu terkunci tak ada yang bisa mengirimi ku makanan, aku meringkuk menahan cacing - cacing yang memberontak dalam perut " Aku mendesah menahan sesak tak tertahan dalam dada.


Buliran airmata mengalir perlahan .


" Pukul sepuluh malam Dia baru kembali dengan mulut bau alkohol menyengat tanpa menghirau kan aku yang menangis kelaparan Dia masuk ke kamar mandi, aku keluar kamar saat Dia barrada dalam kamar mandi, Yu Inah yang melihat aku berjalan tertatih membantu memapah menuju meja makan dan menyiap kan makan dan menyeduh segelas susu "


Aku terisak mengingat semua perlakuan tak manusiawi yang kualami . ku dengar juga isak tertahan dari orang - orang yang saat ini berada dalam ruangan ku , beberapa dari mereka menyebut lafadz istigfar .


" Belum juga ku selesai kan makanan ku Dia sudah keluar kamar sembari teriak - teriak marah saat tak ditemukan nya aku di dalam kamar, Dia mengira aku kabur, aku di maki diancam akan di buat cacat jika berani pergi meninggal kan rumah " Ku tarik nafas lalu ku hembus pelan,, rasa perih menguasai jiwa ku.


" Usai makan aku di seret kembali ke dalam kamar yang terkunci dengan kunci di simpan oleh nya , pagi hari nya saat aku bersiap berangkat kerja aku tak di beri nya izin dan kami terlibat pertengkaran, aku yang selama ini hanya diam mencoba melawan " Aku terdiam sesaat menyiap kan hati .


" Pagi itu setelah anak - anak berangkat sekolah kami bertengkar karena aku memaksa keluar rumah berangkat kerja ,


saat aku sedang menerima panggilan dari asisten ku dari kantor Mas Hardi merebut telefon genggam ku dengan paksa sembari menampar dan kaki nya menendang lutut ku hingga aku yang berada di anak tangga kedua bagian atas jatuh berguling guling dengan deras nya sampai aku tak sadar kan diri "


Tangis ku pecah mengingat cerita beberapa waktu lalu yang sempat terlupakan dari ingatan ku melintas begitu nyata dalam otak ku seolah baru terjadi sedetik yang lalu .


" Ya Allah.., sekejam itu kamu Har..!! " Bentak Ibu tak kuasa menahan amarah . Mata ku terbuka, aku terduduk di atas tempat tidur menatap nanar sekitar ku .


" Kyai sesuai janji ku setelah ku ungkap semua nya aku akan pergi dari raga nya, kalian tolong jaga baik - baik jiwa yang lemah ini dan kau lelaki hargai lah wanita mu yang telah melahir kan anak - anak mu " Suara ku menggema di tengah isakan isakan tertahan, mata ku liar memandang satu persatu raut wajah mereka yang berada di ruangan ini .

__ADS_1


Wajah Ibu yang bercampur antnara marah, kecewa dan iba dengan puteri nya, sorot amarah yang terpancar dari keempat adik ku terutama Erza yang ku lihat begitu terluka, Ka Aisha dan Ustadzah yang berkaca - kaca, Bunda dan Ayah yang terdiam membeku serta Suami ku yang menenggelamkan wajah raut penuh penyesalan .


Tiba - tiba kepala ku terasa berat serupa ada baban ribuan ton menindih ku kemudian tubuh ku terkulai lemas, Erza sigap meraih sebelum aku terjatuh ke bawah ranjang pasien .


__ADS_2