Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 76


__ADS_3

Erza memarkirkan mobil di samping sebelah utara bangunan markas Arrahman, beberapa meter dari jalan setapak, untuk memudah kan memantau rencana kami akan bersembunyi di dalam mobil , kaca mobil Mas Hardi yang gelap tidak akan terlihat jika di dalam ada penghuni nya.


Deg...seeerrrr !


Hati ku berdesir Mas Hardi pernah ******* bibir ku penuh nafsu saat Dia mengajak ku ke suatu tempat dengan memarkir kan mobil di pinggir jalan , ku pejam kan mata menahan perih nya kenangan manis bersama nya .


Kami turun dari mobil , Fajar menghampiri ku.


" Selamat malam Bu Emil " Sapa nya tersenyum ramah .


" Malam.., proyek berhenti jam berapa Pak Fajar , para pekerja jangan sampai kelelahan "


Tanya ku melihat para pekerja yang masih bekerja di bawah sorot lampu yang terang .


" Jam sembilan malam Bu, ini shif ke dua yang bekerja dari jam lima tadi sore , kejar target kita sudah kehilangan banyak waktu "


Jelas nya masih dengan hormat .


" Oohh..., begitu " Jawab ku singkat berjalan menuju teras markas , aku duduk di kursi panjang dari kayu .


" Ibu di dalam saja di sini udara nya sangat dingin " Saran Fajar .


" Saya ingin mencari udara segar Pak "


Balas ku tersenyum ramah .


Ku lihat Agus sedang ngobrol dengan pekerja proyek shif pertama yang sedang bersantai ,


mereka bercerita tentang penampakan wanita mengenakan baju longgar berjalan keluar masuk hutan . Seorang pekerja datang memberi segelas kopi susu panas kepada ku dengan ubi rebus yang masih mengepul kan asap tipis .


" Terimakasih .." Ucap ku tersenyum ramah .


" Sama - sama Bu, silah kan di cicipi Ubi nya Bu mumpung masih hangat " Balas nya .


Aku mengambil satu memakan nya pelan.


" Ubi nya beli di mana Pak, manis empuk "


Tanya ku berbasa - basi .


" Nggak beli Bu , kita ambil di hutan ada banyak tanaman Ubi dan singkong di pinggiran " Jelas nya .


" Loh memang gak ada pemilik nya gitu Pak, maksud ku barangkali ada yang sengaja menanam gitu "


" Saya sudah izin pemuka adat di sini, kata nya memang itu tanaman liar, sisa - sisa dari penduduk yang dulu bercocok tanam di sana terus di tinggal kan setelah panen " Balas nya.


" Ooo.. loh ko gak di tanam ulang ?! " Balas ku merasa heran.


" Ndak tahu saya nya Bu, pernah tak tanya kan seperti itu sama pemuka adat cuma di bilang sudah tradisi " Jelas nya lagi .


" Pak pernah dengar suara - suara aneh di sekitaran sini gak ?! " Tanya ku menoleh ke arah nya sesaat melihat raut wajah nya .


" Sering Bu..!, kadang seperti perempuan marah - marah , kadang juga suara teriakan lelaki yang berakhir menjadi rintihan " Jelas nya dengan suara terdengar ketakutan.

__ADS_1


" Sejak kapan terdengar suara seperti itu Pak "


Selidik ku lagi .


" Dari mulai markas di pindah ke sini sih Bu , waktu masih di tempat yang lama gak pernah ada hal aneh gitu soal nya kan deket pemukiman juga, kalau di sini kan jauh dari warga " Terang nya lagi .


Ku pandang langit di atas bertabur bintang dengan sinar rembulan yang telah memperlihat kan wajah bulat nya penuh mendekati purnama .Beberapa saat kemudian para pekerja shif kedua usai menyelesaikan pekerjaan mereka, menaruh kembali peralatan di gudang lalu berkerumun di dekat asisten fajar membubuhkan tandangan di atas lembaran kertas, kebanyakan dari mereka yang warga sekitar proyek pamit pulang menundukan kepala memberi hormat saat melintas di depan ku, ku balas dengan snyuman seramah yang ku bisa .


" Mari Bu.., kami pulang dulu !" Sapa mereka ramah .


" Iya Pak.., selamat beristirahat ,sehat selalu ya Pak biar besok bisa bekerja lagi " Balas ku.


Aku turun dari tempat duduk ku berjalan perlahan menyusuri pinggiran hutan, Agus dan Eksan yang melihat pergerakan ku lantas berjalan mendekat bediri mengapit ku berjalan di sisi kiri dan kanan ku .


" Aku mau Emila..,! bawa aku menemui Emila..! Emiiilllaaa...! Emiiilllaaaa ..! " Suara itu sayup - sayup terdengar diantara gemerisik dedaunan tertimpa angin . Spontan aku berlari mengikuti sumber suara , di ikuti oleh Eksan dan Agus .


" Cegah Mbak Emil ..Eksan !! jangan biar kan masuk ke dalam hutan saat ini ! " Teriak Erza sembari berlari kencang menuju ke arah kami.


Agus mencekal tangan ku , Eksan memeluk tubuh ku erat , mengunci pergerakan ku.


Suara itu masih terus tedengar sayup - sayup.


" Kalian dengar itu kan..?! , kalian semua mendengar suara Mas Hardi memanggil ku..!, lepas kan aku, biar kan aku mencari Mas Hardi, Dia sudah kasih petunjuk..! " Geram ku dengan suara tinggi, meronta memohon untuk di lepas kan .


Erza tiba di dekat kami dengan wajah memerah dan nafas tersengal setelah berlarian mengejar ku tadi. beralih meraih tubuh ku di dekap nya aku ke dalam dada bidang nya , setelah mampu mengatur nafas nya, Dia menatap ku lembut .


" Za ..! , kamu dengar suara itu kan..?, Mas Hardi memanggil ku..! " Tanya ku dengan sorot sendu berbalur putus asa.


" Dengar Mbak.., hampir semua di sini mendengar suara itu, bahkan para pekerja bilang sejak mereka berada di sini sering mendengar suara itu , tapi kita tidak bisa gegabah sembarang masuk ke dalam hutan apalagi malam hari seperti ini " Jelas nya dengan sorot permohonan .


" Seperti rencana awal Mbak Emil, kita akan


mengintai lebih dulu malam ini dan esok pagi kita akan melakukan tindakan, aku sudah melaporkan ke babinsa di wilayah sini, seorang TNI yang bertanggung jawab di wilayah sini sedang dalam perjalanan " Jelas Agus menatap sendu , melihat wajah pias ku.


Erza menuntun ku keluar dari jalan setapak menuju markas, dua orang berseragam TNI tiba mengendarai motor , berjabat tangan dengan Agus dan yang lain .


" Emiiillll....! Tolong aku..! Singkir kan tangan kotor mu..,!!, jangam sentuh ..! Hanya Emil yang boleh menyentuh ku..! Emiiilll...! "


lolongan suara itu kembali meggema sayup - sayup dalam desiran angin .


Kami semua terdiam mendengar nya, jiwa ku berontak, setetes kristal bening menggenang, ku pejam kan mata ku menahan nyeri hati. pedih menyelingkup membayang kan betapa putus asa nya Mas Hardi di dalam sana .


Erza menepuk punggung ku lembut .


" Sabar Mbak kita susun rencana dulu, tidak mungkin kita masuk kesana semua nya , beberapa orang saja, kalau terlalu banyak orang , nanti.yang menyekap Pak Hardi kalap lalu melakukan tindakan nekad " Jelas Agus dengan nada pelan .


ku katup kedua telapak tangan ku menutupi wajah ,.dingin menyergap tulang menusuk jiwa ku yang merana . Rembulan masih menampakan keelokan wajah nya tepat di atas kepala ku .


* Angin malam tunjukan jalan untuk ku menemui kekasih hati ku, Bulan bantu terangi langkah ku tuk mencari belahan jiwa "


Batin Perih menyayat kalbu .


Malam beranjak kian larut , kabut kian pekat mengurangi jarak pandang .

__ADS_1


" Mbak kita akan mengintai di dalam mobii, Mbak Emil istirahat dalam ruangan saja ya , nanti kalau kita melihat pergerakan saya suruh Eksan untuk mengirim pesan lewat whats up ke Mbak Emil ," Jelas Erza .


Ku geleng kan kepalla pelan, aku tak mau tidur di dalam mobil, aku takut mereka akan meinggal kan ku dalam markas, keinginan ku untuk masuk ke dalam hutan menggebu - gebu, aku yakin suami ku di sekap di dalam sana oleh entah siapa , dengan tujuan apa aku tak mengerti .


" Aku mau ikut mengintsi dalam mobi saja, di dalam pun aku takkan bisa tenang "


Balas ku tegas .


" Tapi Mbak di dalam sini lelaki semua "


Jelas Erza lagi .


" memang kenapa..?!, ada kamu dan Eksan adik ku, dan lagi aku bisa duduk di depan "


Keras ku lagi .


Dan Akhir nya tepat pukul sebelas malam kami mssuk ke dalam.mobil , Eksan den seorang TNI duduk di jok paling belakang .


Seluruh pekerja di minta untuk masuk ke


mes tidak di perboleh kan untuk keluar .


Kurebah kan tubuh ku ke sandaran kursi, menatap lurus ke arah jalan setapak .


Detik demi detik berlalu, belum terlihat hal yang mencuriga kan, ku lihat jam di ponsel sudah pukul dua dini hari . kantuk menyergap ku lihat di belakang hanya seorang TNI di sebelah Eksan yang terjaga memain kan game online di ponsel nya. Erza pun mulai terdengar dengkur pelan nya .


Sedetik kemudian saat ku kerjap kan kantung mata yang mulai terasa berat , aku melihat seseorang keluar dari dapur markas, berjalan pelan mengendap - endap dengan baju longgar persis seperti yang ada dalam mimipi ku sore tadi saat terlelap dalam mobil .


" Za..!, Za .. , bangun.., lihat itu ! " Ku guncang tubuh Erza membangunkan nya sembari berbisik pelan. Erza memincing kan mata nya , melihat ke arah yang aku tunjuk, TNI yang duduk di sebelah Eksan menghentikan kegiatan nya lalu membangun kan teman nya, Agus dan Eksan pun ikut membuka mata .


Orang berbaju longgar itu yang tak kami ketahui jenis kelamin nya, masuk ke dalam hutan melewati jalan setapak membawa sesuatu yang di jinjing nya dengan tangan kanan nya .


Kami tururn dari mobil dengan sangat hati - hati, membuka dan menutup pintu mobil sangat pelan agar tidak mengeluar kan suara.


Berjalan mengendap - endap masuk ke dalam hutan beriringan , langkah kami seakan mengambang tanpa mengeluar kan suara .


Di depan sosok itu terus berjalan tanpa di sadari telah diikuti dari belakang , terlihat sangat menikmati langkah nya yamg diiringi suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak oleh kaki nya .


Jalan naik sedikit ke atas lalu berkelok ke kiri, saat Dia berbelok ke kiri kami segera bersembunyi di balik pohon besar , tak.berapa lama ku lihat rumah panggung persis seperti yang ada dalam mimpu ku .


Bangunan rumah tua dari kayu dengan atap dari daun rumbia dan penenrangan lampu ceplik dengan bahan bakar minyak goreng terpasang satu di depan teras. .


Dia masuk ke dalam .


Kreeeekkkeetttt...! , terdengar derit suara pintu Dia menutup dan mengunci nya dari dalam .


-----------------------------------


Terimakasih readers yang masih setia hingga episode ini, maaf jika alut cerita tidak sesuai. harapan readers


Jangan Lupa Like Vote dan ponit nya


jadikan karya ku bacaan favorit readers dengan mengklik tombol favorit ..

__ADS_1


Love you all😘😍😍


__ADS_2