
Bulan bersinar terang memenuhi pelataran lapang dimana di tengah nya terdapat bangunan rumah panggung terbuat dari kayu yang nampak telah menua, aku fikir bangunan ini mungkin telah ada bahkan dari sebelum aku lahir . Kami merapat ke dinding kayu , ku tempel kan telinga untuk mencari dengar suara yang ada di dalam nya, sedang yang lain memutari rumah mencari celah untuk bisa melihat ke dalam lebih bagus lagi jika ada cara untuk menerobos masuk .
" Kamu sudah bangun bang ?! , aku mau berkemas kita akan pergi dari sini nanti sebelum subuh " Suara seorang wanita dari
dalam rumah .
" Kapan kita akan pergi dari dalam hutan sini ?! " Tanya seorang lelaki bersuara serak .
" Segera setelah kita berkemas, benar yang di bilang si akang, keadaan sudah tak baik untuk kita tetap di sini , proyek sudah kian mendekat ke arah depan hutan dan orang proyek membangun markas tepat di sebelah jalan masuk kemari, sementara A' Hardi terus berteriak memanggil nama isteri nya, suara nya bisa membahaya kan kita " Jelas wanita itu, ku dengar Dia mulai memasukan barang ke dalam suatu tempat .
" Baik..! , buatkan aku kopi dulu agar kantuk ku menghilang " Suara serak lelaki di dalam .
" Ya , sebentar aku tengok Dia dulu " Balas nya perempuan itu, ku dengar suara langkah kaki terseret mendekat ke arah ku .
" Heemm..., kenapa kamu mesti terobsesi dengan lelaki manja seperti nya, di luar sana banyak lelaki tampan yang lebih kaya dari nya, kau tahu betapa menjijikan Dia menunjukan cinta ke isteri nya yang molek bagai boneka india itu " Geram lelaki itu kesal.
" Haaa..! kau sendiri sedari dulu menyukai isteri nya tapi tak berani merebut bahkan saat Emil itu menjauhi suami nya , kau hanya bisa memandangi dari jauh saja.., pengecut !! "
Hardik perempuan itu sembari membanting barang ke arah dinding.
Deg..!!, aku terkesiap jantung ku mau copot rasa nya, hampir aku berteriak untung lah Eksan sigap membekap mulut ku . Eksan memberi isyarat aku untuk berdiri di sebongkah kayu balok yang di ambil nya dari sudut rumah.
Kuikuti apa yang di suruh Eksan , aku naik ke balok kayu ternyata dengan berdiri di atas balok aku bisa melihat ke dalam dari celah dinding , penerangan di dalam remang - remang dari lampu emergenci dengan daya dari aki kecil .
Mata ku melotot melihat Mas Hardi terbaring dengan kaki yang nampak terluka, wajah nya terlihat sangat kusut, ada beberapa lebam terlihat di sekujur tubuh nya yang terbalut kaos lengan pendek dengan celana di atas lutut, tapi itu buka pakaian milik nya, aku mengenali semua baju - baju suami ku .
" A' Hardi..?!, bangun A'a ...?! sebentar lagi kita akan pindah, aku sudah siap kan orang untuk kita pindah ke luar jawa "
Suara perempuan itu manja merayu .
Mas Hardi memincing kan mata , melihat ke arah perempuan itu dengan sorot penuh amarah .
" Singkir kan tangan kotor mu itu dari tubuh ku, jijik aku melihat mu, pergi..! , hanya Emil saja yang boleh menyentuh ku "
Hardik Mas Hardi dengan suara kasar nya .
" Haaa..! Sombong sekali kamu , sekarang kau boleh bicara seperti itu, lihat nanti kalau kau merasakan kenikmatan tubuh ini, ku jamin kau akan melupakan si wanita sok alim itu ! "
Wanita itu meraba milik suami ku hingga nafas ku memburu kesal . Dia lalu menanggal kan seluruh pakaian nya hingga tanpa sehelai benang pun , lalu menciumi junior suami ku.
Aku jijik melihat pemandangan di dalam, marah dan kesal bercampur jadi satu, rasa nya tak ingin melihat nya namun tubuh ini terpaku tak mau di gerakan . Ku lihat junior tak bergera sedikit pun, melemah dan sesungging senyum merebak tanpa ku sadari.
__ADS_1
" Silahkan kau main kan sepuas mu kau kira bisa membangun kan milik ku..? , tidak akan..!! hanya Emil yang bisa melakukan nya "
Seringai Mas Hardi mengejek .Wanita itu mengabai kan dan terus menggerayangi setiap inci tubuh Mas Hardi sampai Dia terpuas kan sendiri .
* Wanita gila !! * Kesal ku dalam hati, bisa - bisa nya Dia memperkosa suami orang dan terpuas kan tanpa respon dari si lelaki .
Wanita itu kembali mengenakan baju nya, dan beranjak pergi meninggal kan Mas Hardi.
Airmata Mas Hardi menetes .
" Emiill... kamu dimana..?! , kenapa kau tidak mendengar jeritan ku , Emiilll...! Emiiill...! "
Jerit Mas Hardi membahana .
" Diam kamu ! jangan berharap Emil akan datang kemari, Dia sudah melupakan mu,
kau sudah di nyatakan mati oleh Team Sar dan aparat hukum !, keluarga mu sudah ikhlas dengan kehilangan mu, begitu juga Emil mu ! " Geram wanita itu yang kembali masuk saat mendengar rintihan Mas Hardi .
" Emiilll ! aku mau Emil ! , kembalikan aku ke Emil..! , kau boleh ambil seluruh harta ku, saham dan semua aset ! kembalikan aku ke keluarga ku, kekasih dan anak - anak ku " Suara Mas Hardi merintih memohon.
" Bodoh..!! Kau fikir Emil akan mau menerima mu setelah kau jatuh miskin dengan tubuh mu yang telah cacat..?! Sedang kau kaya pun Dia pergi meninggal kan mu ! " Seringai wanita itu penuh ejekan .
" Bodoh kamu di hadapan mu ada wanita yang mau menerima mu dengan segala kekurangan mu malah kau pilih wanita tak jelas mau nya apa itu..! Sok Alim..! "
" Jangan kau hina kekasih ku !, Emil bukan wanita seperti yang kau katakan, Dia tidak hina seperti mu..!, Emil ku wanita yang sangat menjaga martabat suami nya ! " Bela Mas Hardi kian kesal , mengangkat tubuh nya duduk di atas dipan .
Ku lihat rembulan tak lagi memancar kan sinar nya berjalan pelan tuk kembali ke dalam peraduan nya . Berganti mentari berjalan malu - malu memperlihat kan wajah oranye .
Menyapa penduduk bumi yang mulai terbangun dari mimpi - mimpi indah nya .
Suara kumandang adzan subuh terdengar sayup - sayup dari pengeras suara di Masjid nun jauh diantara pemukiman warga .
" Cepat kita berkemas sebelum orang - orang proyek itu terbangun kita harus sudah pergi dari tempat ini ! " Suara wanita itu keras .
Dubraagggg !!!
Pintu di buka paksa oleh Agus, dua orang TNI dan Erza, Agus mengarah kan pistol ke lelaki yang terbangun kaget dari tempat tidur nya .
" Jangan bergerak !, Diam di tempat ..!! tempat ini sudah terkepung !! " Gertak Agus .
Aku turun dari tempat kayu balok tempat ku berdiri berjalan masuk ke dalam dengan Eksan di samping ku, sayup - sayup ku.dengar suara sirine meraung - raung nun di kejauhan, seperti nya pak polisi yang menemani ku mengintai telah menghubungi kawnan nya plus pihak rumah sakit .
__ADS_1
Di dalam Pak Wira salah satu TNI yang ikut kami sudah memborgol tangan lelaki itu .
Daammm !!! , aku di buat terkejut lelaki itu Muamar Zakki Al kaff , kakak sepupu ku , keponakan Ayah . Dia menatap ku sendu seperti biasa nya tiap kali kami bertemu dalam acara keluarga . Erza memaki saudara nya itu yang telah membuat ku menderita
Agus Masih memegang pistol dengam mode siaga, aku melangkah masuk ke dalam ruang tengah, ku lihat wanita itu pun telah di lumpuh kan oleh Pak Santo TNI yang satu lagi, tadi saat aku melihat nya dari luar rumah, aku tak dapat melihat wajah nya dengan jelas .
Ku tatap wanita menjijikan yang dengan tidak sopan nya menyentuh tubuh suami ku, sekilas aku seperti pernah melihat wanita ini, tapi dimana..?, .entah dimana aku tak terlalu ambil pusing , ku langkah kan kaki masuk menyusuri dua kamar di bagian kanan.
Deeeggg...!! , jantung ku berdebar kencang,.. Mas Hardi dengan tertatih berusaha menurun badan nya dari tempat tidur mendengar keributan dari luar kamar nya .
" Mas...! " Aku menghambur meraih tubuh nya . Mas Hardi memeluk ku erat mencium ujung rambut ku begitu dalam, tetesan air
mata nya membasahi jilbab ku.
" Maafin Mamah terlambat mengetahui keberadaan mu " Ucap ku terisak menatap wajah nya yang telah di penuhi bulu - bulu halus. Mas Hardi menggelengkan kepala pelan tersenyum begitu bahagia.
" Terimakasih Mamah sudah mencari Papah, maaf kan Papah yang lemah ini tak pandai menjaga diri, tak mampu melarikan diri "
Ucap nya dalam isak tertahan.
Suara derap langkah kaki terdengar ramai dari luar , dua orang berseragam polisi dan dua orang petugas medis masuk, mereka meraih Mas Hardi , meminta Mas Hardi naik ke atas tandu, lalu membawa keluar rumah , aku berjalan di samping menggegam tangan nya yang tak mau lepas dari ku.
Di depan jalan setapak mobil ambulance sudah terpakir , Mas Hardi di bawa masuk , aku ikut duduk di sebelah sebelum nya aku buka jaket tebal dan syal ku di serahkan ke Erza untuk di bawa dalam mobii Mas Hardi .. Kerumunan warga memadati area jalan setapak, petugas berusaha menghalau mereka untuk membubar kan diri.
Sepupu ku Zaki dengan Sukma wanita yang pernah ku temudi di rumah sakit saat aku di rawat dulu telah di bawa pergi menggunakan mobil polisi. Sukma sempat memaki ku dengan kalimat kotor , mengatai ku dengan kalimat tak pantas sampai Agus tersulut emosi menodong kan pistol ke atas kening nya yang segera diamankan oleh rekan sesama polisi .
Fajar meminta maaf berulangkali karena merasa lalai sering mendapat laporan suara aneh dari dalam hutan bahkan pernah mendengar sendiri tapi tak peduli karena fokus nya hanya pada kerjar target proyek . Dan karena Dia lebih menghormati pemuka adat untuk tidak menghirau kan suara - suara aneh dari dalam hutan pun untuk tidak memasuki kawasan hutan terlarang hingg ke dalam .
Ambulance meraung di tengah jalanan yang masih lengang berselimut kabut pagi hari itu, Sesampai di rumah sakit Ayah dan Bunda sudah lebih dulu ada di sana menunggu IGD .
" Hardi...! , Alhamdulillah kamu masih hidup Nak..! " Tangis Bunda pecah memeluk putera satu - satu nya, lalu berganti memeluk ku.
" Terimakasih Nak Emil , kamu benar - benar isteri mulia tak mempercayai kematian suami sampai rela bertaruh nyawa tuk mencari nya "
Suara Bunda serak diantara isakan nya . Aku membalas pujian Ibu mertua ku dengan seulas senyum tulus
------------------------------
Hai Readers terimakasih untuk luang waktu dan kesetiaan membaca karya ku.
Jangan lupa tinggal kan kesan dengan Like Vote Point dan jadikan bacaan favorit untuk mendapat up date setiap hari
__ADS_1
Love U allππ