Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 120


__ADS_3

Antonio menatap sendu kekasih hati nya yang terbaring lemah tanpa daya, Andai bisa ingin rasa nya Dia memeluk nya , memberi semangat dan harapan pada nya agar mampu membuka kembali mata nya yang terpejam .


* Maaf kan aku cantik , seharus nya aku berusaha lebih keras menjaga mu , aku lebih tahu bahaya yang mengintai mu selama kau masih berada dalam kandang Singa Prasojo , tapi aku begitu tak berdaya melindungi mu *


Bathin Antonio perih , memejam kan mata , menarik nafas lalu menghembuskan nya kasar .


Hardi terdiam di Sofa masih dalam ekspresi yang tak dapat dimengerti . Mata nya masih memerah tanda amarah nya belum lagi mereda , giginya seringkali terdengar bergemeretak . Ibu nya Emil sendiri memilih pasrah dengan terus menyemat kan do'a dan pengharapan melalui dzikir dan solawat yang terucap pelan dari mulut nya .


Tok ! Tok ! Tok !


Pintu di ketuk , Kapten Andres masuk bersama Eksan yang langsung menghambur ke arah Ibu dan Kaka nya yang terbaring, mata nya berkaca - kaca demi melihat kondisi kaka nya .


" Bu , apa yang terjadi dengan Ka Emil ? , kenapa jadi begini , kenapa Ka Emil tak pernah bisa hidup damai dan bahagia "


Ucap Eksan dengan nada sendu berbaur pilu .


Bu Narti menggelengkan kepala lemah , memeluk tubuh putera nya yang berdiri di samping nya .


" Tolong bantu selamat kan Kakak mu Nak !


Setetes darah mu sangat berarti untuk nya "


Ucap Ibu dalam nada pilu dan suara serak .


" Dok tak bisa kah dua orang saja yang menjadi pendonor..?, adik ipar ku dan wanita blaster tadi saja " Pinta Hardi setengah merengek .


" Tidak akan cukup Pak Hardi , terkecuali ada simpanan darah di bank darah atau PMI , sayang nya tak pernah ada simpanan darah dalam resus negatif apalagi golongan AB "


Balas Dokter mencoba memberi pengertian .


" Har..! Berterimakasih lah masih ada yang perduli dengan keadaan isteri mu " Pinta Pak Handoko lembut dengan tatapan sendu .


" Tapi aku tak rela Ayah ! " Dengus nya kesal .


" Andai ada orang lain yang bisa mengganti kan Dia berapa pun permintaan nya akan aku bayar hari ini juga " Ucap Hardi dengan jumawa .


" Andai Dia meminta nyawa mu , akan kah kau berikan juga ? " Tanya Antonio mengejut kan seisi di dalam ruangan .


" Apa yang kau katakan !! Berani sekali kau mengatakan seperti itu di sini " Hardik Hardi dalam nada tinggi , berdiri dari duduk nya dengan tatapan tajam menghujam .


" Kau mengancam ku ?!! " Ucap Hardi dengan emosi tak lagi terkendali .


" Aku tidak mengancam mu ! , aku tadi bilang andai ! Karena di luar sana ada satu yang bergolongan darah sama dengan kami dan sayang nya Dia sangat ingin melihat mu terkapar tak berdaya di hadapan nya " Balas Antonio dingin tanpa ekspresi .


Pak Handoko dan Hardi terkesiap mendengar nya, jantung nya berdebar begitu cepat , rasa cemas menyelimuti mereka .


" Darimana kau mengetahui nya ?! , apa kalian berkomplot ?! " Tanya Pak Handoko mencoba menahan emosi dan getar kemarahan dalam hati nya .


" Dulu ya ! , aku Dia bayar untuk memusnah kan klan kalian tapi sejak aku bertemu wanita yang menjadi tumbal atas keculasan dan kekerasan kalian dalam dalam dunia bisnis , aku memutus kan untuk melepas kan diri dari nya bahkan aku harus merelakan satu tanah kawasan ku menjadi kompensasi atas keputusan ku , beruntung kakek tidak terlalu mempermasalah kan , tanah nya seluas dua belas hektar berupa kebun kelapa sawit hilang atas kebodohan ku , cucu nya "


Jelas Antonio panjang lebar .


Pak Handoko terdiam, Dia memejam kan mata nya , menarik nafas dan menghembuskan pelan.

__ADS_1


" Aku akan ganti kerugian mu , terimakasih atas kebaikan mu pada menantu ku , silah kan kau pilih kebun kelapa sawit milik Prasojo, mana. yang akan kau minta, nanti aku hubungi badan hukum kami untuk proses pelimpahan " Jelas Tuan Handoko pelan masih memejam kan mata .


" Ayah ! Untuk apa kau lakukan semua itu , Dia pantas menerima nya , itu belum sebanding dengan kejahatan nya selama ini melenyap kan nyawa manusia tanpa rasa berdosa "


Ketus Hardi penuh amarah .


" Hei ! Kau fikir aku akan terima tawaran Tuan Handoko terhormat ?! , aku tak sehina itu !


Merendah kan harga diri hanya untuk sebidang tanah ! Meski aku tak semakmur Prasojo tapi aku masih mampu menghidupi diri sendiri tanpa pemberian orang lain "


Dengus Antonio kesal dalam nada tersinggung .


" Maaf aku tak bermaksud merendah kan mu, anggap saja hadiah untuk ketulusan mu melindungi nyawa menantu tempo hari "


Balas Tuan Handoko ramah .


" Suadah lah , aku tak terlalu memikir kan dengan yang lalu, lebih baik kita pikir kan apa yang sedang terjadi saat ini , bukan nya semakin cepat melakukan Hemodialisis dan transfusi darah akan semakin baik , sebelum racun menyebar lebih dalam ke organ tubuh, kalau kita terlalu memikir kan ego dan terus berdebat kapan akan cepat selesai, waktu berjalan maju Bung , dan racun dalam darah terus bergerak menyebar ke seluruh organ tubuh nya " Ucap Antonio dalam nada cemas .


Pak Handoko tercengang mendengar ucapan Antonio , betapa Dia terlihat lebih tulus menyayangi Emila di banding Hardi anak nya .


Kenyataan itu membuat dada nya terasa sesak .


" Tuan boleh kah saya membawa saudara Antonio ke laboratorium untuk di periksa kesehatan dan kondisi darah nya ? " Tanya manager berhati - hati .


" Ya bawalah segera , aku ingin kurang dari satu jam Hemodialisis segera di jalankan "


Perintah Tuan Handoko tegas .


" Baik Tuan ! Akan saya kerja kan " Balas sang Manager dan Dokter bersamaan , lalu mereka keluar ruangan diikuti oleh Eksan dan Antonio menuju ruang laboratorium .


Usai mendonor kan darah Helena pamit pulang karena besok sudah hari raya Iedul Fitri , suami nya harus berkumpul dengan keluarga, begitu pun dengan Antonio memilih pulang ke tanah Gayo Aceh Nanggroe Darusallam untuk berkumpul dengan Kakek nya , Tengku Syeh Abdallah Abdurrahman dan kedua orang tua nya yang sengaja pulang dari Netherland untuk merayakan Hari Raya lebaran bersama keluarga.


Sejam yang lalu proses Hemodialisis dan transfusi darah serta terapi Khelasi sudah di laksanakan dengan sukses, tinggal menunggu keajaiban Tuhan atas diri Emil .


Ibu sedikit pun tak mau beranjak dari sisi puteri nya , begitu pun dengan Hardi , sementara Pak Handoko sudah lebih dulu pulang untuk persiapan solat Ied bersama keluarga dan pekerja rumah nya yang memlilih tetap tinggal karena Pemberlakuan sosial dicstansing memaksa mereka tak bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman .


Sebuah keajaiban terjadi Emil terbangun tepat saat kumandang takbir menyeru kebedaran nama Allah Subhanallahu Wata'alla berkumandang sebagai bentuk pemberitahuan hari kemenangan untuk umat muslim telah tiba . Ibu terus mengucap takbir dan tahmid memuji kebesaran Allah atas kuasa nya membangun kan puteri nya dari tidur panjang .


" Bun Emil dimana ?, ko kamar ku berubah warna putih semua ? " Emil mengedar kan pandangan ke setiap sudut ruang dengan raut kebingungan dan penuh tanya.


" Mas Hardi nya sudah berangkat kantor kah Bu ? " Tanya Emil lagi .


Ibu tersenyum manis membelai rambut sang puteri penuh kasih.


" Tidak , sekarang Hari Raya telah tiba , Hardi sedang pulang sebentar ada urusan yang harus dikerjakan, kamu sudah lima hari terbaring di sini dalam ruang VVIP rumah sakit di bawah naungan Yayasan Prasojo ,"


Jelas Ibu pelan .


" Aku kenapa Bu , kenapa lama sekali dalam ruang ini aku gak berasa ? " Selidik Emil .


" Kamu keracunan makanan Nak , ada arsenik yang sengaja di campur kan pada asinan bogor yang kamu makan. " Jelas Ibu pelan .


Emil menerawang mengingat apa yang terjadi malam itu, selepas makan asinan Hardi mengajak nya masuk ke dalam kamar lalu Dia meminta jatah malam itu .

__ADS_1


" Boleh ya Mah ! Papah pelan ko, please kasihan junior pengen nyelup ,masa puasa terus sih ? " Rengek Hardi dengan gaya manja.


" Hem..., pelan ya Pah , kasihan adek dalam perut , nanti kesakitan dan lagi mereka belum kuat banget berada dalam sini ," Balas Emil mengelus perut nya . Hardi mengangguk tersenyum bahagia , mencium perut Emil lembut .


" Adek - adek Papah yang manis , Papah mau nengokin jangan rewel ya, papah kasih pupuk biar cepat berkembang " Seloroh Mas Hardi bergaya jenaka hingga Emil di buat tersenyum oleh tingkah nya .


" Iya Pah tapi pelan ya , guncang nya nanti mamah adek mual kalau terlalu keras " Jawab Emil dengan senyum manja .


Hardi menatap lembut netra mata Emil , mencium kening ,hidung , pipi lalu berlanjut ******* bibir Emil lembut dalam penuh perasaan.


Dan malam itu Hard menikmati tubuh Emil berulangkali , meski seringkali Emil harus menahan mual yang tertahan , hingga mereka kelelahan dan tertidur bersama saling mendekap erat .


Beberapa saat kemudian Emil merasakan mual.dan pening bersamaan yang sangat hebat menguasai diri nya , dengan terhuyung Dia berlari ke kamar mandi, memuntah kan seluruh isi dalam perut nya hingga tubuh nya terkapar lemas tanpa daya , kemudian yang Dia ingat hanya tarikan lembut seseorang membawa nya jauh dari raga nya .


Yah.. Emil ingat Dia sempat melihat raga nya yang tersungkur di atas lantai kamar mandi, lalu suara nyaring Hardi memanggil nama nya sesaat kemudian sukma nya telah terbang melayang ke suatu dimensi yang tak pernah Dia mengerti entah dimana .


--------------------------------------


Nun jauh di sebrang sepasang netra indah menatap lekat ke arah layar kaca pipih di hadapan nya , seulas senyum sumringah tergambar di wajah tampan nya .


" Selamat Hari Raya cantik ku, selamat datang kembali ke dunia fana , terimakasih sayang aku bahagia ada darah ku dalam bagian tubuh mu , Terimakasih Tuhan , tubuh ku tak bisa menyatu dengan nya , cukup darah kami yang menjadi satu " Ucap nya lirih hampir tak terdengar .


" Nio kau sudah siap untuk mengucap dua kalimat syahadat ?! " Tepuk lembut Tengku Abdallah menyadar kan cucu nya dari lamunan panjang dalam tatapan layar kaca .


Antonio mengangguk mantap, beranjak berdiri memeluk kakek nya .


" Dia sudah siuman Datuk ! " Ucap nya lirih penuh kebahagiaan .


" Alhamdullillah...Subhanallah " Ucap Datuk ikut bahagia .


* Ya Allah beri cucu ku wanita seperti nya untuk membimbing hidup nya * Do'a Tengku dalam hati dengan takzim .


" Abang tinggal dulu cantik , Do'a kan abang lancar mengucap syahadat dan istiqomah memeluk agama mu " Ucap nya pelan dengan tatapan terus tertuju pada video Emil yang terlihat sedang menatap nanar ke atas langit kamar dalam ruang rawat nya.


Seakan mereka berada dekat dalam ruang yang sama , Seulas senyum indah terpancar di wajah Emil dengan tatapan lekat ke arah kamera yang tak ada satu pun mengetahui keberadaan nya kecuali Antonio .


------------------------------


**Haaaaaa.... Author ko ikutan halu reders


mau banget deh jadi makmum nya bang Nio🤣🤣🤣🤣


kasih like dan vote say...


please share ya ..


kasih ⭐5


iiihh... Author maruk ya..


sesekali boleh dunk😂🤣


Terimaksih semua nya

__ADS_1


Love you all


Please follow my IG Filataapril**


__ADS_2