Maaf Terlambat Mencintai Mu

Maaf Terlambat Mencintai Mu
BAB 56


__ADS_3

Tahu kah kau sepelan apa pun sebuah cacian yang menghujam menusuk hati akan sulit tuk terhapus dari ingatan dan selemah apa pun sebuah perlakuan kasar akan membawa trauma bagi yang mengalami nya .


Sayang nya melepas trauma tak semudah membalikan telapak tangan bahkan semakin berusaha semakin kuat membelenggu ingatan. Begitu lah yang sedang terjadi dalam kehidupan ku saat ini, bagaimana aku sering terbangun di malam hari dengan keringat mengucur deras saat peristiwa yang ingin ku lupakan membuka memori merah ku .


_______________________________________


" Sebelum nya saya minta maaf dengan Anda berdua , saya tak ingin membawa masalah pribadi ke kantor, tapi saya juga tidak ingin Anda berdua salah faham dengan apa yang terlihat di rumah makan tadi " Ku tarik nafas lalu ku hembus kan pelan , sembari berfikir mencari kata yang tepat untuk menjelas kan kepada mereka berdua.


" Maaf bu .., kami janji akan menyimpan apa yang kami lihat tadi hanya sebatas tahu saja, kami tidak akan memberitahu kepada yang lain " Ucap Arif dengan nada pelan dan berhati - hati .


" Eee.., iya bu saya juga walau sebenar nya sudah menyimpan tanya dari pertemuan pertama dengan Pak Hardi di resto tempo hari, tapi saya juga tidak akan menyebar gosip sungguh " Ucap Lukman dengan sorot tulus , mengangkat dua jari nya .


" Heemmm.., terlanjur basah kalian sudah melihat jadi apa salah nya saya terang kan,


Pak Hardiman Adi Prasojo yang bersama saya tadi pagi itu klien perusahaan kita yang sudah menjalin kerjasama dari awal keluarga Prosojo mengembang kan kerajaan bisnis, mungkin Anda sudah dengar nama besar kerajaan bisnis Prasojo, dan Beliau itu Ayah dari anak - anak ku " Aku berhenti sejenak mengatur nafas dengan melihat ekspresi terkejut mereka.


" Pak Hardi juga salah satu alasan saya menerima promosi jabatan di daerah pegungungan yang jauh dari kampung halaman saya.., tapi ternyata Tuhan tak mengizin kan saya menjauh dari nya..,


di luar sepengetahuan saya , Pt Arrahman Hidaya ternyata anak perusahaan yang di dirikan sendiri oleh Pak Hardi atas nama putera kami dengan saya sebagai wali dikarena kan putera saya masih di bawah, umur dan saya juga baru mengetahui pada saat makan siang di resto tempo hari " Jelas ku panjang lebar .


" Apa Bu Emil.. , maaf dalam proses cerai dengan Pak Hardi..?, saya lihat Pak Hardi seperti nya sangat perhatian dengan Ibu "


Tanya Lukman dengan penuh kehati - hatian.


" Ya.., tapi pengadilan agama belum mengabul kan permohonan gugatan saya "


Balas ku memejam kan mata menahan perih.


" Ehmm.., maaf saya terbawa perasaan, saya mohon simpan ini sebagai rahasia untuk Anda berdua " Ku arah kan pandangan ke mereka dengan sorot memohon .


" In Syaa Allah Bu Emil saya akan jaga rahasia ini, saya turut prihatin , semoga Bu Emil mampu melalui nya dan mendapat jalan keluar terbaik " Balas Lukman .


" Ya Bu Emil pasti mampu menjalani semua saya malah berharap Ibu tetap bersama Pak Hardi.., Maaf .." Ucap Arif sembari menaruh kedua telapak tangan di dada. Ku ulas senyum ramah membalas do'a mereka.


" Terima kasih atas perhatian nya.., cukup di sini saja.., silah kan Pak Lukman dan Pak Arif beraktifitas lagi " Ku ulur kan tangan menjabat kedua nya bergantian, lalu mereka pamit dan beranjak keluar dari ruangan ku.


Ku rebah kan tubuh di sandaran kursi meja kerja ku , memutar kursi menghadap jendela, menatap langit biru nan cerah dengan awan seputih kapas berarak bagai hiasan gantung di atas langit .


* Tuhan yang bersemayam di atas Arsyi.. bilakah semua kan berlalu dalam hidup ku..?, adakah hari bahagia kan ku jelang bersama nya..?, masih kah cinta akan kembali hadir merekat kan dua hati yang berbeda..?! *


Tanya ku dalam hati pada sang dalang pemilik skenario kehidupan . Sebutir kristal bening menetes dan segera ku usap dengan Ibu jari ku .


Ku tenggelam kan diri ku dengan tumpukan berkas berkas di atas meja , hingga tak terasa waktu Isoma telah tiba, sebuah notifikasi WA ku terima dari Mas Hardi .

__ADS_1


Tiiinnnggg !!!


* Mah aku tunggu di lobi bawah, kita makan siang bareng, ada tempat yang ingin Papah tunjukan ke Mamah * Tulis nya .


* Maaf aku gak bisa banyak kerjaan yang harus aku selesai kan hari ini, para nasabah sudah menunggu nya * Balas ku mencari alasan sebenar nya aku hanya malas saja bertemu Dia siang ini dan aku juga menghindari gosip yang mungkin akan berkembang jika kami terlalu sering bersama.


* Sebentar aja Mah, gak lebih dari sejam Papah anter lagi ke tempat Mamah * Pinta nya memaksa .


* Maaf Mas lain kali aja makan siang bareng nya aku sedang kejar target * Balas ku memohon .


Ku tunggu tak ada jawaban, aku kembali tenggelam dalam kesibukan ku hingga pintu terketuk lalu Nadia masuk .


" Maaf Bu waktu istirahat , Ibu mau makan di luar atau saya pesan kan makanan ?! " Tanya Nadia pelan .


" Gak usah.., Mbak Nadia istirahat saja, saya mau nyelesein ini dulu " Balas ku ramah .


" Baik Bu saya Isoma duluan.. Mari Bu *


Pamit Nadia hormat ku balas dengan senyum tulus .


Kantuk memyerang dan mata ku tak dapat di ajak kompromi., mungkin karena. semalam aku tidur dini hari jadi saat siang begini aku merasa kan kantuk, ku rebah kan kepala di sandaran kursi , kaki ku selonjor kan di palang meja bagian bawah dan aku mulai terbuai mimpi .


Entah berapa lama aku terlelap, dan aku terbangun karena bibir ku yang terasa hangat dan basah, ku pincing kan mata dan ku lihat Mas Hardi duduk dengan santai nya di sudut meja ku dengan sorot penuh hasrat .


" Sedang apa kamu di sini Mas ..?! " Tanya ku dengan menggeliat kan badan .


" Gombal basaahh..! " Balas ku ketus. Ku raba bibir ku yang masih terasa basah .


" Mau lagi Mah..? " Mas Hardi menyeringai .


" Kamu..., kalau ada yang lihat gimana..?,.ini kantor ku Mas bukan kantor mu yang bisa bebas buat lakuin apa aja , kalau aku dapat catatan merah gimana..? ! " Ku pelotot kan mata kesal dengan tingkah kekanakan nya.


" Habis gemes lihat wajah Mamah dalam keadaan tertidur seperti itu..polos banget , lihat ini Mah.." Mas Hardi meraih tangan kanan ku di arah kan ke atas resleting celana panjang nya yang menonjol .


" Mas iiiihhhh..., apa apa an sih kamu.. di bilang nanti ada yang lihat juga " Ku tekan Nada ku serendah mungkin .


Aku berdiri dari tempat duduk ku menuju sofa Mas Hardi mengikuti dari belakang, di meja depan sofa sudah ada Nasi dus yang Mas Hardi bawa .


" Makan dulu Mah.., jangan sampai telat makan nanti asam lambung naik lagi " Mas Hardi membuka segel Nasi kotak dan siap menyuapi ku lalu ku tepis halus .


" Aku makan sendiri aja Mas.., jangan bikin sensasi " Pinta ku tulus.


" Oke.., Mah sore ini ikut aku Ya ..., ada yang mau aku tunjukan ke Mamah " Pinta nya dengan sorot memaksa.

__ADS_1


" Heeemmm " Jawab ku singkat.


" Mobil Mamah tinggal di kantor aja, nanti Papah jemput kita pergi pake mobil ku aja "


Mas Hardi menatap ku penuh harap .


" Mah..., Please sekali ini aja " Desak nya .


" Oke.. " Jawab ku singkat .


Usai makan .


" Aku mau dzuhur an dulu Mas, kamu gak ikut solat sekalian ? " Ajak ku menatap nya penuh harap .


" Mau sih Mah, tapi aku malu jadi imam solat kamu " Balas nya bimbang.


" Ko malu jadi imam solat. isteri sendiri ?! "


Balas ku heran .


" Habis bacaan ku gak sefaseh Mamah " Jelas nya malu - malu .


" Solat dzuhur ko Mas , gak ada surat yang harus di perkeras dan perjelas bacaan nya "


Terang ku memberi nya semangat .


" Tapi kalau aku ada yang salah Mamah jangan salahin ya " Mas hardi menatap ku ragu.


" Mas dalam solat itu kalau imam ada yang salah , makmum wajib mengingat kan dengan menyebut Subhanallah dan tugas imam untuk mengingat kesalahan nya dan memperbaiki , jangan tersinggung jika di ingat kan oleh makmum " Jelas ku panjang lebar .


" Ya udah tapi Mamah bener gak papa, aku jadi imam solat Mamah " Mas Hardi menatap ku masih tak percaya diri. Ku anggukan kepala dengan tersenyum tulus .


Aku keluar ruangan bersama Mas Hardi, di depan Nadia menatap kami dengan mata membulat hanya sesaat setelah tersadar Dia mengangguk kan kepala memberi hormat .


Lukman mendekat ke arah Nadia seperti nya Dia ingin menjelas kan ke Nadia hubungan kami .


Sesampai di mushola kantor beberapa karyawan yang berpapasan dengan kami pun bersikap hampir serupa dengan Nadia, ku abai kan pandangan penuh telisik dari mereka. Usai berwudhu , aku kembali meyakin kan Mas Hardi untuk tetap percaya diri menjadi imam dalam solat ku .


**"**************************


Hai reader's terimakasih untuk luang waktu membaca karya ku, semoga bisa menghibur..


Jangan lupa tinggal kan jejak like , vote.dan bintang untuk semangat author mengembang kan imajinasi..

__ADS_1


sebelum nya matur thankyou


Love you all 😀😍😍😍


__ADS_2