
Aku keluar ruangan berjalan menuju jalan yang sedang di kerjakan , sesaat kemudian karena kepanasan aku berjalan ke pinggir jalan di ikuti oleh Erza dan Nurma, saat ku lihat jalan setapak aku tergelitik ingin menelusuri jalan itu . Sayup - sayup ku dengar suara seseorang menjerit memanggil nama ku di kedalaman hutan.
" Emiil...! Emilaa...! aku mau Emila.. "
Jerit suara itu berkali - kali dan aku mengenali suara itu.., Mas Hardi !.
Aku berlari masuk jauh ke dalam hutan ,
Erza yang sempat tak melihat ku karena menerima panggilan telefon dari seseorang begitu melihat ku lari jauh ke dalam hutan mengikuti jalan setapak lantas berlarian memanggil nama ku di ikuti oleh Andi dan fajar serta Nurma .
" Mbak Emil mau kemana.., Mbak kembali kita tidak mengenal daerah sini..., Mbak.. !! "
Mereka terus berlari mengejar ku yang mengikuti jalan setapak dengan menajam kan pendengaran . Erza berhasil menyusul ku , meraih tubuh ku dan mengunci nya dalam dekapan erat nya, memaksa ku untuk menghenti kan langkah .
" Tadi ada yang memanggil ku, Za di dalam sana.., Mas Hardi.., Dia menjerit memanggil nama ku.., Dia meminta ku datang menolong nya.., Mas Hardi di dalam hutan sana Za ! "
Suara ku tercekat memekik diantara nafas ku yang memburu karena lari tadi dan menahan emosi .
" Itu hanya halusinasi Mbak Emil saja karena terlalu memikir kan Mas Hardi, ini di hutan Mbak , tidak ada kehidupan di dalam sana "
Terang Erza dengan menatap ku sendu .
" Bisa saja kan Mas Hardi terbawa arus masum ke dalam hutan dan baru tersadar sekarang lalu Dia mencoba mencari bantuan dengan memanggil nama ku ! " Balas ku dengan penuh keyakinan . Erza menggeleng kan kepala pelan .
" Mbak ini sudah sepuluh hari Mas Hardi menghilang.., bisa kah manusia bertahan tanpa makan dan minum selama itu dalam keadaan Dia habis tergerus air bah yang kemungkinan besar penuh dengan luka ! , sadar lah Mbak ! " Erza menekan nada bicara .
Andi tiba bersama fajar dan seorang aparat adat menghampiri ku .
" Maaf Ibu ini hutan terlarang yang tak boleh di masuki sembarang orang ! banyak hal mistis di dalam sana yang bisa membahaya kan nyawa Ibu, tolong Bu ikut kami keluar dari sini sekarang ! " Pinta lelaki yang memakai pakaian serba hitam dengan celana longgar sebawah lutut memakai ikat kepala .
Erza menuntun ku keluar dari dalam hutan, melingkar kan lengan nya di bahu ku dengan satu tangan meremas telapak tangan ku yang dingin serupa es, di tuntun oleh aparat adat .
Sesampai di markas Arrahman aku di beri minum jahe hangat yang lebih dulu telah di baca kan do' a oleh seorang pemuka adat .
__ADS_1
" Ibu saya mohon jangan sembarang masuk ke dalam hutan berbahaya " Ucap sang pemuka adat .
" Tadi saya mendengar teriakan suami saya memanggil nama saya Pak . " Balas ku memberi pembelaan pada diri sendiri.
" Itu bukan suara suami Ibu ..! Jangan mudah percaya dengan suara - suara tak jelas seperti itu Ibu , di dalam sana banyak makhluk halus jahat yang mudah mempengaruhi alam fikiran manusia, untuk itu Ibu saya mohon jangan sering melamun di area hutan sini " Jelas pemuka adat menatap ke dalam manik mata ku, lalu tersentak mundur terdiam .
" Sebaik nya Bu Emil jangan di biarkan berada sendirian jika di sini , harus di temani dan di jaga jangan sampai lengah " Pinta nya menoleh ke arah Erza dan yang lain . Setelah nya izin pamit lalu pergi meninggal kan markas Arrahman .
Menjelang sore kami pamit pulang, sebelum nya saat aku sedang mengambil wudhu di mushola darurat yang didirikan fajar yang terkenal religius untuk melaksanakan solat Ashar berjama'ah, seorang buruh proyek yang asli orang sini mengatakan pernah juga mendengar jeritan seorang lelaki memanggil nama ku di kedalaman hutan saat Dia mencari jamur liar untuk di masak isteri nya.
Dia yang ketakutan karena kelamaan suara itu berubah menjadi rintihan akhir nya malah lari terbirit - birit hingga hampir menabrak mobil dum yang terparkir di pinggir jalan , aku tersenyum mendengar cerita nya, ada secercah harapan tumbuh dalam hati akan menemukan suami ku kali ini .
Di waktu yang lain saat aku duduk melihat pekerjaan para pekerja proyek membakar aspal di pinggiran hutan , aku mendengar salah satu pegawai dari luar daerah yang memilih menginap di sini bersama beberapa pekerja lain mengatakan pernah melihat seorang wanita memapah lelaki yang kaki nya terlihat cacat berjalan terseok masuk ke dalam hutan . Dan ada cerita - cerita lain yang terasa seram bagi mereka namun justeru membuat ku kian penasaran dan ingin memastikan cerita mereka .
*******************
Aku termenung di atas balkon, masih seperti hari yang lalu,, memandang taburan bintang yang serupa berlian berkerlap - kerlip di atas sana dengan disinari rembiulan yang hampir sempurna memancar kan keelokan paras kuning keemasan nya .
" Ehemm santai Bu Emil " Sapa Agus dari seberang di samping rumah ku tersenyum ramah . Ku balas dengan senyuman . Dan pengalaman yang aku alami tadi siang hingga sore menggelitik rasa ku untuk mencerita kan kepada nya sekaligus meminta bantuan , mungkin saja dengan pengalaman Dia sebagai aparat hukum bisa membantu ku mengungkap misteri itu .
" Tumben Mbak Emil mau ngobrol sama saya, ada yang bisa saya bantu Mbak ?! " Sapa nya ramah dengan seulas senyum .
" Eheemm ada yang ingin saya cerita kan dan saya juga ingin bantuan Pak Agus barangkali mau membantu saya " Ucap ku tanpa basa basi. Lalu aku ceritakan semua kejadian yang aku alami siang tadi .
" Begini saja kalau Mbak Emil penasaran dengan cerita mereka bagaimana kalau malam ini kita menyelidiki nya, kita datang ke sana dan memantau malam hari ini, kata nya kan hampir dua hari sekali sosok wanita itu keluar dari dalam hutan, Nah kita intai malam ini , begitu terlihat wanita itu kembali masuk ke dalam hutan kita ikuti ," Saran Agus dengan menatap mata ku lembut.
" Tapi mbak Emil takut gak masuk ke dalam hutan gelap " Tanya Agus lagi .
Aku geleng kan kepala tegas memastikan jika aku tak takut dengan yang nama nya setan karena aku percaya dengan Tuhan yang akan menjaga ku selama aku meminta pertongan dari Nya .
Tanpa ku sadari Erza telah berdiri di sana mendengar semua yang ku rencana kan dengan Agus.
" Mbak benar - benar nekad mau menerobos hutan di malam hari ?! " Erza menatap ku , menggeleng kepala takjub.
__ADS_1
" Mbak harus menemukan Mas Hardi Za dan Mbak yakin dengan filing Mbak kali ini ! , sebelum Mbak mendengar suara yang kamu anggap sebagai halusinasi malam sebelum nya aku mimpi sama persis seperti yang aku alami tadi siang dan sebelum Mas Hardi hilang di telan air bah Mbak juga mimpi persis seperti video yang di kirim Wahyu seorang mantri keuangan di Bank tempat ku kerja " Ku tarik nafas lalu menghembus kan pelan .
Mereka termenung mendengar cerita ku .
" Baik kalau Mbak kekeh mau ke sana dengan syarat aku ikut untuk jagain Mbak " Pinta Erza tegas tanpa mau di bantah .
" Aku juga ikut ! " Pinta Eksan yang sudah ada di sana juga .
" Kamu di rumah aja temeni Ibu " Balas Erza.
" Eksan mau ikut Mbak..! Mas..!, gak usah tskut Eksan gak akan merepotkan kalian , aku juga sudah pernah membelah hutan gunung slamet di malam hari saat ikut mendaki dengan grup pecinta alam " Balas Eksan memaksa untuk tetap ikut .
Akhir nya sesuai kesepakatan malam itu kami ke lokasi hutan di area pembangunan jalan lingkar selatan , kepada Ayah Bunda kami pamit dengan alassn ada urusan yang harus kami selesai kan malam ini karena kejar target proyek yang harus selesai sesuai waktu yang telah di tentukan pemerintahan provinsi begitu pun kepada Ibu, aku memberi alasan yang sama.
Alhamdulillah mereka tidak ada yang curiga dengan rencana ku . Kami pergi masih menggunakan pajero sport milik Mas Hardi dengan membawa peralatan yang mungkin akan di butuh kan saat di dalam hutan.
Ku kenakan celana jeans panjang , kaos milik Mas Hardi yang sekarang lebih sering aku yang memakai meski sedikit kedodoran, sweter lengan panjang , syal rajut dari wol, sarung tangan , jaket tebal dan jilbab pastan yang praktis serta sepatu kets tanpa tali karena aku tak mau ribet jika nanti tali nya lepas di tengah jalan .
Erza dan Agus membawa tas ransel berisi makanan dan minuman, saat di dalam mobil dan Agus sudah duduk di samping Erza yang mengemudi aku di kaget kan dengan tingkah Agus yang membawa pistol dan mengisi peluru di dalam mobil.
" Mas Agus ko bawa pistol segala ?! " Tanya ku heran menatap ngeri dari tempat duduk ku di belakang Erza .
" Untuk jaga - jaga saja Mbak Emil " Balas nya santai menoleh ke arah ku tersenyum manis .
" Pergi nya sama pak polisi ya bawa nya pistol kalau pergi sama Mas Hardi bawa nya gedged ,, betul gak Mas Agus " Canda Erza.
Di jawab dengan senyum kecut Agus .
Dalam perjalanan aku sempat terlelap sesaat menghayati lagu - lagu Naff yang terpasang dalam tape di Usb milik Mas Hardi .
Dalam tidur aku bermimpi seakan aku sudah berada di dalam hutan mengikuti seorang wanita yang mengenakan baju kedodoran melintasi jalan setapak dalam hutan bersama empat orang laki - laki, aku heran perasaan aku berangkat berempat kenapa sekarang menjadi berlima ?
Kami masuk ke tengah hutan dengan pohon pohon besar menyeram kan berhenti di sebuah pekarangan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan saat kami mengendap masuk dalam pekarangan aku terbangun oleh suara berisik kendaraan proyek yang sedang menuang kan material campuran semen, kerikil dan pasir dari atas truck molen .
__ADS_1
Fajar sempat merasa takut melihat aku datang lagi , Dia fikir aku datang untuk memeriksa kerja nya .
---+ Bersambung --+++